Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Bertemu


__ADS_3

Davina terlihat sedang senyum-senyum sendiri mengingat dirinya seperti wanita murahan menggoda Day dulu. Bahkan dirinya dengan sangat Bernai mengaku pacarnya saat dia mengerjainya membayar makanan.


Ponselnya berdering, ada pesan yang masuk dan terlihat nama pengirim pesannya adalah Aila, Davina membuka pesan tersebut yang ternyata adalah foto, dia sangat penasaran dan langsung membukanya, wajahnya seketika sangat merah merona malu melihat fotonya di pelaminan bersama Day.


Aila dengan jahatnya memotong foto keluarganya, hanya ada foto Davina dan Day yang ada disana, beberapa foto tersebut sungguh sangat memalukan bagi Davina tapi hatinya juga entah mengapa sedikit senang.


"Ahg kenapa fotoku banyak seperti ini bersamanya, bahkan gaya foto kami seperti sepasang kekasih yang lagi marahan," ucap Davina membolak-balikkan badannya menatap foto tersebut, Davina malu namun dia malah memperbesar fotonya dan Day.


Davina sudah kembali seperti cacing kepanasan, kasurnya yang sangat rapih tadi sudah berantakan seperti kamar yang habis di gunakan bercocok tanam.


"Kamu kenapa Nak, senyum-senyum sendiri, sampai seperti cacing kepanasan di atas kasur,?" tanya ibunya dan dengan cepat Davina menyembunyikan ponselnya dan merubah wajahnya menjadi biasa-biasa saja di hadapan sang ibu.


"Tidak Bu, cuma olahraga," ucap Davina membuat ibunya hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada Calon suamimu didepan," ucap Ibunya langsung melangkah pergi, membuat Davina ingin sekali bersembunyi di tempat yang sangat aman hingga dia tidak bisa bertemu dengan laki-laki yang dijodohkan dengannya.


Davina mengganti pakaian nya dengan buru-buru, dengan cepat ia mengambil tas dan ponselnya ingin kabur dari rumah sampai laki-laki tersebut pulang, Davina mulai membuka jendela dan memanjatnya dengan sangat mudah.


Davina berlari ke arah jalan, Dia langsung naik ke atas mobil yang dikiranya adalah taxi.


"Pak, ayo berangkat, buruan," ucap Davina tanpa menoleh ke depan, dia hanya berfokus menatap pintu rumahnya.


Gavin dan Day membulatkan matanya sempurna melihat Davina yang langsung naik ke atas mobilnya.

__ADS_1


"Apa dia sudah tau kita datang Duda,?" tanya Gavin dan mendapat gelengan kepala dari Day.


"Pak, ayo berangkat, tolong antar saya ke ....," ucapan Davina terhenti saat dia menyadari mobil yang dia naikin seperti bukan taxi, Melain mobil mewah, Davina menatap ke depan dan sangat terkejut dengan orang yang ada didepannya.


Davina mengucek-ngucek matanya beberapa kali memastikan jika itu adalah orang yang ia kenal.


"Apa aku mimpi kali ya," ucap Davina langsung menampar pipinya.


"Auuuww, sakit," ucap Davina.


"Hai Davina," sapa Gavin tersenyum tipis.


Davina hanya menganggukkan kepalanya masih bingung dengan semua ini, dia masih belum yakin jika yang ada didepan matanya adalah nyata.


"Halo Aila," sapa Davina.


"Iya Vin, ada apa,?" tanya Aila.


"Apa ini nyata, aku tidak mimpi kan,?" tanya Davina.


"Hah? kamu gila ya, sudah ahg aku sedang sibuk dengan pekerjaan ku, suamiku ke perusahaan Day, sedangkan Gavin tidak ada, hingga aku yang harus menyelesaikan, owh iya satu lagi jangan terkejut jika Day dan Gavin nanti muncul, jangan usir mereka ya temanku yang manis. byyy," ucap Aila langsung mematikan ponselnya.


Davina sungguh sangat terkejut dengan ini, Ia ingin turun dari sana tapi sudah di kunci oleh Day.

__ADS_1


"Saya mengantar anda kemana,?" tanya Day.


"Tidak jadi," saut Davina.


"Tolong buka pintu, saya salah naik mobil," ucap Davina.


"Kenapa kamu sudah tidak suka nyolot lagi, suaramu sangat sopan," ucap Day tersenyum kecut.


"Bagaimana caranya membatalkan pernikahan nya jika kamu saja bersikap seperti itu padanya, bahkan dia akan lebih benci padamu Duda bodoh," gumam Gavin.


"Maaf, saya dengar tadi kalian ingin datang ke rumah saya, jadi apa tujuan kalian datang,?" tanya Davina membuat mereka berdua terdiam.


Day mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Gavin yang duduk di sampingnya.


"Tunggu lah disini," tulisan yang dikirimkan pada Gavin, Gavin pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Day membuka kunci mobilnya, Davina dengan cepat keluar dan melangkah kembali ke rumahnya, dia sudah pasrah bertemu dengan laki-laki yang akan di jodohkannya, Davina tidak menyadari jika Day mengikutinya di belakang.


"Dia bahkan tidak menyapaku, dia tidak bertanya apapun, hanya mengeluarkan kata-kata buruknya, apa dia datang ingin meminta ponselnya, baiklah aku akan mengembalikannya setelah hp nya habis di restart." gumam Davina langsung membuka pintu rumahnya dengan kesal.


Davina seketika lemas melihat laki-laki yang sudah duduk disana meminum teh buatan ibunya, namun Davina bingung melihat pandangan mereka yang tidak terarah padanya, melainkan terlihat seperti terarah ke belakangnya.


Davina membalikkan badannya dan kembali di kagetkan oleh Day yang berdiri di belakangnya dengan senyuman manisnya. Davina sungguh sangat panik apalagi saat Day dengan cepat merangkulnya dan mencium pipinya di depan laki-laki yang dijodohkan nya.

__ADS_1


"Diamlah, jangan membantah, kamu sudah sering mengaku sebagai pacarku bukan, jadi jangan salahkan aku," bisik Gavin membuat Davina semakin gemetaran.


__ADS_2