Forever Young

Forever Young
BAB XIV Eternal Squad vs Jealousy Squad


__ADS_3


Sabtu pagi, Rigel sudah berpakaian rapi mengenakan kemeja motif kotak - kotak dan celana jeans andalannya. Gips di tangannya dilepas sehingga kedua tangannya bisa bergerak dengan bebas.


"Mau kemana kamu?" tanya Haykal yang sedang membaca koran di ruang tamu. Jasmine duduk di sampingnya sedang melihat katalog baju secara online di ponselnya.


"Ketemu temen," jawab Rigel. "Berangkat dulu, bye Pa, Ma." Rigel segera keluar rumah membawa motornya.


Sesampainya di basecamp Eternal Squad, Rigel masuk dan disambut oleh kaleng minuman yang terbang ke arahnya. Rigel dengan gesit menghindar dan melotot pada pelaku yang tertawa keras.


"Welcome, bos," sapa Rafa, wakil ketua Eternal Squad.


"Lo ngajak berantem, hah?" tanya Rigel kesal.


"Tenang tenang, bos." Fajar menepuk bahu Rigel.


"Selamat datang kembali, bos," sambut anggota lainnya.


Eternal Squad dibentuk oleh Rigel bersama Rafa saat mereka duduk di kelas 7 SMP. Ada lima orang di squad ini selain mereka, yaitu Fajar, Bram, Adit, Cakra dan Delon. Ketika Rigel bersekolah ke luar negeri, squad mereka masih aktif dan keenamnya pergi bersama ke Sekolah Pelita.


"Pa kabar lo, bro?" tanya Rafa.


"Gue baik, lo lo pada gimana?"


"Baik, bos."


"Btw kalian masih sering aktivitas?"


"Masih, Delon menangin balapan semalem, lumayan dapat alphard," jawab Fajar.


"Alphard? Tuan muda dari keluarga mana yang berani ngelawan Delon?"


Delon terkekeh, "Haha, si Rian dari Keluarga Jeremy."


"Bego banget tuh orang," celetuk Cakra.


"Adeknya ngomporin sih." Bram menimpali.


Rigel tertawa puas mendengarnya. "Kerja bagus."


"Oh iya, bos. Mark ngajak duel squad kita, lo bakal ikutan kan?" Rafa menyampaikan undangan dari musuh bebuyutan mereka.


"Dimana?"


"Tempat biasa, sejam lagi."


"Oke kita berangkat sekarang."


"Siap, bos."


Mereka bertujuh mengendarai motor menuju bangunan terbengkalai. Sesampainya di sana, mereka melihat Mark dan anggota gengnya.


"Selamat datang, Eternal Squad," sambut Mark. Dia menatap lurus ke arah Rigel. "Udah satu setengah tahun, akhirnya lo balik juga."


Rigel mendengus. "Enggak usah banyak omong. Taruhan apa yang lo kasih?"


Alis Mark terangkat. "Percaya diri banget lo. Ipul tunjukin tasnya."


Ipul, anggota Jealousy Squad yang dipimpin Mark membuka tas ransel yang dia bawa. Tumpukan uang tunai muncul di permukaan.


"Itu taruhan dari gue, apa taruhan yang lo bawa?"


Rigel menyeringai. "Enggak bawa, Eternal Squad kagak bakal kalah."


"Sombong!" Mark tersenyum sinis. "Kalo lo kalah, lo harus bayar dua kali lipat taruhan gue, jadi 200 juta. Deal?"


"Deal."

__ADS_1


"Oke, kali ini gue mau lawan 1 vs 1. Ipul lo maju duluan," perintah Mark.


Rigel menoleh pada Bram. "Bram, lo maju lawan dia."


"Oke, bos."


Bram dan Ipul maju ke tengah. Sedangkan yang lain berdiri di tepi menonton pertarungan mereka.


"Pertandingan pertama. Mulai."


Ipul langsung menendang Bram, namun Bram berhasil mengelak dan meraih kaki Ipul lalu memutarnya dan membanting ke lantai. Ipul yang terbaring mengelak dari tendangan kaki Bram dan segera berdiri, dia mengulurkan tangannya dan berhasil melukai pipi kanan Bram.


Keduanya mundur mengambil jarak. Ipul mengulurkan tangannya ke wajah Bram, Bram bergegas melindungi wajahnya, namun pukulan Ipul ternyata menghantam perutnya.


"Uhuk." Bram batuk dan jatuh ke lantai.


Ipul memanfaatkan kesempatan dan memukul Bram tanpa ada perlawanan berarti.


"Selesai. Game pertama dimenangkan Jealousy Squad."


Delon membantu Bram berdiri.


Bram meringis dan menatap Rigel, "Sorry, bos."


"Sans," ucap Rigel.


Pertandingan kedua hingga keenam berlangsung dengan hasil seri sehingga Rigel dan Mark ikut bertarung sebagai penentu pemenangnya.


Rigel berkomentar, "Gue enggak nyangka, squad lo udah tumbuh sedikit kuat."


Mark terkekeh, "Mau mundur sekarang lo sebelum gue bikin bonyok?"


"Haha. Mimpi."


"Pertandingan ketujuh. Mulai."


Rigel mengelak dan menendang pinggul Mark. Hiss Rigel merasakan sakit menyerang di kakinya, oh dia lupa kakinya belum sembuh!


Mark balas menendang Rigel tapi gagal, dia lalu mengayunkan sikunya berusaha mengenai rahang Rigel.


Rigel melangkah mundur dengan tergesa, dan kakinya keseleo. Siku Mark nyaris menghantam dagunya.


Mark melanjutkan pukulannya dan Rigel terus mengelak dan membalas serangannya di tempat. Mereka bertarung seimbang hingga Mark mengayunkan tendangan ke kaki Rigel yang keseleo. Membuat Rigel goyah dan hampir jatuh.


"Bos!" Anggota Eternal Squad berteriak.


Mark menyeringai dan terus mengincar kaki Rigel yang terluka. Namun Rigel dengan baik menghindar dan melawan. Mark kesal dan menyerang secara membabi buta, memberikan kesempatan Rigel untuk melukai dagu dan matanya.


Mark meringis kesakitan, Rigel tidak memberinya kesempatan dan langsung mengunci leher Mark di sikunya.


"Pertandingan selesai. Game ketujuh dimenangkan Eternal Squad. Nilai final 4 - 3. Eternal Squad memenangkan pertarungan," ucap wasit dari anggota Mark.


"Tim kita menang, serahin taruhan lo sekarang," ucap Rigel.


Mark tersenyum sinis, "Ambil kalo lo bisa. Guys, serang mereka."


"Wah licik lo ya, Mark," seru Fajar.


Kedua kelompok itu akhirnya bertarung. Setelah beberapa saat, anggota Jealousy Squad terluka berat sedangan Eternal Squad mengalami luka ringan.


Mark memandang tak puas pada anggotanya dan memaki mereka. Anggota Jealousy Squad yang merasa malu bergegas kabur.


"Woi, Mark. Serahin tas nya sekarang!" Bram melotot pada Mark saat melihat Mark akan keluar begitu saja.


"Cih." Mark melemparkan tas ke arah Bram.


Bram menangkap tas dan memeriksa uang di dalamnya.

__ADS_1


Rigel mendengar bunyi aneh dari tas dan dia berteriak panik, "LARI SEMUA! KELUAR DARI SINI!"


Rigel menarik Bram dan melemparkan tas itu. Sisa anggota Eternal Squad juga berlari keluar bangunan.


Hanya beberapa detik mereka berhasil keluar, ledakan menghantam dan menghancurkan bangunan itu menjadi puing - puing.


Rigel berteriak pada Mark, "Gila lo ya?"


Mark yang sedang membersihkan debu di pakaiannya dengan sapu tangan, memandang Rigel dengan senyum lebar. "Gimana pesta penyambutan lo? Suka?"


"Sinting lo!" Rafa memaki.


"Hahahaha.. gue cuma bercanda. Seratus jutanya nanti gue transfer ke lo." Mark lalu berbalik masuk ke mobil yang menunggunya.


Rigel hendak mengejar namun langkahnya terhalang oleh puluhan pengawal milik Mark. Dia akhirnya mengurungkan niatnya dan memandang teman - temannya.


"Kalian ada luka?" tanya Rigel yang khawatir.


"Si Mark dari dulu enggak berubah." Cakra mengeluh. "Kalo dia bercanda, sumpah enggak ada lucu - lucunya."


"Gue kira dia udah dewasa, ternyata malah makin gila." Adit menimpali.


"Udah - udah, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Rafa.


Rigel menelepon asisten pribadinya.


Dimas, asisten pribadi Rigel yang baru saja datang, terkejut melihat api berkobar membakar bangunan. Dia segera berlari menemui Rigel.


"Tuan, anda tidak apa - apa?" Dimas mengamati Rigel yang pakaiannya berantakan.


"Gue enggak papa, lo bawa dua mobil kan?"


"Ya, Tuan."


"Ayo, guys. Masuk ke mobil." Rigel melihat teman - temannya sudah duduk di dalam mobil. Dia lalu menatap Dimas. "Urus motor temen gue."


"Baik, Tuan."


"Oh, iya, jangan ngadu ke Papa. Ngerti?"


Dimas ragu - ragu. "Ba.. ik."


Rigel menyipitkan mata lalu tersenyum tipis. Dia menepuk bahu Dimas. "Gue tambahin bonus lo bulan ini." Setelah itu dia masuk ke dalam mobil.


Dimas memandang Tuannya tanpa daya.



◾◾◾


Cerita sampingan


Saat SMP


Rafa : Gimana kalo namanya Bestfriend Squad?


Rigel : Enggak.


Rafa : Duo R?


Rigel : Kita bertujuh


Rafa : Apa dong kalo gitu?


Rigel : Lo coba cari di google dah, gue terima jadi


Rafa : ...

__ADS_1


__ADS_2