Forever Young

Forever Young
BAB XLIV Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3


Apartemen Mark.


Indah duduk di depan Mark sambil memakan roti yang disediakan oleh Mark. Dia baru menemui pacarnya setelah ikut balapan motor terakhir kali. Ah benar juga, Indah belum mendapat nomor Tuan Muda dari Keluarga Anderson.


"Lo belum ngasih gue nomornya Rigel," tagih Indah sambil melambaikan ponselnya.


Mata Mark menyipit dan senyum tipis muncul di wajahnya. "Oh, pacar gue minta nomor cowok lain sama gue."


Indah memutar bola matanya. "Enggak usah pura-pura. Lo mau gue ngedeketin dia kan?" Untuk Indah yang telah mengamati sikap Mark dengan menyinggung Rigel dan saudara tirinya, Nuna di hampir setiap pertemuan mereka, Indah akhirnya menangkap motif yang selama ini disembunyikan oleh Mark.


"Hahahaha." Mark tertawa keras. "Pinter juga lo." Dia mengakui kepekaan Indah yang masih muda lumayan baik.


Mark mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Indah berisi nomor Rigel.


Ting. Indah mengecek ponselnya dan dia tersenyum puas. Segera dia menyimpan nomor Rigel di ponselnya dengan nama 'ATM 9 <3'.


"Makasih, pacar," ucap Indah.


"Ha." Mark mendengus. "Masih ngakuin gue pacar lo, hah?"


Indah tersenyum miring, "Lo kan masih butuh gue buat tameng lo, biar enggak diganggu sama tunangan lo kan?"


"Indah, Indah... Menurut lo, gue kagak bisa nyari tameng lain selain lo?"


"Mark, ja-"


Ceklek. Pintu apartemen Mark tiba-tiba terbuka. Bunga yang memakai seragam sekolahnya masuk ke dalam ruangan.


Kedua mata Bunga membulat ketika menemukan sosok gadis sedang memunggunginya.


Beraninya, beraninya dia membawa gadis lain ke apartemen ini! Bunga tidak terima. Baginya, apartemen tempat Mark tinggal adalah rumah keduanya sebagai tunangan pria itu.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Bunga menahan amarah di dadanya. Dia menatap tajam pada Mark.


Indah beranjak dari kursi dan melihat penampilan Bunga dari puncak kepala hingga ke ujung kaki. Dia melirik Mark dengan heran. Tunangannya lumayan cantik, mengapa dia menolaknya?


"Pacar gue." Mark lalu berdiri di samping Indah dan memeluk bahu gadis itu. "Pacar kenalin, dia tunangan yang diputuskan oleh papa gue."


"Mark!" Emosi Bunga meluap. "Lo enggak sadar kesalahan lo? Ngapain lo bawa pacar lo kemari? Gue udah bebasin lo punya pacar di luar sana, tetapi gue juga bilang kan. Jaga nama gue sebagai tunangan lo."


Sudut bibir Mark terangkat ke atas. "Dan kapan gue pernah bilang setuju? Itu semua kemauan lo kan? Gue enggak ada kewajiban buat nurutin hal itu."


Pupil Bunga bergetar. "Ap, apa?" tanyanya terbata-bata." Dia tidak percaya Mark benar-benar tidak menganggapnya sebagai tunangan. Tangan Bunga mengepal di kedua sisi roknya. Dia berusaha keras menahan agar air matanya tidak keluar. Bunga tidak ingin terlihat lemah di depan gadis yang merupakan selingkuhan tunangannya. "Mark, gue tunangan lo. Walaupun lo enggak menganggap gue. Gue tetap tu-na-ngan, lo!"


Indah terjebak diantara pertengkaran mereka. Dia sedang memikirkan peran apa yang harus dia mainkan. Apakah berperan sebagai gadis polos yang lemah? Atau gadis arogan dan kasar?


Mark mengabaikan Bunga dan hanya menatapnya. Senyum di wajahnya semakin lebar membuat Bunga bertambah kesal. Fokus Bunga lalu beralih pada Indah.


Bunga bergerak maju dan mengangkat tangannya. "Dasar cewek jahat."


Indah menangkap pergelangan tangan Bunga. Dia sudah membuat keputusan. Wajahnya yang cantik tentu saja tidak boleh meninggalkan bekas luka sedikit pun.


"Argh," teriak Bunga. Dia merasakan sakit luar biasa di sikunya. Apakah tangannya patah? Mata berairnya memandang Indah dengan penuh kebencian.


Indah menyeringai dan tangannya yang bebas mencengkram dagu Bunga.


"Hiss."


"Dengar tunangan yang kagak dianggap. Buat Mark, status gue lebih penting dari status tunangan lo sekarang. Gue peringatkan, jangan pernah berpikir buat meletakkan tangan lo di wajah cantik gue," ancam Indah.


Bunga menatap Mark seakan meminta keadilan. Tetapi lelaki itu mengalihkan pandangannya ke jendela. Bunga lalu menutup matanya dan air mata membasahi kedua pipinya.


Indah segera menjauhkan tangannya, dia mengambil sapu tangan dan membersihkan telapak tangannya. Dia ingat saudara tirinya, Nuna pernah menggunakan sapu tangan mahal untuk melap bekas bola yang mengotori mejanya kemudian membuang sapu tangan itu. Indah mengikuti Nuna dengan membuang sapu tangannya ke tempat sampah setelah dia gunakan.


Bunga melihat hal itu dan dia segera berbalik pergi.

__ADS_1


Indah mendengus kesal menatap sosok Bunga yang menghilang. Dia lalu menatap Mark. "Gue pulang dulu, pacar," ucap Indah sebelum keluar dari apartemen.


Bunga menangis dan berlari hingga keluar dari gedung apartemen. Dia berjalan di trotoar dengan menundukkan kepalanya. Saat dia menatap ke depan, Bunga terkejut menemukan Joshua sedang berjalan ke arahnya. Bunga melihat sahabatnya sedang bersama teman-teman sekelasnya. Tangisnya semakin deras dan dia hendak pergi untuk berkelu kesah seperti biasa. Tetapi langkahnya terhenti saat dia sadar bahwa hubungannya dengan Joshua masih belum membaik.


Indah baru saja akan memesan transportasi online ketika dia melihat Rigel dan Nuna. Dia kemudian memperhatikan Bunga yang juga menatap mereka. Apa ini? Indah lalu tersadar bahwa mereka semua mengenakan seragam yang sama. Tidak, apakah dia mengenal Rigel? Atau Nuna?


Indah tidak ingin membuat image dirinya di depan cowok incarannya menjadi buruk. Dia bergegas menarik pipi kirinya dengan kencang dan mengeceknya di layar ponsel untuk melihat apakah warnanya sudah cukup merah. Setelah puas di segera berlari menghampiri mereka.


"Saudari," teriak Indah yang memanggil Nuna. Tetapi tatapan dan arah berlarinya justru menuju Rigel.


Rigel terkejut melihat pacar Mark yang akan menerjang dirinya. Dia pun bersembunyi di balik punggung Nuna. Kedua tangannya memegang bahu Nuna. "Hampir aja gue ternoda."


Indah yang akan menangis langsung terhenti ketika mendengar ucapan Rigel. Apa maksud pria itu? Memangnya dia kuman?


Nuna menatap Indah dan berkata, "Sudah saya katakan berulang kali, saya bukan saudarimu."


"Nuna, tolongin gue. Cewek itu main tangan sama gue," ucap Indah sambil menunjuk Bunga yang ada di belakangnya.


"Bohong," teriak Bunga. "Joshua, dia yang jahat. Tangan gue dipatahin. Lihat dagu gue, hiks hiks hiks."


"Bunga?" Joshua melupakan pertengkaran mereka dan menghampiri Bunga. Dia memeriksa tangan gadis itu yang merah dan juga dagunya. Dia menatap tajam pada Indah. "Beraninya lo lukain Bunga!"


"Dia yang mau nampar gue! Ya gue bertahan diri lah, ya kali gue terima aja?" maki Indah.


Bimo dan Elang tidak bergerak. Mereka dengan canggung hanya bisa diam di tempatnya menyaksikan pertengkaran Joshua dengan Indah dan Bunga yang menangis.


Rigel berbisik pada Nuna, "Gue udah lapar banget. Nyesel banget gue ikut saran Bimo buat ikut nyoba restauran yang lagi viral."


Mereka baru saja menyelesaikan tugas kelompok di sekolah. Nuna yang biasanya mengerjakan tugasnya sendiri tiba-tiba dimasukkan kedalam kelompok oleh Rigel bersama Joshua, Bimo dan Elang. Nuna akhirnya meminta izin kakeknya untuk tidak pergi ke tempat les dan menyampaikan alasannya dengan jelas dan rinci. Suherman kemudian menyadari bahwa cucu kesayangannya berhasil menjalin hubungan sosial pertemanan dengan baik dan dia memberitahu Nuna bahwa jadwal les nya akan diatur ulang.


Nuna yang bingung dengan perubahan kakeknya hanya bisa menerima dan mengerjakan tugas kelompok bersama mereka. Dia akan pulang ketika Rigel mengajaknya makan malam bersama yang lainnya. Dan disinilah mereka sekarang.


Joshua masih bertengkar dengan Indah untuk membela pujaan hatinya, Bunga.

__ADS_1


"Cabut diem-diem, gaes?" usul Elang pada keempatnya.



__ADS_2