
Di Warung Mak Opi, sepuluh orang duduk lesehan mengelilingi meja persegi panjang. Nuna menatap lantai kayu tanpa alas apapun, dia melepas sepatunya dan merasakan dingin di telapak kakinya. Nuna pun duduk di samping Rigel.
"Silakan pesanannya kak," ucap pelayan dengan membawa menu makanan.
"Gue ama Sean ayam bakar, minum es jeruk dua," ucap Ray.
"Gue juga," sahut Rigel.
"Nila goreng tiga," ucap Kevin sambil menunjuk dirinya, Hans dan Leo.
Dian menyebutkan pesanannya. "Ayam goreng 2 buat gue ama Jaka."
"Gurame bakar 2, tinggal lo Nuna, lo mau pesan apa?" tanya Joshua.
Nuna menggeleng, "Tidak, terima kasih."
"Eh masa lo enggak makan Nuna? Cuma ngeliatin kita makan?"
"Tidak apa - apa." Nuna meyakinkan mereka.
"Oke lah, itu aja kak, oh minumnya es teh manis tujuh."
Pelayan mencatat, "Baik. Saya ulangi pesanannya, ayam bakar tiga, nila goreng tiga, ayam goreng dua, gurame bakar dua, es jeruk tiga dan es teh tujuh. Ada tambahan lagi kak?"
"Nasinya sepuluh porsi."
"Baik. Mohon ditunggu. Terima kasih."
Sambil menunggu, mereka berbicara tentang pertandingan basket tadi.
"Tahu enggak, si Rangga ngunci gue selama pertandingan?"
"Iya gue tahu, soalnya lo yang paling andal dalam shooting."
"Jadinya kan tapi gue susah gerak. Oh iya lutut lo aman aja kan Jo?"
"Aman, tenang. Gegara gue jatuh Jumat kemarin nih luka."
"Kok bisa?"
"Kesandung batu."
"Hahahahahaa.. makanya lari tuh liat jalan Jo."
"Tawa teroooos."
Rigel melepas earphone di telinga Nuna dan berbisik, "Lo beneran enggak laper? Ini udah waktunya makan siang loh." Selama menjadi teman sebangkunya Rigel tahu bahwa Nuna selalu memakan bekal yang diantar oleh asisten pribadinya secara tepat waktu.
"Saya bisa makan nanti." Nuna mengulurkan tangan untuk meraih earphone nya tetapi Rigel mengelak.
"Lo bisa makan sekarang dan telepon asisten lo buat makan bekal lo kan?"
"Tidak. Saya tidak bisa makan diluar."
Alis Rigel mengerut, "Hah? Lo enggak pernah jajan emang? Harus banget makan bekal lo tiap hari? Lo enggak bosen apa?"
__ADS_1
Nuna tidak menjawab dan melanjutkan membaca materi di ponselnya.
"Tsk. Jawab dong atau earphone lo enggak gue kembaliin nih."
"Tidak masalah, untukmu saja."
Rigel kesal. Dia melepas earphone di telinga Nuna satunya lalu menyimpannya di saku. Buat gue kan? Oke, hmph!
Ding. Ding. Ponsel Nuna berbunyi dan nama Tanio muncul di layar.
"Halo, Tanio."
"Siang, Nona. Nona dimana? Saya sudah di sekolah Nona membawa bekal makan siang Nona."
"Saya sedang diluar. Tolong kamu titipkan di Pos depan saja."
Tanio mengira dirinya mengalami halusinasi pendengaran. Ini pertama kalinya Nonanya pergi keluar saat jam istirahat sekolah. "Saya titip di Pos, Nona?"
"Ya."
"Baik. Nona."
"Terima kasih." Nuna menutup telepon.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Bimo dan teman - temannya makan dengan lahap.
"Nuna, setelah makan lo ikut gue pergi," ucap Rigel tiba - tiba.
Nuna menolak. "Saya-"
Rigel menarik garpunya kembali dan menyeringai, dia sengaja memancing Nuna untuk membuka mulutnya. "Karena lo enggak mau makan, seenggaknya lo harus nyicipin."
Nuna memandang kosong Rigel sambil mengunyah. Oke dagingnya memiliki tekstur lembut, ada manis kecap dan pahit dari kulit yang dibakar, pedas dari sambalnya juga pas, ini lezat!
Nuna diam - diam mencatat dalam hatinya untuk pergi ke sini saat jadwal dibolehkan jajan di luar bulan depan.
"Enak kan?" tanya Rigel.
"Ya."
"Makan lagi kalo gitu?" Rigel menyodorkan garpu ke Nuna.
"Tidak, terima kasih."
Rigel yang ditolak, bingung. Jika enak kenapa tidak mau mencoba lagi? Padahal dia sudah menyiapkan rencana dengan baik.
Rigel berpikir bahwa suapan pertama dan kedua membuat Nuna ingin makan sehingga Rigel yakin dia pasti akan meminta suapan ketiga. Lalu Rigel akan menolak dan membuatnya menyesal tidak memesan dari awal! Tetapi rencananya tidak berjalan dengan lancar. Realita menghantam ekspektasinya dengan keras. Gadis ini sangat sulit!
Joshua menyikut lengan Bimo dan berbisik, "Tuh anak suap - suapan, kita dianggep enggak ada kali ye."
"Diem."
"Enggak seru ah lo, Bim."
"Makan sambil ngomong, keselek baru tahu rasa lo."
Joshua mengunyah dan menantang Bimo, "Kagak lah- uhuk uhuk uhuk." Joshua tersedak duri ikan.
__ADS_1
"Kan, apa gue bilang." Bimo mengambil satu sendok penuh nasi dan memberinya ke Joshua. "Telan nih. Buat ngilangin tuh duri."
Joshua membuka mulutnya dan menelan nasi itu. Dia menghela nafas lega saat duri di tenggorokannya hilang.
Setelah mereka selesai makan siang, mereka kembali ke sekolah dan berpisah untuk menonton teman sekelas mereka masing - masing yang sedang berpartisipasi dalam Pekan Olahraga.
Selama sehari penuh di sekolah, Rigel tidak membiarkan Nuna ke kelas, bahkan untuk bekal makan siangnya, Nuna memakannya di bangku penonton. Rigel tidak menyangka Nuna akan tetap makan dengan anggun walaupun tidak ada meja di sini. Postur tubuhnya tegap dan dia makan secara perlahan.
Bel pulang sekolah berbunyi, barulah Nuna bisa membebaskan diri dari Rigel. Nuna ditemani oleh Tanio melanjutkan agenda kegiatan sesuai jadwal yaitu pergi ke tempat les biola dan piano.
Jam menunjukkan pukul 7 malam ketika Nuna sampai di rumah. Dia di sambut oleh Nino yang memeluk pahanya.
"Kakak!"
"Nino sayang." Nuna mengangkat adiknya ke dalam pelukannya. "Belajar apa aja tadi?"
"Nino belajar matematika dan bahasa Inggris."
"Coba Nino kasih tahu kakak, bahasa Inggris apa yang Nino hafalkan?"
"Table artinya meja, chair itu kursi, spoon sendok, fork garpu, plate piring, bowl.. bowl em.. mangkok!"
"Wah Nino pinter." Nuna menghadiahi ciuman di pipi Nino.
Nino tersenyum malu dan memeluk leher kakaknya lebih erat lalu mencium pipinya juga. "Kakak juga pintar!"
Nuna mengusap kepala Nino, "Nino udah makan?"
"Udah."
"Bagus." Nuna lalu meletakkan Nino di sofa. "Kakak mau mandi dan ganti baju dulu ya."
"Oke kak."
Nuna masuk ke dalam kamarnya. Setelah mandi dan berganti pakaian rumah, dia makan malam dan bermain dengan Nino sebentar hingga jam menunjukkan pukul 8 malam.
Guru privat Nuna datang dan melanjutkan materi terkait ekonomi bisnis yang wajib Nuna pelajari sebagai penerus Keluarga Pangestu.
Dua jam berlalu, waktu belajar selesai. Nuna pun menggendong Nino dan menceritakan dongeng anak - anak untuk membujuknya tidur. Setelah Nino tidur, Nuna kembali ke kamarnya.
Di tengah malam, Nuna terbangun oleh rasa sakit di perutnya. Keringat dingin muncul di wajahnya. Nuna mencengkram perut datarnya sambil berjalan dengan tertatih - tatih ke kamar mandi.
Nuna keluar - masuk kamar mandi beberapa kali, sebelum dia akhirnya bisa duduk di tempat tidur dan mencari obat di laci meja. Nuna mengambil obat diare dan meminumnya. Malam itu Nuna benar - benar tidak bisa tidur dengan nyenyak.
◾◾◾
Cerita sampingan
Rigel : (mencoba earphone milik Nuna) Kok enggak bisa nyambung?
Pesan muncul di layar ponsel Rigel
Your device is not compatible, please insert the password again.
Rigel : !!!
__ADS_1