
Rigel masuk ke dalam rumah yang memiliki dua lantai itu. Setelah melewati ruang tamu, dia menemukan dua kamar tidur yang ada di sebelah kanan.
"Kamar Nuna yang mana?"
Tanio dengan ragu menjawab, "Yang disana."
"Lo siapin koper Nuna, gue bangunin dia," ucap Rigel pada Tanio.
Tanio bergegas ke depan pintu kamar Nonanya menghalangi Rigel yang ingin masuk. "Maaf, Tuan Rigel. Saya tidak bisa membiarkan anda masuk ke dalam. Silakan Tuan Rigel menunggu di ruang tamu."
"Oke, satu setengah jam lagi pesawatnya." Rigel memberitahu Tanio sebelum pergi ke ruang tamu.
Tanio mengetuk pintu Nonanya. "Nona, apakah anda bangun? Nona?"
Tidak ada jawaban.
Tok tok tok.
"Nona? Apakah anda bangun?"
Nuna yang baru memejamkan matanya sebentar, mendengar ketukan pintu yang berulang. Dia menatap pada pintu dengan heran. Tanio sudah berpamitan tadi, kenapa dia kembali? Apakah ada masalah?
Nuna bangun dan membuka pintu, "Ada apa?"
Tanio mundur selangkah dan menatap Nonanya cemas, "Nona, Tuan Rigel ada di sini untuk menjemput Nona."
"Kemana?"
"Bandara," jawab Rigel yang telah berdiri di belakang Tanio.
Alis Nuna mengerut, "Saya tidak ikut."
Rigel mengangkat alisnya, "Ingat perjanjian kompensasi kita?"
"Kamu berlebihan, Rigel. Saya punya pertemuan dengan Kakek saya besok," tolak Nuna. "Silakan kamu kembali."
Rigel mencegah pintu kamar Nuna yang akan ditutup. "Kakek lo udah ngasih izin."
"Apa?" Nuna mengira dia salah dengar. "Kakek siapa yang kamu maksud?"
Rigel memutar matanya. "Kakek lo lah, kakek siapa lagi."
Nuna melirik Tanio untuk mengkonfirmasi pernyataan Rigel.
"Tuan Rigel berkata hal yang sebenarnya, Nona. Tuan Rigel menggunakan ponsel saya untuk melakukan panggilan dengan Kakek anda. Dan Tuan memang memberikan izin untuk anda pergi berlibur bersama teman - teman sekelas," ucap Tanio.
Nuna yang mendengarnya tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Kakeknya. Dia lalu mengalihkan tatapannya pada Rigel yang tersenyum penuh kemenangan. "Kamu tunggu, saya akan berganti baju. Tanio, tolong panggil dua pelayan untuk membantu saya berkemas."
__ADS_1
"Baik, Nona." Tanio pun pergi memanggil dua pelayan wanita.
Setelah setengah jam, Nuna telah mengganti piyamanya dengan kemeja putih polos dan celana jeans panjang. Dia juga mengenakan jaket cokelat dan sepatu putih. Dan rambut sepunggungnya dibiarkan tergerai.
"Saya sudah siap."
"Bagus." Rigel lalu memimpin jalan.
Tanio meletakkan koper Nuna di bagasi, "Nona, berhati - hati di jalan. Kali ini Tuan tidak mengizinkan saya untuk ikut dengan anda. Harap jaga keselamatan."
"Saya akan. Terima kasih, Tanio," ucap Nuna lalu duduk di kursi belakang bersama Rigel.
"Berangkat," ucap Rigel memberi instruksi pada Dimas.
"Baik, Tuan." Mobil pun melaju menuju bandara.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di bandara. Rigel dan Nuna berjalan berdampingan sedangkan Dimas mengekor sambil membawa dua koper.
"Akhirnya lo nyampe juga," ucap Bima.
"Sorry gue jemput Nuna dulu tadi." Rigel melirik Nuna.
Joshua menatap Nuna heran, "Lo pasti dipaksa Rigel kan?"
Rigel menepuk bahu Joshua. "Haha tahu aja lo. Elang mana?"
"Pak Ketua udah di dalem, kuy check in sekarang."
"Hati - hati di jalan, Tuan," ucap Dimas.
"Siap." Rigel menarik kopernya dan koper Nuna lalu berjalan bersama Bimo dan Joshua untuk check in.
Setelah berhasil, mereka masuk ke bagian pemeriksaan. Tanpa ada kendala, keempatnya sampai di loket yang mengurus bagasi dan memasukkan empat koper mereka kepada petugas untuk ditaruh di bagasi pesawat.
Nuna duduk di ruang tunggu dan menguap.
Tidak butuh waktu lama, para siswa XI MIA I dan penumpang lainnya memasuki pesawat.
Nuna yang mendapat tempat duduk di samping Rigel, segera memejamkan mata dan tertidur.
Rigel melihat Nuna yang tidur dengan nyenyak, dia pun ikut menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup matanya.
Bahu Rigel terasa berat saat dia bangun. Rigel menoleh dan menemukan kepala Nuna bersandar di bahunya. Dia hendak menyesuaikan postur tubuhnya ketika Nuna membuka mata dan menarik kepalanya.
"Maaf," ucap Nuna lalu mengecek waktu di jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Sebentar lagi pesawat akan sampai, jadi Nuna mengatur jarum jam nya satu jam lebih cepat yang sesuai dengan waktu di Bali.
Pukul empat pagi, rombongan siswa kelas XI MIA I sampai di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Mereka mengambil bagasi dan naik ke delapan mobil yang di siapkan oleh Elang.
Pemandangan mobil yang berjejer menarik perhatian penumpang lain yang baru turun. Mereka berpikir biasanya rombongan wisata menaiki bus, tetapi yang mereka lihat adalah deretan mobil mewah kali ini.
__ADS_1
Tigapuluh satu siswa dibagi menjadi empat setiap mobil kecuali satu yang hanya berisi tiga orang.
Nuna naik ke dalam mobil dengan Rigel dan Elang. Elang duduk di samping sopir dan Rigel duduk di samping Nuna. Tidak ada yang berbicara karena mereka lelah dan mengantuk.
Hanya butuh setengah jam perjalanan, mereka sampai di hotel milik Keluarga Anderson.
Sebelum ke kamar masing - masing, Elang mengumumkan bahwa mereka akan berkumpul di restauran hotel besok pagi pukul 9 untuk sarapan dan pergi ke destinasi pertama.
Teman - teman sekelasnya mengangguk dan Elang membubarkan mereka. Ada duapuluh Bell boys yang membantu membawakan barang mereka ke lantai teratas hotel.
Di lantai teratas, para siswa di bagi ke dalam kamar masing - masing. Satu kamar berisi dua orang sedangkan Rigel membawa Bimo, Joshua dan Elang ke Presidential Suite yang memiliki empat kamar tidur.
"Gue di kamar ini ya guys," ucap Joshua lalu membawa kopernya masuk ke salah satu kamar.
"Gue masuk ke sini," ucap Bimo.
"Jangan ngebo ya, Bim, Jo. Gue masuk duluan, Rigel." Elang pun ikut menghilang dari ruang tamu.
Rigel membawa kopernya ke kamar tidur utama. Dia melepas jaket kulitnya dan pergi mandi. Setelah merasa segar kembali, Rigel bisa tidur dengan lelap.
Nuna melihat teman - teman perempuannya memasuki kamar masing - masing. Karena jumlah siswi di kelas XI MIA I ganjil, hanya Nuna yang mendapatkan kamar untuknya sendiri.
Nuna masuk ke dalam kamar dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju. Setelahnya dia membuka koper dan menyiapkan pakaian untuk besok.
Dia juga membongkar perlengkapan mandinya dan menaruhnya di kamar mandi. Nuna tidak biasa menggunakan perlengkapan mandi yang disediakan oleh hotel.
Keluar dari kamar mandi, Nuna membongkar pouch yang berisi skin care dan menatapnya di meja rias. Dia juga menerapkan rangkaian produk di wajahnya.
Setelah semuanya beres, Nuna mematikan lampur kamar dan naik ke tempat tidur. Dia menyalakan lampu tidur yang ada di sebelahnya sebelum memejamkan mata.
◼️◼️◼️
Cerita sampingan
Nuna : Mengapa kamu membantu Rigel?
Tanio : Saya tidak membantunya, Nona.
Nuna : Tapi kamu menelepon, Kakek.
Tanio : Lalu haruskah saya menolaknya?
Nuna : Sepertinya kamu kurang berolahraga sehingga hal seperti ini bisa terjadi.
Tanio : Nona?
Nuna : Pergi ke Camp Pelatihan dua hari ke depan.
__ADS_1
Tanio : Nona (╥﹏╥)