Forever Young

Forever Young
BAB XXXIV Babak Final


__ADS_3


Di babak semifinal, Nuna sekali lagi menjadi yang pertama kali keluar dari ruang ujian. Mengabaikan tatapan dari para orangtua dan guru peserta lainnya, dia menghampiri Tanio dan Rigel.


"Nona," sambut Tanio. Dia mengulurkan botol air minum. "Silakan."


"Terima kasih." Nuna duduk di kursi dan meminumnya. Kerongkongannya yang kering akhirnya disegarkan kembali.


Rigel bertanya, "Lo balik kemana?"


"Rumah."


"Rumah saudara?"


"Bukan, rumah milik kakek."


Tanio melihat niat Rigel, "Tidak. Tuan Rigel tidak bisa tinggal bersama Nona."


"Belum juga ngomong." Mata Rigel menyipit. "Emang kenapa enggak bisa?"


"Karena anda laki-laki."


"Lo juga laki-laki."


"Saya asisten pribadi Nona."


"Gue temennya."


"Anda bukan temannya."


"Ah?" Rigel menatap. "Lo enggak ngakuin gue, hm?"


Nuna memijat kepalanya yang pusing. "Bukan."


"Cih." Rigel mendengus, "Lo masih punya janji, Nuna. Gue mau tinggal di rumah lo."


"Ya."


"Nona." Tanio menatap tidak percaya pada Nonanya. "Mengapa Nona mengizinkannya?"


Nuna tidak menjawab dan masuk ke mobil diikuti Rigel. Tanio menghela nafas tak berdaya dan mengantar mereka ke rumah yang ada di kota ini.


◾◾◾


Nuna melihat layar ipadnya yang menampilkan pengumuman hasil semifinal dan dia lolos ke final. Menguap, Nuna pun tidur lebih awal.


Di tengah malam, Nuna terbangun dan dia menatap sekitarnya dengan bingung. Dia tidak lagi kamar tidurnya. Saat ini Nuna sedang duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan terikat di belakang, dan kedua kakinya diikat di kaki kursi. Mulutnya disumpal oleh kain. Dia diculik?


"Lo bangun juga akhirnya. Manjur banget tuh obat tidur," ucap Mark yang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Nuna mengamati wajah remaja itu. Oh dia yang berniat memukulnya di jalan tol!


"Kaget ya? Ah, gue enggak sabar nunggu Rigel datang buat jadi pahlawan kesiangan."


Felix dan Ipul yang ada disisi Mark tertawa.


"Bos, kenapa enggak kita siksa aja?" tanya Ipul.


"Gue lebih suka main bom." Mark menunjuk benda yang terikat di perut Nuna. "Skala kecil sih, mungkin akan ada bekas luka."


"Kasihan." Felix berpura-pura iba. "Rigel bakal buang lo karena bekas luka lo buat lo enggak cantik lagi."


Sepertinya mereka salah paham? Nuna berpikir mereka mengira dirinya sebagai kekasih Rigel. Dia tidak berniat merespon apapun. Nuna fokus mengiris tali menggunakan pisau kecil namun tajam yang dia sembunyikan di lengan bajunya.


Sebagai pewaris Keluarga Pangestu tentu saja banyak orang mengincar nyawanya. Semakin kaya maka semakin banyak orang serakah yang ingin mengambil posisinya. Nuna mendapat pendidikan sejak dini untuk melindungi dirinya. Namun dia masih saja kecolongan. Obat tidur apa? Kapan mereka menaruhnya.


Sring. Nuna teringat dia makan siang diluar tadi. Mungkin makanan atau minumannya telah diberi obat saat itu. Pantas saja kepalanya pusing sejak sore hari.


"Tsk. Bosan gue ngomong sendiri. Ipul, lo buka kain di mulutnya."


Ipul mendengar perintah bosnya dan menarik kain yang menutupi mulut Nuna.


"Oke, sekarang lo ngomong."


Hening.


Mark, Felix dan Ipul mengelilinginya.


Rigel menatap Nuna dari kejauhan. "Lo enggak papa kan?"


"Aduh, drama pasangannya nanti aja." Mark lalu mengayunkan pukulan ke wajah Rigel.


Rigel menghindar dan dia bertarung dengan ketiganya. Perkelahian 3 vs 1 berlangsung dengan sengit. Nuna memanfaatkan kesempatan dan melepaskan ikatan di kakinya. Dia juga membebaskan bom mini yang ada di perutnya. Nuna melihat waktu yang tersisa hanya 30 detik. Tatapan matanya menjadi dingin.


Nuna mengambil celah dan menendang Ipul. Ipul merasakan nyeri di jantungnya dan jatuh ke tanah. Tangan Nuna menyikut dagu Felix yang menyebabkan remaja itu mengigit lidahnya dan berteriak kesakitan. Nuna lalu mengarahkan pisau di tangannya ke leher Mark.


Rigel menatap adegan tadi dengan rumit. Gadis itu begitu jago dalam beladiri.


"Jika kamu bergerak, pisau ini akan memutus pembuluh arterimu," ancam Nuna membuat Mark membeku.


Detik kemudian Mark tertawa. "Kagak mungkin lo bisa bunuh gue." Dia menyerang Nuna.


Nuna mundur dan berlari ke arah Rigel. "Lari, sekarang!"


"Hah?"


Tangan Nuna menggandeng Rigel keluar ruangan sedangkan tangannya yang bebas melemparkan bom ke belakang. Keduanya menatap bingung pada ruangan itu. Tidak ada ledakan?


Mark bersandar di pintu dan menyeringai. "Gue cuma bercanda, hahaha. Thanks kalian udah ngehibur gue malam ini."

__ADS_1


"Orang gila," maki Rigel.


Nuna mengangguk setuju. Menculiknya dini hari dengan menggunakan obat tidur, mengikatnya di ruangan hingga berkelahi. Serangkaian ini lebih seperti konspirasi daripada candaan.


"Gue emang gila." Mark terkekeh. "Oh, Nuna. Sebelum lo pulang. Gue mau kasih informasi yang bagus buat lo."


"Banyak omong lo, Mark. Ayo pulang, Nuna." Rigel menggenggam tangan Nuna dan berbalik pergi. Nuna dapat mendengar Mark berbicara satu kalimat.


"Hati-hati dengan saudara tiri lo, Indah."


◾◾◾


Keesokan harinya Nuna mengikuti babak final Olimpiade Summer cabang Fisika. Para juara diumumkan hari itu juga. Nuna mendapat juara pertama dan Panji mendapat juara ketiga.


Panji melirik kesal pada Nuna yang ada di sampingnya. Mereka sedang menerima medali, piala dan piagam perhargaan. Uh, dia tidak ingin pergi ke luar negeri dengan Nuna!


Nuna merasakan tatapan tajam Panji namun dia mengabaikannya. Dia memikirkan cara untuk mundur dari daftar peserta yang ikut Olimpiade Summer tingkat internasional. Dia mengetahui bahwa para peserta wajib mengikuti semua kegiatan mencakup diskusi, belajar bersama, serta babak olimpiade selama tiga minggu di London yang berperan sebagai negara tuan rumah olimpiade.


Ini terlalu lama. Nuna memutuskan untuk berbicara dengan kakeknya nanti.


"Selamat Nuna," ucap Rigel sambil mengusap kepala gadis itu. Dia lalu mengambil medali yang ada di leher Nuna dan menggigitnya. "Emas asli?"


"Selamat, Nona," ucap Tanio sambil mengambil alih piala dan piagam dari tangan Nuna.


"Terima kasih."


Yudha datang bersama teman-teman Liver School yang lain. Mereka juga berhasil mendapat tempat di tiga besar.


"Congrats Nuna. Gue enggak salah punya ekspektasi ama lo," puji Yudha.


Panji hendak mengejek Nuna namun dia berhenti saat melihat Rigel memberikan peringatan padanya. Tsk, Panji menelan kekesalannya. Dia mengutuk dirinya yang tidak pandai berkelahi karena waktunya dia habiskan untuk belajar.


"Terima kasih. Selamat untuk kalian juga," ucap Nuna.


"Kami akan makan malam bersama dengan guru pembina juga sebagai perayaan. Lo ikut kan, Nuna?" tanya Panji mengundang Nuna.


"Maaf, saya harus pulang sekarang."


"Eh? Begitu cepat? Surat izin kita masih tersisa dua hari."


Nuna tidak menjawab pertanyaan itu. Dia berpamitan. "Saya pergi dulu." Dia tidak ingin melanjutkan olimpiade sehingga dia tidak memberikan salam 'sampai jumpa'.


Yudha tiba-tiba berpikir bahwa Nuna mungkin tidak akan pergi ke luar negeri bersama mereka. Dia menatap punggung Nuna yang menghilang di balik mobil. Sepertinya dia perlu berbicara dengan guru.



◾◾◾


__ADS_1


__ADS_2