
Suherman sedang bermain catur dengan Kepala Pelayan di paviliun rumahnya ketika asisten pribadinya menemuinya dan menyerahkan sebuah surat undangan.
Pada bagian depan surat tertulis namanya dengan tinta emas. Suherman membaliknya dan menemukan segel lilin berbentuk logo Liver School. Dia membukanya dan terkejut ketika membaca isinya. Cucu perempuannya yang pendiam di sekolah tiba - tiba memenangkan pertandingan olahraga.
"Wawan, tolong kamu segera siapkan jas dan pakaian saya untuk malam ini. Saya harus tampil gagah di depan cucu perempuan saya nanti," ucap Suherman pada Kepala Pelayan.
"Baik. Tuan." Wawan bergegas memanggil para pelayan dan menjalankan tugasnya
◾◾◾
Di hari terakhir Pekan Olahraga, panitia mengadakan lomba memasak untuk jenjang SMP dan SMA, lomba cerdas cermat untuk jenjang SD serta lomba mewarnai untuk jenjang TK di pagi hari.
Mereka sengaja tidak mengumumkan sebelumnya untuk memberi kejutan para siswa. Pesertanya pun dipilih melalui undian. Ada perwakilan dua orang di setiap kelas untuk lomba memasak dan satu orang untuk lomba cerdas cermat dan mewarnai.
Undian dilakukan secara mandiri oleh Ketua Kelas masing - masing.
Elang tidak menjadi panitia untuk kegiatan hari ini sehingga dia bebas dan bisa memimpin undian.
"Oke guys. Biar adil, gue akan tutup mata," ucap Elang lalu menutup matanya menggunakan sapu tangan.
Para siswa kelas XI MIA I menatap kotak undian dengan cemas, mereka berdoa untuk tidak dipilih.
Setelah mengambil dua gulungan kertas, Elang menurunkan sapu tangannya ke leher dan membaca nama pada kertas. "Perwakilan dari kelas kita..."
"Buruan woi, Lang."
"Iya nih, jangan bikin panik napa?"
"Gue ke situ juga sekarang apa gimane, Lang?"
"Siapa, Lang?"
.
Elang tertawa, "Sabar napa guys. Oke perwakilan dari kelas kita adalah... Selamat Rigel dan Nuna!"
Rigel terkejut, "Kok gue? Bisa diulang enggak?"
"Enggak," jawab teman sekelasnya dengan kompak.
"Hahahaha.." Joshua tertawa puas dan menepuk bahu Rigel. "Semangat bro."
"Puas banget lo?" tanya Rigel kesal.
"Hahaha.. iya dong. Kapan lagi liat lo masak."
"Mau gue pukul hah?"
"Uh.. takut hahaha.."
Nuna tidak mengomentari hasil undian dan hanya diam memandang Joshua dan Rigel yang sedang adu mulut.
__ADS_1
Karena ada 96 pasang peserta, panitia membagi ke dalam 3 kelompok yang ditempatkan di lantai berbeda dalam gedung serbaguna.
XI MIA I mendapat posisi di lantai kedua. Mereka telah siap menonton dan mendukung perwakilan kelasnya.
Nuna telah memakai pakaian lengkap untuk memasak, tengah mengamati bahan - bahan yang tersedia di meja.
"Pagi, para peserta. Peraturan lomba memasak ini sangat mudah. Kalian bebas menggunakan bahan yang ada untuk membuat masakan dalam waktu 60 menit. Penilaian tentunya berdasarkan rasa dan inovasi kalian. Itu saja, selamat berjuang. Lomba dimulai," ucap panitia.
Nuna memulai dengan mengambil daging ayam. Dia lalu menoleh pada Rigel, "Saya tidak bisa memasak."
Rigel tidak kaget. Siswa di sekolah mereka berasal dari keluarga kaya yang pasti jarang menginjak dapur. Rigel sendiri pun juga awalnya tidak pernah menyentuh panci dan kawan - kawannya. Hingga ketika dia hidup di luar negeri, mau tak mau Rigel mencoba memasak karena makanan di sana tidak sesuai dengan lidah lokalnya.
"Gue bisa, tapi enggak jago banget. Lo bantu nyuci ayamnya ampe bersih," ucap Rigel memberi Nuna intruksi.
"Baik." Nuna pun membawa daging ayam ke wastafel dan mencucinya.
Rigel mengamati jari - jari lentik Nuna yang membilas ayam dengan hati - hati. Jari yang biasanya digunakan untuk menekan tuts piano sekarang digunakan untuk mencuci ayam. Siapa panitia yang memiliki ide ini? Rigel sangat ingin berterima kasih karena membantunya untuk mengganggu Nuna.
"Saya telah mencucinya. Apa selanjutnya?"
"Lo lanjut cuci ini, ini ama ini."
"Baik."
Sudut bibir Rigel berusaha untuk tidak naik. Senang sekali rasanya memerintah Nuna haha.
"Woi jangan bengong lo, Rigel." Joshua yang ada di sisi pembatas berteriak.
"Sudah selesai. Apa lagi?"
"Lo iris cabe merah tipis - tipis."
Nuna meraih pisau dan memotong cabe merah. Dia tidak tahu harus seberapa tipis, tanpa sengaja jari telunjuknya terkena pisau.
Rigel yang melihatnya, menarik tangan Nuna dan mencuci telunjuknya yang berdarah. Dia membuka kotak obat yang ditaruh panitia di tepi meja dan menemukan hansaplast. Sepertinya panitia tahu bahwa para siswa tidak akan bisa memasak dengan lancar.
Rigel lalu membalut telunjuk Nuna yang terluka. "Udah lo diem aja di sini."
Rigel mengambil alih tugas Nuna dan memotong cabai merah dengan cepat. Dia melanjutkan memotong dadu satu bawang bombay dan satu buah tomat.
Nuna mengamati tangan Rigel yang beradu dengan pisau. Dia tidak menyangka Rigel memiliki skill memasak yang bagus.
"Saya tidak bisa hanya diam. Beritahu saya apa yang perlu dilakukan?" tanya Nuna.
"Lo nyalain kompor, terus tuang minyak, biarin panas dulu baru lo masukin nih ayam." Rigel menyerahkan mangkok berisi potongan daging ayam yang telah dilumuri jeruk nipis.
"Baik."
Nuna menyalakan kompor dan menuangkan minyak.
Rigel sedang meracik sambal andalannya ketika melihat Nuna menuang minyak itu.
"Awas," teriak Rigel.
__ADS_1
Letupan - letupan minyak terdengar ganas, Rigel memeluk kepala Nuna di dadanya. Gadis ini.. dia tidak mengeringkan wajan dengan benar dan menuang minyak begitu saja..
Rigel mematikan kompor dan memarahi Nuna. "Lo nyalain api gede banget, dan tuh minyak panas hampir muncrat di muka ama tangan lo. Udah lo diem aja di pinggir."
"Maaf," ucap Nuna. Dengan patuh dia berdiri di sudut meja dan tidak mencoba memasak lagi.
"Bagus."
Rigel menyalakan kompor dengan api sedang. Setelah panas, dia memasukkan ayam dan menggorengnya setengah matang lalu mengangkatnya. Kemudian Rigel memanaskan margarin dan menumis bawang bombay, bawang putih dan cabai merah. Setelah mencium bau harum, dia memasukkan tomat, kecap manis, garam dan merica lalu mengaduknya hingga tercampur sempurna.
Rigel memasukkan ayam goreng tadi dan air lalu mengaduknya lagi hingga bumbu meresap. Dia mengambil sepotong ayam dan mencicipinya. Senyum puas muncul di wajah Rigel yang membuat teman - teman sekelasnya menatap penasaran dan merasa lapar.
Ayam kecap buatan Rigel akhirnya jadi. Rigel memindahkan sebagian ayam ke piring dan menghiasnya dengan potongan timun, tomat dan selada.
"Sini lo cobain." Rigel menyendok daging ayam dan mengulurkan tangannya pada Nuna.
Nuna mencium aroma wangi masakan. Dia membuka mulutnya dan rasa manis dan gurih dari daging ayam yang lembut meledak di mulutnya. Ini enak!
"Gimana? Enak kan masakan gue?" tanya Rigel dengan percaya diri.
"Ya, lezat."
"Sambel andalan gue juga mantep, tapi gue enggak berani ngasih ke lo. Lo masuk rumah sakit kemarin mungkin juga gara - gara enggak kuat ama sambelnya."
"Terima kasih, maaf saya tidak membantu sama sekali."
Rigel melambaikan tangan. "Mau lagi?"
Nuna mengangguk.
Rigel lalu mulai menyuapi Nuna.
Joshua dan Bimo saling berpandangan seolah bertukar pikiran yang sama. Si Rigel ini bener - bener enggak sadar..
Teman - teman sekelas yang menyaksikan pemandangan itu juga memiliki ilusi sedang menonton drama cinta remaja.
◾◾◾
Cerita sampingan
Joshua : (menatap kelas XI MIA I yang sepi dan hanya ada dia, Bimo dan Elang) Mantap kali lo, Lang.
Elang : Hahaha, gue deg degan woy, takut salah ambil nama
Bimo : Wkwkwk (Bimo lalu mengeluarkan semua kertas yang ada dalam kotak undian dan nama yang tertulis di sana hanya ada Rigel dan Nuna)
Elang : Untung gue kagak ngambil dua - duanya Rigel atau Nuna
Bimo : Iya woi, hoki lo
Joshua : Haha, misi sukses gaes
__ADS_1