
Nuna membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit. Dia melihat punggung tangan kanannya ditusuk oleh jarum infus.
"Nona!" Tanio yang duduk di sofa bergegas menghampiri Nonanya.
"Tanio?" Nuna yang masih pusing berusaha duduk. "Saya pingsan?"
"Ya Nona, putra dari Kepala Keluarga Anderson yang mengantar Nona ke rumah sakit," jawab Tanio.
"Rigel? Bagaimana dia membawa saya kemari?"
Tanio menggeleng. "Saya tidak tahu. Dia hanya menelepon saya untuk datang ke sini. Sesampainya saya di sini, hanya ada anda di ruangan."
"Baik, saya mengerti. Apa yang Dokter sampaikan?"
Tanio meringis. "Nona, jujur pada saya. Apakah Nona makan diluar?"
Nuna tertegun. "Ya."
"Dokter mengatakan Nona mengalami diare berat sehingga tubuh Nona mengalami dehidrasi. Mengapa Nona tidak jujur pada saya tadi pagi?"
"Maaf. Saya harus ikut serta dalam lomba memanah hari ini."
"Nona! Apakah perlombaan itu lebih penting dari kesehatan Nona?"
"Tentu saja tidak. Tetapi saya sudah berjanji dan Keluarga Pangestu tidak pernah mengingkari janjinya," ucap Nuna dengan tegas.
Tanio menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Nona.. Nona mengatakan hal yang benar. Tetapi Nona tetap salah karena mengabaikan kesehatan Nona."
Nuna mengerti kekhawatiran asisten pribadinya. "Baik. Saya akan lebih memperhatikan kesehatan saya di masa depan."
"Ya. Nona harus." Tanio menatap Nonanya. "Lalu apa yang Nona makan diluar?"
"Saya hanya memakan sedikit ayam bakar."
"Seberapa sedikit?"
"Hanya seujung garpu."
Seujung garpu dan membuat diare berat? Tanio bingung. Apakah karena Nonanya benar - benar dirawat dengan baik sehingga sedikit makanan yang tidak sesuai dengan Nonanya bisa melukai begitu parah?
Jika benar, maka Tanio tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Karena Nona bisa dalam bahaya besar jika seseorang berusaha meracuninya melalui makanan. Haruskah dia berkonsultasi dengan ahli gizi untuk membiarkan Nona makan diluar lebih dari sekali dalam sebulan?
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nuna yang melihat Tanio diam cukup lama.
Tanio menggeleng. "Nona, saya akan menelepon diluar sebentar. Permisi, Nona." Tanio mendekatkan ponselnya ke telinga sembari keluar dari ruang rawat Nuna.
◾◾◾
Rigel tidak pulang. Dia sedang bersama Bimo dan Joshua di area smoking yang ada di halaman Rumah Sakit.
Joshua menatap Rigel yang sedang merokok, "Jadi sebenarnya tangan lo udah sembuh. Tapi lo pura - pura biar bisa buat Nuna menyesal?"
Rigel mengangguk.
"Menurut gue, lo harus berhenti segera sebelum masalah semakin besar," saran Bimo.
"Dimana masalahnya?"
"Ya ketika Nuna tahu lo bohong."
"Gue masih punya surat perjanjiannya," tolak Rigel. Dia tidak ingin menyerah sedini ini.
__ADS_1
"Oke, fine. Lo punya pegangan. Tapi lo enggak tahu kedepannya gimana ama Nuna kan?"
Rigel menatap bingung pada Joshua. "Apa maksud lo, gue ama Nuna?"
"Mungkin lo jatuh cinta terus Nuna tahu lo bohong jadi hubungan kalian jadi sulit?" Joshua sebenarnya ragu dengan hipotesanya.
Rigel membuang putung rokok dan menginjaknya. "Ngaco lo. Ya kali gue jatuh cinta ama cewek yang bahkan ngomong aja irit."
Bimo terkekeh dan menepuk bahu Rigel. "Hati - hati ama perkataan lo."
"Oke, kita cuma mau ungkapin pendapat aja. Mau urusannya kayag gimana, itu terserah lo." Joshua menyerah.
"Kita jenguk Nuna sekarang? Anak - anak udah chat gue. Mereka udah di ruang tunggu," ucap Bimo.
"Oke."
Ketiganya bersama dengan anggota tim basket menjenguk Nuna.
Tanio yang sedang menyiapkan obat untuk Nonanya, menatap kaget rombongan remaja laki - laki yang masuk. Sejak kapan Nona mempunyai teman dekat? Laki - laki pula!
"Nuna, gimana kabar lo?"
"Kita bawa buah - buahan nih."
"Nuna lo sakit apa?"
"Ya ampun, lo sampai di infus!"
"Wajah lo pucet banget."
"Tenang, guys." Bimo menghentikan teman - temannya mengoceh. "Cepet sembuh Nuna." Dia meletakkan parsel buah di atas meja.
Nuna menatap mereka, "Terima kasih." Lalu pandangannya fokus ke Rigel. Dia melihat tangan kanan Rigel masih dibalut dengan gips. "Bimo."
"Ya?"
Rigel gugup mendengar pertanyaan Nuna. Tangan kirinya bersembunyi di balik lengan baju Bimo. Dia mencubit lengan Bimo sebagai tanda.
"Itu.. " Bimo ragu - ragu. "Gue nganter lo pake mobil gue."
Rigel yang mendengarnya hanya bisa pasrah. Sungguh kelihatan sekali kalau dia mengelak dari pertanyaan Nuna dan tidak membantunya!
Keraguan Nuna terjawab. "Baik. Terima kasih. Saya perlu istirahat lebih banyak."
Bimo menangkap sinyal pengusiran halus dari Nuna. "Oke. Kami pulang sekarang. Semoga lo lekas baikan."
"Ya. Terima kasih."
Setelah mereka pergi, Nuna memberi perintah pada Tanio, "Selidiki Rigel. Saya curiga tangannya sudah sembuh. Bila perlu sewa hacker untuk meretas cctv rumah sakit."
"Baik, Nona."
Kerja Tanio sangat efisien. Dalam waktu satu jam, dia sudah kembali ke sisi Nuna menyampaikan laporan.
Nuna membaca tulisan di layar ipad, lalu membuka video cctv rumah sakit. Dia melihat Rigel menggendongnya dengan kedua tangan. Dugaannya benar! Rigel berpura - pura selama ini.
"Sewa Pengacara."
"Ya?"
Nuna menjelaskan, "Saya terlanjur menandatangani perjanjian kompensasi dengan Rigel. Seharusnya itu menjadi tidak valid, karena kita memiliki bukti bahwa Rigel berpura - pura cidera."
"Baik, Nona."
__ADS_1
◾◾◾
Pada hari keempat Pekan Olahraga, setelah dibolehkan pulang semalam, Nuna pergi ke sekolah seperti biasa. Dia melihat Rigel yang menghalangi jalannya.
"Kenapa lo mau ngebatalin perjanjian kita?" tanya Rigel menatap yang menatap tajam Nuna.
Nuna melihat tangan Rigel yang tidak lagi di gips. "Perjanjian itu tidak valid. Kamu tidak cidera."
"Tapi gue cidera awalnya kan. Jadi lo enggak bisa mengelak dari perjanjian ini."
"Tidak. Itu dua hal yang berbeda. Kamu berbohong pada cidera kedua kamu, sehingga seharusnya perjanjian kompensasi itu tidak pernah ada," ucap Nuna yang balas menatap Rigel lurus.
Keduanya berdiri berhadapan dengan saling menatap, yang membuat para siswa melihat mereka penasaran.
Alis Rigel mengerut.
Nuna mengira dia akan marah - marah, tetapi ekspresi Rigel berubah dengan cepat.
Rigel menyeringai, "Kakek lo tahu hal ini?"
"Kamu mengancam saya?"
"Oh. Papa gue juga udah memperbarui kerja sama dengan perusahaan kakek lo waktu itu. Dan kalau papa gue ngebatalin lagi.. " Rigel mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Nuna, "Biaya ganti ruginya tiga kali lipat dari sebelumnya."
Nuna mundur dan menjaga jarak, "Mengapa kamu begitu picik?"
Rigel kembali berdiri tegap, memasukkan tangan kirinya ke saku celananya. Dia terkekeh dan berkata, "Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kalau lo batalin perjanjian kita, perjanjian dengan perusahaan kakek lo juga batal."
Kedua tangan Nuna mengepal di sisi roknya. Dia segera menarik nafasnya dan melakukan teknik pernafasan sitali. Setelah emosinya kembali tenang, tangan Nuna yang mengepal rileks seperti semula.
"Jadi gimana?"
Nuna tidak menjawab Rigel, tetapi meraih ponselnya untuk menelepon Tanio.
"Halo, Nona."
"Tanio, tarik kembali gugatan," ucap Nuna.
"Apa? Nona bersungguh - sungguh?" Tanio di seberang telepon tidak percaya Nonanya berubah pikiran dengan cepat.
"Ya."
"Baik, Nona."
Nuna memutus panggilan lalu menatap Rigel.
"Bagus," ucap Rigel. Dia lalu melemparkan tasnya pada Nuna. "Masih ada 22 hari lagi.
Nuna tidak menanggapi Rigel dan hanya berjalan mengekornya.
◾◾◾
Cerita sampingan
Joshua : (memutar lagu Twenty Two dari Taylor Swift saat jam istirahat di kelas)
Nuna : Tolong matikan musiknya
Joshua : Enggak, gue lagi pengen denger (menekan tombol reply)
Nuna : (mendengar lagu diputar berkali - kali, berusaha mengabaikan kata twenty two yang mengingatkan akan 22 hari yang tersisa)
__ADS_1