Forever Young

Forever Young
BAB XLIII Kencan Pertama


__ADS_3


Seharian Rigel dalam perasaan buruk. Dia kesal dengan Nuna. Mereka telah menkonfirmasi perasaan masing-masing tetapi gadis itu tidak ingin menjalin hubungan dengannya karena sang kakek melarangnya.


Argh. Rigel mengambil sebatang rokok dan ingin merokok tetapi Nuna tidak menyukai bau asap pada bajunya. Dia akhirnya menahan diri dan membuang rokok ke dalam tempat sampah.


Bel berbunyi dan Rigel kembali ke kelas. Dia melihat Nuna sedang mengerjakan latihan soal mata pelajaran matematika.


Nuna menghentikan menulis saat merasakan kehadiran Rigel di sampingnya. "Apakah kamu marah?" bisiknya.


Rigel mendengus. "Enggak, gue enggak marah."


Dia benar-benar marah, batin Nuna. Tetapi gadis itu juga tidak berdaya, dia harus mematuhi larangan kakeknya. Nuna yang dulu beranggapan bahwa semuanya akan berjalan lancar sebelum kedatangan Rigel yang menyusup ke dalam hatinya.


"Kamu marah," ucap Nuna memberikan pernyataan.


Rigel melirik gadis itu. Kedua mata hitamnya memantulkan bayangan dirinya. Dia menghela nafas dan mengacak rambut Nuna. "Lo enggak boleh dekat sama cowok lain selain gue."


Nuna mengernyit. "Saya tidak setuju."


"Kenapa? Gue tahu lo enggak mau kita pacaran, tapi gue juga enggak mau lo dideketin cowok lain."


"Oh," gumam Nuna yang mengerti maksud Rigel. "Baik."


Bibir Rigel melengkung ke atas. "Bagus."


Mereka pun tetap berteman dengan perasaan khusus. Rigel menghela nafas ketika dia justru menjalin hubungan tanpa status dengan cinta pertamanya. Tetapi tidak apa! Asalkan Nuna tetap di sisinya, Rigel tidak akan membuat masalah dengan status mereka yang masih berteman.


Joshua menyikut Bimo. Mereka sedang duduk berhadapan dengan Rigel dan Nuna di kantin sekolah.


"Shh, Bim," bisik Joshua. "Kok gue merasakan atmosfer aneh ya diantara mereka."


Bimo mengamati Rigel yang sedang menyuapi Nuna. "Iya woi, kayag ada filter merah muda di antara mereka gitu."


Telinga Rigel memerah mendengar percakapan kedua temannya. Dia menatap Bimo dan Joshua yang telah selesai makan siang. "Apa sih lo pada, iri bilang."


Bimo terkekeh. "Udah official nih?"


Bibir Rigel mengerut. "Enggak. Pergi dah kalau udah selesai. Jangan ganggu gue sama Nuna."


Joshua hendak membalas perkataan Rigel ketika Bunga tiba-tiba menghampiri meja mereka.


"Joshua, gue perlu ngomong sama lo."


Ekspresi Joshua berubah murung. Rigel berbisik pada Bimo. "Mereka berantem?"


Bimo mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.


"Joshua, gue perlu ngomong sama lo please," ulang Bunga.


Joshua menghela nafas panjang dan beranjak dari kursinya. Dia menatap Bunga, "Ikut gue."


Bunga mengikuti Joshua ke taman sekolah.


"Ada apa?" tanya Joshua.


Bunga menggigit bibirnya. "Maaf, gue enggak maksud buat ngebentak lo kemarin."

__ADS_1


"Gue tahu, lo enggak perlu minta maaf."


"Terus kenapa lo ngehindarin gue?"


"Bunga, gue tahu, lo udah tahu gimana perasaan gue ke lo, kan?" tanya Joshua sambil menatap tajam Bunga.


Pupil Bunga bergetar. "Apa maksud lo?"


"Gue suka sama lo."


Bunga terdiam.


"Tapi gue capek Bunga. Gue capek denger lo ngomong tentang tunangan lo setiap hari. Tolong beri gue waktu." Joshua tersenyum tipis. "Maaf, gue egois. Gue akan datang ke lo kalau emosi gue udah tenang."


"Joshua, maaf," gumam Bunga lirih.


Joshua tidak menanggapi dan berbalik pergi. Bunga menatap punggung sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya mengepal di sisi roknya.


◾◾◾


Nuna menguap. Angin malam menerpa wajahnya sehingga dia mengantuk. Rigel melirik spion dan melihat Nuna yang dia bonceng.


"Masih jauh kah?" tanya Nuna. Dia baru saja menyelesaikan les piano ketika tiba-tiba Rigel muncul di depan rumah gurunya dan membawanya pergi. Tentu saja awalnya asisten pribadinya, Tanio mencegah Rigel menculik Nonanya. Namun Rigel menghubungi Suherman dan meminta izin secara langsung.


Rigel terkekeh, "Sebentar lagi."


Beberapa saat kemudian, motor berhenti di depan sebuah gedung.


Nuna turun dari motor dan mengamati gedung di depannya. "Mengapa kamu membawa saya ke hotel?"


"Jangan salah paham," ucap Rigel dengan panik. "Tujuan kita ada di rooftop."


Rigel tersenyum misterius. "Ikut aja." Dia lalu menggandeng tangan Nuna dan masuk ke dalam hotel.


Manager hotel menyambut mereka, "Selamat malam, Tuan Anderson."


"Malam," balas Rigel. "Anda sudah menyiapkan semuanya kan?"


"Tentu saja, Tuan Anderson. Silakan lewat sini." Manager hotel memimpin jalan dan membawa mereka masuk ke dalam lift.


Lift terus naik hingga berhenti di lantai teratas. Pintu lift terbuka dan Nuna terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Helikopter?"


Rigel mengusap hidungnya yang tidak gatal. "Gue mau ajak lo lihat pemandangan dari atas."


Keduanya lalu duduk di kursi belakang dan memasang pengaman serta headphone yang melindungi telinga.


Rigel tersenyum lebar dan menatap Nuna. "Kita berangkat."


Helikopter perlahan naik. Nuna melihat keluar dan terpesona dengan pemandangan lampu kota yang berkelap-kelip.


"Indah kan?"


"Ya," gumam Nuna.


Rigel mengamati gadis itu dan ikut senang, Nuna menyukai kejutannya. Walaupun sekarang mereka tidak menjalin hubungan, Rigel tetap ingin membuat kencan pertama mereka menakjubkan sehingga Nuna tidak akan melupakannya. Dia tidak sabar memberi gadis itu kejutan lainnya.

__ADS_1


Setelah satu jam mengelilingi kota, helikopter kembali ke rooftop hotel. Rigel membantu Nuna turun.


"Terima kasih, Rigel," ucap Nuna.


"Jangan berterima kasih, kita adalah ehem, sahabat baik untuk sekarang."


Sudut bibir Nuna terangkat dan Rigel terpesona. Baru kali ini dia melihat Nuna tersenyum dengan tulus yang berbeda dengan senyum bisnisnya.


"Ya."


Tangan Rigel mencengkram jantungnya yang berdebar-debar. Nunanya cantik sekali!


"Rigel?" Nuna melambaikan tangan di depan wajah Rigel.


Rigel tersadar dan berpura-pura batuk. "Sorry, sorry. Ayo gue anter lo pulang."


"Apa yang kamu pikirkan hingga melamun seperti tadi?" tanya Nuna penasaran.


"Gue enggak ngelamun, Nuna. Gue terpesona sama senyuman lo," jawab Rigel dengan jujur.


Nuna mengernyit. Dia menekan tempat dimana jantungnya berdetak lebih kencang. "Jangan menggoda saya."


Rigel tertawa. "Apakah Nuna Callista bisa malu juga?"


Pipi Nuna memanas. "Siapa yang malu?" Nuna segera melakukan teknik pernapasan sitali untuk mengembalikan ketenangannya.


Tangan Rigel menarik kedua pipi gadis itu. "Apa yang lo lakuin?"


Dengan pipi masih ditarik, Nuna menjawab, "Saya sedang melakukan teknik pernapasan sitali."


Alis Rigel terangkat, "Sitali? Apa itu?"


"Kamu bisa mencarinya di internet."


Rigel membebaskan kedua pipi Nuna dan mengacak rambutnya. "Enggak mau, gue maunya lo yang langsung ngejelasin."


Nuna mengusap pipinya dan menatap Rigel. "Baik. Tolong antar saya pulang sekarang."


"Baik, Tuan Putri." Rigel menggandeng tangan Nuna menuju lift. Dia pun mengantar Nuna ke rumahnya.


"Terima kasih," ucap Nuna yang telah memberikan helmnya pada Rigel.


"Gue udah bilang, lo enggak perlu sungkan sama gue Nuna," ucap Rigel dengan tidak puas. Dia ingin menarik pipi gadis itu untuk memperingatinya.


Nuna mengedipkan matanya, "Baik. Hati-hati di jalan."


"Ya. Sampai jumpa besok."


"Sampai jumpa besok."


Rigel menyalakan mesin motornya. "Lo masuk gih."


"Tidak. Saya akan melihat kamu pergi dulu."


Rigel tersenyum kemudian melajukan motornya.


Nuna menatap sosok Rigel yang semakin mengecil hingga tidak bisa dia lihat lagi. Dia lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak dapat dia definisikan.

__ADS_1



__ADS_2