
Kepulangan Nuna di sambut bahagia oleh Nino. Tubuh kecil itu langsung memeluk pinggang Nuna.
"Kakak! Nino merindukanmu," ucap Nino. Dia mendongak menatap kakaknya.
Nuna melihat adiknya berkedip dengan lucu. Dia menggendongnya dan menghujani ciuman di kedua pipi gendut itu. "Kakak juga merindukanmu, sayang."
Suherman menatap kedua cucunya. Dia mengulurkan tangan mengusap kepala cucu perempuannya. "Selamat, cucu kesayanganku berhasil mendapat juara satu."
"Terima kasih, Kakek."
"Wow. Kakak hebat. Nino ingin ikut olimpiade juga."
"Ya, kalau sudah besar pasti Nino akan mendapat juara satu juga," ucap Suherman. "Cucuku, Kakek ingin mengobrol denganmu."
Nuna berpikir pihak sekolah pasti telah memberitahu kakeknya tentang Olimpiade Summer tingkat Nasional. "Baik, Kakek." Dia lalu menyerahkan Nino dalam pelukan Tanio sebelum mengikuti kakeknya ke ruangan lain.
"Kakek mendapat telepon dari wali kelas. Dia memberitahu kakek bahwa cucuku harus tinggal tiga minggu di Landon untuk mengikuti Olimpiade Summer di tingkat nasional."
"Kakek, saya tidak akan pergi."
"Apa karena Nino?"
Nuna tidak menjawab.
Suherman menghela nafas. "Kakek memutuskan Nino akan pergi ke sekolah Juni nanti."
"Kakek." Nuna tidak setuju. "Lebih baik untuk memberinya pendidikan home schooling. Nino terlalu berbahaya untuk belajar di sekolah. Sudut meja yang tajam, penggaris, bahkan pensil temannya bisa melukainya."
"Nuna, kita tidak bisa membiarkan Nino tumbuh dalam rumah kaca. Dia perlu bersosialisasi bersama dengan teman-teman seusianya."
"Baik, Kakek. Saya mengerti. Tetapi jika Nino terluka, izinkan saya untuk menariknya kembali ke home schooling."
"Ya, Kakek berjanji. Untuk itu kamu bisa ikut olimpiade dengan tenang. Ada Kakek yang akan menjaga cucu laki-laki yang menggemaskan itu."
"Baik, saya akan pergi dan tidak mengecewakan Kakek."
Nino duduk di sofa mengamati ekspresi kakek dan kakaknya. Mereka telah berdiam diri selama sepuluh menit. Tanio yang ikut dalam suasana canggung ini hanya bisa menghitung domba di hatinya.
"Nino, kamu telah tumbuh tinggi. Jadi kamu akan pergi ke sekolah bulan Juni nanti," ucap Nuna membuat adiknya bersorak.
"Benarkah? Kakak tidak bohong kan?" Nino menghampiri kakaknya dan memeluknya. "Yeay, Nino pergi ke sekolah. Kakek, Nino ke sekolah. Tanio, Nino akhirnya ke sekolah."
Nuna mengambil adiknya dan memeluknya di pangkuannya. "Janji sama Kakak, Nino akan patuh dan belajar di sekolah bersama teman-teman ya."
"Iya. Hehehe."
Ekspresi Nuna melembut. Mungkin selama ini dia memang salah telah mengurung Nino di rumah. Namun dia hanya tidak ingin Nino mengalami kecelakaan di luar.
__ADS_1
◾◾◾
Setelah mendapatkan medali emas di Olimpiade Summer Tingkat Nasional Cabang Fisika, Nuna kembali ke sekolah. Pada upacara hari Senin, sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang telah berprestasi dalam olimpiade itu. Nuna berdiri bersama yang lainnya di depan ratusan murid Liver School. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Bagi Nuna, memenangkan olimpiade ini sama dengan tugasnya akhirnya selesai.
Tugas Nuna berikutnya adalah Ujian Tengah Semester (UTS) dan Kegiatan Tengah Semester (KTS). Sejak tadi Rigel di sampingnya terus memintanya untuk ikut lomba lari. Satu siswa hanya bisa mengikuti satu lomba. Dan Joshua andalan mereka tentu memilih basket. Sehingga Nuna yang setia di posisi kedua setiap tes lari menjadi perhatian kelas XI MIA I.
Jika hanya lari biasa, Nuna tidak akan menolak. Tetapi di KTS ini, mereka akan mengadakan colour run. Kotor, bajunya akan kotor oleh cat warna-warni.
"Ayolah, Nuna. Ingat kan lo tentang perjanjian kita," bujuk Rigel.
Nuna heran dengan perhitungan Rigel. Tetapi dia malas berdebat sehingga Nuna berpikir 30 hari akan selesai di Maret nanti, itu bahkan lebih dari 30 hari!
"Saya tidak suka bermain cat."
"Lo kan bisa pakai jas hujan kalau enggak mau kotor."
"Kenapa tidak kamu saja?"
"Gue kan main basket. Ayolah, Nuna."
Telinga Nuna berdengung. Rigel tidak pernah menyerah bahkan saat mereka sibuk UTS, dia tidak akan melewatkan untuk mampir ke ruang kelas tempat Nuna ujian.
UTS selesai dan KTS dimulai. Nuna mengenakan kaos putih dan celana training. Rambut panjangnya diikat menjadi satu. Dia mengambil posisi di garis start bersama para peserta lain
"Go Nuna, lo bisa," teriak Joshua.
"Gas pol Nuna." Bimo memberi dukungan.
Tiba-tiba Nuna sakit kepala melihat tingkah mereka.
"Bersedia. Siap. Mulai."
Nuna berlari dan memimpin di depan. Jarak tempuh dalam lomba ini adalah lima kilometer. Tanpa berhenti, Nuna menjadi yang pertama masuk ke lapangan.
Byur. Cat warna-warni menghiasi kaos putih Nuna. Oh, dia harus mandi sekarang.
Rigel berdiri canggung menerima hadiah sebagai ganti Nuna. Gadis itu menghilang dengan cepat seperti hantu. Panitia berulang kali memanggil nama Nuna namun tidak ada respon. Sehingga Elang mendorong Rigel maju.
Sorakan dari para siswi menjadi keras saat melihat Rigel. Mereka terpesona dengan rambut semerah api dan senyum semanis gula. Hati mereka meleleh.
"Kak Rigel, I love you."
"Aaaaa, Rigel. Saranghae!"
"Gue suka, lo keren banget, Rigel."
Rigel melambaikan tangannya ala artis sebelum turun menghampiri Elang dan memarahinya. "Harusnya lo yang maju woi. Kan lo ketua kelasnya."
Elang terkekeh, "Tapi lo seneng tuh."
__ADS_1
"Siapa yang seneng hah?"
Elang melirik telinga Rigel yang merah. Dia memilih untuk mengalah.
Rigel melihat Nuna baru kembali di siang hari. Dia menyerahkan hadiah itu dan mengkritiknya karena menghilang begitu saja. Nuna mengabaikan omelan teman sebangkunya dan membuka hadiahnya. Ada tumblr yang cantik, tetapi Nuna sudah memilikinya.
"Buat kamu saja," ucap Nuna menyerahkan tumblr pada Rigel.
"Eh?"
"Wajah kamu merah. Kamu demam?"
Rigel membatu. "Siapa yang demam?" Dia memeluk tumblr itu dan memasukkannya dalam tas segera. "Lo udah kasih, kaga bisa diambil lagi."
"Ya."
"Sepulang sekolah lo kemana?"
"Les melukis."
"Gue boleh ikut?"
Nuna terdiam. Apakah remaja ini berniat mengikutinya selama 24 jam? Tidak cukup menganggu di sekolah, dia juga ingin menggangunya diluar?
"Saya akan tanyakan ke Guru." Nuna tahu jika dia langsung menolaknya, pasti telinganya akan berdengung. Dia menghubungi Guru Tang dan menyalakan tombol speaker agar Rigel mendengar penolakan gurunya secara langsung.
"Halo, Nuna."
"Selamat siang, Guru. Maaf saya mengganggu Guru. Saya ingin meminta izin untuk membawa teman saya nanti? Apakah Guru membolehkannya?"
Guru Tang terdiam. Wow, muridnya punya teman! Dia penasaran dengan teman Nuna. "Ya, tentu saja boleh. Guru akan menunggu kalian."
Nuna berkedip bingung. Dia melirik Rigel yang menyeringai ke arahnya. "Baik, Guru. Terima kasih."
Telepon dimatikan.
"Oke, jadi nanti langsung berangkat?" tanya Rigel semangat.
"Ya."
"Gue perlu bawa alat lukis sendiri?"
Nuna mengambil tote bag dan membukanya di depan Rigel. "Tidak. Kamu bisa menggunakan punya saya." Toh hanya sekali, pikir Nuna.
"Thanks, Nuna." Bagus! Rigel akan menyampaikan niatnya untuk ikut les nanti sehingga setelah batas waktu 30 hari selesai, Rigel tetap bisa melanjutkan misinya untuk membuat Nuna menyesal, hmph!
◾◾◾
__ADS_1