Forever Young

Forever Young
BAB XXXI Balap Motor


__ADS_3


Setelah izin sehari kemarin, Nuna pergi ke sekolah seperti biasa. Di pagi hari membawakan tas Rigel. Mengikuti pelajaran dengan Rigel yang mengganggu hingga sekolah berakhir. Lalu melanjutkan pergi ke tempat latihan Muay Thai dan melatih bakat melukisnya.


Semua agenda kegiatan hari ini cukup mulus dan adiknya Nino sudah membaik sehingga Nuna bisa tidur dengan nyaman. Tetapi suara ponsel menginterupsinya.


Ding. Ding. Nuna menatap nama Rigel yang muncul di layar.


"Halo."


"Turun, gue di depan rumah lo."


Nuna melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 22.30. "Saya akan tidur."


"Kompensasi."


Nuna menghela nafas panjang, "Oke."


"Jangan lupa ganti baju lo, pakai jaket juga diluar dingin."


"Baik."


Telepon diputus. Nuna mengganti piyamanya dengan celana jeans panjang dan kemeja hitam, dia lalu memakai jaket jeansnya. Setelah memakai sepatu putihnya, Nuna pergi menemui Rigel.


Rigel memasang helm ke kepala Nuna. "Naik."


Nuna dengan enggan naik ke motor Rigel.


"Pegangan," ucap Rigel sebelum mengegas motornya.


Nuna merasakan semilir angin di wajahnya yang membuatnya mengantuk. Hampir saja dia tertidur ketika Rigel menghentikan motornya.


Nuna lalu turun bersama Rigel dan dia melihat banyak remaja di sekitarnya. Apa yang akan mereka lakukan? Berkelahi di tengah malam?


"Bos, lo di sini," sapa Adit.


"Yoi. Kenalin ini Nuna." Rigel melirik gadis di sampingnya. "Nuna, ini temen gue, Adit sama Rafa."


"Gue Adit."


"Gue Rafa."


"Saya Nuna."


Adit lalu mengenalkan sahabatnya, "Kenalin gaes, sohib gue Bianca."


Bianca tersenyum dan mengulurkan tangannya ke Rigel, "Gue Bianca."


Rigel hanya menatap uluran tangan itu dan berkata, "Rigel."


Bianca dengan canggung menarik tangannya kembali.


Rafa terkekeh dan melanjutkan perkenalan, "Ini sepupu gue, Monika."


"Halo, gue Monika."


Mark dan teman - temannya menghampiri mereka, "Udah siap kalian?"

__ADS_1


"Udah," jawab Rigel singkat.


Mark menatap Rigel lalu mengalihkan pandangannya pada Nuna dan tersenyum misterius.


Rigel menyipitkan mata melihat ekspresi Mark, dia melangkah maju menutupi Nuna dengan tubuhnya.


"Oke, lo udah tahu peraturannya, dua orang harus masuk finish di atas tim lawan. Kita mulai sekarang," ucap Mark.


Salah seorang dari penonton menjadi wasit pertandingan.


"Jadi kamu akan balapan motor?" tanya Nuna yang telah memahami situasi.


"Yoi. Gue pasti menang," jawab Rigel bersemangat.


"Ini sangat berbahaya." Nuna menatap serius pada Rigel. "Bagaimana kalau terjadi kecelakaan?"


Rigel menyeringai dan menepuk helm Nuna lembut, "Sama gue, lo aman."


Nuna dengan ragu - ragu naik ke atas motor dan memegang jaket kulit Rigel, "Apakah kamu punya asuransi kesehatan?"


Rigel tersedak, "Nuna tenang oke? Gue punya, lo pegangan yang erat aja. Gue jamin seru."


"Bersiap semuanya." Wasit mengangkat benderanya. "Mulai."


Keenam motor melaju dengan kencang melewati rute yang ditetapkan. Rigel sementara memimpin pertandingan.


Jantung Nuna berdetak kencang, dia merasa tubuhnya lemas dan akan terjatuh dari motor.


"Nuna?" panggil Rigel.


Nuna tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan genggamannya pada jaket Rigel.


Sepasang tangan tiba - tiba muncul dan memeluk perutnya. Rigel kaget dan hampir kehilangan keseimbangan.


"Hati - hati," ucap Nuna yang merasakan motornya bergoyang.


"Ehem. Oke." Rigel lalu fokus memperhatikan jalan.


Di belakang Rigel, ada Mark yang membonceng teman perempuannya Cloudy.


"Bos, rencana dieksekusi sekarang?" tanya Cloudy yang mengeluarkan kantong berisi paku dari saku jaketnya.


"Ya. Do it now," jawab Mark.


Cloudy lalu membuka kantong itu dan menyebarkan paku di titik titik tertentu pada jalanan yang akan dilewati peserta lain.


Mark sudah memberitahu rekan setimnya tentang rencanannya sehingga mereka tidak akan menerobos jalan berpaku ini dengan ceroboh.


Rafa dan Monika ada di posisi ketiga. Tiba - tiba Felix menyalipnya dan mengambil posisi yang terlalu kiri hingga mendekati trotoar. Rafa menyipitkan mata curiga dan mengikuti pergerakan Felix, lalu dia melihat ke sisi kanan jalan dan menemukan banyak paku berserakan di sana.


"Cih, main curang," ucap Rafa kesal dan menambah kecepatan motornya hingga mendahului Felix.


Felix terkejut melihat Rafa lolos dari jebakan. Dia pun berusaha melampaui Rafa untuk kedua kalinya.


Di posisi belakang, Adit dan Bianca sedang beradu mulut dengan Ipul dan partnernya.


"Minggir lo," teriak Adit kesal.

__ADS_1


"Ogah, lo yang minggir," teriak Ipul sambil berusaha menendang motor Adit yang ada di sebelah kirinya.


Adit mengangkat kakinya dan balas menendang motor Ipul. Tetapi Ipul dengan gesit menghindar.


Ipul tertawa meremehkan hingga ban motornya tiba - tiba meletus dan dia segera menghentikan motornya. Ipul memukul stang motornya dengan keras, "Gue lupa argh!"


Adit mengerem motornya dan menoleh ke belakang. Dia menemukan banyak paku di bawah ban motor Ipul. Ini pasti rencana licik mereka! Adit mencibir, "Hahaha.. senjata makan tuan."


"Diem lo!" Ipul dengan marah segera menghubungi temannya.


"Hahaha, bye bye." Adit menjalankan motornya kembali.


Di sisi lain, Rigel sudah melewati garis finish dan para penonton bersorak. Nuna turun dan tubuhnya terhuyung - huyung.


Rigel segera memeluk bahunya."Kenapa lo? Pusing?"


Nuna menstabilkan tubuhnya dan menjauh dari Rigel. "Saya ingin pulang."


Alis Rigel terangkat. "Tunggu, bentar lagi. Enggak akan lama."


Mark lalu menjadi yang kedua. Disusul dengan Rafa dan Monika. Kemudian Felix dan partnernya. Sedangkan Adit dan Bianca di posisi kelima.


"Gue menang, lagi," ucap Rigel menatap remeh pada Mark. "Lo lihat kan kehebatan squad gue."


Mark mendengus dan mengambil kopernya.


"Eh eh, gue kagak terima cash. Transfer aja." Rigel tidak ingin masuk ke dalam trik ledakan Mark.


Mark menyeringai, "Oke." Dia lalu menatap anggota squad nya. "Ayo cabut."


Mereka pun pergi hingga menyisakan Rigel dan teman - temannya.


"Kalian luar biasa," puji Rigel lalu melakukan tos dengan Rafa dan Adit. Dia hendak mengobrol ketika jaketnya ditarik.


Rigel melihat tangan Nuna mencengkram jaketnya.


"Saya ingin pulang," ucap Nuna sekali lagi. Besok mereka harus pergi ke sekolah. Dia tidak ingin terlambat, oke!


Rigel terkekeh dan mengambil tangan Nuna lalu menggenggamnya. "Iya iya. Oke gaes gue balik dulu. Bye semua."


"Hati - hati di jalan, Bos."


Rigel melambaikan tangannya dan mengendarai motornya menuju rumah Nuna. Sesampainya di depan pintu, Nuna belum juga turun. Rigel menoleh ke belakang dan menemukan gadis itu tertidur.


"Nuna, bangun," ucap Rigel membuat Nuna terbangun dari mimpinya. Dia mengedipkan mata bingung dan turun dari motor. Rigel melihat gadis itu berdiri dan memejamkan matanya kembali. Sepertinya sangat mengantuk?


Rigel pun turun dari motor dan menggendong Nuna masuk ke dalam rumah.


"Nona," seorang pelayan yang tahu kepergian Nonanya menunggu kepulangannya.


Rigel menatap pelayan itu dan bertanya, "Dimana kamar Nuna?"


Dengan ragu pelayan itu menjawab, "Di sebelah sini." Dia lalu membukakan pintu dan membiarkan Rigel membaringkan Nonanya di tempat tidur.


Rigel menatap Nuna sejenak lalu melirik pelayan itu. Tanpa berpamitan dia keluar dari kamar Nuna dan kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan dia tertawa mengingat wajah polos Nuna yang sangat mengantuk.


__ADS_1


◾◾◾



__ADS_2