
Tanio sedang menunggu di ruang tamu saat melihat Nonanya keluar dari kamar tidur dengan lesu. Dia bergegas menghampiri dan bertanya dengan panik, "Nona! Apakah Nona sakit?"
Nuna masih merasakan perutnya bergejolak, namun dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada asisten pribadinya, karena Tanio pasti akan meminta izin ke sekolah dan membawanya ke rumah sakit dengan segera.
Hari ini merupakan hari kedua Pekan Olahraga di Liver School. Jadwal perlombaan yang akan digelar pagi ini, salah satunya adalah lomba memanah sehingga Nuna tidak mungkin mengundurkan diri walaupun sedang sakit. Dia sudah mendaftar dan berjanji pada Rigel untuk ikut serta. Hal yang telah dia pelajari sejak kecil adalah Keluarga Pangestu pantang dalam mengingkari janji.
"Saya baik - baik saja, hanya mimpi buruk," ucap Nuna dengan wajah tanpa ekspresinya.
Tanio percaya pada kebohongan Nonanya. "Syukurlah kalau Nona tidak sakit." Tanio merasa lega dan berkata, "Nona, sarapan sudah disiapkan, Nona bisa ke ruang makan sekarang."
Nuna sebenarnya tidak memiliki nafsu makan tetapi dia harus tetap sarapan untuk meningkatkan staminanya. Jika dia mengikuti hatinya untuk menolak makan, maka kondisinya akan semakin parah.
Di meja makan, Nuna mengambil dua roti tawar dan mengoleskan selai cokelat. Dia juga memberikan satu potong pada Nino yang duduk di depannya.
"Terima kasih, kakak," ucap Nino lalu menggigit rotinya dan tersenyum puas.
"Sama - sama." Nuna menggigit rotinya dan sesekali membersihkan remahan roti di sudut mulut Nino.
Setelah selesai sarapan, Nuna berangkat ke sekolah.
Rigel telah melihat Nuna memasuki halaman dan menyerahkan tasnya. "Semangat lombanya, Nuna. Lo harus dapat bintang, oke?"
Nuna memeluk tas Rigel dan berjalan ke kelas tanpa menanggapi ucapan Rigel.
Rigel memandang punggung kecil itu dan menghela nafas. Dia mulai terbiasa berbicara sendiri jika dihadapkan dengan Nuna.
Pada pukul 8 pagi, para siswa sudah berkumpul di dua lapangan berbeda. Satu adalah lapangan tembak dan satunya adalah lapangan yang digunakan untuk lomba memanah. Antusiasme mereka lebih tinggi terhadap lomba menembak sehingga hanya sedikit yang menonton lomba memanah.
Ada 48 peserta di lomba memanah jenjang SMA yang terdiri dari satu perwakilan di setiap kelas.
Dari 48 peserta tersebut, mereka akan bertanding 1vs 1 sesuai undian yang ditampilkan di layar. Sehingga akan ada 24 peserta yang lolos ke semifinal yang nantinya dibagi menjadi 8 tim berisi 3 orang untuk bertanding. Dan 8 peserta inilah yang lolos ke final untuk merebutkan juara satu, dua dan tiga.
Dalam satu sesi pertandingan, peserta akan diberi waktu satu menit untuk menarik anak panah sebanyak tiga kali.
Nuna yang mendengar pengaturan lomba hanya bisa melakukan teknik pernafasan sitali. Dia tidak yakin apakah perutnya akan bisa bertahan hingga final nanti.
"Pertandingan keduapuluh, Nuna Callista dari Kelas XI MIA I melawan Yongki Prasetya dari Kelas X MIA 8."
Nuna bersiap di posisinya dan mengambil alat panah yang disiapkan panitia.
"Peserta Yongki akan memulai lebih dulu," ucap Wasit lalu memberikan aba - aba. "Mulai."
Yongki mengambil anak panah dan menariknya dengan kuat. Butuh waktu 45 detik untuknya melempar ketiga anak panah.
"Selesai. Berikutnya peserta Nuna. Mulai."
Nuna mengambil anak panah dan menembaknya dengan cepat sehingga hanya membutuhkan lima detik untuknya melontarkan tiga anak panah.
Yongki yang ada di sampingnya hanya menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Juri membacakan skor mereka, "Yongki mendapat 9, 9, 10. Skor total 28 poin."
Tepuk tangan dari siswa X MIA 8 bersorak untuk Yongki.
"Nuna mendapat 10, 10, 10. Skor total 30 poin."
Rigel, Joshua dan Bimo yang menonton bersorak gembira. Mereka bertiga lupa memberi tahu teman sekelas mereka bahwa Nuna berpartisipasi sehingga hanya ada mereka sebagai pendukung. Ketiganya memutuskan menyimpannya sebagai kejutan saat Nuna mendapat bintang nanti.
Nuna maju ke semifinal dan masuk ke tim tujuh.
"Pertandingan tim tujuh. Riski Putra dari kelas X IIS 4, Bunga Melati dari kelas XII MIA 6 dan Nuna Callista dari kelas XI MIA I."
Nuna dan dua orang lainnya sudah berdiri di tempat masing - masing.
"Peserta Riski Putra akan memulai lebih dulu. Mulai."
Riski yang melihat performa Nuna, merasa gugup dan tidak percaya diri. Dia menarik anak panahnya dengan gemetar sehingga meleset melewati target.
"Semangat Riski! Go Riski, go Riski go!" Teman - temannya berteriak memberi dukungan.
Riski mengatur nafas dan emosinya sehingga akhirnya dia berhasil mengenai target dengan dua anak panah yang tersisa.
"Selesai. Berikutnya peserta Nuna. Mulai."
Nuna mempertahankan temponya dan menyelesaikan dalam lima detik lagi.
"Selesai. Berikutnya peserta Bunga Melati. Mulai."
Tanpa terintimidasi oleh kecepatan Nuna, Bunga dengan tenang dan berhati - hati menarik busur dan melontarkan anak panah. Dia menyelesaikan ketiga anak panah tepat di detik keenampuluh.
"Enggak papa, Ris."
"Lo hebat."
"Lo keren, Ris!"
Riski merasa lega teman - temannya tidak menyalahkan dan justru menyemangatinya.
"Nuna mendapat 10, 10, 10. Skor total 30 poin."
Rigel, Joshua dan Bimo kembali bersorak.
"Bunga mendapat 9, 10, 10. Skor total 29 poin."
"Aduh dikit lagi, Nga."
"Santuy, thanks Nga udah ngewakilin kelas kita."
Bunga tertawa dan melambai pada teman - teman sekelasnya. Lalu dia menoleh ke Nuna dan tersenyum lebar, "Selamat."
Nuna mengangguk sopan. "Terima kasih, senior."
__ADS_1
"Semoga dapat juara satu di final nanti."
"Ya."
Nuna menang dengan satu poin lebih tinggi dan maju ke final.
Di final lomba memanah, delapan peserta berbaris menyamping. Dari hasil undian, Nuna mendapat posisi terakhir untuk memanah.
Peserta pertama sudah memulai.
Tiba - tiba sakit datang lagi menghantui perut Nuna. Nuna melihat sekarang peserta kedua yang memanah. Masih ada waktu sekitar 7 hingga 8 menit untuk gilirannya. Nuna berusaha tetap berdiri tegak walaupun nafasnya tidak stabil dan keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Sungguh, Nuna ingin pergi ke toilet sekarang!
Rigel mengamati wajah Nuna dari kejauhan yang terlihat pucat. "Eh Jo, itu si Nuna kayag mau pingsan enggak sih?"
Joshua menyipitkan mata dan terkejut, "Heh iya! Pucet banget woi."
"Gimana nih, kita samperin sekarang?" tanya Bimo ragu.
Akhirnya tiba waktunya untuk Nuna memanah. Kepalanya pusing dan dia memutuskan untuk mengambil ketiga anak panah. Dia mengatur nafasnya dan memfokuskan pandangannya. Nuna lalu melontarkan ketiga anak panah secara bersamaan.
Para penonton, peserta, wasit dan juri tercengang dengan aksi Nuna dan mereka lebih kaget ketika melihat anak panah pertama tepat di tengah lingkaran yang merupakan skor 10. Dan anak panah kedua membelah anak panah pertama. Dan anak panah terakhir tepat membelah anak panah kedua.
Bruk.
Mereka kembali sadar ketika mendengar suara keras seperti benda berat yang menghantam tanah dengan kuat.
"Nuna!"
Rigel berlari menghampiri Nuna yang pingsan. Dia menggendongnya dan bertanya dengan panik pada Joshua dan Bimo, "Kalian ada yang bawa mobil?"
"Gue bawa," jawab Bimo.
"Oke ayo kita ke rumah sakit sekarang."
"Lo sama Joshua tunggu di parkiran, gue ambil kuncinya di kelas," ucap Bimo yang bergegas ke kelas.
"Buruan, Bim," teriak Rigel sebelum mengikuti Joshua ke parkiran mobil.
◾◾◾
Cerita sampingan
Jaka : (membaca Forum Sekolah) Seorang siswi pingsan setelah mengejutkan para penonton!
Sean : Eh bukannya ini Nuna?
Ray : Eh kak Nuna pingsan?
Hans : Gila tapi dia keren banget tiga panah jadi satu
__ADS_1
Leo : Iya woi. Ayo ke rumah sakit jenguk dia
Dian : Oke, gue tanya di grup dulu di RS mana dia dirawat