
Di hari minggu pagi. Nuna mengajak adiknya untuk pergi ke taman bermain yang telah dia pesan khusus. Sehingga hanya mereka bertiga yang bisa masuk ke dalam dan bermain dengan tenang.
Nino menatap sekitarnya dengan mata berbinar. "Kakak, Nino mau naik itu." Dia menggoyangkan tangan kecilnya yang menggenggam tangan kakaknya.
Tanio mengangkat kamera dan bersiap memotret kakak adik sebagai koleksi Tuan Suherman. Mungkin ini album kedua puluh, pikir Tanio saat mengingat jejeran album di ruang tamu rumah tuannya.
Nuna melihat ke arah yang ditunjuk Nino. "Mau naik komedi putar?"
"Iya, komedi putar!"
"Baik." Nuna menggandeng adiknya ke wahana itu. Dia memilih kuda dengan ketinggian terendah. Dia lalu membantu Nino untuk duduk di atas kuda sedangkan dirinya berdiri di sisi kiri Nino untuk menjaganya.
"Kakak naik juga."
Nuna menggeleng. Nino mengerutkan bibirnya. Namun sedetik kemudian kerutan di bibirnya berubah menjadi senyuman. Nino berteriak dengan riang saat mereka berputar perlahan. Nuna mengamati ekspresi adiknya dan ikut senang melihatnya begitu gembira.
Tanio yang ada di depan mereka, bersandar pada salah satu kuda dan sibuk mengabadikan momen kedua kakak beradik ini.
Setelah wahana komedi putar berhenti. Nino menarik kakaknya menaiki bianglala. Nino duduk dengan Nuna sedangkan Tanio ada di seberang mereka.
"Wah, kak lihat itu."
"Iya, itu namanya tornado."
"Boleh Nino naik?"
"Tidak, tunggu Nino tumbuh besar dulu."
Nino cemberut. Lalu dia menunjuk sebuah bangunan. "Kalau yang itu?"
Nuna mengamati bangunan dan memastikan bahwa itu adalah wahana istana boneka. "Itu adalah istana boneka."
"Nino mau kesana!"
"Baik. Ayo duduk yang tenang."
"Yeay." Nino yang senang mematuhi kakaknya. Dia menikmati hembusan angin dan pemandangan di sekitarnya.
Setelah berputar lima kali, bianglala akhirnya berhenti. Sesuai janjinya, Nuna mengajak Nino naik perahu mini untuk menjelajah apa yang ada didalam istana boneka. Tanio mengambil tempat di belakang mereka.
Perahu bergerak perlahan dan ketiganya disambut oleh musik dari luar negeri dan penampilan tari oleh boneka.
"Wah." Nino menatap kagum pada para boneka. "Keren, cantiknya."
Puluhan tari dari berbagai negara ditampilkan. Perahu melanjutkan ke zona berikutnya. Nuna mendengar lagu daerah dari berbagai provinsi dan para boneka dengan lincah bergerak sesuai ritme.
"Wah, wow."
"Cantik."
"Wow, keren."
__ADS_1
Nuna tersenyum dan menahan diri untuk tidak mencium pipi tembam itu. Adiknya benar-benar menggemaskan.
Perahu berhenti di tempat semula. Nino tidak sabar ke wahana berikutnya. Dia menarik kakaknya ke naik ke rollercoaster mini. Nuna agak ragu apakah wahana itu aman untuk bayinya sehingga dia meminta petugas untuk melakukan uji coba.
Nuna memandang Tanio, "Kamu naik."
"Saya?" Tanio menunjuk dirinya. Dia melihat desain wahana yang kekanakan untuk dirinya yang sudah dewasa. Tetapi karena perintah Nonanya, Tanio dengan enggan naik.
"Kami akan memulai," ucap petugas.
Rollercoaster mini berjalan perlahan, Tanio merasakan getaran dari rel dan terpaan angin mengenai tubuhnya.
"Lapor Nona." Tanio yang telah turun menghadap Nonanya. "Guncangannya cukup stabil, namun karena tubuh saya besar dan kaki saya panjang agak tidak nyaman. Tetapi untuk Tuan Muda Nino bukan masalah. Kemudian untuk angin masih tergolong aman sehingga Tuan Muda tidak akan masuk angin. Untuk ketinggian dan kecepatan relatif aman."
Nuna menimbang hasil analisis dari asisten pribadinya. Dia lalu melihat Nino menatapnya dengan kedua mata berair. Oh baiklah. Nuna tidak bisa menolak.
"Baik, mari kita lakukan," ucap Nuna membuat Nino bersorak.
"Saya ikut lagi, Nona?"
"Tidak. Kamu ambil foto yang bagus."
"Baik, Nona." Tanio menyaksikan Nonanya dan Tuan Muda naik ke rollercoaster mini itu. Dia lalu mengatur kameranya agar bisa menangkap gambar yang bergerak cepat. Hal ini perlu dilakukan agar gambar yang diambil tidak blur.
"Kami akan mulai," ucap petugas dan rollercoaster mini melaju di jalurnya.
Nino berteriak dengan senang sedangkan Nuna tersenyum tipis dengan pandangan tertuju pada adiknya.
"Ayo, pulang."
"Baik, Nona." Tanio membuka pintu mobil dan ketiganya pulang ke rumah.
Nuna baru saja mandi dan akan memanggil pelayan untuk memijat kakinya yang pegal. Tetapi panggilan telepon membuatnya mengurungkan niatnya sementara.
-Nuna, lo di rumah, kan?
"Ya."
-Gue otw, sejam lagi lo harus siap di depan
Mata Nuna menyipit. "Tidak. Saya akan tidur."
-Ayolah Nuna, ingat perjanjian kita?
Perjanjian lagi. Nuna melakukan teknik pernapasan sitali sebelum menjawab, "Baik."
-Nah gitu dong. Oke tunggu gue.
Telepon diputus. Nuna menatap layar ponselnya, jarinya berada di atas tombol blokir. "Ya, biarkan saja," gumam Nuna lalu meletakkan ponselnya di tempat tidur. Dia berjalan menuju lemari dan melihat pakaiannya.
Jari-jari Nuna menyapu deretan kemeja. Karena cuaca dingin, dia memilih kemeja berwarna kuning gading yang memiliki lengan panjang serta celana jeans yang mempunyai panjang hingga mata kakinya. Setelah berganti baju, Nuna menatap cermin dan mengaplikasikan sunscreen. Walau hari sudah gelap, dia tetap perlu merawat wajahnya.
Nuna yang telah memakai sepatu putih menduga bahwa Rigel akan menjemputnya dengan sepeda motor, akhirnya dia mengambil jaket denim dan memakainya. Nuna lalu mengikat rambutnya menjadi satu dan meletakkannya di sisi kanan.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk Nuna menunggu Rigel.
"Kemari," perintah Rigel.
Nuna mendekat dan Rigel memasangkan helm pada Nuna.
Klik. Helm terkunci dengan baik.
"Ayo, naik."
Nuna meletakkan tangannya di bahu kiri Rigel dan naik ke motor.
"Kita berangkat."
Wush. Hembusan angin menerpa Nuna. Tangan Nuna bergetar menahan dingin, dia akhirnya mencari kantong jaket Rigel dan memasukkan telapak tangannya.
Rigel sudah terbiasa dengan gerakan tiba-tiba Nuna sehingga dia tetap mengendarai motor dengan stabil. Butuh waktu duapuluh menit untuk sampai di basecamp Eternal Squad.
Para anggota Eternal Squad saling melirik setelah melihat ketua mereka berjalan berdampingan dengan Nuna.
"Malam, bos. Malam, Nuna," sapa Fajar.
Rigel menaikkan alisnya bingung.
"Selamat malam," jawab Nuna.
Fajar terkekeh. "Oh iya Bos, untuk motornya Bos mau naik motor pribadi atau memilih motor yang di sana, Bos?" Dia menunjuk lima motor yang berjejer di halaman.
Rigel tidak menjawab tetapi mengecek motor satu per satu. Dia lalu menimbang keuntungan dan kerugian dari masing-masing. Tatapannya beralih pada motornya sendiri yang telah dimodifikasi minggu lalu.
"Gue pakai motor pribadi gue aja," ucap Rigel yakin. "Kalian udah bawa alat-alat yang dibutuhkan kan?"
Adit menunjukkan alat pemadam kebakaran di tangannya. "Tenang, Bos. Kami sudah siapkan sepuluh tabung."
Nuna menatap heran. Apa yang akan mereka lakukan sampai membawa alat pemadam kebakaran?
"Gue juga udah siapin tim medis di sana," ucap Cakra.
Bram melanjutkan, "Gue juga udah siapin orang buat jaga jalan biar kagak ada yang ganggu, Bos."
Dari percakapan mereka, Nuna menduga Rigel akan balapan motor seperti dulu.
Rigel menyeringai. "Bagus bagus. Kalian memang bisa diandalkan gaes. Ayo kita jemput uang Mark sekarang."
Para anggota Eternal Squad tertawa bersama. Dipimpin Rigel yang membonceng Nuna, mereka berangkat menuju lokasi adu balap. Fajar, Rafa dan Bram mengikuti dengan motor masing-masing. Sedangkan Adit, Cakra dan Delon berada dalam satu mobil.
Sepanjang jalan, Nuna berdoa agar dia tidak mendapat masalah. Besok adalah hari Senin dan dia tidak ingin terlambat atau bahkan tidak masuk karena kegiatan malam ini.
◾◾◾
__ADS_1