
Di sebuah bangunan kosong.
Tik tok tik tok.
Mark membuka dan menutup pemantik api di tangannya. Dia menatap anggota Jealousy Squad yang duduk di depannya. "Malam ini kita akan balapan mobil dengan Eternal Squad. Gue enggak nerima kekalahan lagi, oke?"
Felix yang merupakan wakil ketua berkata dengan tegas, "Tenang, Bos. Kita pasti menang."
"Oh? Yakin lo?"
"Tentu saja. Kami sudah melakukan sesuatu pada mobil mereka," jawab Felix lalu melirik Ipul.
"Kita pasti menang, Bos." Ipul mengangguk meyakinkan bosnya.
Tik. Mark menutup pemantik api nya dan melemparkannya ke Ipul. "Lo udah lakuin dengan rapi kan?"
Ipul menjawab dengan tenang, "Iya, Bos. Kami hanya memodif sedikit sehingga enggak akan membahayakan nyawa mereka."
"Bagus. Ayo pergi." Mark memimpin Jealousy Squad ke tempat yang dijanjikan.
Pukul satu dini hari, puluhan remaja berkumpul di jalan yang sepi yang ada di pegunungan. Mereka adalah enam orang dari Eternal Squad, limabelas orang dari Jealousy Squad, dan sisanya adalah penonton yang mencari kesenangan.
"Mana si Rigel?" tanya Mark pada Rafa, wakil ketua Eternal Squad.
"Buat apa lo tahu." Rafa tidak ingin menjawab. "Enggak usah banyak omong, lo mau taruhan apa kali ini?"
"Belum kapok ya lo, kemarin kalah tanding satu lawan satu ama Rigel," Fajar mencemoh.
Mark mengabaikan ejekannya dan memberi kode pada Ipul. "Tunjukin ke mereka."
Ipul membuka koper dan uang merah menyembul ke permukaan. "Bos memasang taruhan 50 juta."
Cakra mencibir. "Lebih rendah dari kemarin, takut kalah ya lo?"
Bibir Mark melengkung ke atas. "Gue justru yakin menang, jadi enggak perlu gue pasang taruhan gede."
Adit mencibir. "Yakin banget lo?"
"Kita pasang taruhan 100 juta pakai duid lo kemarin. Duid nya masih di rekening," ucap Bram. "Siapa orang lo yang maju malam ini?"
"Gue," jawab Felix yang maju ke depan.
"Oke, dari kita Delon yang maju." Rafa menepuk bahu Delon.
"Oke kita siap - siap sekarang," ucap Mark.
Kedua squad mengambil sisi berlawanan dan mempersiapkan diri mereka.
Rafa dan timnya mengecek kondisi mobil yang akan digunakan untuk balapan.
Alis Bram mengerut, "Rafa, firasat gue kagak enak nih. Tapi gue cek kagak ada yang aneh ama nih mobil."
Rafa menendang ban mobil, "Gue juga kagak nemu hal yang salah." Dia menatap Delon dan berkata dengan serius, "Kalo lo nemu yang enggak bener di tengah jalan nanti, lo harus waspada. Lo enggak harus menang, keselamatan lo yang utama buat kita oke?"
"Siap, Raf." Delon mengangguk. "Gue masuk mobil sekarang."
__ADS_1
"Hati - hati, bro," ucap Cakra dan Adit serempak.
Di garis start, kedua mobil sudah menyalakan gas dan bersuara dengan keras. Wasit di tengah memberikan aba - aba, "Tiga.. Dua.. Satu."
Hembusan angin yang keras membuat penonton berteriak semangat. Mereka lalu menonton siaran langsung yang ditampilkan di layar proyektor yang telah disiapkan. Pengambilan video dilakukan oleh drone yang mengikuti pergerakan kedua mobil itu.
Delon memimpin di depan. Dia sudah menghafal rute ini dengan baik. Delon melihat tikungan di depan dan menginjak rem, tetapi remnya tidak berfungsi.
Felix menyeringai menonton mobil Delon yang tidak menurunkan kecepatannya saat akan berbelok. Dia berpikir Delon akan membenturkan mobilnya untuk menghindari jatuh ke lereng gunung dan dengan begitu dia bisa memenangkan pertandingan ini.
Namun hal yang mengejutkan terjadi. Kedua mata Fajar membulat melihat mobil Delon dengan cepat berputar - putar lalu menikung dengan tajam dan lolos dari tikungan itu.
Setelah berhasil melewati tikungan tajam itu, Delon tidak mengurangi kecepatannya dan terus melaju hingga mencapai garis finish. Dia lalu menabrakkan mobilnya ke sekelompok karung berisi pasir yang telah ditata oleh Rafa dan timnya.
Rafa telah mengantisipasi kecurangan dari Jealousy Squad dan benar saja, mereka memanipulasi mobil yang digunakan Delon.
Rafa menghampiri Delon yang turun dari mobil.
"Lo enggak papa?" tanya Rafa khawatir.
Delon merasakan sedikit pusing karena guncangan yang keras. "Gue baik - baik aja." Dia menoleh ke Cakra. "Sorry, gue ngerusak mobil lo."
Cakra menggeleng. "Gue yang harus minta maaf. Gue teledor sampai mereka bisa ngotak - ngatik mobil gue."
"Lo harus cek pelayan di rumah lo, Cakra. Pasti ada yang dibeli ama mereka," saran Adit.
Cakra mengangguk. "Lo bener. Gue akan sidak pas pulang nanti."
Di sisi lain, Mark menatap tajam pada Felix, "Ini yang lo sebut menang?"
Felix merapatkan bibirnya dan tidak menjawab karena dia tahu dirinya salah.
Rafa menerima koper itu dan terkekeh, "Kami selalu menang, Mark. Dan lo selalu kalah."
Mark mendengus. Dia hendak masuk ke mobil ketika tiba - tiba berbalik menatap penuh makna pada Rafa dan menyeringai.
Rafa yang melihat senyum licik Mark segera membuka koper dan terkejut menemukan peledak di dalamnya dengan lima detik tersisa. Orang gila ini!
Rafa menutup koper dan melemparkannya ke lereng yang ada di pinggir jalan.
Koper itu meledak. Walaupun ledakannya kecil, tetap bisa melukai Rafa dengan parah jika dia masih memegangnya.
"Si Mark ini bener - bener gilanya kagak ada obat!" Bram memaki dengan kesal.
"Gue enggak bisa bayangin kalau Rafa kagak paham kode dari seringai licik Mark," ucap Adit yang cemas.
Fajar mengambil selang air dan menyiram kobaran api yang dihasilkan dari ledakan tadi.
Cakra memandang bingung Fajar, "Darimana lo dapat selang air segede ini?"
Fajar menunjuk mobil Damkar yang ada di dekat mereka. "Gue panggil gegara kejadian sebelumnya. Bener aja dong, tuh anak masih ngulang taktiknya."
"Sumpah, gue enggak habis pikir, kagak takut apa dia nyelakain orang beneran?" Adit menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa memahami Mark yang menganggap hal ini hanya sebagai lelucon.
"Yah suatu saat pasti Mark bakal kena batunya," ucap Rafa yang memandang api yang sudah padam. Dia melihat koper yang telah hangus menghitam.
◼️◼️◼️
__ADS_1
Mark berjalan masuk ke base camp mereka dan membanting botol - botol kaca yang ada di meja. Dia terus melemparkan barang - barang dan berteriak marah.
"Kalian bener - bener enggak berguna!" Mark membentak anggotanya.
Para anggota Jealousy Squad tidak berani bersuara dan menerima kemarahan bosnya.
"Felix."
"Ya, Bos." Felix mengangkat kepalanya menatap Mark.
"Cari keberadaan Rigel. Gue kasih waktu lo sepuluh menit," perintah Mark.
"Siap, Bos."
Felix segera menyalakan ponsel dan menghubungi orang - orangnya untuk menggali informasi. Lima menit kemudian dia menutup telepon.
"Bos, Rigel sedang berlibur dengan teman sekelasnya ke Bali."
"Oh? Kapan dia berangkat?" tanya Mark.
"Pukul satu pagi tadi, Bos."
Mark terdiam sejenak lalu menelepon asistennya, "Pesen tiket ke Bali sekarang. Penerbangan paling awal."
Setelah menutup telepon, Mark memandang Felix.
"Lo ama Ipul ikut gue ke Bali," ucap Mark. Dia tersenyum lebar dan melanjutkan, "Kita buat kejutan buat Rigel."
"Siap, Bos," ucap Felix dan Ipul serempak.
◼️◼️◼️
Cerita sampingan
Fajar : Kok lo bisa jago banget sih, Delon?
Delon : Sering latihan lah
Cakra : Ajarin kita dong
Delon : Oke besok kita latihan sederhana dulu
Keesokannya..
Delon : Welcome, kita akan latihan di sini
Fajar : Ini kan bombomcar?
Delon : Ya kita latihan tahan guncangan di sini.
Bram : Agak meragukan.
Fajar, Bram, Cakra, Adit pun mengikuti Delon naik ke mobil masing - masing.
Anak kecil yang menonton : Ma, ma lihat, ada kakak - kakak yang masih main ini..
__ADS_1
Member Eternal Squad yang bermain : ...