Forever Young

Forever Young
BAB XIII Praktek Lari


__ADS_3


Suasana di sekolah sangat ramai saat Nuna berjalan menuju kelasnya. Dia melihat banyak siswa membawa lukisannya untuk diserahkan pada panitia hari ini. Beberapa lukisan berukuran kecil dan sebagian ada yang sangat besar hingga membutuhkan tiga orang untuk membawanya.


Setelah Nuna menaruh tas nya di kursi, dia keluar kelas dan berdiri di bawah pohon menunggu Rigel datang. Lima menit kemudian Rigel muncul dan menghampirinya.


"Pagi, Nuna," sapa Rigel dengan senyum lebar.


Nuna menduga ada konspirasi di balik sikap ramahnya. Tetapi dia tetap membalas, "Pagi."


Rigel menyerahkan tasnya dan keduanya berjalan berdampingan.


Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Nuna telah mengganti seragam batiknya dengan baju olahraga dari sekolah. Desain dari Liver School untuk siswa dan siswi adalah sama, yaitu celana pendek selutut dan kaos lengan pendek. Namun para siswi memodifikasi celananya menjadi di atas lutut. Mereka beralasan hal itu dapat menonjolkan kakinya yang jenjang sehingga mereka terlihat cantik.


Saat mengetahui hal ini dari mulut Joshua, Rigel terkekeh. Mereka akan berolahraga dan berkeringat, apa gunanya tampil cantik? Rigel tidak mengerti.


Rigel akhirnya melihat Nuna berjalan ke lapangan, dia menemukan bahwa Nuna tidak mengubah apapun pada celana olahraganya. Rigel tidak menyangka, gadis itu cukup konservatif saat di sekolah. Dia masih mengingat penampilan Nuna di jamuan makan keluarganya.


Saat itu Rigel berusaha mencari tahu pelaku yang menendangnya, namun dia hanya melihat wajah pelaku tanpa mengetahui identitasnya sehingga bawahan papanya menyerahkan daftar tamu wanita beserta fotonya. Dia lalu melihat biodata Nuna dan menemukan foto gadis itu yang memakai gaun hitam dengan bahu terbuka dan memiliki desain yang menonjolkan kaki kirinya. Gaun itu membuatnya terlihat dewasa.


Rigel mengamati Nuna yang mengumpulkan rambutnya menjadi satu ke belakang dan mengucirnya menggunakan kuncir rambut di pergelangan tangannya.


"Rigel, si Nuna jadi ikut lomba panah kan?" bisik Joshua yang berdiri di samping Rigel membuat Rigel mengalihkan fokusnya pada Joshua.


Rigel, Joshua, Bimo dan Elang sedang berkumpul di pinggir lapangan.


Elang yang mendengarnya langsung menoleh, "Eh? Nuna juga ikutan? Kemarin gue enggak lihat Nuna angkat tangan, dia daftar langsung ke panitia?"


Joshua menggeleng, "Kagak. Nuna belum daftar. Tapi Rigel bilang dia bisa buat Nuna join."


"Tenang guys. Gue jamin seratus persen Nuna bakal ikut. Pendaftaran masih dibuka kan, Lang?"


"Iya, sampai jam 3 sore."


"Bagus."


Peluit berbunyi, semua siswa berkumpul di tengah lapangan. Pram, Guru Olahraga menginstruksi mereka untuk mengatur barisan. Setelah melihat mereka berbaris dengan rapi, Pram memulai pelajarannya.


"Pagi, anak - anak."


"Pagi, Pak."


"Sesuai yang Guru sampaikan minggu lalu, kita akan praktek lari hari ini. Rutenya seperti biasa, dari sini, melewati belakang bangunan perpustakaan, lanjut ke bangunan tempat kelas kalian, kemudian kembali ke sini. Lima siswa pertama akan mendapat 100, lima berikutnya 95, selanjutnya 90, 85, 80, dan sisanya 75. Kalian mengerti?"


"Mengerti, Pak."


"Oke, pemanasan dulu."


Elang sebagai ketua kelas memimpin teman - teman sekelasnya melakukan pemanasan. "Ayo semua rentangkan tangan kalian."


Para siswa merentangkan tangan mereka.

__ADS_1


"Oke, sekarang tundukkan kepala, dan taruh dua tangan di belakang kepala," Elang memberikan contoh gerakan dan teman - temannya mengikuti. "Hitung mulai. Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan."


Setelah limabelas menit berlalu, para siswa telah selesai melakukan pemanasan. Pram meminta mereka bersiap di posisi berlari. Peluit berbunyi dan praktek dimulai.


Joshua memimpin di posisi pertama, Nuna di posisi kedua, Bimo di posisi tujuh dengan Elang di belakangnya. Sedangkan Rigel di posisi terakhir karena dia berjalan. Dokter melarangnya sementara untuk berlari sampai memar di kakinya pulih.


Joshua menoleh ke belakang, mengamati posisi teman - temannya. Dia tersenyum bangga saat melihat jarak antara dia dan mereka lumayan jauh. Tanpa memperhatikan jalan, sepatu Joshua membentur batu dan dia jatuh dengan keras menghantam paving.


Joshua mendesis dan perlahan duduk dengan meluruskan kakinya, dia melihat kedua lututnya berdarah. Hembusan angin menerpanya, yang ternyata berasal dari Nuna yang berlari melewatinya. Lalu teman - temannya pun bergantian menyalipnya. Mereka hanya menatap kasian pada Joshua.


Joshua bangkit dan meringis kesakitan saat mencoba berlari.


"Kenapa lo, Jo?" Bimo akhirnya sampai di tempat Joshua. Pandangannya tertuju pada lutut Joshua.


"Gue kesandung tuh batu." Joshua menunjuk batu di sampingnya.


"Terus gimana, lo bisa lari?"


Joshua menggeleng.


Bimo menepuk bahu Joshua lalu berjongkok di depannya. "Buruan naik."


Tanpa sungkan, Joshua naik ke punggung Bimo. Bimo pun kembali berlari dengan menggendong Joshua di punggungnya. Tinggal seperempat jalan, Bimo kelelahan dan nafasnya berantakan. Dia berhenti dan menurunkan Joshua.


Elang yang ada di belakang mereka, berlari menghampiri, "Sini, gue gantiin." Joshua pun digendong oleh Elang. Ketiganya akhirnya berhasil sampai di lapangan.


Pram melihat mereka dan berkata, "Membantu teman dalam kesulitan menunjukkan kerjasama tim yang bagus. Guru akan menambahkan 2 poin untuk masing - masing dari kalian. Kalian mendapat 97."


Setelah hampir satu jam, semua siswa XI MIA I telah berkumpul di lapangan kembali. Pram pun menginstruksi mereka untuk berbaris.


"Oke, praktek lari telah dilaksanakan dengan baik. Guru akhiri pelajaran olahraga hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan soal latihan di Bab 6 nanti dan kumpulkan sebelum pulang. Bubar, jalan."


◾◾◾


Rigel mengamati Nuna yang telah memakai seragam batik dengan rambutnya yang tergerai. Gadis itu sedang mengerjakan tugas dari Guru Olahraga.


"Gue lihat jawaban lo dong," ucap Rigel sambil mendekatkan kepalanya untuk membaca jawaban Nuna.


Nuna berhenti menulis dan menoleh pada Rigel. "Oke. Tunggu saya selesai."


"Oke." Rigel setuju namun dia tetap di posisinya menatap mata hitam Nuna. "Gue mau lo ikut lomba memanah minggu depan."


"Saya tidak mau."


"Inget perjanjian kita?"


"Ingat."


"Jadi gue minta lo buat ikut lomba, dan lo harus mau."


Hening sejenak, keduanya saling menatap.

__ADS_1


Nuna mengalihkan pandangan, "Baik. Saya akan mendaftar nanti."


Rigel menepuk kepala Nuna. "Bagus."


Nuna menepis tangan Rigel dan berkata dengan tegas, "Tolong jaga jarak."


Rigel tertawa kecil dan duduk di bangkunya tanpa mengganggu Nuna.


◾◾◾


Sesuai janjinya, setelah kelas terakhir selesai, Nuna pergi ke ruang OSIS.


"Halo, ada yang bisa gue bantu?" tanya Wayan yang merupakan panitia Pekan Olahraga yang berjaga sore ini.


"Saya ingin mendaftar untuk lomba memanah," jawab Nuna.


"Oke. Nama dan kelas?"


"Nuna Callista, kelas XI MIA I."


Ada keterkejutan sekilas di wajah siswa itu. "Oke, gue udah tulis nama lo, jadwalnya bisa lo lihat nanti di medsos OSIS."


"Baik. Terima kasih." Nuna pun keluar ruangan.


"Lo kenal dia?" tanya siswi di samping Wayan.


"Gue tahu dia, Nuna Callista yang juara umum tahun lalu. Dia anaknya pendiem dan enggak pernah ikut kegiatan sekolah," jelas Wayan.


Siswi itu menutup mulutnya dengan tangan, "Oh, gue inget! Dia yang nolak buat ikut olimpiade kan?"


Wayan mengangguk. "Nah itu dia."


"Biasanya anak yang pinter di akademis, kinerja di olahraganya buruk."


Wayan melirik gadis di sampingnya dan tersenyum tipis. "Who knows."



◾◾◾


Cerita sampingan


Bimo : (melihat Joshua diikuti tiga pengawal yang membawa lukisan besar) Ngapain lo bawa yang 'itu'?


Joshua : Mama gue yang nyuruh, punya lo mana?


Bimo : (mengeluarkan lukisan berukuran 15 x 15 dari dalam tas) Gue bawa yang ini


Joshua : Kecil banget! Kenapa lo enggak bawa lukisan candi lo yang 1 x 1 meter itu?


Bimo : Udah enggak ada, ama papa gue dibawa ke lelang amal

__ADS_1


Joshua : Keren juga lo


__ADS_2