Forever Young

Forever Young
BAB XV Tim Basket SMA Menang


__ADS_3


Setelah dua hari libur, para siswa kembali masuk sekolah. Mereka sangat antusias dengan pameran lukisan yang dibuka hari ini.


Nuna yang dipaksa Rigel, mengikuti Bimo dan Joshua ke tempat pameran.


"Kalian wajib lihat lukisan Jo! Dia bawa lukisan kesayangannya hari ini," ucap Bimo.


"Lo ngelukis apa, Jo?" tanya Rigel.


Sebelum Joshua menjawab, Bimo menyambar, "Orang spesial di hati Jo."


Joshua menekuk bibirnya ke bawah. "Jangan dengerin omong kosong, Bimo."


"Oh?" Rigel mengangkat tangan kirinya, mengusap dagunya. "Gue jadi penasaran."


Keempatnya memasuki pameran dan melihat - lihat lukisan karya para siswa.


"Woi guys. Gilak sebagus ini, yang ngelukis baru kelas lima SD," seru Joshua.


Bimo mengangguk setuju. "Gue dulu waktu SD belum bisa ngelukis kayag gini."


"Kyle R." Rigel membaca nama pelukis yang tercantum di bawah lukisan. "Keren juga nih, anak. Oke lanjut."


"Ini dia lukisan Jo!" Bimo berseru dan merentangkan tangannya di depan lukisan setinggi 2 meter.


Dalam lukisan itu terdapat seorang wanita yang memakai gaun biru sedang menutup matanya, dia tersenyum dengan menggenggam seikat bunga lili, ada topi jerami di kepalanya, dan rambut panjangnya seolah berkibar ditiup angin. Latar tempat gadis itu berada adalah ladang penuh ilalang.


"Ini cewek lo, Jo?"


"Bukan. Dia tetangga gue."


"Oh, gue kira cewek lo."


"Jo belum sempet nembak, eh udah keduluan ke luar negeri," ungkap Bimo.


"Lo bawel banget dah hari ini, Bim," ucap Joshua kesal.


"Hahaha.. jarang gue lihat lo galau bro, jadi gue seneng banget."


"Hahaha.." Rigel ikut tertawa. "Nuna, jangan diem aja dong lo."


Nuna hanya melirik Rigel tanpa menanggapi.


Keempatnya terus menonton pameran lukisan hingga selesai.


"Setengah jam lagi tim basket tanding, yok siap - siap," ucap Joshua.


Bimo mengangguk setuju lalu mengirim pemberitahuan di grup.


Rigel menoleh pada Nuna, "Kita duduk di sana, nonton mereka, oke?"


"Baik."


Rigel bersama Nuna mengambil tempat duduk di tengah.


"Eh eh, gue baru lihat tuh cowok dah?" Salah seorang siswi berbisik ke temannya.


Dara menoleh pada sosok yang dimaksud temannya. Dia terpesona melihat penampilan Rigel dengan rambut merahnya. "Emang boleh ya cat rambut di sekolah?"


"Entahlah, tapi dia ganteng banget!"


"Iya, bener." Dara setuju. Matanya tertuju pada lengan Rigel. "Oh dia kakak kelas."


"Minta nomornya?"


Dara akan berdiri ketika siswi lain mendahuluinya.


"Permisi kak. Saya Dewi dari kelas X MIA I. Boleh kenalan, nama kakak siapa?"


Rigel menatap gadis berambut pendek di depannya. Dia lalu tersenyum, "Sorry. Gue punya pacar."

__ADS_1


"Saya bukan pacarnya." Nuna menyanggah perkataan Rigel.


Dewi memandang bingung keduanya. "Jadi kakak belum punya pacar? Saya-"


"Enggak," potong Rigel. "Gue ralat, gue lagi ngejar dia."


"Bohong," sanggah Nuna lagi.


Rigel meraih ponselnya dan mengetik dengan cepat.


Ding. Ponsel Nuna berbunyi.


Dari : Rigel


Pesan : Bantuin gue, ini perintah!


Nuna menatap gadis itu dan berkata, "08************"


Karena nomor Rigel cantik, Dewi dengan mudah mengingatnya. "Terima kasih, kak," ucap Dewi lalu pergi.


Dara dan temannya diam - diam juga mencatat nomor Rigel di ponsel mereka.


"Kok lo ngasih nomor gue seenaknya, hah?"


"Kamu yang meminta bantuan saya. Jadi saya bantu kamu menyebutkan nomor ponsel kamu," jawab Nuna.


Rigel mengamati wajah tanpa ekspresi Nuna dan bertambah kesal, "Gue enggak mau tahu, kalo ada yang ngehubungin gue, lo harus bantu gue blokir."


Ding. Ponsel Rigel menerima pesan.


"Nih, lo blokir dia." Rigel menyerahkan ponselnya pada Nuna.


Nuna menerimanya dan memblokir pesan tanpa nama pengirim. Dia hendak mengembalikan ponsel namun pesan terus berdatangan


Ding. Ding. Ding. Ding. Ding.


Nuna merasakan kram pada ibu jarinya. Jelas dia hanya memberitahu nomor Rigel pada gadis berambut pendek tadi, tetapi kenapa banyak sekali yang mengirim pesan pada Rigel?


Ding. Ding. Ding. Ding.


Rigel tersenyum puas. Apakah dia sudah menyesal? Dia mengamati gerakan Nuna yang melambat. Sepertinya dia berlebihan?


"Sini ponsel gue." Rigel mengulurkan tangan.


Nuna menyerahkan ponsel Rigel yang memanas.


"Kayagnya gue harus ganti nomor, lagi. Jangan kasih nomor gue sembarangan, ngerti lo sekarang?"


Nuna hanya mengangguk lalu membaca materi pelajaran di ponselnya.


Rigel tidak senang dengan sikap Nuna. Apakah terlambat menarik kata - katanya? Biarkan gadis itu terus memblokir nomor asing di ponselnya? Mengapa sekarang dia yang merasa menyesal? Rigel menyerah dan mematikan ponselnya.


◾◾◾


Rigel dengan cermat mengamati pertandingan basket. Dalam hati dia mengevaluasi gerakan dari anggota tim basket Bimo.


Babak pertama selesai dengan skor 21 - 17. Tim basket perwakilan jenjang SMP sementara unggul.


Bimo meminum airnya lalu membentuk lingkaran bersama timnya untuk membahas strategi di babak kedua. Mereka tertinggal 4 poin sehingga harus lebih bekerja keras di babak kedua.


Peluit berbunyi dan babak kedua dimulai. Pertandingan berjalan sangat sengit. Di menit terakhir skor mereka seimbang 45 - 45. Bimo berlari mendribble bola namun direbut oleh tim lawan.


Dug. Bola yang dilempar ke ring meleset dan jatuh di tangan Sean.


"Sepuluh, sembilan." Para siswa yang menonton menghitung mundur.


Sean berlari dan dicegat tim lawan. Dia melempar bola ke Joshua.


"Delapan, tujuh."


Joshua mendribble bola sambil dengan lincah menghindari lawan.

__ADS_1


"Enam, lima, empat."


Joshua tiba - tiba terpeleset dan bola menggelinding. Bimo bergegas menangkapnya.


"Tiga, dua."


Bimo melakukan shooting..


Ding.


"Satu."


"Yeaaaaaaay." Para siswa yang mendukung Tim Bimo bersorak gembira. Di detik terakhir Bimo berhasil mengubah skor menjadi 46 - 45 sehingga Tim Basket SMA menang atas Tim Basket SMP.


Seluruh anggota tim basket Bimo berkumpul membentuk lingkaran dan meloncat bahagia. Selain senang karena menang, mereka berhasil meraih satu bintang untuk kelas mereka masing - masing!


Setelah euforia, mereka berisitirahat. Bimo memeriksa lutut Joshua. "Kok lo enggak bilang kalo lutut lo masih sakit?"


Joshua menekuk bibirnya ke bawah, "Sorry."


Jaka menepuk bahu Joshua. "Lain kali jangan paksain diri lo, Jo. Cidera enggak boleh di sepelekan sekecil apapun itu."


"Iya, sorry."


"Mau ngerayain dimana, bang?" tanya Ray berusaha mencairkan suasana.


"Ke Hayho yuk, pengen makan ayam," saran Kevin.


Leo tidak setuju, "Nih anak ngajak makanan cepat saji mulu, enggak sehat tahu."


"Ke Warung Mak Opi aja kalau gitu?" Dian memberi ide lain.


Hans mengangguk, "Oke, gue pilih yes."


Jaka, Kevin, Ray, Sean, Leo serempak memilih "Yes."


"Oke, setelah mandi, ganti baju, kita kumpul di sini lagi ya guys."


"Siap, Kapten."


Mereka pun bubar.


Bimo dan Joshua menghampiri Rigel, "Ayo ikut ke Warung Mak Opi."


Rigel penasaran setelah mendengar namanya. "Jual apa aja tuh?"


"Biasa lah, menu gorengan bakaran, kayag gurame bakar, cumi goreng, ayam bakar, jamur goreng, sambalnya sih yang beuh


mantap," jelas Joshua.


Rigel yang mendengarnya mau tak mau membayangkan kelezatan masakan Warung Mak Opi. "Oke gue ama Nuna ikut lo."


Nuna hendak menolak. Tetapi Rigel membuka mulutnya tanpa suara, "Ingat? Janji."


Akhirnya tim basket dengan tambahan Nuna pergi bersama ke Warung Mak Opi.



◾◾◾


Cerita sampingan


Dewi : Woi guys. Gue dapat nomornya kak Rigel aaaaaaaaaa


Para siswi di kelas Dewi : Waaaaaa bagi - bagi!


Siswi A : Kita harus bersaing secara adil


Siswi B : Iya setuju, Dewi, bagi nomornya, buruan!


Dewi : (terjepit diantara temannya hanya bisa pasrah memberikan nomor Rigel) Nih nih ambil..

__ADS_1


__ADS_2