Forever Young

Forever Young
BAB VI Siswa Baru


__ADS_3


Suasana belajar mandiri di pagi hari di kelas XI MIA 1 begitu damai. Para siswa sedang membaca buku pelajaran mereka, ada juga yang mengerjakan latihan soal dan berdiskusi dengan temannya.


"Guys, guys! Ada kabar buruk!" Joshua berteriak dan memukul - mukul meja guru dengan keras.


"Please deh, Jo. Lo pagi - pagi udah bikin ribut!" keluh siswi yang duduk di meja depan.


"Mana nih pawangnya? Bimo, dimana lo?"


Bimo yang baru masuk ke kelas, cemberut. "Gue bukan pawangnya!"


"Shh." Joshua mendesis. "Dengerin dulu lah. Penting ini menyangkut nama baik kelas kita."


"Awas aja lo ya kalau enggak penting."


Joshua mengabaikan ancaman teman sekelasnya dan berkata, "Gue dapat kabar, kita mau kedatangan siswa baru."


"Terus? Ini yang lo sebut penting?" sindir salah satu temannya.


"Masalahnya ini siswa punya nilai jelek di sekolah sebelumnya!"


Pernyataan Joshua membuat para siswa di ruang kelas merasa terkena guntur di pagi hari yang cerah.


"Apa?!"


"Kok dia bisa masuk kelas kita?"


"Bukannya dia harusnya di kelas 9!"


"Dia bisa mengancam kelas kita."


"Kita enggak boleh kalah dengan kelas XI MIA II."


"Kenapa enggak ke XI MIA II aja sih?"


"Yah, kelas kita jadi ganjil dong."


Siswa - siswa sudah tidak fokus lagi dengan belajarnya, mereka lebih memilih membahas hal penting ini. Di sekolah mereka, terdapat 16 kelas di tingkat kelas sebelas SMA. Ada sembilan kelas jurusan MIA (Matematika dan Ilmu Alam) dan tujuh kelas jurusan IIS (Ilmu - Ilmu Sosial).


Saat pertama mereka masuk sekolah ini, yaitu saat di duduk di kelas X, mereka telah menjalani serangkaian tes untuk menentukan jurusan mereka, MIA atau IIS. Setelah terbagi menjadi dua jurusan, mereka dites kembali dan ditempatkan di kelas sesuai dengan urutan ranking mereka dalam ujian. Ranking 1 - 30 menempati kelas X MIA I, ranking 31 - 60 menempati X MIA II.


Pembagian kelas ini bersifat sementara. Ketika naik ke kelas XI, mereka di ranking lagi dan kelas di sesuaikan kembali. Sehingga sebagian dari siswa kelas XI MIA I ini berasal dari kelas lain sebelumnya. Kebanyakan mereka yang tidak dapat bertahan, berpindah ke kelas XI MIA II. Hal ini lah yang menyebabkan kedua kelas sering bersaing dalam nilai rata - rata kelas.


Para siswa kelas XI MIA I khawatir siswa baru yang dirumorkan memiliki riwayat nilai jelek akan sangat mempengaruhi hasil rata - rata kelas mereka. Hasil ujian semester kemarin mereka menangkan dengan hanya selisih 0,5 poin lebih tinggi dari kelas XI MIA II. Mereka sangat cemas!


"Boikot siswa itu!" Siswa berkacamata berseru dengan keras.


"Ya, ya benar! Kami tidak menerima siswa dengan level yang tidak sama dengan kami."

__ADS_1


"Setuju, ayo semua tanda tangan petisi."


"Bah, petisi apa?" tanya Hendra, Wali Kelas XI MIA I yang melangkah masuk ke ruang kelas. "Joshua, kembali ke tempat duduk!"


Joshua menatap sedih gurunya. Lalu dia menemukan seseorang di belakang gurunya. Ya ampun penampilan macam apa ini! Dengan kesal, Joshua duduk di samping Bimo.


Hendra berdiri dan mengetuk meja guru. "Tenang semuanya. Hari ini kedatangan siswa baru. Nak, perkenalkan dirimu."


"Gue Rigel."


Hendra menunggu namun siswa baru itu tidak membuka mulutnya lagi. "Oke. Kalian sambut dia dengan baik. Mulai sekarang kalian teman sekelas, oke?"


Walaupun enggan, para siswa masih menjawab, "Baik, Pak."


Hendra menatap Rigel, "Kamu bisa memilih duduk di bangku yang kosong. Ketua kelas ini, Elang akan membantu kamu mengambil buku pelajaran nanti. Elang kemari."


Elang sedang menghitung poin pelanggaran siswa baru ini.


Rambut dicat 5 poin


Tidak berseragam lengkap 1 poin


Sepatu berwarna 1 poin


Tindik telinga 10 poin


"Elang?"


"Maaf, Pak. Saya melamun." Elang segera berjalan ke depan kelas.


"Tolong bantu Rigel mengambil buku pelajarannya," ulang Hendra.


"Baik, Pak."


"Oke, saya tinggal kalau begitu. Kalian lanjutkan belajar mandirinya."


"Baik, Pak."


Hendra lalu meninggalkan kelas.


"Ayo ikut gue ambil buku lo," ucap Elang pada Rigel yang bersandar di papan tulis.


Rigel hanya melirik ketua kelas barunya dan berjalan menghampiri bangku yang kosong. Dia lalu duduk dan menyapa teman sebangkunya, "Halo, Nona Callista. Kita bertemu lagi."


"Halo."


Rigel menyipitkan mata, tidak puas dengan balasan singkat yang diberikan. "Nuna."


Nuna menatap Rigel, "Ya?"

__ADS_1


"Lo belum bertanggung jawab dengan benar."


Tanggung jawab apa? Teman sekelas mereka menajamkan telinga. Apakah ada gosip baru?


Nuna memperhatikan tatapan penasaran teman - temannya. Tanpa sadar alisnya berkerut. "Kamu ikut dengan saya." Nuna menutup bukunya dan berdiri.


"Tapi gue harus ngambil buku sama Elang." Rigel melirik Elang yang tidak jauh dari mereka.


Nuna menatap Elang dan berkata, "Saya akan membantunya mengambil buku."


Elang menggeleng, dia memperhatikan lengan kurus Nuna. "Enggak, buku - buku itu terlalu berat buat lo." Dia tahu bahwa Nuna ingin berbicara secara pribadi dengan Rigel, jadi dia memutuskan "Gue yang ambil bukunya sendiri."


Nuna hendak menolak, tetapi Rigel dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Nuna menggunakan tangannya yang bebas. Dia tersenyum lebar pada Elang berkata, "Thank you, bro." Kemudian menarik Nuna berjalan ke sudut tersembunyi di belakang bangunan kelas mereka.


"Tolong lepaskan tangan saya," ucap Nuna pada Rigel yang bersandar di dinding.


Rigel melepas genggamannya.


Nuna mengambil jarak lalu membuka mulutnya, "Kamu telah mengatakan bahwa kamu telah menerima permintaan maaf saya hari itu. Apa maksud kamu? Saya juga menawarkan pertanggung jawaban, tetapi kamu menolak."


Rigel menyeringai. "Otak gue cidera dan tulang gue patah. See? Tangan gue masih di gips. Tapi lo cuma datang, minta maaf, terus pulang gitu aja. Gue hampir dirawat tiga minggu di rumah sakit, dan lo enggak pernah muncul lagi. Lo yakin, lo menyesal atas perbuatan lo?"


"Saya tidak pernah mengatakan saya menyesal atas perbuatan saya."


Kedua mata Rigel membulat menatap wajah tanpa ekspresi Nuna, "Lo, lo?!" Dia meninggikan nada bicaranya, "Lo udah bikin gue jatuh dari lantai dua, lo tahu, tinggi balkon dari tanah lima meter! Lima meter! Dan lo enggak menyesal sedikitpun?"


Nuna menatap lurus pada Rigel. "Saya sudah meminta maaf pada kamu. Saya tidak menyesal karena perilaku kamu yang mencurigakan menyebabkan saya mengambil tindakan hari itu."


"Lo nyalahin gue? Itu rumah gue! Terserah gue mau masuk lewat pintu, jendela, atap kek. Terserah gue! Dan lo sebagai tamu, seenaknya nendang gue dari rumah gue sendiri!"


Nuna berkata dengan lugas, "Kakek saya dan saya telah datang ke rumah kamu. Permasalahan ini telah diselesaikan dengan pembatalan kontrak kerja perusahaan keluarga Anderson dengan perusahaan keluarga Pangestu. Jadi saya tidak berhutang pertanggung jawaban apapun pada kamu. "


Rigel terkejut. Dia sama sekali tidak mengetahui hal ini. "Itu..berapa kerugian yang ditanggung keluarga lo?"


"Kamu tidak perlu memikirkannya. Masalah ini sudah selesai. Jadi tolong jangan berbicara omong kosong lagi." Nuna lalu melangkah pergi meninggalkan Rigel yang masih diam di tempatnya.



◾◾◾


Cerita sampingan


Sepulang sekolah


Tanio : (ragu - ragu) Nona, apakah ada yang mengganggu Nona di sekolah?


Nuna : Tidak (melakukan tehnik pernafasan sitali)


Tanio : (Nona marah!!!)

__ADS_1


__ADS_2