Forever Young

Forever Young
BAB XXVII Gangguan di Jalan Tol


__ADS_3


Di Minggu pagi yang cerah. Nuna telah siap dengan kaos putih lengan pendek dan celana jeans panjangnya. Dia menguncir rambutnya dengan gaya ekor kuda. Nuna juga membawa ransel kecil yang berisi pakaian renangnya karena Elang mengatakan di grup chat kelas kemarin kalau hari ini mereka akan melakukan watersports.


Tidak lama para siswa XI MIA I datang satu per satu berkumpul di lobby hotel.


"Oke gaes, kita ke Tanjung Benoa sekarang, jangan ada yang lupa baju renangnya," ucap Elang.


"Siap Pak Ketua."


"Oh iya gaes, lupa gue. Gue mau ngajak kalian ngerasain berkendara di jalan tol yang ada di atas laut, jadi hari ini kita akan naik motor. Anak cowok ada yang kagak bisa bawa motor?" tanya Elang sambil memandang teman - teman lakinya.


Tidak ada yang mengangkat tangan.


"Oke kita ada 16 cowok, 15 cewek. Gue bawa motor sendiri haha, kalian di bagi ya, yang cowok bonceng yang cewek," ucap Elang memberikan instruksi.


"Oke, Lang. Btw ini bebas milih motornya?"


Elang mengangguk, "Yok dipilih - dipilih."


Rigel secara otomatis mengisyaratkan Nuna untuk mengikutinya. Rigel memilih sport bike berwarna merah terang seperti warna rambutnya.


Nuna memandang desain motor itu dengan rumit. Bagaimana caranya naik ke atasnya? Dia tidak pernah naik motor. Nuna kemudian memperhatikan teman sekelasnya yang naik dengan mudah.


Rigel mengetahui kebingungan Nuna. "Nih helm lo."


Nuna yang masih bingung hanya memegang helm di tangannya.


Sudut bibir Rigel melengkung ke atas. Dia mengambil kembali helm itu. Rigel melihat rambut Nuna yang di kuncir tinggi dan berpikir bahwa jika mengenakan helm, Nuna akan merasa pusing. Jadi Rigel menarik ikat rambut Nuna kemudian memakaikannya helm.


Klik. Helm Nuna telah dikunci.


Nuna tersadar dan melihat tangan Rigel ada di dagunya. "Saya belum pernah naik motor," ucapnya jujur.


Rigel tertawa dan dia naik ke motornya, "Sini gue pegang tangan lo, tangan lo satunya tahan bahu gue buat naik."


Nuna ragu - ragu menggenggam tangan Rigel kemudian menekan bahu kiri Rigel untuk naik ke atas motor. Dia akhirnya berhasil duduk di belakang Rigel.


"Lo bisa masukin tangan lo di sini buat pegangan." Rigel menunjuk kedua saku jaket kulitnya. "Meluk perut gue juga enggak papa."


"Saya akan naik mobil," ucap Nuna yang akan turun.


Namun Rigel lebih cepat dalam bergerak, dia telah menyalakan motor dan berteriak pada Elang, "Gue duluan."


Elang memandang panik pada Rigel yang telah melesat jauh, "Woi lo belum pernah ke Bali, mana tahu jalan!"


Rigel tentu saja tidak mendengarnya.

__ADS_1


"Berdoa aja semoga dia kagak nyasar," ucap Bimo.


"Hahaha." Joshua tertawa keras. "Semoga aja haha, yok dah berangkat!"


Elang menghela nafas panjang. "Oke gaes udah pada siap kan?"


"Udah, Lang."


"Yuk capcus!'


"Kuy Lang keburu siang."


"Masih pagi oe."


"Oke, tenang. Gue pimpin jalan, lo semu ikutin gue ya, jangan sampai ada yang ketinggalan," ucap Elang kemudian naik ke motornya dan pergi ke arah Tol Mandala.


Di sisi lain, Rigel menghentikan motornya di pinggir jalan. Saat berangkat tadi, Rigel meminta Nuna untuk mengarahkannya melalui google maps. Tetapi Rigel menemukan bahwa mereka telah melewati jalan yang sama.


Rigel akhirnya berhenti dan menghafal rute secara mandiri. Dia heran mengapa kebanyakan perempuan tidak bisa membaca google maps? Rigel juga ingat ketika mamanya juga membaca maps dengan salah.


"Maaf saya belum mempelajarinya," ucap Nuna. Nuna tidak mengira membaca peta jalan ternyata membutuhkan skill yang bagus.


"Enggak papa, gue udah hafalin jalannya," ucap Rigel kemudian mengembalikan ponsel Nuna.


Rigel pun menyalakan motornya kembali dan berkendara ke arah yang benar. Nuna segera memasukkan tangannya ke saku jaket Rigel agar tidak terjungkal ke belakang.


Nuna merasakan angin berhembus dengan kuat menerpanya. Dia menoleh ke kiri dan melihat laut dan dapat mencium aroma lautnya. Nuna mengingat informasi yang dia dapat dari internet.


Tol Mandala ini merupakan tol laut pertama yang memiliki jalur khusus kendaraan motor yang menghubungkan Ngurah Rai, Nusa Dua dan Tanjung Benoa. Tol ini memiliki panjang 12,7 km.


Rigel juga menyetir sambil menikmati pemandangan, namun saat mengecek spion motor, dia melihat Felix membonceng Mark di belakangnya. Sejak kapan mereka mengikutinya?


Rigel menatap waspada pada mereka. Dia terkejut ketika Mark mengeluarkan tongkat bisbol dan menyeringai ke arahnya.


"Nuna, pegangan yang erat!" teriak Rigel membuat Nuna reflek memeluknya karena kecepatan Rigel bertambah hingga menyentuh batas maksimal kecepatan di jalan tol.


Nuna mengamati Rigel yang melirik spion motor. Dia memutar lehernya dan menemukan pengemudi di belakang mereka berusaha mengayunkan tongkat bisbol.


Nuna memalingkan wajahnya kembali menatap jalan tol yang masih panjang. Dia bertanya - tanya, mengapa remaja di depannya ini memiliki banyak musuh? Dan mengapa dia juga terlibat di dalamnya?


"Ayo, Felix, tambah kecepatan lo," ucap Mark yang kesal.


"Siap, Bos." Felix berusaha menyalip Rigel namun Rigel dengan handal menghalangi jalannya.


Mark melihat Felix tidak bisa melampaui Rigel dan mengganti targetnya menjadi Nuna. "Lebih dekat."


Nuna merasakan bahaya dari belakang, dia menoleh dan menemukan ujung tongkat bisbol akan mengenai punggungnya. Walaupun dia memakai ransel, tetap saja akan sakit jika dipukul dengan benda keras.

__ADS_1


Di posisi duduk ini, Nuna tahu dia sangat dirugikan karena tidak bisa bergerak dengan bebas. Sehingga dengan cepat, Nuna menekuk sikunya ke atas dan tangannya meraih tongkat bisbol yang akan mendarat di punggungnya.


Mark terkejut gadis itu bisa menangkap bisbolnya tanpa melihat. Intuisinya benar - benar hebat. Mark berusaha menarik senjatanya kembali namun Nuna tidak akan melepaskannya begitu saja.


Dengan sekuat tenaga, Nuna menarik tongkat itu dari tangan Mark. Mark hampir terjatuh dari motor sehingga mau tidak mau dia merelakan tongkat bisbolnya.


Rigel yang melirik pemandangan ini dari spion motor cukup kaget dengan aksi Nuna, tetapi dia lega Nuna tidak terluka.


Jantung Rigel yang rileks berubah menjadi tegang lagi, ketika Mark mengeluarkan pistol mainan. Dia tahu bahwa ada paku di dalamnya. Orang gila ini!


Mark menyeringai dan mengarahkan moncong pistol ke ban motor Rigel yang tentu saja dengan kecepatan seperti ini gagal. Mark tidak menyerah dan terus menembak.


Nuna juga berpikir bahwa remaja laki - laki itu sangat gila! Pertama menggunakan tongkat bisbol dan sekarang dia mengincar ban motor ini. Nuna telah memutuskan untuk membantu Rigel demi keselamatannya juga.


Nuna memegang tongkat bisbol di tangan kanan dan mengayunkannya ke arah Felix.


Felix yang tidak siap, menjadi goyah dan mereka hampir terjatuh.


"Nyetir yang bener," teriak Mark.


"Maaf, Bos." Felix berusaha menyeimbangkan motornya. Namun Nuna tentu saja tidak memberinya kesempatan.


Di bawah ancaman tongkat bisbol itu, Felix akhirnya melambatkan kecepatan motornya dan menjaga jarak dengan motor Rigel.


Rigel memanfaatkan kesempatan itu untuk memperlebar jarak diantara mereka dan segera keluar dari jalan tol. Dia lalu mengemudi melalui jalan - jalan kecil hingga Mark dan Felix tidak bisa mengejarnya lagi.



◼️◼️◼️


Cerita sampingan


Penumpang lain di jalan tol.


Di sebuah mobil yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak.


Anak kedua : Pa, Ma, lihat! Kakak itu sedang memukul orang.


Anak pertama : (Terkejut dan segera menutupi mata adiknya yang baru berusia empat tahun) Tidak, mereka sedang syuting film.


Anak pertama : (Berbisik pada ayahnya) Pa tolong lambat sedikit..


Ayah : (Melambatkan kecepatan hingga dua motor itu tak terlihat) Anak - anak zaman sekarang ini..


Ibu : Sean, kamu ingat untuk tidak seperti mereka. Jika menemukan anak seperti itu, kamu harus menjauhinya, oke?


Anak pertama : Baik, ma. (Sean hanya mengiyakan, dia sebenarnya mengenal penumpang motor itu yang tidak lain adalah Rigel dan Nuna. Sean segera melaporkan hal ini pada Kapten Tim Basketnya)

__ADS_1


__ADS_2