Forever Young

Forever Young
BAB XXII Malam Penghargaan


__ADS_3


Suherman turun dari mobil bersama dengan cucu perempuannya. Dia memakai kemeja putih dan setelan jas berwarna hitam. Rambut hitamnya yang memiliki sedikit uban di sisir dengan rapi ke belakang. Tubuhnya masih tegap di usianya yang 53 tahun.


Nuna di sampingnya mengenakan gaun panjang selutut berwarna peach dengan desain off shoulder. Rambut panjang hitamnya di kepang menyamping, dengan hiasan jepit rambut berbentuk bunga.


Nuna memakai heels berwarna putih dengan tinggi 5 cm. Untuk riasan, Adora mengaplikasikan bb cream tipis, eyeshadow pink dengan glitter yang natural, dan lipgloss bening karena bibir Nuna memilki warna merah muda alami. Caitlin juga memberinya tas putih kecil sebagai pelengkap penampilannya yang mempesona.


Kakek dan cucu perempuannya berjalan berdampingan memasuki gedung konser. Suherman duduk di deretan para wali murid sedangkan Nuna duduk di barisan depan yang telah disiapkan oleh panitia.


Rigel yang tidak memenangkan lomba apapun, sedang duduk di sofa menonton siaran langsung acara malam penghargaan di ponselnya.


Setelah Kepala Sekolah SMA dari Liver School mewakili tiga kepala sekolah lain, memberikan sambutan, Ketua Panitia acara juga tampil ke depan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada para siswa yang sangat antusias dalam Pekan Olahraga tahun ini.


Kemudian para siswa gabungan dari ekstrakurikuler Teater dan Orkestra menampilkan Opera Hansel and Gretel. Opera ini menggunakan bahasa Jerman. Panitia telah menyiapkan dua layar disamping yang menampilkan terjemahan bahasa Indonesia untuk penonton yang tidak memahami bahasa Jerman.


Nuna menonton dengan seksama tanpa membagi fokus dengan melihat subtitle, karena bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa asing yang telah dia pelajari sejak kecil.


Opera Hansel and Gretel dibuat oleh komposer abad kesembilan belas bernama Engelbert Humperdinck dan ditulis oleh saudara perempuannya, Adelheid Wette.


Opera ini memiliki tiga babak yang menceritakan kedua bersaudara Hansel dan Gretel yang diusir dari rumah. Mereka lalu pergi ke hutan dan diculik oleh penyihir kanibal. Kedua bersaudara itu dibawa ke sebuah rumah yang penuh dengan kue, permen, dan manisan lainnya. Namun mereka mengetahui tipu daya si penyihir sehingga mereka bisa melarikan diri dengan selamat.


Nuna menonton opera yang berlangsung selama 1,5 jam dan melihat pembawa acara malam ini yang terdiri dari dua orang, memasuki panggung.


"Selamat malam, Bapak, Ibu dan teman - teman semua. Kembali lagi dengan kami, Cika dan Boby."


"Gimana tadi operanya, Cika?" tanya Boby.


"Luar biasa. Saya sampai terharu menonton Hansel dan Gretel bisa pulang dengan selamat," jawab Cika.


"Benar sekali. Untuk penampilan hari ini, teman - teman dari ekstrakurikuler teater dan orkestra sudah berlatih selama empat bulan," ungkap Boby.


"Wow, pantas saja penampilan mereka sangat hebat hari ini."


"Tentu saja." Boby lalu berkata, "Oke, Cika. Sekarang kita masuk ke segmen yang paling ditunggu - tunggu."


"Benar, Boby. Tanpa menunggu lebih lama lagi, inilah para pemenang dari Pekan Olahraga."


"Juara kedua Cabang Olahraga Basket, selamat kepada Tim Basket SMP."


Kapten Tim Basket SMP Hanafi maju ke depan.


"Juara pertama Cabang Olahraga Basket, selamat kepada Tim Basket SMA."

__ADS_1


Bimo yang berpakaian formal maju ke depan.


"Kepada Kepala Sekolah SMA dipersilakan untuk memberikan piagam dan piala kepada para pemenang," ucap Boby.


Kepala Sekolah mengambil piagam dan piala lalu secara bergantian menyerahkannya kepada Hanafi dan Bimo. Ketiganya lalu berfoto bersama sebelum turun dari panggung.


MC melanjutkan membaca nama pemenang.


Rigel yang tertidur saat menonton opera akhirnya bangun dan dengan panik mengambil ponselnya yang jatuh ke karpet. Dia segera masuk ke siaran langsung acara itu.


Di layar ponsel, Rigel melihat Nuna berdiri dengan dua orang lainnya memegang piagam dan piala. Dia mengamati wajah gadis itu yang dirias dengan baik. Tatapan Rigel semakin dalam saat melihat Nuna menampilkan senyum bisnis saat sesi foto bersama. Walaupun senyum itu tidak tulus, senyumannya menambah efek manis pada wajah Nuna yang selalu tanpa ekspresi.


"Gila," gumam Rigel yang tersadar kembali saat Nuna turun dari panggung dan kamera tidak menyorotnya lagi. "Bisa - bisanya gue pikir dia manis. Tsk."


"Rigel jam berapa ini?" tanya Jasmine yang turun dari tangga.


"Sepuluh, Ma."


"Kok kamu belum siap - siap? Katanya mau ke Bali nanti?"


"Ah," Rigel menampar paha kanannya. "Untung Mama ingetin." Dia segera berlari ke kamar dan menyiapkan kopernya.


Pukul sebelas malam, Rigel yang diantar oleh asisten pribadinya Dimas pergi ke bandara.


Walaupun Dimas bingung, dia tetap mengikuti perintah Rigel. "Baik, Tuan."


Rigel berubah pikiran dan pergi ke tempat tinggal Nuna. Karena status keluarganya, dia dengan mudah masuk ke komplek perumahan Nuna tinggal.


Rigel turun dan berpapasan dengan Tanio yang akan pulang ke apartemennya.


"Tuan Rigel?" Tanio kaget menemukan putra Kepala Keluarga Anderson berdiri di depan rumah Nonanya malam - malam.


"Halo, Tanio. Lo asisten Nuna kan? Gue mau jemput dia ke bandara," ucap Rigel.


Tanio bingung, "Apa maksud Tuan Rigel?"


"Oh? Nuna kagak kasih tahu lo kalo kelas kita pergi liburan malam ini?" tanya Rigel curiga.


Tanio menggeleng. "Nona tidak mengatakan apa - apa tentang hal itu dan dia sudah tidur sekarang."


Rigel tidak kaget, dia sudah menebak bahwa Nuna pasti tidak akan ikut pergi. Maka dari itu Rigel ada di sini untuk menculiknya, biarkan dia merasakan kesal diganggu saat tidur nyenyak, hmph!


"Mungkin dia lupa, gue akan bawa dia sekarang." Rigel lalu melangkah masuk.

__ADS_1


Namun Tanio lebih cepat dan menghalangi jalannya. "Tolong jaga sikap anda. Saya tidak bisa membiarkan Tuan Rigel masuk begitu saja."


Alis Rigel terangkat, "Oke. Telepon kakek Nuna sekarang. Gue akan minta izin."


Tanio yang mendengarnya, menyerahkan ponsel yang telah melakukan panggilan ke Suherman.


"Halo, Tanio? Ada apa kamu larut malam menelepon? Tidak ada masalah dengan Nuna kan?" Suherman bertanya dengan khawatir.


"Selamat malam, Kakek. Saya Rigel Anderson."


"Oh, nak Rigel. Ada apa ya, nak?"


"Saya ingin meminta izin pada Kakek untuk membawa Nona liburan bersama kelas kami," jawab Rigel dengan halus dan sopan.


"Oh kelas kalian liburan bersama?"


"Benar. Kami akan ke Bali malam ini setelah kepenatan Pekan Olahraga kemarin."


Ada hening sejenak di seberang telepon.


"Baik, saya izinkan. Tolong jaga Nuna dengan baik."


"Tentu saja. Terima kasih, Kakek."


Klik. Sambungan telepon ditutup.


Rigel menyerahkan ponsel Tanio, "Lo denger kan? Gue udah dapat izin."


Tanio penasaran dengan Tuannya yang dengan mudah melepaskan Nonanya pergi bersama remaja laki - laki ini. Apakah ada motif tersembunyi?


"Baik. Silakan masuk," ucap Tanio lalu memimpin Rigel memasuki rumah Nuna.



◼️◼️◼️


Cerita sampingan


Tanio pergi ke kediaman Suherman


Tanio : Tuan, mengapa anda mengizinkan Nona pergi bersama putra Keluarga Anderson?


Suherman : Sepertinya bocah bau itu menyukai cucu perempuan kesayanganku.. Cucuku memang yang paling cantik dan mempesona..

__ADS_1


Tanio : ???


__ADS_2