Forever Young

Forever Young
BAB XXXVII Rencana Mark


__ADS_3


Indah sedang berkumpul dengan saudara dan sepupu-sepupunya di ruang tamu. Dia duduk di antara Dion dan Della. Sedangkan di depannya ada si kembar Bagas dan Bagus.


"Jadi kak Bagas tidak berhasil menjual data Perusahaan Pangestu." Indah mencemooh. "Dan sekarang kakak menganggur di rumah."


"Diem lo, bocah," ucap Bagas yang kesal. "Om Ferdinan bilang bakal bantu gue balik."


"Cih menyusahkan ayah saja."


"Ngajak berantem lo, Indah?"


Dion, kakak kandung Indah menghalangi tangan Bagas yang akan memukul adiknya. "Jangan main tangan."


Bagas mendengus. "Jaga mulut adek lo."


Bagus menepuk bahu saudara kembarnya, "Tenang. Kita tunggu kabar baiknya saja."


"Dasar anak yang tidak patuh."


Kelima orang itu menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Ferdinan membanting jasnya ke sofa dan melepaskan dasinya. Dia membuka kancing kemeja yang terasa mencekik nafasnya. Ferdinan mengambil nafas dalam-dalam.


"Ayah." Indah menghampiri ayahnya dengan ekspresi khawatir. Dia mengambil jas Ferdinan dan melipatnya dengan rapi.


Amarah Ferdinan seketika menguap. Dia menepuk kepala putrinya. "Gadis nakal itu harusnya tahu bersikap patuh sepertimu."


Indah tidak menjawab tetapi diam-diam tersenyum. Menyenangkan sekali mencuri perhatian ayahnya dari Nuna.


"Ada apa, Om?" tanya Bagas yang mempunyai firasat buruk.


Ferdinan menatap kasihan kepada keponakannya. "Perusahaan Pangestu bisa menerimamu kembali tetapi hanya sebagai resepsionis."


"Ap, apa? Jika saya menjadi resepsionis, saya tidak bisa mengakses data penting perusahaan lagi."


Bagus menepuk bahunya dan menghasut, "Tenang, Bagas. Lo enggak harus mengakses data secara langsung kan? Lo bisa berusaha beli orang yang bisa akses ke data perusahaan."


Ah, tentu saja. Bagas menatap bangga saudaranya. "Lo bener. Gue akan coba cari peluang."


Ferdinan tersenyum puas dan menepuk bahu mereka. "Om percaya pada kalian. Tugas ini sangat penting, oke? Setelah beres, Om akan beri kalian jabatan Direktur di perusahaan Om."


"Siap, Om."

__ADS_1


Della mengamati dalam diam dan melaporkan rencana mereka ke Nuna. Seperti biasa, tidak ada balasan dan nomornya diblokir untuk kesekian kalinya.


Dion berdiri di sana tanpa ekspresi. Dalam hatinya dia bingung mengapa ayah tiri dan keluarganya begitu terobsesi dengan Perusahaan Keluarga Pangestu, ketika perusahaan mereka berjalan dengan baik hingga bisa menghidupi generasi mendatang. Perusahaan dalam kondisi yang stabil.


Mereka sama sekali tidak kekurangan uang. Dion tidak peduli dengan bisnis keluarga ini, tetapi dia mengkhawatirkan adik kandungnya. Gadis yang belum dewasa yang suka membuat masalah dengan Nuna.


Indah menyadari tatapan kakaknya. Dia hanya tersenyum. Kakaknya sangat tidak memiliki motivasi. Mengapa dia tidak memiliki sedikit semangat dari si kembar?


"Ayo, kita siap-siap makan malam," ucap Ferdinan.


◾◾◾


Indah bersenandung dengan riang. Malam ini dia akan kencan dengan pacar barunya yang dia kenal secara online. Dia keluar dari gerbang villa dan melihat pacarnya, Mark menunggunya di atas motor.


"Hai, sayang," sapa Indah.


"Hai." Mark mengamati kemeja lengan pendek berwarna oranye dan rok hijau di atas lutut yang dikenakan Indah. Sangat menyakitkan mata. Jika bukan karena dia saudara tiri Nuna, Mark tidak sudi membawa gadis ini. "Ayo, naik."


"Ya." Indah pun naik motor dan mereka melesat pergi.


Setelah selesai makan malam di restauran yang mewah. Mark mengamati Indah dengan memainkan pemantik api di tangannya.


Tik tok tik tok.


Mark mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Enggak. Lo cantik."


Pipi Indah memerah. "Makasih, lo juga ganteng."


Mark mengabaikan pujian Indah dan memulai topik yang merupakan bagian dari rencananya. "Lo kenal Nuna?"


Indah tertegun dan bingung bagaimana pacarnya bisa mengenal gadis itu. "Ya dia saudara tiri gue. Lo kenal?"


Tik tok tik tok. Mark menutup dan memasukkan pemantik api ke dalam sakunya. Dia menatap lurus pada Indah. "Kenal. Dia pacar musuh gue." Sebenarnya Mark juga tidak tahu apakah Rigel sudah mengaku pada gadis itu, tetapi dia telah lama mengenal Rigel sehingga dia yakin bahwa Rigel memiliki perasaan khusus pada Nuna.


Mata Indah membulat. "Enggak mungkin. Nuna kagak mungkin pacaran."


"Oh?"


"Hidupnya di fokuskan pada belajar untuk meneruskan Perusahaan Keluarga Pangestu. Info yang lo terima pasti salah."


"Pangestu ya?" Mark ingat bahwa Perusahaan Keluarga Anderson memiliki hubungan kerjasama bisnis dengan perusahaan itu. "Mungkin salah, mungkin enggak. Tetapi gue tahu musuh gue suka ama tuh cewek."

__ADS_1


Indah penasaran pada sosok yang menyukai Nuna. Baginya, Nuna memiliki tempramen yang dingin tak tersentuh. Hanya ada asisten pribadinya, Tanio yang rela mendampingi gadis itu pergi kemana-mana.


Mark melihat ekspresi Indah dan senyumnya semakin lebar. Ah, dia berhasil melempar umpan ke ikan kecil.


"Oh, musuh gue ini anak Kepala Keluarga Anderson."


Anderson? Indah tentu mengenal nama keluarga itu dengan baik. Keluarga terkaya yang ada di puncak piramida dengan cabang bisnis di berbagai sektor. Dia menggertakkan giginya. Nuna tidak boleh mendapatkan pemuda itu! Pria dari keluarga bergensi seperti Anderson lebih baik bersamanya yang riang dan santun daripada dengan Nuna yang cuek.


Indah berpikir, jika dia yang menjalin hubungan dengan putra Kepala Keluarga Anderson, bukankah dia akan membantu perusahaan ayahnya untuk maju? Sehingga Indah bisa mengalahkan Nuna dan Perusahaan Pangestu. Dua hasil dalam satu tepukan.


Dalam hati Indah bersorak atas rencananya. Dia lalu menatap pacarnya. Mari kita manfaatkan remaja ini. "Sayang, boleh tahu nama musuh lo? Gue khawatir sama saudara tiri gue yang polos."


"Rigel Andromeda Anderson."


Oh namanya saja tampan! Indah mengulang nama Rigel dalam hatinya.


◾◾◾


Mark bersiul saat memasuki apartemennya. Dia terdiam ketika melihat seseorang duduk di atas sofa.


"Seneng, kencannya?"


"Yah, lumayan. Kami melewati malam yang menyenangkan," jawab Mark berbohong. Dia langsung mengantar Indah setelah makan malam.


Plak. Pipi Mark ditampar.


Mark merasakan nyeri pada pipi kanannya, tetapi dia terkekeh dan menatap gadis di depannya. "Bunga. Gue udah berkali-kali bilang pertunangan kita cuma nama doang. Gue bebas kencan dengan siapa aja dan lo juga."


Bunga mengepalkan tangannya berusaha mengendalikan emosi yang membuatnya ingin menangis. "Dan berapa kali gue bilang, kalau gue cinta sama lo, Mark?" Dia memukul dada Mark. "Kenapa lo sejahat ini sama gue?"


"Gue cinta kebebasan, Bunga. Gue ingetin lo sekali lagi. Lebih baik lo mundur dari pertunangan kita sebelum menyesal karena gue enggak akan pernah bisa jatuh cinta sama lo," ucap Mark lalu menangkap kedua tangan Bunga yang memukulinya. Dia lalu mendorong Bunga menjauh dan berlari keluar apartemen dengan cepat.


"Mark, Mark, tunggu dulu. Mark, jangan kabur! Lo selalu aja ngehindarin gue. Mark!" Bunga berteriak sambil menyusul tunangannya. Namun langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah besar Mark. Dia hanya bisa menatap motor Mark yang menghilang di ujung jalan. Air mata yang dia tahan akhirnya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya.


Kenapa? Kenapa Mark tidak bisa mencintainya? Bunga telah berjuang selama lebih dari sepuluh tahun. Bahkan saat di luar negeri, Bunga akan menyempatkan waktunya untuk pulang menemuinya walaupun Mark lebih sering menghindarinya.


Setelah menangis selama satu jam di sofa. Bunga menghapus sisa-sisa air matanya. Tidak masalah. Ya, tidak masalah. Dia masih punya banyak waktu untuk meluluhkan hati tunangannya. Bunga yakin suatu hari Mark akan mencintainya.



◾◾◾

__ADS_1



__ADS_2