
Joshua baru saja berlatih basket di hari Sabtu yang cerah. Dia telah selesai mandi dan ingin tidur hingga siang ketika ketukan pintu rumah terdengar. Karena dia kebetulan lewat, Joshua akhirnya membuka pintu rumah.
"Joshua!" Seseorang tiba-tiba menyerbu ke pelukannya.
"Bunga?" Tangan Joshua gemetar hendak balas memeluk tetapi dia mengurungkan niatnya.
"Gue kangen sama lo," ucap Bunga lalu menarik diri dan menatap wajah Joshua.
"Gue juga, eh lo habis nangis?"
"Oh." Bunga dengan panik menutupi wajahnya. "Enggak, gue kelilipan."
"Bohong." Joshua mendengus kemudian mengambil tangan Bunga dan memperhatikan mata gadis itu yang bengkak. Dia menghela nafas. "Ayo masuk."
Joshua memimpin Bunga ke ruang tamu. Minggu lalu dia terkejut sekaligus senang melihat tetangganya kembali dari luar negeri. Sudah lama Joshua tidak melihatnya.
"Ayo diminum," ucap Joshua ketika pelayan rumah telah menyajikan teh pada tamu.
Bunga meminum teh itu dan sudut mulutnya terangkat. "Lo masih inget aja teh favorit gue."
Joshua menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Mana mungkin gue lupa." Dia lalu menatap lurus pada Bunga. "Jadi kenapa lo nangis lagi?" Joshua sebenarnya tahu alasan yang bisa membuat Bunga menangis, tetapi dia tetap ingin mendengarnya dari Bunga.
"Gue enggak tahu harus berbuat apalagi agar Mark mau ngelihat gue, Jo."
Dan gue enggak tahu harus gimana buat lo ngelihat gue, Bunga. Tentu saja kalimat ini ditahan Joshua dalam pikirannya.
Tangan Joshua terulur dan menepuk bahu Bunga. "Gue enggak ahli dalam ngasih saran. Tapi gue mau tanya, apa mungkin buat lo menyerah atas Mark? Lo udah di sia-siakan selama bertahun-tahun. Lo berhak buat bahagia, Bunga. Lo bisa bersama cowok yang mencintai dan menghargai lo." Contohnya gue.
Bunga terdiam dan merasa bersalah. Dia bisa melihat sorot mata Joshua yang memandangnya dan mengetahui bahwa tetangga sejak kecil ini menyukainya. Tetapi Bunga menutup mata, dia tidak ingin kehilangan sahabat seperti Joshua yang tulus disampingnya.
"Gue enggak bisa. Gue cinta banget sama Mark, Jo."
Joshua membuka mulutnya tetapi dia akhirnya menutupnya kembali. Dia sadar bahwa Bunga tergila-gila dengan Mark hingga meminta orangtuanya membantunya untuk melakukan pertunangan dengan Mark. Berkat hubungan kerjasama diantara kedua perusahaan keluarga mereka, Bunga berhasil menjadi tunangan Mark. Namun sikap pria itu tentu saja menyebalkan. Mark hanya menganggap tunangan ini sebagai formalitas dalam relasi bisnis.
Joshua menghela nafas, "Mau jalan-jalan buat nenangin pikiran lo?"
Bunga mengambil uluran tangan Joshua dan menggenggamnya, "Makasih, Jo."
Joshua membawa Bunga ke tempat wisata aquarium. Joshua memahami gadis itu. Bunga suka melihat laut dan ikan.
"Joshua? Lo disini juga."
Joshua menoleh dan melihat Rigel bersama Nuna. "Yo, Rigel. Halo, Nuna."
"Sama siapa lo?" tanya Rigel yang melihat gadis di samping Joshua. Wajahnya familiar. "Pa-"
"Kenalin Rigel," potong Joshua. "Dia sahabat gue, Bunga. Bunga, mereka teman sekelas gue. Dia Rigel, dan dia Nuna."
__ADS_1
Bunga tersenyum dan menyapa. "Hai, gue Bunga."
"Saya Nuna."
"Oh, gue inget. Dia cewek yang lo lukis kan, Jo?" Rigel akhirnya mengingat lukisan Joshua yang ada di pameran saat Pekan Olahraga bulan lalu.
Joshua memaki Rigel dalam hati.
"Apa?" Bunga terkejut. "Lo ngelukis gue, Jo? Kok lo enggak bilang ke gue? Lo harus tunjukin nanti!"
Joshua kebingungan.
Rigel menyadari dia telah salah bicara. Diam-diam dia menggenggam pergelangan tangan Nuna untuk kabur.
Nuna melihat tangannya yang digenggam. Anehnya, dia tidak lagi kesal dengan perilaku Rigel.
"Akhirnya kita lolos." Rigel melepas tangan Nuna. "Mau nonton pertunjukan Putri Duyung?"
"Ya."
Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju tempat pertunjukan. Mereka mengambil tempat duduk paling depan agar bisa menikmati cerita tanpa terhalang kepala orang lain.
Tujuan berikutnya, mereka mencoba simulasi kapal selam. Bersama delapan orang lainnya, Rigel dan Nuna masuk ke bagian pertama yang merupakan simulasi guncangan saat kapal selam masuk ke dalam laut.
"Rasanya seperti turun pakai lift," bisik Rigel.
Nuna mengangguk setuju.
Rigel bisa menjaga keseimbangannya dengan baik. Dia melihat Nuna terhuyung dan segera menangkapnya. "Hati-hati."
"Terima kasih," bisik Nuna lalu berusaha berdiri tetapi ada guncangan lagi dan Nuna justru masuk ke dalam pelukan Rigel.
"Lo boleh bersandar ke gue sampai selesai, kok," ucap Rigel yang mengolok Nuna. Dalam hatinya dia ingin segera mendorong Nuna menjauh. Dia takut gadis itu mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.
Nuna memegang lengan Rigel dan dia akhirnya bisa menstabilkan tubuhnya. Dengan cepat, Nuna meraih pagar pembatas di sampingnya untuk bisa berdiri dengan nyaman.
Simulasi kapal selam selam selesai. Rigel dan Nuna melanjutkan menonton ikan.
"Eh, ada piranha. Lo tahu piranha enggak, Nuna?" tanya Rigel sambil mengetuk kaca aquarium.
"Tahu. Di depan saya."
Hening. Rigel lalu terkekeh dan mengacak rambut Nuna. "Lucu banget sih, lo."
Nuna merapikan rambutnya. Dia menjawab dengan benar. Nuna tidak mengerti selera humor Rigel. Dia melihat para piranha berputar-putar. "Bisakah kita memberinya makan?"
Mata Rigel menyipit dan senyumnya melebar. "Bisalah. Yok ke sana." Rigel menunjuk tempat yang menyediakan makanan untuk para satwa yang ada di aquarium.
Setelah membeli makanan untuk piranha, mereka masuk ke tempat yang disediakan khusus bagi para pengunjung. Ditemani oleh petugas, Rigel dan Nuna merasakan pengalaman memberi makan piranha. Daging yang dilempar dengan cepat dihabiskan oleh kerumunan piranha di bawahnya.
__ADS_1
Rigel menoleh ke Nuna. "Mau ambil foto nanti?"
Nuna memikirkan adiknya di rumah. Dia bisa menunjukkan foto dan mengajaknya kesini bersama kakek dan Tanio. "Ya."
Rigel mengambil beberapa foto Nuna dan juga meminta Nuna mengambil fotonya. Dia perlu memperbarui instagram Eternal Squad. Rigel mengecek foto di ponselnya dan mengangguk puas. Gadis ini memiliki bakat fotografi ternyata. Tetapi ada yang kurang. Mereka belum foto berdua.
"Permisi," ucap Rigel menghentikan salah satu pengunjung yang lewat di depannya.
"Ya?"
"Bisa tolong bantu foto kami?" tanya Rigel sambil menunjuk Nuna.
Pengunjung itu mengangguk dan menerima ponsel Rigel.
Rigel berdiri di samping Nuna.
"Satu, dua-"
Dengan cepat Rigel merangkul bahu Nuna dan tersenyum lebar. Nuna terkejut dan melihat ke arah Rigel.
"Tiga."
Klik.
Rigel bergegas menjauh dari Nuna. "Terima kasih," ucapnya pada pengunjung itu.
"Sama-sama."
Rigel lalu mengecek foto itu dan tertawa melihat ekspresi kaget Nuna. Ternyata wajah datarnya bisa juga punya ekspresi lain. Rigel merasa merinding dan dia mengangkat kepalanya menatap Nuna. Uh, tatapannya seperti laser. Yah, sepertinya mainnya cukup untuk hari ini.
"Pulang?"
Nuna yang kesal, mengangguk tanpa menjawab.
Rigel pura-pura tidak tahu bahwa gadis itu kesal dan mengantarnya pulang ke rumah.
Nuna turun dari motor dan menyerahkan helm pada Rigel. "Terima kasih."
"Sama-sama." Rigel menatap Nuna.
"Mengapa menatap saya? Kamu tidak pergi?"
"Gue nunggu lo masuk rumah."
"Baik. Hati-hati di jalan," ucap Nuna sebelum berbalik pergi.
Rigel duduk di atas motor dan melihat Nuna menghilang di balik pintu. Dia lalu mendongak menatap langit yang cerah. Akhir pekan yang menyenangkan.
__ADS_1
◾◾◾