Forever Young

Forever Young
BAB XLI Balap Motor


__ADS_3


Indah menatap sekitarnya dengan penasaran. Mark tiba-tiba menghubunginya kemarin untuk menemaninya balap motor. Pacarnya mengatakan bahwa musuh dalam pertandingan ini adalah Rigel Anderson. Sosok yang sangat ingin ditemui Indah!


Suara mesin motor terdengar. Indah melihat Eternal Squad mendekat. Dia juga menemukan Nuna dalam rombongan itu. Uh, mengapa gadis menyebalkan itu ikut juga?


Rigel turun dari motor dan membuka helmnya. Rambut merahnya yang acak-acakan mengambil perhatian para penonton perempuan termasuk Indah. Tatapan Indah begitu fokus mengagumi profil Rigel. Tampan! Pria ini benar takdirku, batinnya dalam hati.


Nuna terkejut menemukan Indah ada di sini, terlebih berada di samping Mark. Bagaimana gadis itu bisa mengenal ketua Jealousy Squad?


"Hai, kak Nuna," sapa Indah pada Nuna tetapi tatapannya terus mencuri ke arah Rigel.


Alis Nuna mengerut, "Saya tidak punya saudara perempuan."


Uh. Indah kesal dengan sikap Nuna. Jika bukan karena ingin mendekati Rigel, dia juga tidak sudi menyapa, huh. Indah tertawa canggung, "Oh, em. Halo, kak Rigel."


Rigel mengamati Indah yang sepertinya mengenal Nuna. "Siapa?" Pertanyaan ini ditujukan pada Nuna.


"Gue saudara tiri, Nuna," jawab Indah.


"Oh." Ternyata saudara tirinya, batin Rigel. Dia mengingat informasi keluarga Nuna yang pernah dia baca dulu. Ayah Nuna memang dijelaskan telah menikah lagi, namun dia tertarik dengan informasi tentang mereka. Dia hanya butuh informasi Nuna sehingga tidak membaca informasi keluarga baru ayah Nuna lebih lanjut.


"Boleh kita berteman, kak?"


Rigel menolak, "Gue enggak berteman sama bocil."


Indah tidak terima. "Gue bukan bocil, kak. Umur gue 15 tahun, selisih 1,5 tahun sama Nuna."


"Tsk. Lo masih anak SMP kan? Nuna udah mau kelas 3 SMA. Ngerti bocil?" Rigel menatap malas pada gadis itu. Dia tidak tertarik berteman dengan anak perempuan, baginya mereka merepotkan. Oh tentu saja ada pengecualian. Rigel menatap Nuna dan mengacak rambut gadis itu. Untuk Nuna tidak masalah, karena gadis ini tidak menjengkelkan seperti lainnya.


Indah mengamati interaksi Rigel dan Nuna. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal. Awas saja, dia pasti akan membuat Rigel mengejarnya. Indah lalu kembali ke sisi Mark.


Mark tertawa dalam hati. Mengandalkan gadis itu untuk menggoda Rigel pasti tidak akan berhasil. Pendekatan yang dilakukan terlalu norak. Tetapi.. Mark melirik Nuna yang sedang merapikan rambutnya. Yah, mungkin akan berhasil untuk mengganggu pujaan hati Rigel sementara.


Mark memeluk Indah dan menghampiri Rigel. "Tepat waktu lo, mau mulai sekarang?"


Rigel melihat saudara tiri Nuna menempel pada Mark. "Lo kenal dia?"


Mark mengecup sisi kepala Indah dan menjawab, "Pacar gue."


Rigel tertawa, "Bukannya lo udah punya tunangan? Masih menarik lebah aja lo."


Indah tertegun. Jadi pacarnya adalah tunangan orang lain? Apa ini? Indah tidak ingin dicap sebagai pelakor di depan Rigel. "Gue enggak tahu lo punya tunangan, lo bohongin gue?"

__ADS_1


"Cih." Mark tahu maksud Indah. "Kagak ada hubungan sama lo Rigel." Dia mengusap kepala Indah, "Maaf, sayang. Pertunangan itu cuma perjodohan. Gue enggak suka sama tunangan gue."


Indah berpura-pura tersenyum dan menatap Mark dengan mata berkaca-kaca. "Ternyata perjodohan. Kasihan banget lo Mark. Gue akan selalu ngedukung lo."


Rigel tidak berniat memberikan panggung pada mereka. Dia melihat Nuna sejak tadi terus mengecek jam tangannya. "Kita mulai aja. Eternal Squad bawa 50 juta. Dari lo taruh berapa?"


Indah tercengang mendengar uang taruhan mereka. Uh, jika dia jadi pacar Rigel, pasti dia akan menggunakan uang itu untuk belanja baju dan tas.


"Oke, gue juga 50 juta."


"Sepakat."


Keduanya lalu bersiap. Sebelum menyalakan mesin, Rigel mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah menekan tombol Kirim dia menyimpan ponsel di saku jaket bagian dalam dan memutar kunci motor.


Rigel membonceng Nuna di sebelah kanan sedangkan Mark membonceng Indah di sebelah kiri. Wasit berdiri di tengah mereka dan mengangkat bendera tinggi-tinggi.


"Mulai." Bendera diturunkan dengan cepat dan para peserta langsung melesat membelah jalanan.


Rigel mengatur gigi pada motornya dan menambah kecepatan sehingga dia bisa memimpin. Indah menyaksikan hal itu dan kekagumannya pada Rigel meningkat. Terlalu keren, ah!


Nuna merasakan hembusan angin yang kuat menerpa tubuhnya, dia juga memiliki ilusi bahwa helmnya bisa terbang begitu saja karena kecepatan Rigel dalam mengendarai motor.


Jika Rigel tahu apa yang dipikirkan Nuna, dia pasti tertawa. Helmnya dan yang dipakai Nuna dibuat secara khusus dan disesuaikan dengan kecepatan ekstrim seperti ini.


"Mark awas!" teriak Indah panik saat tikungan akan muncul tetapi tidak ada tanda Mark akan berbelok.


Mark tersadar dan membanting kemudi. Hampir saja dia menabrak pembatas jalan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Mark mengatur nafasnya dan menahan emosinya. Indah dibelakang menghela nafas lega. Astaga, dia tidak mau terluka. Indah sangat menyukai kulitnya yang menurutnya cantik sehingga dia membenci bekas luka.


Peristiwa itu tak luput dari pandangan Rigel yang melihat dari spion motor. Bisa-bisanya dia melamun. Dengan kecepatan motor yang di atas rata-rata, seharusnya dia memahami dengan jelas bahwa pengemudi harus fokus! Rigel pun memimpin jauh di depan.


Motor Rigel mencapai garis finish. Eternal Squad bersorak gembira. Mereka memeluk Rigel yang baru turun dari motor.


"Keren lo, Bos."


"Kerja bagus."


"Gue udah yakin lo bakal menang."


"Gue enggak sabar mau lihat Mark nangis hahaha."


Nuna mengambil jarak dari Eternal Squad yang bersuka-cita. Selang lima belas menit, dia melihat Mark menyusul.


Mark turun dari motor dan membuka helmnya. Dia menyisir kasar rambutnya. "Cih, lo menang."

__ADS_1


Senyum lebar muncul di wajah Rigel. "Dan lo kalah, lagi."


"Ipul, bawa uangnya kemari," perintah Mark. Ipul membawa koper dan membukanya di depan Rigel. "Lunas. Pertandingan berikutnya gue pasti yang menang."


Rigel menerima koper itu dan lega tidak menemukan hal yang mencurigakan. Dia lalu memberikannya pada Fajar. "Haha. Gue sangat menanti hari itu tiba," ejek Rigel.


Mark mendengus kemudian menggandeng Indah. "Ayo pulang."


Indah menatap Rigel dengan enggan. Dia masih belum mendapat nomornya!


"Gue punya nomornya, nanti gue kasih," ucap Mark.


Indah bingung mengapa pacarnya memberikan nomor pria lain. Tetapi dia tetap senang dan memeluk lengan Mark.


"Oh, hadiahnya." Mark melempar sebuah benda ke arah Eternal Squad.


Pupil mata Rigel mengerut dan dia bergerak cepat menggenggam tangan Nuna dan menariknya menjauh. Dia juga memeluk Nuna, menggunakan tubuhnya sebagai tameng jika hal buruk terjadi. Anggota Eternal Squad yang lain juga berlarian.


Benda yang dilempar Mark jatuh ke tanah yang merupakan bekas Eternal Squad berdiri tadi.


Hening.


"Enggak terjadi apa-apa?" tanya Bram yang heran.


Dor. Dor. Dor. Tepat setelah Bram bertanya, percikan api muncul dengan liar. Jarak terjauh dari letupan apinya bisa menjangkau dua meter. Tidak terbayang betapa perihnya jika mengenai kulit.


"Gila lo, Mark!" Rafa memaki.


Rigel juga menatap tidak senang. Ada Nuna di sini. Bagaimana kalau kulitnya tidak sengaja terluka?


"Hahaha." Mark tertawa keras.


Indah di sampingnya menatap pacarnya dengan rumit. Sepertinya dia telah menemui orang yang berbahaya. Apakah sudah terlambat untuk menyesal?


Mark menyadari tatapan Indah dan mengusap rambut gadis itu. Dia tersenyum seolah menenangkan Indah yang terkejut. "Ayo, gue antar pulang, sayang."


Indah tersenyum canggung dan mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.



◾◾◾


__ADS_1


__ADS_2