
Tanio melihat Nonanya berjalan bersama Tuan Muda dari Keluarga Anderson. Apakah remaja itu mengganggu Nonanya lagi?
"Selamat sore, Nona. Silakan naik," ucap Tanio sambil membuka pintu mobil.
"Sore, Tanio. Terima kasih." Nuna masuk ke dalam pintu dan diikuti oleh Rigel.
"Eh?" Tanio berkedip bingung. "Mengapa anda masuk juga, Tuan Rigel?"
Rigel yang telah duduk melirik asisten pribadi Nuna dan menjawab dengan enggan, "Gue mau daftar les bareng Nuna."
"Biarkan saja dia. Kamu segera mengemudi, Tanio. Saya tidak ingin terlambat."
Tanio mendengar perintah Nonanya dan mengantar mereka ke rumah Guru Tang. Dia ragu apakah Guru Tang akan menerima murid baru. Untuk berguru pada Master seperti Guru Tang, calon murid harus melewati seleksi ketat. Saat ini Guru Tang hanya memiliki tiga murid. Oh, hal terpenting sekarang adalah menghubungi Tuan Suherman dan melaporkan perilaku mencurigakan Tuan Rigel!
Tanio melihat mereka memasuki rumah Guru Tang. Dia langsung mengambil ponselnya.
"Halo, Tanio. Ada apa?"
"Selamat sore, Tuan. Saya ingin melaporkan bahwa Tuan Muda Keluarga Anderson mengikuti Nona pergi ke tempat les. Apa yang harus saya lakukan?"
Suherman terkekeh. "Awasi saja remaja bau itu."
"Baik, Tuan."
Di dalam rumah Guru Tang, Nuna dan Rigel bertemu tuan rumah.
"Selamat sore, Guru," ucap Nuna memberi salam.
"Sore, Nuna. Ini teman kamu, nak?" tanya Guru Tang ketika melihat Rigel berdiri di samping muridnya.
Nuna mengangguk. "Benar Guru."
Rigel tersenyum dan menyapa, "Selamat sore, Tuan Tang. Nama saya Rigel. Saya berniat untuk belajar melukis bersama Nuna."
Alis Guru Tang terangkat. Apakah remaja ini menggunakan kelasnya untuk mengejar cinta?
"Maaf, saya memiliki persyaratan khusus untuk menerima murid. Tetapi sesekali kamu bisa ikut melukis dengan Nuna sebagai bentuk pengecualian karena gadis ini adalah murid jenius saya."
Rigel sudah menebak bahwa akan sulit untuk les melukis bersama Nuna, tetapi tidak buruk juga untuk mendapat izin seperti itu.
"Terima kasih, Tuan Tang."
"Oke, kalau begitu kelas hari ini, Nuna. Guru akan memintamu saling melukis potret dengan nak Rigel. Bagaimana?"
"Baik, Guru."
"Bagus."
__ADS_1
Nuna dan Rigel duduk saling berhadapan dengan kanvas dan alat lukis yang telah siap. Nuna mengamati Rigel yang merupakan objeknya. Remaja itu memiliki rambut merah yang mencolok. Wali Kelas sudah menyerah untuk memperingatinya. Tatapan Nuna turun mengamati bentuk mata, hidung dan mulut Rigel. Dia lalu mulai menggoreskan pensilnya.
Rigel yang ditatap oleh Nuna tiba-tiba merasa gugup. Dia baru tenang ketika Nuna mengalihkan perhatiannya pada kanvas. Giliran Rigel yang mengamati sosok Nuna.
Rigel memperhatikan rambut hitam gadis itu dikepang menjadi satu di sisi kanan dengan jepit rambut sebagai hiasan. Alisnya melengkung lembut dan bulu matanya cukup panjang. Rigel melihat hidung mancung Nuna dan mulut kecil itu. Walaupun wajah gadis itu tanpa ekspresi saat fokus melukis, Rigel tetap terpesona dengan kecantikan Nuna.
Deg deg deg. Berdebar.
Tangan Rigel reflek menyentuh tempat jantungnya yang berdetak dengan kencang. Apakah ketika melukis, bisa membuat seseorang terlihat menakjubkan?
Guru Tang mengawasi keduanya dan tentu saja gerakan Rigel tidak luput dari matanya. Tsk, tsk. Dasar anak muda zaman sekarang.
Nuna sedang mengoleskan cat pada kanvas saat dia merasakan tatapan intens dari Rigel yang tidak kunjung menghilang. Dia akhirnya mengangkat pandangannya dan keduanya saling menatap.
"Apakah kamu tidak menggambar? Saya hampir selesai."
Rigel tersadar dan tertawa canggung. Dia tidak menjawab Nuna melainkan mengambil kuasnya. Sejak dulu Rigel terbiasa melukis langsung menggunakan cat minyak tanpa menggunakan sketsa.
Nuna sedikit terkejut ketika melihat Rigel menggoreskan kuasnya dengan berani. Gerakannya begitu cepat. Dia tidak melukis hal lain, kan? Atau gayanya memang abstrak?
Satu jam berlalu. Guru Tang melihat hasil keduanya dan puas dengan lukisan mereka. Dia tidak menyangka, teman yang dibawa oleh muridnya memiliki bakat melukis dengan gaya yang unik.
"Dari keluarga mana kamu, nak?"
"Saya berasal dari Keluarga Anderson."
Oh pantas saja. Guru Tang mengingat teman lamanya yang merupakan kakek Rigel. Pria tua itu mewariskan bakatnya pada cucunya ternyata.
"Baik, Tuan Tang. Terima kasih." Rigel menyesali dalam hatinya bahwa lukisannya belum bisa menangkap penglihatan Guru Tang. Apakah dia harus mencoba ikut ke tempat les Nuna yang lain?
"Untuk Nuna, mengapa kualitas lukisanmu sedikit menurun?"
Rigel mengamati lukisan Nuna dan merasa wajahnya lebih tampan dari selembar kertas.
"Maaf, Guru."
Guru Tang menunjuk beberapa bagian di kanvas. "Garis di sini kabur, tidak tajam seperti lainnya. Kamu juga menimpa warna pada ini dan ini. Ada yang membuatmu kurang fokus."
Pupil Nuna bergetar. Dia melirik Rigel, subjek yang membuatnya terganggu. Nuna tidak nyaman dengan tatapan Rigel. Dia merasakan jantungnya berdenyut dengan aneh.
"Maaf, Guru."
"Tidak apa. Guru sudah mengoreksi lukisan kalian. Kelas hari ini telah selesai."
"Terima kasih, Guru."
"Terima kasih, Tuan Tang."
Rigel membantu Nuna membereskan perlengkapan melukisnya. Dia tahu gadis itu meliriknya sesaat saat ditanyai oleh gurunya. Apa maksud tatapan itu? Dia hanya duduk dan tidak melakukan hal yang bisa mengurangi fokusnya, seperti bermain dengan cat air atau sebagainya.
__ADS_1
"Apa yang ngebuat lo kagak fokus?" tanya Rigel yang penasaran.
Tangan Nuna yang menutup resleting tas berhenti. "Kamu."
Rigel tertegun. Gadis ini berterus-terang tanpa rasa malu. "Oh? Kenapa?"
"Tatapan kamu membuat saya tidak nyaman," jawab Nuna dengan jujur.
"Ap, apa?" Rigel menggosok hidungnya yang tidak gatal. "Sorry. Soalnya lo keliatan lebih cantik saat ngelukis tadi." Rigel mengharapkan Nuna akan malu oleh pujiannya.
Tetapi ekspektasinya dibanting realita. Seperti biasa Nuna membalas dengan tenang dan penuh percaya diri. "Saya memang cantik. Terima kasih."
Rigel tidak bisa berkata-kata. Oh! Dia tiba-tiba ingin bertanya, "Terus kalau menurut lo, gue gimana? Cakep kan?"
Nuna mengamati wajah Rigel dan mengangguk. "Tampan."
Apa ini? Mengapa rasanya dipuji oleh robot? Rigel tahu gadis itu murni memujinya tanpa ada niat lain seperti penggemarnya di sekolah. Rigel menghela nafas tidak berdaya. "Gue emang tampan dari lahir. Btw lo abis ini mau kemana?"
"Les biola."
"Oke gas."
"Kamu tidak pulang?"
Rigel nyengir. "Gue mau ngikutin lo ampe lo pulang ke rumah."
Nuna terdiam. Remaja ini besok tidak akan mengikutinya lagi kan? Hanya hari ini saja?
"Tidak ada besok."
"Apa?" tanya Rigel bingung.
"Saya hanya membiarkanmu mengikuti saya hari ini saja. Tidak ada besok," jelas Nuna.
Rigel menyeringai. "Terserah gue dong. Lo kagak lupa kan ada perjanjian kita? Lo harus kasih kompensasi."
Nuna melakukan teknik pernafasan sitali.
Tanio di samping mereka bertambah gugup saat melihat Nonanya melakukan kebiasaan itu. Tidak, Nona marah!
Nuna menoleh pada asisten pribadinya. "Tanio, ayo berangkat."
"Baik, Nona." Tanio membuka pintu mobil dan mempersilakan Nuna masuk.
Rigel mengekor di belakang dan duduk di samping Nuna. Sepanjang perjalanan senyumnya tidak hilang dari wajahnya. Sangat senang membuat Nuna kesal. Dia melirik gadis di sampingnya yang memakai earphone. Rigel terkekeh. Dia tahu Nuna tidak ingin berbicara dengannya. Tetapi tidak masalah. Dia bisa mengganggunya di tempat les biola nanti.
Rigel menatap jari-jarinya yang kapalan. Sudah lama sekali dia tidak bermain musik. Gitar di rumahnya masih dibungkus dalam plastik. Mungkin pulang nanti dia akan memainkannya.
__ADS_1
◾◾◾