
Day duduk di sofa menikmati secangkir kopi buatan ibu Davina, sedangkan Gavin sudah lebih dulu pulang dengan wajah kesalnya, bagaimana pun dia sangat tidak ingin menemaninya jika tau Day bakal hanya merepotkan nya.
Davina duduk di samping Day, dan menatap Day.
"Apa kamu tidak pulang? ini sudah malam" ucap Davina.
"Apa kamu berani mengusir ku,?" saut Day.
"Ini sudah jam berapa?" ucap kesal Davina.
"Aku pasienmu, jadi aku harus tinggal disini," ucap Day dengan suara tanpa beban mengatakan hal tersebut.
"Hah? aku bukan dokter, dan rumahku juga bukan rumah sakit, jadi cepatlah pulang, aku sangat ngantuk," ucap Davina.
"Ini sudah sangat malam, aku tidak punya kendaraan," ucap Day lagi.
"Ya Tuhan, kamu sungguh menjengkelkan," saut Davina kesal.
Keheningan terjadi sampai Day menghabiskan kopinya, tiba-tiba Davina menyerahkan ponselnya pada Day.
__ADS_1
"Kenapa,?" tanya Day menatap Davina bingung.
"Aku kembalikan, ponsel ini sangat mahal tidak seperti ponselku, itu juga karena kesalahanku jadi ambillah, aku tidak suka mengambil barang orang," ucap Davina.
"Tidak, terimakasih, aku sudah memberikanmu, mana mungkin seorang Ceo seperti ku mengambil barang yang sudah kuberikan pada orang, itu bahkan sama saja memungut sampah yang sudah ku buang," saut Day.
"Tapi..." ucapan Davina terpotong.
"Aku tidak suka penolakan," potong Day.
Ibu Davina datang, dan langsung ikut duduk disana.
"Tidak Tante, terimakasih, Day pulang saja," ucap Day dengan wajah ramahnya membuat Davina membulatkan matanya mendengar ucapan Day.
"Lihatlah, betapa pintarnya dia berakting," gumam Davina.
"Kamu juga tidak ada kendaraan bukan,?" tanya Ibu Davina dan di angguki oleh Day.
"Tidurlah di kamar Davina, dan Davina akan tidur di kamar bersama ibu," ucap ibu Davina membuat Davina langsung mengelak.
__ADS_1
"Tidak bisa Bu, biarkan saja dia pulang, dan bagaimana bisa ibu langsung menyuruhnya tidur di kamar Davina," ucap Davina.
"Dia masih sakit, kamu harus pengertian juga dengan pacarmu, bukan kah tadi Nak Day mengaku pacarmu,?" ucap Ibu Davina dan di angguki oleh Day dengan wajah manisnya.
"Bu, jangan dengarkan dia, Davina belum pacaran sumpah," ucap Davina panik.
"Ah, kamu itu masih saja malu-malu, Nak Day saja sudah mengiyakan, kamu tidak bisa lagi berbohong, Ibu bakal izinin kok, lagian kamu baru pertama kalinya membawa pacarmu kesini, bahkan mungkin cuma Nak Day saja yang mau jadi pacar perempuan seperti mu yang hanya suka bermain bola dulu saat kecil," ucap Ibu Davina tertawa renyah.
"Apa dia suka main bola,?" tanya Day.
"Jangan tanyakan lagi, dia bahkan tidak mau jika rambutnya panjang, pakaiannya saja tidak mau make jika pakaian wanita, dia hanya memakai baju bola saat kecil, Ibu sungguh dibuat kebingungan, baru pulang sekolah saja sudah menghilang di rumah dan saat pulang sudah magrib dengan kaki memar nya habis main bola sama anak laki-laki," ucap Ibu Davina membuat Davina sungguh sangat malu, Davina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Dan kamu jangan macam-macam padanya, bisa saja tulang mu akan di patahkan oleh anak Ibu, dia ahli dalam beladiri, semenjak SD dia sering menjuarai olimpiade beladiri, Ibu bahkan pernah menasihati nya agar berhenti jadi wanita setengah pria tapi dia tidak mendengarkan Ibu, dan entah kenapa saat dia kuliah Davina sudah mulai pakai baju perempuan dan memanjangkan rambut nya," ucap Ibu Davina.
"Tidak salah, ternyata dia memang laki-laki," gumam Day.
"Ibu sudah jangan cerita lagi, ayo tidur Bu sudah malam," ucap Davina sungguh sangat malu.
"Lihatlah Nak, dia malu," ucap Ibu Davina tertawa diikuti oleh Day.
__ADS_1