Forever Young

Forever Young
BAB XXXIX Tantangan 1 vs 1


__ADS_3


Rigel berkumpul bersama para anggota Eternal Squad di basecamp mereka. Ketujuh orang duduk melingkari meja. Rigel berada diantara wakilnya, Rafa dan bendahara squad Fajar.


"Jadi lo bilang, kas kita masih Rp496.893.000?"


Fajar mengangguk, "Benar, Bos."


"Sisain 100 juta buat pegangan kita, sisanya buat beli saham seperti biasa," ucap Rigel.


Eternal Squad yang diketuai Rigel memiliki usaha bersama. Sebuah perusahaan IT yang didirikan tiga tahun lalu. Saat ini hasil produksi elektronik dari perusahaan mereka telah berkembang pesat, namun tidak satu pun dari mereka ingin mengambil peran di sana.


Bagi mereka cukup dengan memperkerjakan orang yang cakap untuk mengolah dan mengembangkan modal mereka. Eternal Squad lebih menyukai kehidupan remaja yang tidak akan bisa diulang ketika mereka dewasa nanti.


"Siap, Bos."


"Oke, ada kabar dari si Mark?" tanya Rigel. Akhir-akhir ini matanya berkedut. Bimo memberitahunya bahwa hal itu merupakan pertanda buruk. Jadi Rigel berpikir bahwa Mark mungkin merindukannya.


"Ada."


Hening sejenak.


"Apa? Jangan sepotong doang lo ngomongnya, Rafa." i


Rafa yang dimarahi ketuanya hanya terkekeh. "Sabar bro. Gue enggak tahu ini kabar baik atau buruk. Tunangan Mark udah balik dari luar negeri."


"Kabar baik, lah," seru Adit.


"Enggak juga."


"Kok lo berpikir enggak, Raf?" tanya Bram.


"Karena Mark enggak suka sama tunangannya bahkan sering menghindar."


Delon menyesalkan hal itu, "Duh, padahal udah ngira dia bakal sibuk pacaran. Jadi enggak mengganggu kita."


Cakra mengangguk setuju. "Sayang banget."


"Ini bukan tunangannya? Masih SMP?"


Semua melihat ke layar ponsel Adit.


Rafa menggeleng, "Bukan." Dia lalu menunjukkan foto gadis yang memakai seragam Liver School. "Nih orangnya, namanya Bunga."


Rigel terkejut melihat penampilan yang mirip dengan tetangga Joshua. Oh, sepertinya dia baru saja mengetahui hal terlarang, sungguh dunia yang sempit. Mungkin jika dibuat sinetron yang ditonton ibunya, kisah mereka akan mempunyai judul Tetangga yang Kusukai Ternyata Tunangan Musuh Temanku.


"Puff hahaha."


Fajar menatap ketuanya yang tiba-tiba tertawa dengan bingung, "Kenapa lo, Bos? Kagak kesurupan kan lo?"


"Wah, inget lo, udah ada Nuna jangan main mata sama tunangan orang."


Tawa Rigel terhenti otomatis. Dia mendengus. "Enggak ada apa-apa antara gue ama Nuna, Raf."

__ADS_1


Rafa hanya mengiyakan dan berpura-pura tidak melihat telinga Rigel yang sempat memerah. Ini anak dari dulu kagak berubah, gengsinya gede, pikir Rafa.


"Eh, tapi lo bilang Liver School?"


"Ya, kelas XI MIA II."


Rigel mencemooh, "Cih, di kelas musuhnya kelas gue ternyata." Dia masih mengingat seminggu sebelum Ujian Tengah Semester dimulai, teman-teman sekelasnya menyerbunya. Mereka memperingatkan berkali-kali bahwa nilai XI MIA I tidak boleh berada di bawah XI MIA II.


"Lo harus dapat nilai minimal 90, enggak 95," ucap Bimo. "Di semua mata pelajaran."


"Tinggi banget."


Joshua menggebrak meja Rigel. "Itu udah paling rendah, woi. Nilai rata-rata kelas kita semester lalu 96."


Rigel kaget mendengarnya. Ternyata dia mempunyai teman-teman jenius. Dia tidak menyangka Joshua termasuk di dalamnya.


"Apa maksud tatapan lo, hah?" Joshua merasakan Rigel sesaat memandangnya dengan tidak percaya. Dia lalu memperlihatkan nilai rapor di layar ponselnya. "Nih, lihat."


Layar ponsel menampilkan nilai Joshua yang semuanya A. Nilai terendahnya adalah 92 di mata pelajaran biologi. Rigel menghela nafas tak berdaya.


"Elang, sini lo." Joshua berteriak memanggil ketua kelas. "Tanggungjawab sama anak lo nih."


"Dih, anak siapa." Elang mengernyit jijik. "Berisik dah lo, Jo. Masih pagi juga."


Bimo menatap Elang. "Ini penting, ketua. Martabat kita sebagai penyokong kelas XI MIA I sedang dipertaruhkan. Mau ditaruh mana wajah kita jika kalah?"


Elang menatap Bimo dengan heran, "Sejak kapan lo peduli dengan hal ini?"


"Sejak gue denger kabar kalau mau ada murid baru di sana. Mereka terus menyombongkan murid baru yang memiliki nilai lebih baik dari Rigel," jawab Bimo.


Joshua memutar bola matanya dan mendorong Rigel sehingga keduanya menjadi berpelukan.


"Aduh, woy Jo!" Rigel mengusap dagunya yang memerah. Dia membentur hidung Bimo tadi.


"Bim, lo mimisan!" teriak Elang panik.


Joshua yang berniat bercanda ikut panik. "Aduh, sorry sorry, Bim."


"Tisu, mana tisu?" Rigel bertanya ke teman-temannya.


Nuna yang sedari tadi diam akhirnya mengulurkan tangan. "Pakai ini."


Rigel tertegun saat Nuna yang biasanya tidak peduli dengan sekitarnya, membantunya kali ini. Dia tersenyum dan mengacak rambut gadis itu.


"Thanks," ucap Rigel sambil mengambil tisu itu dan membantu Bimo.


Nuna terdiam sejenak sebelum tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya.


"Masih zaman musuh-musuhan antar kelas?" tanya Adit. "Di sekolah kami damai sejahtera."


"Apanya yang damai?" celetuk Bram.


"Oh gue hampir lupa sama si tukang cari perhatian."

__ADS_1


Rigel penasaran. "Tukang cari perhatian?"


Bram menjelaskan, "Ketua kelasnya di kelas Adit sama Cakra. Ribetnya ampun dah. Terus rambut panjang dikit aja, ditulis satu poin. Telat semenit, gurunya belum datang, satu poin. Cakra tuh apes, udah kena lampu kuning dia, haha."


"Apes banget gue masuk kelas itu." Cakra menimpali.


Adit tertawa. "Kan gue bilangnya antar kelas. Haha, tapi emang sih di kelas malah kagak damai."


Rigel tiba-tiba teringat kalau Elang juga mencatat poinnya setiap hari karena rambut merahnya, seragamnya yang tidak rapi dan tidak lengkap, datang di saat terlambat. Yah tetapi Rigel tahu bahwa dia mendapat perlakuan spesial karena Sekolah Harapan Tinggi didirikan oleh nenek moyangnya di keluarga Anderson. Terima kasih leluhur!


"Tapi, lo enggak apa-apa kan, Cakra?"


Cakra mengusap hidungnya yang tidak gatal. "Gue udah bikin nilai gue jelek sih. Bayangin, buat jauh dari dia, gue rela pindah kelas haha."


"Gue kayagnya bisa nyusul lo, Cakra," ucap Adit.


Delon menggelengkan kepala mendengar mereka. Dalam hati dia bersyukur mendapatkan kelas yang biasa saja. Dia lalu menatap Rigel. "Kapan mau latihan di arena, Bos?" Delon hampir lupa bahwa ketuanya ingin melatih keterampilan mengendarai mobil sport lagi.


"Minggu depan, tolong booking tempatnya ya."


"Siap, Bos."


Dert dert. Ponsel Rigel berbunyi menunjukkan nama Mark di layar. Dengan malas, dia menjawab dan menyalakan mode speaker.


"Cepet banget lo jawab haha."


"Enggak usah basa-basi."


Mark di seberang telepon tertawa. "Oke, besok ayo tanding motor. 1 vs 1, lo sama gue doang. Gimana?"


Rigel melihat anggotanya mengangguk.


"Oke, dimana?"


"Tempat biasa jam 11."


"Jam delapan aja, besoknya Senin. Gue sekolah."


Mark terdiam lalu tertawa terbahak-bahak. "Sejak kapan pewaris Perusahaan Anderson peduli dengan pendidikannya. Tapi okelah. Jam delapan. Jangan telat."


Rigel belum menjawab ketika panggilan diputus oleh Mark. "Sesuai yang lo dengar tadi gaes, besok jam 7 kita kumpul di sini dulu."


"Siap, Bos."


Rigel melihat jam tangannya. "Pertemuan kita sampai sini dulu. Gue pulang, kalian hati-hati di jalan."


"Oke, Bos. Lo juga hati-hati."


Rigel mengacungkan ibu jarinya. Dia lalu naik ke motor dan menyalakan mesin motor. Tangannya gemetar saat memeriksa ponselnya. Untung saja dia bergerak cepat. Rigel mengamati wajah gadis di layar ponselnya. Dia lupa bahwa wallpaper ponselnya sekarang adalah foto Nuna yang dia ambil saat wisata ke Bali.


Rigel tidak tahu bahwa Rafa dan Fajar yang berada paling dekat dengannya berhasil melihat sekilas wallpaper ponsel ketua mereka. Ketika suara motor Rigel sudah menjauh, Rafa dan Fajar saling menatap dan tertawa.


__ADS_1


◾◾◾



__ADS_2