
Dylan sudah menganggap Aila seperti ibu kandungnya, hingga Dylan selalu memanggil Aila Mommy, Aila pun tidak keberatan sama sekali jika di panggil seperti itu oleh Dylan, baginya Dylan sudah menjadi kakak dari kedua putra kembarnya.
“Uncle..” ucap bocah di gendongan Mami Karla terbangun karena mendengar suara berisik.
“Kan, kamu sungguh keterlaluan Gavin, cucuku terbangun,” ucap Mami Karla.
“Daddy, gendong,” rengek Dean membuat Ayyan langsung mengambilnya.
“Kenapa Daddy lama cekali pulang, Adek mau pulang,” ucap Dean dengan suara manjanya.
“Loh, kenapa mau pulang sayang,?” tanya Mami Karla panik.
“Mau tidul cama Mommy,” saut Dean.
“Mami, apa yang mami lakukan, apa Mami membuat mereka selalu begadang,?” tanya Ayyan.
“Mereka terus bermain, Mami sampai ketiduran di lantai tadi malam,” ucap Mami Karla.
“Jadi jam berapa mereka tidur,?” tanya Ayyan.
“Entahlah, Mami bangun-bangun, mereka masih tidur di sampingku, di lantai,” ucap Mami Karla membuat Aila hanya menggelengkan kepalanya ke arah Dean.
“Astaga Mami,” ucap Ayyan menepuk jidatnya pelan.
“Maaf ya Mi, mereka buat Mami kerepotan,” ucap Aila sopan.
“Tidak, Mami sangat senang,” ucap Mami Karla.
“Kalau begitu kami izin pulang ya Mi,” ucap Aila secara tiba-tiba membuat Mami Karla sedikit kaget.
“Kalian baru saja sampai loh,” ucap Mami Karla.
“Kasihan Davina Mi, dia belum masak katanya,” ucap Aila membuat Davina yang hanya diam membulatkan matanya.
“Makan disini saja nak, banyak makanan di dapur,” ucap Mami Karla membuat Davina menggelengkan kepalanya cepat.
“Terimakasih Tante, tapi Vina mau pulang saja,” ucap Davina membuat Mami Karla hanya menganggukkan kepalanya.
“Sini Mas,” ucap Aila pada Ayyan meminta Dean.
__ADS_1
“Kamu pulang sama siapa,?” tanya Ayyan.
“Taxi,” saut Aila santai.
“Aku akan mengantar kalian,” ucap Ayyan berdiri dari tempat duduknya.
“Mommy, Dylan mau ikut,” rengek Dylan.
“Tapi Dylan harus sekolah besok,” ucap Aila.
“Dylan akan bawa buku dan baju Dylan saja,” ucap Dylan enteng.
“Dylan, nanti ayahmu marah loh,” ucap Mami Karla.
“Tidak mau, Dylan mau ikut,” ucap Dylan tegas.
“Dylan..! rumahmu disini, kamu sekolah besok, jangan merepotkan orang,” ucap tegas Day yang baru datang membuat Dylan menundukkan kepalanya dengan wajah cemberut.
“Besok Mommy akan kesini lagi ya sayang, jangan sedih begini dong, Mommy juga sedih loh kalau Dylan seperti ini,” ucap Aila lembut pada Dylan.
“Tapi Dylan kesepian di rumah Mommy,” ucap Dylan.
“Kan ada Nenek, Kakek, uncle Gavin, sama Ayahnya Dylan,” ucap Aila lembut.
“Tapi kalau Dylan libur, Dylan mau tinggal di rumah Mommy,” ucap Dylan dan di angguki oleh Aila.
Mereka sudah di mobil, melajukan mobilnya untuk pulang setelah Dylan sudah berhasil di bujuk oleh mereka.
“Davina dimana rumahmu,?” tanya Aila.
“Sudah lewat, jalurnya berbeda, nanti aku akan naik taxi saja jika sudah di rumahmu,” ucap Davina membuat Aila menatapnya bingung.
“Kenapa tidak memberitahukan ku tadi,?” tanya Aila menatap Davina, Davina hanya mengode dirinya jika dia tidak enak pada Ayyan.
“Menginap saja nanti di sana,” ucap Aila membuat Davina tersenyum manis.
“Memang itu yang ku mau,” gumam Davina yang masih ingin bermain dengan si kembar.
“Aku akan pulang nanti, jadi jangan membuka pintu jika ada yang memencet bel atau mengetoknya, intip dulu di jendela,” ucap Ayyan membuat Davina semakin senang.
__ADS_1
“Iya, iya, kenapa tumben sekali kamu pulang,?” tanya Aila.
“Aku lupa membawa Laptop ku, ada pekerjaan yang harus ku selesai kan lebih dulu,” ucap Ayyan dan hanya mendapat anggukan kepala dari Ayyan.
“Apa Aila sama Ayyan satu kamar, ahhggg...aku memikirkan hal dewasa lagi hiks..hiks.., ingat Vina, kamu masih polos,” gumam Davina.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai didepan bangunan besar disana membuat Davina plongok-plongo.
“Dimana rumah Aila, disini hanya gedung,” gumam Davina yang mengira jika Aila tinggal di kontrakan lagi.
“Ayo,” ucap Aila yang menggendong Zean sedangkan Davina masih menggendong Zean yang tertidur pulas.
Davina hanya terdiam saat masuk kedalam apartemen Aila, dimana Aila tinggal, dia sudah yakin jika itu tempat tinggal Aila saat ini, ada banyak foto Zean dan Dean, bahkan ada fotonya dengan Aila.
“Bawa kesini Vina,” ucap Aila dan masuk kedalam kamar, Vina hanya menatap Ayyan sekilas dan ikut masuk.
“Ahg suamimu sungguh menyeramkan,” ucap Davina bernafas lega.
“Hei, aku belum menikah,” ucap Aila menepuk lengan Davina pelan.
“Letakkan disini, mereka sungguh kelelahan,” ucap Aila yang lebih dulu meletakkan Zean di atas tempat tidur.
“Sana pergi,” ucap Davina mengusir Aila.
“Kenapa,?” tanya Aila.
“Aku ingin tidur juga, disini bukan kamar nya si tampan menakutkan itu kan,?” tanya Davina.
“Ini kamarku,” saut Aila membuat Davina langsung membaringkan tubuhnya di samping si kembar.
“Aku masih sangat kenyang,” ucap Davina dan menutup matanya, sungguh sangat cepat tertidur.
Pagi Harinya Aila dan Davina serta Ayyan sudah berangkat ke perusahaan, sedangkan si kembar di jemput lebih awal oleh Naya untuk mengantar Dylan sekolah.
Ayyan lebih dulu mengantar Davina ke perusahaan, setelah itu dia baru langsung menuju ke perusahaan nya bersama Aila.
Davina melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya, dia langsung melakukan tugas yang harusnya ia lakukan, saat sedang fokus ke komputer dia bingung kenapa sangat hening disana, biasanya para karyawan lainnya akan banyak bicara, karena penasaran Davina menoleh ke belakang dan refleks meninju perut laki-laki yang berdiri di belakangnya.
“Ahhgg,” pekik Day memegang perutnya.
__ADS_1
Davina membulatkan matanya sempurna, dia sungguh tidak sengaja melakukannya, dia hanya refleks karena kaget tiba-tiba ada seseorang dibelakangnya.
“Pak, maaf pak, sumpah saya tidak sengaja,” ucap Davina panik.