
Setelah pertemuan orangtua di ruang konseling berakhir, Jasmine pergi ke rumah sakit dengan segara. Dia sangat khawatir dengan kondisi putranya.
Jasmine membuka pintu kamar tempat Rigel dirawat. Lalu dia menangkap pemandangan putranya yang sedang tidur terlentang memainkan ponselnya dengan tangan kanannya. Tunggu, tangan kanan? Bukankah tangan kanannya patah lagi?
Rigel menoleh saat pintu kamar terbuka dan menemukan mamanya berjalan cepat menghampirinya. Dia dengan panik membuang ponselnya namun dia tahu sudah terlambat. Dengan gugup Rigel menyapa, "Halo, Ma."
Jasmine mendengus dan menarik telinga Rigel dengan kencang.
"Aaaaa ampun, Ma, sakit!!" Rigel berusaha melepaskan telinganya tetapi mamanya memutar lebih erat.
"Kamu berani membohongi Mama, hm? Mama lari - lari ke sini, tapi kamu dengan santai menipu Mama! Kamu enggak tahu jantung Mama seakan mau lepas ketika tahu kamu masuk rumah sakit lagi!" Setelah memarahi Rigel, Jasmine akhirnya membebaskan telinga putranya.
Rigel mengusap telinganya yang merah. "Maaf, Ma. Rigel enggak bermaksud untuk bohong." Dia lalu menjelaskan rencananya pada Jasmine tanpa menyembunyikan apapun.
Setelah mendengarkan penjelasan Rigel, Jasmine tidak melarang tindakan putranya, dia bahkan mendukungnya penuh. Bagaimana bisa gadis secantik itu tidak menyesal melukai putranya yang tampan?? Tapi gadis itu sangat cantik, ah! "Papa kamu tahu hal ini?"
Rigel menatap takut Mamanya, diam - diam dalam hati meminta maaf pada Papanya karena telah mengkhianati rahasia mereka. "Iya, Papa tahu."
"Jadi kalian berkomplot menyembunyikan ini dari Mama?" Jasmine merasa kesal, Haykal awas saja saat pulang nanti. Biarkan dia tidur di ruang tamu, hmph!
Haykal yang tengah memimpin rapat dengan para Direktur tiba - tiba merasakan hawa dingin di punggungnya. Perasaan ini sangat familiar..
Sekretaris Haykal melihat bosnya menggigil sehingga dia menawarkan, "Tuan, anda ingin menambah kopi?"
Haykal menggeleng, "Tidak. Terima kasih. Kita lanjutkan, silakan Direktur Pemasaran memulai presentasi."
◾◾◾
Rigel sedang berbaring malas. Mamanya telah kembali bekerja dan dia dengan bosan menunggu kedatangan Nuna. Tiba - tiba ponselnya berbunyi.
...Grup Chat...
...LAKIK!! 💪...
...Bimo added you to Group Chat...
Bimo : Welcome, new member!!
Joshua : 🎉🎉🎉
Kevin : 🎉🎉🎉
Ray : 🎉🎉🎉
Hans : Selamat datang di Tim Basket kami.
Leo : Halo, bro
Jaka : Wah kakak kelas
^^^Rigel : Thanks, guys.^^^
Bimo : Mana si Dian ama Sean?
Kevin : Dian lagi nugas
Bimo : Sean?
Joshua : Jaka, coba lo cek Sean di kelasnya
Jaka : Jauh bro, malas jalan gue
Joshua : Sean, keluar lo, kita harus kompak
Bimo : Udah, udah. Kenalin guys, anggota baru kita, Rigel
^^^Rigel : Halo semua^^^
Ray : Murid baru ya bang?
^^^Rigel : Yoi^^^
Hans : Di sekolah lama main basket juga lo?
^^^Rigel : Ya^^^
Sean : Welcome..
Joshua : Nah ini anaknya, oke lengkap
Sean : Sorry, bokap telepon tadi
Hans : Perasaan bokap lo telepon hampir tiap hari dah
Kevin : Uhuy, anak bokap
Sean : Iri bilang, bos
Bimo : Lo dulu basket bagian apa, Bro?
^^^Rigel : Shooting Guard^^^
__ADS_1
Kevin : Wii keren, sama kayag lo tuh Jak.
Jaka : Wkwkwk
Ray : Pernah menang tanding enggak bang?
^^^Rigel : Pernah lah, runner up kejuaraan tingkat nasional^^^
Leo : !!!
Sean : !!!
^^^Rigel : Tim ini udah pernah menang ampe mana?"^^^
Rigel memandang layar ponsel yang masih memiliki tampilan chat yang sama sejak sepuluh menit lalu. Mengapa tidak ada yang menjawab? Rigel merasa ada yang tidak beres. Jangan bilang mereka belum pernah menang satu kali pun!
Di sisi lain, Bimo dan Joshua menatap layar ponsel mereka dengan hampa.
"Gimana nih? kalau kita jujur bilang belum pernah.." Bimo sebagai kapten tim basket bingung.
"Gue yakin sih, si Rigel bakal langsung out. Tim kita terlalu hopeless buat dia yang overpower," ucap Joshua.
Bimo menghela nafas sedih, "Lebih baik mengatakan kejujuran walaupun pahit." Bimo akhirnya mulai mengetik.
...Grup Chat...
...LAKIK!! 💪...
^^^Bimo : Belum pernah...^^^
Rigel : Luar biasa. Lawan antar sekolah?
Joshua : Kalah teros...
Rigel : Berapa kali kalian latihan?
Hans : Tiga kali seminggu
Rigel : Hah?
Joshua : Kenapa bro?
Rigel : Cuma tiga kali?
Ray : Iya, bang
Rigel : Jelas ini penyebab kalian kagak pernah menang
Rigel : Bim, lo sebagai kapten harus memutuskan
Rigel : Kita harus latihan setiap pulang sekolah
^^^Bimo : Ini...^^^
Sean : Sorry, gue enggak bisa kalo tiap hari
Ray : Gue juga enggak, ada les bang
Jaka : Iya, sama
Rigel : Oke kalo gitu lima kali seminggu
Rigel : Sabtu Minggu pagi kita latihan
Leo : !!!
Kevin : !!!
Rigel : Gimana menurut lo, Bim?
Ray : Kan hari libur, bang, mager banget ke sekolah :(
^^^Bimo : Ayo voting.. pilih ❌ enggak setuju, ✔️ setuju^^^
Joshua : ✔️
Rigel : ✔️
Jaka : ❌
Sean : ❌
Ray : ❌
Kevin : ✔️
Hans : ✔️
^^^Bimo : ✔️^^^
^^^Bimo : Oke, yang setuju udah lima orang.^^^
Dian : ❌
__ADS_1
Leo : ... Kenapa gue jadi penentu
Joshua : Buruan!
Ray : Yok Bang segera pilih
Kevin : Udah lima menit. Kemana lo?
Hans : Lo dimana oe? Kok gue kagak lihat lo di kelas?
Hans : Udah bel masuk btw.
Hans : Mampus, Guru Sejarah udah masuk
Hans : Leo lo dimana dah? Ini lagi di absen
Hans : WKWKWK lo ditulis ALPA
Leo : Sabar woy
Leo : **** lo, Hans.
Leo : Lo kan bisa bilang gue di kamar mandi
Hans : Ogah. Ketahuan gue yang kena nanti
Leo : Gue abis makan bakso masih macet di jalan
Jaka : Ngapain dah lo jauh - jauh beli bakso?
Jaka : Kafetaria dah nyediain makan siang
Leo : Bosen gue masakan barat mulu :(
Dian : Parah lo enggak jajan bakso enggak ngajak
Dian : Kalo tahu kan, gue bisa nitip
Leo : Gue udah mau nyampe :)
Joshua : Woi. Nih anak malah ngobrol, vote dulu!
Leo : Hehe
Leo : ✔️
^^^Bimo : Oke.^^^
^^^Bimo : Enam orang setuju^^^
^^^Bimo : Kita mulai latihan lima kali seminggu bulan depan^^^
Kevin : 👍🏻
◾◾◾
Suherman sedang duduk di dalam mobil dengan Nuna di kursi belakang dan Tanio di kursi pengemudi. Dia menemukan telapak tangan cucu perempuannya yang dibalut perban.
"Kenapa tanganmu diperban? Apakah sakit?" Suherman meraih tangan cucunya dan menghela nafas lega tidak mencium bau darah yang kuat.
"Rigel menggigitnya."
"Apa?" Suherman marah. "Dasar anak bau itu, beraninya dia menggigit tangan cucuku tersayang! Katakan, mengapa dia menggigitmu?"
"Dia meminta saya untuk bertanggung jawab atas lukanya dengan membantunya mencatat pelajaran. Dia beralasan tangan kanannya sakit, jadi saya menyarankannya untuk berlatih menulis menggunakan tangan kirinya. Kemudian dia meraih tangan kanan saya dan menggigitnya," jelas Nuna dengan rinci.
Suherman tanpa di sengaja bertukar tatapan dengan Tanio. Mereka dalam pemahaman yang sama.
Cucunya berbicara banyak hari ini!
Nonanya akhirnya mengatakan satu paragraf dalam satu nafas!
Mereka bersuka cita tanpa mengetahui Nuna telah berbicara banyak saat bertengkar dengan Rigel.
Nuna memandang ragu kakeknya yang diam, "Apakah saya salah, Kakek?"
"Tidak. Kamu sudah melakukan hal yang benar, bocah bau itu yang salah, oke?"
Nuna mengangguk.
"Kakek akan ikut denganmu ke rumah sakit nanti." Suherman penasaran dengan bocah yang berhasil mempengaruhi emosi cucu perempuannya. Walaupun hanya sedikit, setidaknya dia yakin bocah ini bisa meningkatkan EQ Nuna. "Sekarang kamu kembali ke kelas. Kakek akan menjemputmu tepat waktu."
"Baik," ucap Nuna.
◾◾◾
Cerita sampingan
Jasmine : (memberikan bantal pada suaminya) Jangan masuk ke kamar!
Haykal : Sayang... :( (menatap sedih istrinya)
__ADS_1
Brak. Pintu kamar tidur ditutup dengan keras.