
Day pulang tanpa membawa apapun, dia sudah sangat lama menunggu tapi Ayyan dan Aila tidak ada keluar sama sekali, dia langsung pulang ke rumah, dia sudah tidak peduli lagi dengan pekerjaannya.
Setiap waktu Day terus menatap Jam tangannya, berharap Aila sudah datang, namun sudah beberapa jam tidak ada yang ia harapkan datang.
"Kenapa lama sekali, apa mereka tidak pingsan kelelahan," gumam Day.
"Kamu kenapa? gelisa sekali,?" tanya Mami Karla.
"Aku menunggu Aila," saut Day membuat Mami Karla menatapnya penuh selidik.
"Lupakan, tidak jadi," ucap Day buru-buru pergi.
Hampir magrib Aila dan Ayyan tiba membuat Day langsung menghampirinya dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa,?" tanya Ayyan.
"Tau." saut kesal Day langsung menarik tangan Aila pergi.
"Woi, istrikuuuu..!" teriak Ayyan namun tidak didengarkan oleh Day.
"Sayang, jika dia macam-macam jangan segan membunuhnya,!" teriak Ayyan lagi.
Dihalaman belakang Aila menatap Day bingung, dia tidak tau sama sekali kehadiran Day tadi di perusahaan, Ayyan membohongi nya jika yang ia larang masuk tadi adalah Gavin, Aila memang sedikit curiga karena suaranya berbeda dengan Gavin namun apalah daya Ayyan langsung menerkam nya.
"Ada apa,?" tanya Aila.
"Kemana Davina,?" tanya balik Day membuat Aila menatap nya dengan tatapan kesal.
"Nggak tau," saut ketus Aila.
"Buat apa kamu menanyakan tentangnya lagi, dia sudah bukan karyawanmu," ucap Aila.
__ADS_1
"Ayo lah, aku hanya ingin meminta maaf padanya," ucap Day.
"Sudah terlambat, dia sudah pulang, dan akan di jodohkan oleh ibunya disana, dia dulu di larang ke sini namun dia tetap kekeh, dengan syarat jika dia pulang tanpa hasil, dia harus menikah dengan teman masa kecilnya dulu," ucap Aila membuat Day sontak berdiri sangat kaget.
"Kamu jangan bercanda, aku sungguh serius menanyakan nya, aku hanya merasa bersalah padanya karena memecatnya tanpa berfikir panjang," ucap Day.
"Buat apa aku berbohong, dia meninggalkan ibunya dan Vina menyuruh pamannya untuk menjaga ibunya, apa kamu tau ibu nya memang sedari dulu ingin menikahkan Davina tapi Davina selalu mempunyai alasan untuk menolaknya, tapi aku juga tidak tau sebenarnya, aku hanya mendengarnya sedikit darinya," ucap Aila.
"Lalu, kapan dia menikah,?" tanya Day dengan wajah yang sangat panik.
"Kenapa kamu jadi panik seperti itu, masalah minta maaf bisa kapan-kapan kok, kak Day tenang saja," ucap Aila dan melangkah pergi.
"Aila, jawablah dulu," ucap Day.
"Tidak sampai 1 Minggu lagi, aku berencana akan kesana untuk menghadiri nya nanti, jika kamu ingin datang, kita akan sama-sama menghadirinya, jika dia bertanya siapa yang undang, kamu tinggal jawab aku di paksa oleh ku untuk ikut," ucap Aila membuat Day duduk lemas di lantai.
Day menatap kosong ke depan, entah mengapa hatinya sangat tidak senang mendengar semua ucapan Aila, hatinya seperti perih tanpa sebab.
"Percuma saja mengeluh disitu, susul dia kesana," ucap Ayyan yang ada di belakang meminum sirupnya dengan santai, dia sedari tadi disana tanpa mereka sadari.
Day dengan wajah kaget menatap ke arah sang Adik, dia sungguh sangat merasa malu, dia tau jika Ayyan sudah mendengar semua ucapan nya.
"Sejak kapan kamu disitu,?" tanya Day sudah sangat malu.
"Aku khawatir kamu akan menculik istriku, jadi aku mengawasi kalian disini, bukan kah ini sangat menarik, mendengar kan orang yang akan putus asa sambil meminum segelas sirup,?" ucap Ayyan tersenyum kecut.
"Ingat, aku bahkan lebih menyakitkan darimu, beberapa tahun baru bertemu dengannya setelah melakukan Kesalahan fatal, pipiku bonyok dengan tamparan mereka, aku mual sangat lama, tapi kamu lebih pahit baru menyadari perasaan sudah ditinggal nikah aja," ucap Ayyan melangkah pergi membuat Day sungguh semakin bingung dengan perasaan nya.
"Bagaimana aku bisa jatuh hati pada wanita seperti nya, wanita bar-bar sepertinya," gumam Day.
"Jika aku menyusulnya, nanti dia tanya aku datang untuk apa, aku harus bilang apa tuhan, dia bahkan sangat membenciku," ucap Day.
__ADS_1
"Apa kamu baru menyesal anakku yang ganteng,?" tanya Mami Karla membuat Day menoleh ke sumber suara.
"Hah? sejak kapan Mami disitu,?" tanya Day semakin malu dengan semua ini.
"Mami sedari tadi disini merawat tanaman Mami, Mami kaget kamu tidak menyadarinya," ucap Mami Karla.
"Apa masih ingat dengan ucapan Mami, menyesal kan,?" ucap Mami Karla tersenyum kecut ke arahnya.
"Ahhg..! kenapa mereka seperti hantu saja, muncul tiba-tiba," gumam Day.
"Tidak." saut Day ketus dan melangkah pergi tapi langkahnya terhenti saat Mami Karla berbicara.
"Benar kata Ayyan, jika kamu memang niat susul, bahkan Davina tidak menyukai orang yang di jodohkan dengannya, karena Davina selalu menghindari nya saat ingin di nikahkan bukan? mereka belum sah, masih ada sedikit kesempatan untukmu, jika ingin memperluas peluang maka kamu usahakan dengan mati-matian, kamu yang membuat semua ini terjadi, seminggu bukan waktu yang lama, itu bahkan tidak terasa, apalagi jika perjalanan panjang kesana bisa saja membuat mu menangis di tempat melihat Davina di pelaminan." ucap Mami Karla.
Day melangkah masuk dengan wajah tanpa ekspresi, dia tampah kepikiran dengan semua ucapan Maminya, dia ingin sekali menyusul tapi dia tidak yakin dengan dirinya.
"Bagaimana aku menyusulnya, jika aku akan percuma datang, dia pasti akan memakiku dengan sangat puas," ucap Day pada dirinya sendiri.
"Tapi jika tidak menyusulnya, tidak akan terjadi apa-apa, waktuku tidak habis sia-sia," ucap lagi Day.
"Tapi kenapa perih rasanya, ahhg..! apa ini semua...! aku bahkan tidak pernah niat sama sekali tertarik padanya, tapi kenapa aku malah seperti menginginkan kertas yang sudah pernah ku bakar," ucap Day.
Davina berbaring di tempat tidurnya, melihat ponselnya, dia menatapnya terus.
"Apa aku kembalikan ponselnya, dia yang membelikan nya, aku berutang banyak padanya, gara-gara kebodohan ku," ucap Davina.
"Apa dia sekarang sudah tidak pusing lagi karena sudah tidak ada aku disana, dia menyebalkan tapi kenapa aku malah senang membuat nya marah sampai aku di pecat haha, aku akan membayarnya 10 juta jika aku punya uang, aku memang bodoh bisa bertingkah seperti itu haha" ucap Davina tersenyum sendiri.
"Aku juga belum pamitan dengan Dylan, aku pernah berjanji padanya saat di acara nikahan Aila, jika aku akan membawanya jalan-jalan dan memberikannya hadiah nanti saat habis semester," ucap Davina.
"ehh..! tunggu, bukan kah dia katakan jangan kasih tau ke siapapun jika dia semester, jangan bilang dia tidak memberitahu siapa-siapa, dan kenapa cuma aku yang di beritahukan, sedangkan aku belum terlalu akrab dengannya," ucap Davina.
__ADS_1
"Tapi bagaimana sekarang, ibu sungguh benar-benar ingin aku menikah hiks..hiks, ibu menyamakan ku sama Aila, Aila kan udah sama sama jatuh hati jadi wajar menikah, sedangkan aku dan dia belum ada apa-apa, aku bahkan hanya bermain dengannya waktu kecil saja," ucap Davina lagi sungguh pusing dengan semua yang akan dia lewati.