Forever Young

Forever Young
BAB XXI Enam Bintang


__ADS_3


Panitia lomba memasak mengumumkan bahwa waktu hampir habis dan menghitung mundur, "Sepuluh, sembilan, delapan.."


Beberapa peserta dengan panik segera menyiapkan masakan mereka untuk disajikan, sedangkan Nuna dan Rigel serta sisa peserta lain berdiri dengan santai karena mereka telah selesai lebih awal.


"Tiga, dua, satu. Waktu habis. Silakan taruh masakan kalian di meja ini untuk dinilai," ucap Panitia memberikan arahan selanjutnya.


Nuna dengan hati - hari membawa sepiring ayam kecap yang dibuat Rigel ke meja. Dia melirik masakan peserta lain dan terkejut ketika menemukan hidangan gelap di antaranya.


Ketiga juri yang bertugas menilai masakan kelompok yang ada di lantai dua, memasuki ruangan. Mereka mencicipi satu per satu masakan peserta dan langsung menuliskan nilainya di lembar kertas yang mereka bawa.


Para peserta dengan gugup mengamati ekspresi para juri. Ada peserta yang pesimis ketika melihat juri mengerutkan alisnya setelah memakan masakan mereka. Ada juga yang memegang harapan untuk menang ketika melihat juri menganggukkan kepala.


Setelah menilai 32 hidangan yang ada, para juri turun ke lantai satu untuk berkumpul dengan enam juri lainnya membahas hasil penilaian mereka.


Para peserta pun keluar dari gedung serbaguna dan menunggu pengumuman di lapangan.


"Yakin menang enggak lo?" tanya Joshua yang bersandar di pohon.


Joshua, Bimo, Elang, Rigel dan Nuna sedang berteduh di bawah pohon yang ada tepi lapangan karena cuaca yang panas.


"Enggak yakin sih, udah dua bulan gue kagak masak," jawab Rigel.


Bimo memuji Rigel. "Tapi lo keren banget dah, gue dilarang ke dapur ama mama gue."


"Haha, sama." Elang menimpali.


Rigel menyeringai. "Gue juga dipaksa keadaan. Enggak cocok gue ama makanan luar. Ya udah mau enggak mau ya gue masak sendiri. Walaupun di awal cuma bisa mie instan doang."


Joshua tertawa terbahak - bahak. "Gue malah kagak bisa masak sama sekali, ralat belum nyentuh kompor gue." Joshua menatap Bimo. "Bim, gue jadi mau nyoba masak."


"Kagak usah aneh - aneh, entar lo malah ngebakar dapur."


"Kagak lah, kan ada Rigel. Kuy kapan - kapan lo ajarin masak gue ama Bimo," ucap Joshua yang masih terbayang rasa ayam kecap buatan Rigel.


"Enggak yakin gue. Palingan lo cuma mau bagian makannya aja."


Joshua mendengus. "Yah, ketahuan tujuan gue."


Elang menertawakan Joshua lalu bertanya, "Btw bintang kita udah berapa?"


"Lah, lo kan ketua kelas, kok kagak tahu?" sindir Joshua. "Yang jelas gue ama Bimo dapat dua bintang tapi cuman dihitung satu."


"Ya maklum lah, kan gue sibuk jadi panitia dari hari Senin. Oke udah satu tuh, apalagi?"


Bimo mengangkat tangan kanannya yang mengepal lalu membuka ibu jarinya, "Satu basket, futsal juara tiga jadi udah dua bintang, tae kwon do kita kagak ada yang ikut, karate juara dua yang cewek jadi udah tiga bintang."


"Keren juga kelas kita." Elang berdecak kagum. "Terus yang lain?'


"Tenis meja, bulu tangkis, renang kita kalah," jawab Joshua.


Rigel menambahkan, "Anggar kita dapat juara dua."


"Empat bintang. Tiga lagi yok," ucap Bimo bersemangat.


"Cintya kemarin menang tuh tambah satu."


"Udah lima. Sama nih anak nih, yang pingsan abis menang," ucap Rigel sambil menyenggol Nuna.


"Woi enam bintang, bro! Nyaris banget ah.." Joshua menghela nafas kecewa.


"Kurang satu lagi duh. Nyesek. Ini lomba masak kagak dapat bintang, Lang?" tanya Bimo.


Elang menggeleng. "Masak kan bukan cabang olahraga."

__ADS_1


"Ya kan siapa tahu dapat."


"Gue di rapat kemarin sih enggak ada bilang bakal dapat bintang."


"Ah enggak seru. Lagian siapa yang buat aturan harus 7 bintang? Ini cuma sebelas, presentasenya hampir 70% lo harus menang baru bisa ke Bali." Joshua mengungkapkan kekesalannya.


Bimo menimpali, "Ini terlalu enggak mungkin buat tercapai. Emang ada Lang yang pernah bisa dapat tujuh bintang?"


"Kata senior sih, enam atau tujuh tahun lalu."


"Buset. Kan lihat, terlalu sulit. Btw itu berapa cabang?"


"Limabelas cabang olahraga."


Rigel berkomentar. "Pantesan, itu mah 50 persen doang bisa menang."


"Hoki banget angkatan tahun itu," tambah Bimo.


"Ini peraturan udah lama kah, Lang?" tanya Joshua penasaran.


"Udah dari warisan duapuluh tahun yang lalu."


"What? Ini pasti yang buat bapak lo kan, Lang?"


"Kok lo nuduh gue, Jo? Sapa tahu malah ortu lo yang bikin?"


"Atau papa mama lo, Bim?"


"Gue tanya papa gue deh nanti," ucap Bimo.


Joshua lalu menatap Rigel.


Rigel mengangkat kedua tangannya, "Oke ortu gue aman ya, mereka kagak sekolah di sini."


Lalu keempatnya memandang Nuna.


Rigel mengamati Nuna yang tidak menjawab dan melirik Bimo, Joshua dan Elang.


Bimo menangkap kode dari Rigel dan mencoba mengalihkan topik, "Kagak ada bintang kita juga bisa sekelas ke Bali sendiri. Kan ada villanya Elang. Ya enggak, Lang?"


Elang yang peka menjawab, "Yoi. Buat tempat tinggal, kendaraan, makanan, serahin ke gue. Kemarin papa gue juga baru buka cabang resto di sana."


"Nah, mantap tuh." Joshua juga mengerti maksud mereka. "Buat tiket pesawatnya juga gue bisa urus. Tinggal berangkat aja."


"Papa gue juga ada private hotel yang ada pantai - pantai bagus. Sikat lah kalu kesana. Btw lo udah pernah ke sana, Jo?" tanya Rigel.


"Udah beberapa kali, lo belum Rigel?"


Rigel menggeleng, "Papa gue ngajaknya ke luar negeri mulu kalo liburan."


Bimo memberi saran, "Liburan sendiri aja lah, bro."


Nuna melihat mereka kembali bercakap - cakap tanpa menunggunya menjawab. Dia merasa lega di dalam hatinya.


"Eh udah pada kumpul di lapangan lagi tuh. Udah mau pengumuman kah?" Bimo berseru ketika melihat para siswa berbondong - bondong ke lapangan.


"Ayo dah kesana juga."


Kemudian mereka menyatu dengan kerumunan siswa.


Ketua Panitia Lomba Memasak menyapa para siswa, "Halo guys. Kita udah megang hasil lombanya nih. Penasaran enggak siapa yang menang?"


"Buruan woi."


"Siapa? Siapa?"

__ADS_1


"Dapat bintang enggak kak?"


"Aduh panas nih, cepetan umumin."


Ketua Panitia yang mendengar teriakan para siswa hanya tertawa. "Oke, oke. Gue umumin sekarang. Juara ketiga dari kelas XI MIA 2 Ayana dan Faris , juara kedua dari kelas X IIS 10 Key dan Louis, dan juara pertama dari kelas X MIA 9 Aluna dan Qian. Beri tepuk tangan yang meriah! Para pemenang silakan maju ke depan."


Keenam siswa muncul dari lautan siswa. Mereka berdiri di samping Ketua Panitia.


"Perwakilan Juri akan menyerahkan piala dan sertifikat."


Setelah sesi foto bersama, Ketua Panitia berkata, "Untuk piala dan sertifikatnya diambil lagi ya guys, buat acara nanti malem."


Para siswa yang menonton akan bubar ketika Ketua Panitia mencegah mereka.


"Tunggu dulu guys. Buru - buru amat dah. Ada pengumuman 'Bintang' yang kalian nantikan."


Para siswa segera berbalik.


"Oke, juara umum yang mendapat 'Bintang' paling banyak jatuh kepada.. "


Deng deng deng..


Suara drum tiba - tiba muncul di permukaan.


"Selamat kepada kelas XI MIA I yang berhasil mengumpulkan enam bintang! Ketua kelas silakan maju menyampaikan pidatonya."


Elang maju dan memegang mikrofon di tangannya. "Ehem tes tes, mana suaranya kelas XI MIA I?"


"Woooooooo.." Para siswa XI MIA I berteriak menanggapi Elang.


"Kalian luar biasa, guys. Kalian udah kerja keras dalam mengikuti Pekan Olahraga ini dengan semangat dan usaha maksimal. Oleh karena itu, gue udah diskusi tadi. Kita berangkat ke Bali nanti malem guys, buat yang abis acara langsung ke bandara, oke? Tiket ama akomodasi di sana udah ada, kalian tinggal bawa badan aja," ucap Elang membuat teman - teman sekelasnya berteriak gembira.


Siswa - siswi lain hanya menatap kagum kelas mereka. Apa mereka liburan juga ya?


"Makasih, Pak Ketua!"


"Thanks loh, Lang."


"Siap, bos."


Elang mengembalikan mikrofon kepada Ketua Panitia.


"Hahaha. Semangat yang bagus untuk kelas XI MIA I. Hati - hati di perjalanan nanti, oke? Dan jangan lupa Senin masuk, haha," ucap Ketua Panitia. "Oke acara udah selesai. Jangan lupa nanti malam ya, teman - teman."



◼️◼️◼️


Cerita sampingan


Joshua : Yah lo kagak menang


Rigel : Wkwkw, lo kira gue sejago chef apa


Elang : Jadi enggak nih ke Bali


Bimo : Entar malem kuy


Joshua : Gas kan lah, gue pesen tiket ya


Elang : Oke, gue telpon papa gue


Rigel : Gue juga telpon papa gue buat nutup lantai atas hotel


Bimo : Mantap asik liburan

__ADS_1


Nuna : ...


__ADS_2