
Elang menatap teman - teman sekelasnya yang sudah berganti baju.
"Oke semua uda ganti baju cakep cantik. Ini enggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Elang sambil menghitung ulang jumlah siswa XI MIA I.
"Lengkap, Lang."
"Ayo capcus, Lang."
"Loh kok cuma tigapuluh?" Elang menatap bingung.
"Kan lo nya belum dihitung, Lang," jawab Bimo memberitahu.
Elang tertawa, "Oh iya, haha. Oke kita berangkat sekarang ke tujuan berikutnya, Pusat Oleh - Oleh. Gue sih rekomendasikan pie susu, dijamin maknyus."
"Hahaha, siap Lang."
"Makasih, Lang. Gue pasti borong pie susu nanti."
Kali ini Nuna yang dibonceng oleh Rigel bisa menyaksikan laut dari jalan tol dengan tenang tanpa ada gangguan. Setelah satu setengah jam perjalanan, mereka sampai di salah satu Pusat Oleh - Oleh terkenal di Bali.
Nuna turun dari motor dan masuk ke dalam tanpa menunggu Rigel. Dia mengambil keranjang dan mulai berbelanja. Nuna memasukkan pie susu dengan berbagai rasa seperti cokelat, blueberry, nanas dan strawberry. Dia juga mengambil cokelat non-alkohol, kacang disko, Brem dan lainnya.
Rigel berjalan mengekor Nuna dan memasukkan barang di keranjangnya mengikuti Nuna. Dia terlalu malas berkeliling dan yakin dengan pilihan gadis itu.
Setelah satu jam belanja, Elang mengumpulkan siswa XI MIA I di depan toko. Dia melihat mereka membawa banyak kantong plastik di setiap tangan mereka.
"Ehem. Karena barang belanjaan kalian banyak, enggak mungkin kita lanjut pakek motor," ucap Elang.
Tiba - tiba deretan mobil mewah memasuki area parkir.
"Tuan, kami sudah siap," ucap seorang pria paruh baya yang memakai jas hitam.
"Oke, selanjutnya lo urus motor - motor ini," perintah Elang.
"Baik, Tuan." Pria paruh baya itu pun memberikan instruksi ke rekannya.
Elang menatap teman - temannya, "Kalian masuk mobil kayag kemarin. Makanan udah, sekarang kita akan belanja baju di Joger."
"Asik."
"Terbaik dah lo, Lang."
"Mantul kali lo."
"Ashiap, Pak Ketua."
Elang masuk ke dalam mobil bersama Rigel dan Nuna.
Joshua berbisik ke telinga Bimo, "Haha, kasian si Elang jadi obat nyamuk lagi."
Bimo mengangguk setuju. "Haha, udah kuy masuk mobil."
Satu jam kemudian, mereka sampai di Joger. Elang mengumpulkan mereka dan mengumumkan, "Jam setengah delapan kumpul lagi ya. Makan malam udah diurus ama Rigel di hotel."
"Kok bentar banget, Lang?" protes salah satu remaja putri.
"Iya, Lang. Kita cewek - cewek nih biasanya butuh tiga jam buat belanja."
"Bener itu. Bentar banget lo ngasih waktunya."
Para remaja laki - laki hanya menggelengkan kepala pada teman - teman perempuannya, mereka lalu menatap Ketua Kelas mereka dan penasaran bagaimana mengatasi masalah ini.
Elang terdiam sejenak. Dia sedang memperhitungkan ulang jadwal kegiatan hari ini. "Fine, tambah setengah jam lagi, jadi jam delapan oke? Soalnya kita juga masih ada makan malam ama beres - beres. Jam sebelas pesawat kita take off."
"Yay, makasih Lang."
"Ketua Kelas yang terbaik."
"Siap, Lang."
"Nah gitu dong."
Mereka pun mulai berbelanja.
Rigel memisahkan diri dengan Nuna dan memilih pakaian untuk para anggota Eternal Squad. Rigel telah mengecek postingan media sosial Eternal Squad dan update terbaru adalah foto Delon yang bersandar di mobil.
Rigel melihat jumlah followers mereka yang hanya limaratus ribu. Jadi dia memutuskan untuk mengajak anggotanya foto bersama. Rigel yakin dengan ketampanannya akan membawa banyak followers baru dan menambah ketenaran Squad nya. Rigel tertawa membayangkan hal itu.
Nuna yang akan memilih pakaian untuk Nino, melihat Rigel tertawa sendirian. Selain memiliki hobi khusus, ternyata remaja itu sedikit tidak waras, pikir Nuna dalam hati. Nuna segera menyingkir dari sana.
Rigel tidak menyadari bahwa Nuna menuliskan poin negatif tentang dirinya. Dia sedang sibuk membagikan ide cemerlangnya ke grup.
__ADS_1
...Grup Chat...
...Eternal Squad...
^^^Rigel : (Mengirim foto)^^^
Cakra : Bagus, Bos.
Adit : Baju buat tidur, Bos?
^^^Rigel : Kagak lah, buat foto grup kita^^^
Bram : Hah? Dalam rangka apa?
Rafa : Ngapain lo ngajak foto grup?
^^^Rigel : Buat naikin followers^^^
Fajar : ...
Adit : Gue kira buat ganti piyama
Delon : Abis gue posting foto, naik 20k btw
Fajar : Dikit banget
Rafa : Udah kalah pasar kita
Cakra : Mau pindah tiktok?
Adit : WKWKWK sapa yang bisa ngedit woi
^^^Rigel : Boleh juga^^^
Delon : Bos...
Rafa : Ribet ah, udah fokus di ig aja
^^^Rigel : Haha, kalian pilih bajunya oke^^^
^^^Rigel : (Mengirim Foto)^^^
^^^Rigel : Pilih satu^^^
Delon : Gue kiri
Adit : Kanan aja
Fajar : Kalau gue kiri
Cakra : Tengah
Bram : Hm.. Kiri
^^^Rigel : Gue pilih kiri juga. Oke gue beli yang kiri^^^
^^^Rigel : Kita foto abis gue balik^^^
Fajar : Siap, Bos
Rigel mengakhiri pembicaraan di grup dan memasukkan tujuh potong baju yang terpilih ke dalam keranjang, lalu dia membayarnya.
Di kasir Rigel berpapasan dengan Joshua dan Bimo. Mereka sepertinya tidak terpisahkan?
"Yo, bro. Beli apa lo?" tanya Joshua melirik keranjang Rigel. "Banyak amat dah."
"Buat geng gue," jawab Rigel.
"Hah? Geng?" Bimo terkejut.
"Yoi, Eternal Squad. Lo harusnya tahu sih, geng gue terkenal dimana - mana."
"Enggak."
"Tahu."
Joshua dan Bimo saling memandang.
"Kok lo tahu, Bim? Gue kagak pernah denger tuh," tanya Joshua heran.
Bimo menjawab, "Gue tahunya dari klub pecinta mobil, di sana membernya sering share medsos Eternal Squad yang sering juara balapan mobil jalanan."
Mulut Joshua membulat. "Oh hebat banget berati, btw masukin gue ke klubnya."
__ADS_1
Rigel menggosok hidungnya, "Jelaslah, Eternal Squad pantang kalah dalam balapan mobil. Btw kita ada kegiatan lain juga, lo bisa cek di medsos."
"Lah kok jadi promosi lo?" tanya Joshua tetapi tangannya sudah membuka ponsel dan memfollow akun instagram mereka.
Bimo tertawa, "Hahaha."
"Lo beli apaan?" tanya Rigel yang melihat keduanya membawa kantong plastik.
"Baju buat ganti di rumah."
Bimo mengangguk. "Sama."
"Baju doang?"
"Enggak, sama sandal juga."
"Oh." Rigel melihat sudah gilirannya untuk maju. "Gue bayar dulu."
"Oke."
Rigel membayar dengan kartu kreditnya.
Tit.
"Maaf kartu anda terblokir," ucap penjaga kasir.
"Hah? Coba yang ini."
Tit.
"Tidak bisa juga."
Rigel menatap kartu - kartunya heran. Mengapa papanya tiba - tiba memblokir kartu kreditnya? Oh! Si Mark itu.. pasti dia.
Rigel pun mengeluarkan kartu debitnya, "Pakai debit aja."
"Baik." Pembayaran berhasil dilakukan.
Rigel membawa kantong belanjanya dan menelepon papanya.
"Halo, Pa. Kenapa Papa blokir kartu, Rigel?"
Haykal di ujung sana mengerutkan kening. "Kamu membuat ulah dengan anaknya Stefan. Dia sampai masuk rumah sakit."
Rigel bingung mendengar alasan papanya. Kapan dia memukulnya?
"Bukan saya yang memukulinya. Apakah Papa tidak memeriksanya?"
"Tidak ada pengawasan di sana dan dia bersikeras kamu memukulinya."
"Kapan kejadiannya?"
"Tadi siang."
"Tapi, Pa. Saya masih di Bali sekarang."
Haykal termenung. "Oh. Papa lupa kamu di Bali."
"..."
Rigel tidak berdaya, "Oke, saya tidak bersalah. Jadi Papa tolong buka kembali kartu kreditnya."
"Ya."
Telepon dimatikan.
Rigel menatap ponselnya sejenak sebelum kembali berkumpul dengan Joshua dan Bimo.
◾◾◾
Cerita sampingan
Para anggota Eternal Squad sedang berkumpul.
Fajar : Bram, lo kan tadi suka kanan, kenapa jadi milih kiri?
Bram : Lo kagak lihat tangan bos?
Adit : Tangan bos kenapa dah?
Bram : Dari ketiga foto, lo lihat. Cuma ada tangan bos di baju kiri. Sejak awal bos milih ini, dua lainnya cuma formalitas.
__ADS_1
Rafa : Buahahaha..
Fajar : ...