
Nuna masuk ke dalam rumah ditemani oleh Tanio yang menarik kopernya.
"Kakak?" suara susu yang terdengar lelah menyambut Nuna.
Nuna kaget melihat bayi itu tidur di sofa. "Nino sayang. Kenapa kamu tidur di sini?"
"Nino nunggu kakak, peluk," ucap Nino sambil mengulurkan kedua tangannya.
Nuna mengambil Nino dari sofa dan memeluknya. "Tidur di kamar ya." Mereka lalu berjalan ke kamar Nino.
Nino memeluk leher kakaknya dengan erat dan berbisik, "Kakak, gigi Nino goyang."
"Coba buka mulut Nino," ucap Nuna dengan tenang.
Nino mengarahkan wajahnya menatap Nuna kemudian membuka mulutnya dan menunjuk gigi gerahamnya. "Ini. Sakit."
"Tahan ya, sayang," ucap Nuna sambil mengusap kepala adiknya. Dia lalu keluar dari kamar dan berkata pada Tanio, "Kita ke rumah sakit sekarang."
"Baik, Nona."
Ketiganya lalu pergi ke rumah sakit.
Sebagai pasien VIP, Nino tidak mengantri dan langsung menemui dokter pribadinya yang merupakan Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi bernama Oliver.
Nuna mendampingi Nino menjalani serangkaian pemeriksaan medis. Setelah Oliver memberikan persetujuan, Nino dijadwalkan melakukan pencabutan gigi jam sembilan pagi.
Nuna lega tidak ada masalah yang terjadi, dia berterima kasih kepada Oliver dan pulang ke rumah.
Mereka sampai pukul empat pagi. Nino sudah tertidur dalam perjalanan sehingga tanpa membangunkannya, Nuna membaringkannya di tempat tidur.
Di jam delapan, Nuna meminta izin ke wali kelasnya dan pergi bersama Nino untuk mencabut gigi bayi itu. Setelah semua prosedur selesai, dia menemani Nino beristirahat di kamar rumah sakit.
"Sakit?" tanya Nuna.
Nino hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sabar ya, sayang," ucap Nuna sambil membelai kepala adiknya.
◾◾◾
Rigel menatap kursi kosong di sebelahnya, gadis itu tidak masuk hari ini. Dia sudah mengirim pesan dan melakukan panggilan, namun tidak ada balasan sama sekali dari Nuna.
Rigel bertanya - tanya mengapa Nuna yang rajin rela izin sehari. Rigel memutuskan untuk pergi ke rumahnya nanti. Namun saat sepulang sekolah, rencana Rigel terganggu dengan kedatangan seseorang yang tidak dia harapkan.
Rigel menatap Mark yang berdiri di depan gerbang sekolahnya. "Ngapain lo ke sini?"
"Gue mau ngajak tanding squad lo," jawab Mark tanpa basa - basi.
Rigel mencibir, "Lo mau kalah lagi?"
Mark mendengus, "Yakin banget lo menang. Gue ngajak tanding motor besok malem."
Alis Rigel terangkat, "Yakin lah." Dia mencemooh, "Berani banget lo nantang kami balap motor? Mau taruhan berapa emang?"
"Seratus."
"Dimana?"
"Jalan *****. Jam sebelas malem."
"Maju semua apa gimana?" tanya Rigel lagi.
Mark menyeringai, "Tiga pertandingan. Lo lawan gue, sisanya terserah."
"Oke, biar adil squad kita taruh seratus juga."
"Ada lagi persyaratan tambahan."
Rigel menatap curiga, "Syarat apa?"
"Lo harus bawa pendamping waktu tanding."
"Ngapain bawa cewek ke pertandingan?"
Mark tersenyum meremehkan, "Kenapa? Mau mundur? Buat seru - seruan lah. Kalau tim lo enggak bisa bawa pendamping nanti, maka dianggap gugur dan tim gue menang."
__ADS_1
"Cih. Enggak ada kata mundur di kamus gue. Tunggu aja besok," ucap Rigel percaya diri.
"Hahahaha.. gue tunggu."
Rigel menatap Mark yang masuk ke dalam mobilnya. Dia lalu membuka ponselnya dan mengadakan pertemuan darurat dengan anggota squad nya.
Di basecamp Eternal Squad.
"Jadi lo bilang, kita harus bawa tiga pendamping buat balap motor besok malem?" ulang Rafa sambil berpangku tangan.
Rigel mengangguk, "Tolong undang siapapun temen cewek kalian."
Fajar menghela nafas, "Bos. Gue kagak punya. Di sekolah juga gue mainnya sama anak - anak ini."
"Sama," ucap Bram.
"Gue bisa bawa sepupu gue," ucap Rafa.
"Oke satu lagi siapa nih?" tanya Rigel menatap kelima anggotanya.
"Gue ada sohib gue, Bos," jawab Adit.
Rigel menepuk pahanya, "Bagus. Udah ditentuin, gue, Rafa ama Adit besok bakal tanding jam sebelas malem."
"Siap, Bos."
Delon menatap ragu Rigel, "Btw lo punya temen cewek, Bos?"
"Ah?" Rigel tertegun. Dia lalu menggaruk kepalanya. "Nuna?"
"Bukannya dia lebih ke 'musuh' lo, Bos? Kalian kan kagak pernah akur." Fajar memandang simpati ketuanya.
"Hm.. mau enggak mau, dia juga kagak bisa nolak." Rigel lalu beranjak dari tempat duduknya. "Masalah selesai. Gue cabut dulu gaes. Oh iya, buat foto grup, nanti gue kabarin lagi. Bajunya nanti dikirim ama bawahan gue ke rumah kalian masing - masing."
"Siap, Bos."
"Oke, hati - hati di jalan, Bos."
Rigel keluar dari basecamp dan disambut oleh Dimas yang sudah menunggunya.
"Kapan gue bisa bebas bawa motor ke sekolah?" tanya Rigel yang mulai lelah diantar jemput oleh asisten pribadinya.
Rigel menghela nafas kecewa, "Ya udah, lo anterin gue ke rumah Nuna sekarang."
"Baik, Tuan."
Rigel pun pergi ke rumah Nuna, namun hanya ada pelayan di sana. Dia bertanya kepada mereka kemana majikannya pergi, tapi mulut mereka terkunci rapat. Dia mencoba menelepon Nuna sekali lagi.
"Nuna, lo dimana? Ini gue ke rumah lo, tapi lo nya kagak ada," tanya Rigel to the point.
"Saya sedang diluar," jawab Nuna di seberang telepon.
Alis Rigel mengerut, "Diluar mana?"
"Kamu tidak perlu tahu."
"Nuna.."
Ada helaan nafas terdengar dari sana, "Mengapa mencari saya?"
"Gue pengen ketemu lo, penting."
"Saya akan sampai di rumah sebentar lagi. Kamu tunggu saja di sana."
Klik. Panggilan diputus.
Rigel kembali masuk ke rumah Nuna dan duduk di ruang tamu. Pelayan menawarinya minuman, namun dia menolak. Tidak lama kemudian, mobil Nuna masuk ke halaman.
Rigel mengamati Nuna yang berjalan ke arahnya. Dia melihat kantung mata hitam yang muncul di wajah gadis itu. Apakah dia habis begadang?
"Ada apa?"
"Lo enggak papa?"
Mereka bertanya secara bersamaan. Keduanya lalu menatap satu sama lain dalam diam.
Rigel yang menjawab terlebih dulu, "Gue mau ngecek aja kondisi lo. Inget, kita masih punya perjanjian kompensasi. Karena lo enggak masuk hari ini, maka enggak dihitung."
__ADS_1
Nuna tidak setuju, "Tapi sabtu dan minggu dua minggu lalu, kamu menghitungnya."
Rigel menyeringai, "Itu udah ditebus ama liburan kemarin ke Bali. Dan waktu itu lo sempet di rawat di rumah sakit selama sehari. Jadi sekarang masih tersisa 22 hari lagi."
Duapuluh dua? Mengapa masih ada duapuluh dua? Nuna menahan emosinya agar tetap tenang.
"Baik. Ada lagi? Jika tidak, kamu bisa pulang," ucap Nuna.
Bibir Rigel melengkung ke bawah, "Kok lo ngusir gue?"
"Saya masih ada urusan."
"Urusan apa?"
"Les piano."
"Gue ikut."
"Tidak."
Rigel tetap keukeuh, "Gue ikut."
"Terserah," ucap Nuna dengan enggan menyetujui. "Saya ganti baju." Dia pun meninggalkan Rigel sendirian.
Satu jam kemudian, Nuna yang telah mandi dan berganti pakaian menghampiri Rigel. "Kamu masih di sini?"
"Kan gue mau ikut." Rigel menatap tak puas pada Nuna. Apakah gadis itu mengira dia bercanda?
"Baik."
Keduanya lalu berjalan berdampingan.
"Besok lo masuk sekolah, kan?" tanya Rigel memastikan.
Nuna mengingat kondisi Nino yang dibolehkan pulang nanti malam. "Ya."
"Lo harus ikut gue besok."
"Kemana?"
"Ada lah, gue jamin keamanan lo." Rigel mengepalkan tangan kanannya dan menepuk dada kerasnya yang menunjukkan keseriusan dari perkataannya.
Nuna justru menjadi ragu setelah pernyataan yang dikeluarkan Rigel. Nuna masih mengingat saat mereka diganggu di tengah jalan tol. Dia berada di posisi tak berdaya yang sulit untuk melawan.
Nuna hendak menolak tetapi Rigel mengetahui niatnya dan memotong ucapannya.
"Kompensasi."
Bibir Nuna tertutup rapat dan dia masuk ke mobil.
Rigel melihat reaksi Nuna dan menganggapnya setuju. Dia menoleh pada Dimas, "Gue pergi dulu, nanti lo jemput gue pas gue kabarin."
Rigel pun duduk di samping Nuna dan menutup pintu mobil. Tanio membawa mereka ke tempat Guru Les Piano Nonanya.
◾◾◾
Cerita sampingan
Cakra : Dit..
Adit : Apa?
Cakra : Bagi tips dapat sohib cewek hehe
Bram : Gue juga mau
Adit : Kagak ada tips, dia tetangga gue dari kecil
Bram : Oh friendzone?
Cakra : Uhuk.
Delon : Lihat ekspresi syok Adit wkwkw
Fajar : Hahaha
__ADS_1
Rafa : Wkwkwk
Adit : ...