Forever Young

Forever Young
BAB XI Keraguan Datang


__ADS_3


Nuna sampai di sekolah pukul 7 pagi dan dia tidak menemukan Rigel di kelas sehingga dia memutuskan untuk berdiri di bawah bayangan pohon menunggu kedatangan Rigel.


Setelah menunggu selama setengah jam, Nuna sama sekali tidak melihat Rigel di deretan para siswa yang berjalan memasuki sekolah. Bel berbunyi dan tanpa ragu Nuna masuk ke dalam kelas, mengabaikan perintah Rigel yang di sampaikan kemarin.


Rigel saat ini tengah berada di gang kecil bersama seorang siswa yang memakai seragam berbeda dengannya. Ketika dia baru saja turun dari mobil, seorang kenalan memanggilnya dan mengajaknya bicara sebentar. Remaja itu adalah siswa yang berasal dari sekolah lain yang merupakan rival dari sekolah Rigel sekarang.


"Lo mau ngomong apa?" Rigel memandang teman SMP nya dulu.


Remaja laki - laki berambut cokelat bernama Fajar menjawab, "Bos, lo udah balik kok enggak ngabarin kami? Dan bukannya masuk sekolah yang sama, lo malah masuk sekolah musuh."


Rigel mengernyit. "Gue baru balik dan ada kecelakaan." Dia mengangkat tangan kanannya yang dibalut gips. "Sorry, belum ngabarin kalian semua. Dan sekolah.. well Papa gue yang mutusin."


"Kenapa tangan lo?"


"Jatuh dari balkon dua."


"Udah berapa lama?"


"Tiga mingguan."


Fajar menatap curiga dan menarik tangan Rigel. Melihat Rigel yang tidak bereaksi, Fajar mencibir, "Ha! Bos, lo udah sembuh, ngapain lo masih pakai gips?"


Rigel melepaskan tangannya dari genggaman Fajar. "Serah gue dah. Kalian masih pada ngumpul emang?"


"Yoi, anak - anak pada masuk di sekolah gue. Berapa nomor whatsapp lo? Entar gue invite ke grup."


"08*****. Btw, siapa yang gantiin posisi gue sekarang?"


Fajar menggeleng. "Kagak ada, si Rafa tetep stay di posisi wakil Eternal Squad. Dia selalu menganggap lo sebagai Ketua walaupun lo udah pindah waktu itu dan enggak ada kabar."


Alis Rigel terangkat, "Berati gue masih ketuanya?"


"Ya jelas lah!"


"Oke, entar gue sapa anak - anak yang lain." Rigel melihat jam tangannya. "Udah jam segini, gue harus balik ke sekolah."


Fajar menatap heran Ketuanya, "Bos. Sejak kapan lo serajin itu?"


Rigel hanya menyeringai sebagai jawaban dan menepuk bahu Fajar. "Gue duluan."


Saat Rigel berjalan di halaman sekolah, dia tidak melihat satu siswa pun apalagi sosok Nuna yang seharusnya membawakan tasnya hari ini.


Rigel mengetuk pintu kelas. "Permisi, Pak. Maaf saya terlambat."


Hendra yang sedang mengajar matematika, menoleh dan memandang tak puas pada siswa ini, "Rigel, baru hari keempat kamu pindah di sini dan kamu sudah terlambat. Dan juga, Bapak sudah menyuruh kamu untuk mengubah rambut kamu ke penampilan semula. Siswa di sekolah ini tidak diperbolehkan mengecat rambutnya, apakah kamu mengerti?"


"Ini warna asli rambut saya, Pak." Rigel berbohong dengan wajah polos.


"Kamu pikir, kamu bisa membohongi Bapak, hah? Duduk, dan ingat untuk mengembalikan warna rambut kamu seperti semula besok. Bapak tidak ingin melihat rambut merah kamu lagi."


"Terima kasih, Pak." Rigel pun duduk.


Hendra melanjutkan memberi pelajaran.


Rigel menusuk lengan Nuna dengan jari telunjuknya. "Nuna.

__ADS_1


Gue enggak bawa buku, bagi buku lo dong."


Nuna menggeser bukunya ke tengah.


Setelah beberapa saat, Rigel menusuknya lagi. "Nuna, pulpen gue tintanya abis, pinjem punya lo dong."


Nuna memberikan pulpennya.


Tak butuh waktu lama, Rigel berkata, "Nuna. Bagi tip-ex."


Nuna menyerahkan tip-ex merah mudanya.


"Nuna, lo ada isolasi enggak?"


Nuna akhirnya menaruh kotak pensilnya di tengah. Namun Rigel tidak berhenti mengganggunya.


"Nuna, pulpen lo yang ini enggak enak dipakai buat nulis, gue mau tuker ama pulpen lo."


"Aduh, pensilnya patah. Nuna, lo bantu pakai rautan pensil. Gue enggak bisa pakai satu tangan."


"Nuna, penghapus lo udah kotor banget nih, lihat kertas gue, bukannya bersih malah tambah kotor."


Nuna, Nuna, Nuna..


"Berhenti bicara."


Hendra yang sedang menjelaskan jawaban dari latihan soal, terdiam. Dia memandang Nuna, "Apakah kamu memiliki pendapat yang berbeda, Nuna?"


Nuna menatap Guru Matematikanya, "Maaf Guru. Saya telah menganggu di kelas. Tidak, saya menjawab dengan cara yang sama."


Rigel yang dalam perasaan senang karena menjahili Nuna tiba - tiba terganggu ketika mendengar namanya dipanggil. Dia mengalihkan fokusnya pada Guru. "Apa salah saya, Pak?"


"Kamu mengganggu ketertiban kelas."


"Dari tadi saya duduk diam di kursi saya lho, Pak."


"Tapi sejak tadi kamu terus berbicara di kelas Bapak."


"Saya hanya meminjam peralatan tulis dari teman kelas lho, Pak."


Hendra akhirnya menghampiri meja Rigel dan Nuna. "Untuk apa kamu meminjamnya?"


Rigel memiliki firasat buruk, namun dia masih menjawab, "Tentu saja untuk mengerjakan soal." Tiba - tiba buku tulis di tangannya diambil oleh Guru.


"Kertas ini kosong. Kamu tidak mengerjakan apa - apa dan hanya mengganggu teman sebangku kamu. Berdiri di luar dan kerjakan tugas tambahan dari Bapak nanti," ucap Hendra dengan tegas.


Rigel menekuk bibirnya ke bawah, dia memandang Nuna yang tidak mengalihkan perhatiannya dari buku. Mengapa gadis itu tidak membantunya bicara!


"Baik, Pak." Dengan enggan Rigel berjalan keluar kelas.


Nuna mengangkat kepalanya dan melihat rambut merah itu menghilang di balik pintu. Akhirnya suasana di sekitarnya kembali tenang.


Setelah jam pelajaran matematika selesai, Guru Seni Budaya melanjutkan kelas.


Rigel telah kembali duduk di samping Nuna. Dia memperhatikan gadis itu sedang membersihkan alat tulis yang dia pinjam menggunakan cairan antiseptik. Apa maksudnya? Apakah gadis ini menganggapnya sebagai virus?!


"Kita akan praktik memainkan alat musik suling hari ini," ucap Guru Seni Budaya yang membawa suling di tangan kanannya.

__ADS_1


Rigel melihat teman - teman sekelasnya termasuk Nuna mengeluarkan suling dari tas mereka. Hanya Rigel yang tidak membawanya.


Guru memperhatikannya. "Oh kamu pasti siswa baru, kamu bisa meminjam dari siswa lain."


Bimo yang pertama kali menawarkan, "Lo bisa pinjem suling gue, Rigel."


Rigel mengernyit. "Enggak. Thanks. Gue pinjem punya teman sebangku gue aja."


"Tidak." Nuna dengan cepat menolak. "Saya tidak punya waktu untuk membersihkan suling saya setelah kamu pakai."


Karena Guru Seni Budaya akan memanggil dari absen terbawah untuk praktek hari ini, jika Rigel meminjam suling Nuna, maka dia akan memakainya terlebih dulu.


"Lo masih punya hutang ke gue. Hari ini lo harusnya bantu gue bawa tas kan? Tapi lo enggak ngelakuin hal itu. Jadi sekarang gue minta lo buat kasih pinjam suling lo."


Tangan Nuna tanpa sadar menyembunyikan sulingnya di punggung. Dia merasa bahwa remaja di depannya akan mematahkan sulingnya. "Itu bukan salah saya. Kamu datang terlambat."


Guru Seni Budaya akhirnya menengahi mereka. "Sudah, sudah. Rigel, kamu pinjam teman sekelas yang lain."


Rigel mengabaikan Gurunya. Dia menyeringai dan bergegas mengambil suling di tangan Nuna. Nuna yang telah belajar dari insiden tangannya yang digigit, selalu meningkatkan kewaspadaannya saat di dekat Rigel. Dia dengan cepat menarik pinggulnya ke samping sehingga tangan Rigel menangkap udara kosong.


Rigel dengan kesal berusaha menjangkaunya lagi namun Nuna menangkap pergelangan tangan kirinya dan memutarnya hingga terdengar suara tulang yang renyah.


Para siswa terperangah mendengarnya. Beberapa di antara mereka tanpa sadar mengusap bahu mereka seolah merasakan sakitnya.


Namun Rigel sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Dia hanya menatap lurus pada Nuna.


Nuna menatap curiga pada Rigel. Dia segera melepaskan tangan kiri Rigel sambil berpikir. Saat dia tidak sengaja melukai tangan kanan Rigel kemarin, Rigel berteriak sangat keras. Tetapi sekarang dia menemukan Rigel tidak bereaksi saat bahunya terkilir. Seakan dia bisa menoleransi rasa sakit itu. Ini sangat mencurigakan!


"Siswa ini, jika kamu masih membuat keributan. Keluar dari kelas sekarang!" Guru Seni Budaya memberi peringatan.


Rigel mendengus dan berjalan menghampiri Bimo. "Pinjem punya lo."


"Oke." Bimo menyerahkan sulingnya.


Rigel lalu duduk seolah tidak terjadi apa - apa. Guru Seni Budaya memulai praktik dan memanggil siswa untuk maju.


Bulu mata Nuna bergetar, diam - diam dia melirik tangan kanan Rigel dengan keraguan di dalam hatinya.



◾◾◾


Cerita sampingan


Saat pertempuran melawan musuh


Fajar : (melihat darah mengalir dari pelipis bosnya) Bos.. Bos.. Lo berdarah!!


Rigel : Dimana?


Fajar (menunjuk pelipisnya sendiri) Di sini


Rigel : (menyentuh pelipisnya dan melihat jejak merah di jarinya) Oh..


Fajar : Bos mundur dulu


Rigel : (memukul lawan) Di kamus gue kagak ada kata mundur

__ADS_1


__ADS_2