
Rigel mengajak atau lebih tepatnya memaksa Nuna dengan Surat Perjanjiannya untuk menonton lomba equestrian (olahraga berkuda) yang finalnya di gelar hari ini. Kelas mereka XI MIA I berhasil lolos ke final dengan diwakili oleh bendahara kelas mereka, Cintya.
Equestrian memiliki beberapa cabang, yaitu dressage (tunggang serasi), show jumping (lompat rintang), dan endurance (kompetisi maraton). Ada juga eventing (trilomba) yang merupakan gabungan dari ketiganya.
Pada dressage, penunggang dan kuda diharuskan menjaga keseimbangan dalam melakukan gerakan yang serasi. Mulai dari gerakan sederhana hingga yang paling sulit. Penilaian berdasarkan dari gerakan yang ditampilkan peserta.
Untuk endurance, penilaian dilakukan berdasarkan daya tahan kuda dan penunggangnya saat melintasi medan dengan permukaan berbeda, contohnya melewati hutan maupun pegunungan. Waktu lomba bisa berlangsung hingga dua hari.
Sedangkan show jumping adalah kegiatan dimana kuda dan penunggangnya harus menyelesaikan course (lintasan) yang telah ditentukan dan di dalam lintasan tersebut terdapat banyak rintangan.
Show jumping membutuhkan penunggang kuda untuk berkonsentrasi tinggi dalam berpikir dan menyusun strategi. Penilaian dihitung berdasarkan waktu yang dibutuhkan peserta dalam melewati seluruh rintangan dan penalti (kesalahan) yang dilakukan.
Seperti sebelumnya, Liver School melombakan equestrian, cabang show jumping (lompat rintang).
Panitia telah menyiapkan 10 rintangan pada lintasan, diantaranya terdapat wall, oxer persegi, ascending oxer, liver pool, vertikal tiga tiang dan vertikal empat tiang.
Wall terbuat dari batu bata busa, sehingga akan mudah runtuh jika kuda menabraknya.
Oxer persegi, sesuai namanya, kedua tiang atas memiliki tinggi yang sama dengan jarak diantara keduanya yang membuat penunggang harus memikirkan strategi agar tidak menjatuhkan tiang saat kuda melompatinya.
Sedangkan ascending oxer memiliki satu tiang atas yang lebih tinggi dari tiang atas lainnya yang membuat kuda harus melompat naik untuk melewatinya.
Liver pool terdiri dari oxer maupun vertikal yang di bawahnya terdapat kolam air di bagian bawahnya.
Untuk vertikal, terdiri dari tiga hingga lima tiang yang disusun secara vertikal.
Nuna menyukai equestrian sehingga dia tidak menyentuh ponselnya dan fokus menonton bersama Rigel. Dia melihat finalis dari kelas lain memiliki kemampuan yang cukup bagus.
Beberapa dari mereka bergerak dan melompat dengan baik sehingga tidak banyak mendapatkan penalti dari menjatuhkan tiang.
Nuna lalu melihat Cintya telah di siap di garis start.
"Peserta berikutnya, Cintya dari kelas XI MIA I."
Cintya telah duduk di atas kudanya dengan berpakaian lengkap. Dia lalu mulai mengendarai kudanya melewati wall setinggi satu meter.
Cintya lalu menuju rintangan kedua yang ada di jarak 10 meter di depannya, dia sukses mengarahkan kudanya melompati oxer persegi dengan lebar satu meter. Dia lalu belok ke kiri dan melompati vertikal tiga tiang setinggi 1,2 meter.
Cintya memutar balik ke kanan menuju ascending oxer yang memiliki tinggi 1, 5 meter dan melewatinya tanpa menjatuhkan tiang.
Nuna diam - diam memuji gerakan Cintya yang mengagumkan.
__ADS_1
Cintya membawa kudanya ke kanan, melompati oxer persegi dengan lebar satu meter, dan dua walls setinggi 80 cm. Ketiga rintangan ini berdekatan dan Cintya mengendarai kudanya dengan mulus.
Rigel ingin bertepuk tangan keras, tetapi dia menahannya karena tidak ingin mengganggu konsentrasi teman sekelasnya.
Cintya lalu mengarahkan kudanya ke kiri dan berhasil melompati oxer persegi setinggi 1,4 meter dan vertikal tiga tiang setinggi 1,2 meter. Dia berhasil melewati liver pool setinggi 1,5 meter dengan lebar kolam air satu meter yang merupakan rintangan terakhir. Cintya menyelesaikan show jumping dalam waktu 60 detik.
Tepuk tangan meriah langsung terdengar di sekeliling lapangan.
"Wooohooo.. keren lo Cin!"
"Kerja bagus, Cintya!"
"Mulai hari ini gue adalah fans lo, oke?"
Cintya tertawa mendengarnya. Dia juga merasa senang telah melakukan show jumping tanpa penalti.
Setelah Cintya, finalis berikutnya maju.
Rigel dan Nuna bersama teman XI MIA I menonton sampai akhir hingga juara diumumkan.
Panitia membacakan hasilnya. "Juara ketiga diraih oleh Zain dari kelas XI IIS 5, juara kedua diraih oleh Aluna Cahyaningrum dari kelas X MIA 9 dan juara pertama diraih oleh Cintya Jeselyn dari kelas XI MIA I."
Tepuk tangan meriah menemani ketiga pemenang maju di depan. Mereka mendapat ucapan selamat dari guru yang bertugas sebagai juri dan panitia. Untuk piala dan sertifikat akan dibagikan esok hari saat puncak acara Pekan Olahraga.
Rigel mengingat insiden kemarin lusa, dia ragu apakah Nuna bisa ikut.
Nuna merasakan tatapan Rigel dan menggeleng. Dia tidak ingin masuk rumah sakit dua kali dalam seminggu.
"Thanks buat tawarannya, Cintya. Gue ama Nuna enggak ikut kalian," ucap Rigel membuat Cintya menghentikan langkahnya.
"Oke."
Mereka pun pergi makan siang meninggalkan Rigel dan Nuna yang diam di tempat.
"Asisten lo nanti nganter makanan lagi?" tanya Rigel.
"Ya."
"Lo bener - bener enggak bisa jajan ya?"
"Saya bisa, tetapi hanya satu kali dalam sebulan," jawab Nuna.
"Sayang sekali. Banyak makanan yang enggak kalah enak sama masakan rumah," ucap Rigel menggoda Nuna. "Dan lo enggak bisa dengan mudah mencicipi mereka."
__ADS_1
Nuna mengira Rigel prihatin dengannya, "Tidak masalah. Bagi saya hidup dengan sehat lebih berarti."
Bibir Rigel terkatup. Ah! Mengapa dia selalu kalah dalam berdebat dengan Nuna?
Rigel tidak menerima dan berkata, "Sehat emang penting, tapi kepuasan akan cita rasa makanan juga penting!"
Nunq setuju. "Kamu benar. Bagi saya, koki saya memasak dengan baik sehingga makanan yang saya makan rasanya enak."
"Gue enggak percaya, enak menurut lo pasti gitu - gitu aja rasanya. Jujur ama gue, apa koki lo pakek micin kalo masak?"
"Micin?" tanya Nuna bingung. "Apakah yang kamu maksud adalah Monosodium Glutamat?"
"Ya."
Nuna menggeleng. "Dia hanya menggunakan bumbu dapur sederhana, seperti gula dan garam."
"Nah itu dia! Lo belum cicipin masakan pakek micin, lo enggak tahu enaknya kayag gimana tuh."
"Benarkah?" Nuna menatap Rigel dan berkata dengan sungguh - sungguh. "Terima kasih atas informasinya. Saya akan berkonsultasi dengan ahli gizi saya untuk menggunakan micin sebagai penyedap rasa nanti."
Rigel yang menerima ucapan terima kasih dari Nuna, bingung bagaimana menjawab. Pembicaraan ini salah arah!
Rigel ingin menunjukkan bahwa Nuna sangat menyedihkan karena tidak bisa mencicipi kelezatan makanan diluar sana, bukan untuk mengiklankan micin, oke! Dia memandang rumit Nuna dan hanya bisa mengangguk.
Ding. Pesan masuk di ponsel Nuna.
Nuna membacanya dan berkata pada Rigel, "Saya akan makan siang sekarang."
"Gue juga, bawa bekal lo, ikut gue makan di kafetaria," perintah Rigel.
Nuna tidak mengiyakan, tetapi dia sudah mengambil bekal makan siangnya yang baru datang di atas mejanya. Lalu mengekor di belakang Rigel menuju kafetaria.
◾◾◾
Cerita sampingan
Rigel : Bawa bekal apa lo?
Nuna : (tidak menjawab dan makan dengan tenang)
Rigel : (merebut bekal Nuna dan melihat sayur capcay dengan toping tofu) Gue mau ini (memindahkan semua tofu ke piringnya)
__ADS_1
Nuna : ...