
Di Sabtu pagi yang cerah. Nuna sedang duduk bersama kakeknya menikmati teh di taman rumah milik kakeknya.
"Kakek, ada yang ingin saya katakan," ucap Nuna sambil meletakkan cangkir tehnya di meja.
"Ya."
"Ayah menelepon saya beberapa hari lalu dan meminta Bagas untuk diterima kembali di perusahaan."
"Tidak bisa," tolak Suherman tanpa ragu - ragu. "Anak itu membuat kekacauan. Dia berani mencoba mencuri data rahasia perusahaan untuk dijual ke saingan bisnis kita."
Nuna terdiam. Sangat tidak mungkin mempertahankan pengkhianat di Perusahaan Pangestu. Tapi Nino...
"Sebenarnya saya juga tidak setuju. Tetapi Kakek, Ayah membawa Nino ke dalam masalah ini," ungkap Nuna.
"Bah." Suherman memukul meja. "Ferdinan tidak tahu malu. Menggunakan anaknya sendiri untuk kepentingannya. Jangan khawatir, cucuku tersayang. Kakek telah berhasil mengumpulkan beberapa kantong darah yang cocok dengan cucu laki - lakiku yang imut itu."
Nuna menatap kakeknya, "Benarkah Kakek? Terima kasih."
"Apakah Ferdinan mengatakan hal lain?"
"Tidak, Kakek."
"Bagus." Suherman mengangguk puas. "Cucu perempuan tersayang, Kakek mendapat telepon dari wali kelas kamu. Dia memberitahu Kakek bahwa kamu menolak untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Summer. Apa alasannya?"
Pupil Nuna bergetar. Mengapa mereka sampai menghubungi kakeknya?
Nuna menjawab, "Saya tidak ingin meninggalkan Nino sendirian, Kakek."
"Cucu laki - lakiku tidak akan sendirian, Kakek akan ikut menemaninya di rumah selama kamu pergi. Jangan sia - siakan kesempatan yang ada."
Nuna yang tidak bisa melawan perkataan kakeknya menganggukkan kepalanya, "Baik, Kakek. Saya mengerti. Saya akan berpartisipasi dalam Olimpiade Summer. Maaf akan merepotkan Kakek untuk menjaga Nino."
"Bah. Nino juga cucu kesayangan Kakek. Kamu tidak perlu berterima kasih." Suherman menatap tidak puas pada cucunya.
"Maaf, Kakek." Nuna mengalihkan pandangannya.
Suherman memulai topik lainnya, "Bagaimana hubunganmu dengan putra dari Kepala Keluarga Anderson?"
Nuna menatap bingung kakeknya, "Hubungan kami baik - baik saja."
"Benarkah? Bocah bau itu tidak menimbulkan masalah untukmu, kan?"
"Tidak, Kakek."
Suherman menyesap tehnya, "Oke. Kakek lega mendengarnya."
Yeah.. kami baik - baik saja, batin Nuna meyakinkan diri.
◾◾◾
Rigel menatap kursi di sampingnya yang kosong. Kemana Nuna? Gadis itu tidak mungkin terlambat kan?
"Woi, Elang." Rigel menghampiri Ketua Kelas XI MIA I. "Si Nuna kagak masuk?"
Elang menutup buku yang dia baca. "Enggak, kan dia lagi ikut Olimpiade. Dia enggak masuk sampai besok."
"Eh? Dia jadi ikut?" tanya Rigel bingung.
"Yoi."
__ADS_1
"Oke, thanks infonya." Rigel mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas dengan tergesa - gesa.
"Woi Rigel. Jangan bolos lo," teriak Elang yang tak dianggap oleh Rigel. "Nambah poin lagi nih anak."
Rigel pulang ke rumah dan memasukkan bajunya ke dalam ransel. Setelah menghubungi Dimas untuk menjemputnya, dia segera memesan tiket pesawat untuk pergi menyusul Nuna.
"Tuan," sapa Dimas saat melihat Rigel sudah berdiri di depan gerbang rumah Kepala Keluarga Anderson.
Rigel mengangguk. "Buruan, Dim." Dia pun masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan."
Setelah sampai di bandara, Rigel turun dari mobil dan masuk ke dalam Terminal 3. Dimas menatap sosok Rigel yang menghilang di tikungan. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Haykal untuk melaporkan hal ini.
Haykal Anderson hanya menggelengkan kepalanya setelah membaca pesan dari bawahannya yang menjadi asisten pribadi Rigel. Sepertinya IQ anaknya benar - benar menurun..
◾◾◾
Nuna adalah yang pertama kali keluar dari ruang ujian. Dia mengabaikan tatapan menusuk dari para peserta lain dan pergi menemui Tanio yang sudah menunggunya.
"Nona," sapa Tanio. "Babak semifinal akan dilaksanakan sore nanti. Apakah Nona akan menunggu atau kembali lagi nanti?"
Para guru dan orangtua peserta yang mendengar pertanyaan Tanio, mau tidak mau menatap ke arah Nuna.
"Yakin banget bisa lolos."
"Cih sombongnya."
"Keluar pertama belum tentu bisa masuk semifinal."
"Hahaha. Percaya diri berlebihan itu tidak baik."
Beberapa cibiran terdengar dengan jelas. Tanio hendak membela Nonanya ketika seseorang mendahuluinya.
Nuna mengedipkan matanya bingung. "Kenapa kamu ada di sini?"
Tatapan Rigel berubah lembut saat melihat Nuna. Dia tersenyum lebar, "Dukung lo lah."
Nuna tidak percaya. Dia lebih percaya jika Rigel datang ke sini untuk mengganggunya.
"Lo udah makan siang?" tanya Rigel.
Nuna menggeleng.
"Ikut gue." Rigel meraih pergelangan tangan Nuna.
Tanio menatap tidak puas pada Rigel. "Tuan, mohon sopan pada Nona."
Alis Rigel terangkat. "Kok lo di sini? Enggak penting juga sih. Lo ikut ke mobil gue, Nuna. Dan lo, asistennya Nuna, lo jangan ikutin kami. Gue bakal balikin Nuna sebelum babak semifinal dimulai."
Tanio ingin memprotes tetapi dia melihat Nuna mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan telapak tangan kecil itu. Dia menangkap maksud Nonanya untuk berhenti bicara. Tanio hanya bisa pasrah melihat Nonanya digandeng oleh Rigel ke dalam mobil.
Rigel menyetir sendiri sehingga Nuna duduk di depan. Dia menyalakan mesin dan mereka pergi ke salah satu restauran milik Keluarga Anderson yang ada di kota ini.
Rigel membuka obrolan. "Gimana ujiannya? Susah enggak?"
"Tidak."
"Kok lo tiba - tiba ikut? Kagak ngabarin gue lagi."
"Kakek meminta saya untuk berpartisipasi."
__ADS_1
"Oh. Terus adik lo?"
"Kakek saya menemaninya."
"Oh."
Suasana hening berlangsung hingga mereka sampai di restauran.
Rigel membawa Nuna ke ruangan privat yang memang tersedia di setiap restauran di bawah Keluarga Anderson.
"Selamat siang, Tuan Anderson. Berikut menu dari restauran kami," ucap seorang pelayan sambil menyerahkan buku menu.
"Supreme Sirloin satu, orange juice satu. Lo apa, Nuna?"
Nuna menutup buku menu. Dia tidak akan tiba - tiba sakit perut kan?
"Saya.. " Nuna ragu - ragu, "Beef Stew Stroganoff dan air mineral."
Rigel memperhatikan Nuna dan kemudian teringat bahwa gadis ini tidak bisa makan diluar. Tetapi restauran keluarganya memiliki kebersihan yang terjamin dan makanan yang dipesan Nuna tidak pedas. Ya... seharusnya tidak apa - apa.
Keduanya menghabiskan waktu satu jam sebelum keluar dari restauran.
"Lo enggak mules kan?" tanya Rigel khawatir.
Pupil mata Nuna bergetar. "Tidak. Saya baik - baik saja. Makanannya enak. Terima kasih."
Rigel tertawa. "Oke. Gue anter lo balik ke tempat ujian."
"Nona." Tanio bergegas menyambut Nonanya. "Nona mendapat tempat pertama yang lolos ke semifinal."
Nuna mengangguk, "Ya."
"Masuk juga lo," ucap Panji yang menghampiri mereka. "Cih, jangan harap lo beruntung bisa masuk ke final. Ha!"
"Duh tangan gue gatel." Rigel mengangkat tinjunya dan memutar - mutar bahu kanannya.
Panji melotot pada Rigel. "Ngapain lo di sini? Rambut merah lo ngerusak pemandangan."
Rigel maju selangkah. "Ngajak ribut lo?"
"Panji," tegur Yudha buru - buru menarik lengan Panji. "Sorry, Rigel. Panji jaga ucapan lo."
Panji yang ditekan oleh Yudha hanya bisa mendengus.
Yudha lega dengan sikap Panji. Dia lalu tersenyum pada Nuna. "Selamat. Semoga ketemu di final besok."
"Terima kasih," balas Nuna.
"Oke, semangat Nuna. Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Yudha kemudian pergi bersama dengan Panji.
"Siapa namanya?" tanya Rigel.
"Tidak tahu," jawab Nuna singkat.
Rigel tertawa. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Nuna. "Lo pasti juara satu."
Nuna mengabaikan sentuhan Rigel di kepalanya dan bergumam, "Ya."
◾◾◾
__ADS_1