
Di parkiran Mall.
Joshua baru saja memarkirkan motornya. Hari ini dia mengajak Bunga untuk menonton di bioskop. Film yang dia nantikan dari tahun lalu akhirnya rilis perdana hari ini. Dia ingin memenuhi rasa penasaran sekaligus menghibur pujaan hatinya.
Ding. Sebuah pesan muncul. Joshua yang berjalan berdampingan dengan Bunga membuka pesan tanpa beban.
Dari : Rigel
Lo tahu tetangga lo punya tunangan? Tunangannya bawa pacar woi, lo masih punya kesempatan!
Joshua dengan gugup mengunci layar ponselnya secepat mungkin. Dia melirik Bunga yang menatapnya. Oh tidak dia sudah ketahuan.
Bunga memang membaca pesan itu, namun yang menjadi fokusnya adalah tunangannya yang membawa seorang pacar. Dia terganggu dengan pernyataan tersebut.
"Maaf Jo," ucap Bunga. Tangannya mengusap kepalanya seolah merasa pusing. "Gue tiba-tiba enggak enak badan, lo nonton aja, gue bisa pulang sendiri kok." Tanpa menunggu jawaban Joshua, Bunga berlari pergi.
"Bunga, tunggu." Joshua menyusulnya keluar dari parkiran. Tetapi Bunga lebih cepat masuk ke dalam taksi. Joshua menatap kosong pada taksi yang menjauh. Dia menarik rambutnya dengan keras. "Argh," teriaknya kesal. Lagi-lagi posisinya kalah dengan tunangan yang dingin itu. Mengapa? Mengapa Bunga tidak bisa memilihnya? Sekali saja, Joshua hanya berharap sekali saja.
Bunga yang berada dalam taksi segera menyebutkan alamat apartemen Mark pada sopir taksi. Butuh dua jam untuk sampai di apartemen karena jalanan yang macet. Bunga membuka pintu apartemen Mark dan gelap menyambut dirinya. Tanpa menyalakan lampu, Bunga duduk di sofa menunggu kepulangan Mark.
Mark membuka pintu apartemen dan melihat sepatu yang dia kenal ada di rak sepatu. Mengapa gadis itu sering mengganggunya? Berpura-pura tidak sadar dengan kehadirannya, Mark berjalan ke kamar tidur namun suara Bunga menghentikannya.
"Enggak nyapa gue lo?"
Mark berbalik dan bersandar pada pintu kamar. Matanya menatap lurus pada Bunga yang ada di ruang tamu. "Ngapain lo kesini lagi?"
Bunga menghampiri Mark dan menjawab, "Buat memperingatkan lo, Mark."
"Hm?"
"Gue tahu lo enggak menganggap tunangan ini. Gue juga tahu kalo lo punya pacar diluar sana. Tetapi Mark, tolong kasih gue muka sebagai tunangan lo. Lo bebas mau sama cewek mana aja, tetapi lo enggak boleh bawa pacar lo kemana-mana dan buat semua orang tahu! Lo enggak bisa mempermalukan gue kayag gini."
Air mata yang ditahan Bunga akhirnya keluar. Dia memukul dada Mark meluapkan semua emosinya. "Di publik, gue pengen cuma gue yang ada di samping lo Mark, tunangan lo. Cuma gue! Apa itu sulit buat lo?"
Mark bungkam. Tetapi tangannya menepuk punggung Bunga dan membiarkan gadis itu menangis.
Bunga menangis lama hingga tertidur. Mark menggendongnya dan membaringkannya di tempat tidur yang ada di kamar tamu. Dia menatap sebentar sebelum menutup pintu kamar dan meninggalkan apartemen. Dia pergi ke tempat tinggalnya yang dulu.
__ADS_1
Mark berdiri di depan ayahnya yang duduk di ruang kerja. "Pa, saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini."
Stefan, ayah Mark, menghampiri Mark.
Plak. Pipi kanan Mark ditampar dengan keras.
Tidak emosi di wajah Mark walau pipinya memar dan sudut bibirnya berdarah. Dia mempertahankan tatapannya pada ayahnya.
"Kamu tidak bisa," ucap Stefan tegas. "Kerjasama perusahaan keluarga kita dan keluarga gadis itu dalam posisi menguntungkan. Bahkan beberapa cabang akan dibuka di kota lainnya. Apa kamu kira jika kamu putus pertunangan dengan gadis itu, orangtuanya akan diam saja, hah?"
Mark terdiam. Dia benar-benar tidak mau menjadi alat pernikahan. "Tetapi saya tidak mencintainya, Pa."
"Cinta?" Stefan tertawa. "Kamu masih kecil sehingga memikirkan hal sepele semacam itu. Lebih baik kamu belajar dengan benar dan tidak menganggu putra Anderson. Walau kelihatannya tenang, Haykal Anderson pasti tidak akan tinggal diam jika putra semata wayangnya terkena masalah."
Tangan Mark mengepal. Hal sepele? Mamanya begitu mencintai papanya. Setiap malam di masa kecilnya, mama akan menceritakan kisahnya dengan papanya. Mark masih mengingat mata mamanya yang bersinar dan nada suaranya yang ceria. Mama yang sangat mencintai papanya hingga menjadi gila dan mengakhiri hidupnya ketika tahu suaminya selingkuh dan punya anak diluar sana. "Cinta bukan hal sepele, Pa! Papa tidak bisa meremehkannya! Saya benar-"
"Diam," bentak Stefan. Stefan mengambil tongkatnya yang dia simpan di laci meja. "Sepertinya kamu perlu diberi pelajaran untuk mematuhi orangtua."
Pupil Mark bergetar. Mengapa dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menolak? Segalanya harus sesuai dengan perkataan ayahnya tanpa ada ruang diskusi. Mark mengingat gadis yang tidur di apartemennya dan tangannya mengepal lebih kuat hingga kukunya menusuk daging di telapak tangannya.
◾◾◾
Para siswa telah selesai melaksanakan upacara bendera. Sekelompok siswa mengerumuni Rigel yang menggunakan topinya sebagai kipas. Dia sedang menunggu Joshua dan Bimo yang pergi ke kantin.
"Kak Rigel, gue bisa bantu usap keringat lo," ucap Dewi sambil mengulurkan tangannya yang memegang sapu tangan. Dia hendak menjangkau wajah tampan Rigel.
Rigel menghindar tetapi dia diserang oleh lainnya.
"Kak Rigel, gue bawa minuman buat lo, masih dingin loh." Sebotol air mineral dingin menyentuh pipi Rigel. Rigel mendesis kedinginan dan menjauhkan kepalanya.
"Kak Rigel, gue bangun pagi-pagi demi buat sarapan lo." Sebuah kotak bekal berbentuk strawberry disodorkan di depan wajahnya. Hidung mancung Rigel hampir saja menjadi korban.
"Kak Rigel."
"Kak Rigel."
"Kak Rigel."
Rigel yang panik akhirnya meraih Nuna yang ada di belakangnya. Dia menarik Nuna untuk berdiri sejajar dengannya dan memeluk bahu gadis itu. "Sorry, adik-adik. Gue udah punya pacar. Tolong jangan buat pacar gue marah ya." Dia bersiap Nuna akan membantahnya. Namun gadis itu hanya diam. Oh tumben sekali menjadi penurut?
__ADS_1
Para siswi menatap Nuna dengan berbagai emosi. Ada yang sedih, kecewa, marah bahkan cemburu.
"Kan baru pacar, bisa putus nanti," celetuk salah satu siswi.
"Iya, iya bener. Gue akan setia nunggu kak Rigel jomblo."
"Gue juga."
Rigel sakit kepala. Mengapa tidak menyerah saja, hah?
Dia mengabaikan teriakan mereka dan kabur membawa Nuna kembali ke kelas XI MIA I.
"Lo suka sama gue ya?" tanya Rigel asal pada Nuna saat keduanya telah duduk di bangku mereka. Dia terkejut tadi ketika Nuna tidak membantah perkataannya.
Nuna berkedip pelan. Akhir-akhir ini dia telah membaca banyak buku lebih tepatnya novel remaja. Perasaan tidak nyaman di hatinya saat bersama Rigel membuatnya tidak tahan untuk mencari alasannya. Nuna akhirnya memahami satu hal, dia telah jatuh cinta pada Rigel tanpa dia sadari.
"Suka."
"Apa?" Mata Rigel membulat. Dia tertawa mengira Nuna bercanda. Namun tatapan gadis itu begitu lurus hingga membuat Rigel tersedak. "Uhuk, uhuk, uhuk."
Nuna menyerahkan botol minumnya. "Minum."
Rigel menerimanya dan meminum setengah isi botol itu. Dia menatap rumit pada Nuna. Namun tidak bisa dipungkiri. Jantungnya berdegup dengan liar dan perasaan senang menjalar di hatinya. "Gue tanya sekali lagi. Lo beneran suka sama gue?"
"Iya," jawab Nuna.
Rigel yakin dengan pernyataan gadis itu walaupun wajahnya tanpa ekspresi. Dia menyeringai dan mengacak rambut Nuna.
Rigel mendekat hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Nuna, "Lo enggak bisa narik ucapan lo. Sekarang lo beneran jadi pacar gue," bisik Rigel sambil menatap pantulannya di mata gadis itu.
"Tidak."
Apa?
◾◾◾
__ADS_1