
Day sungguh sangat pusing, dia tidak tau lagi harus bagaimana, dia pulang ke rumah dengan wajah was-was, dia langsung ingin menuju ke kamarnya tapi ditahan oleh Mami Karla.
"Kenapa gak kesini dulu, tumben sekali langsung ke kamar,?" tanya Mami Karla.
"Tidak Mi, mau istirahat saja," ucap Day cengengesan.
"Pindahkan dia sebagai asisten mu, kamu tidak punya asisten," ucap Mami Karla membuat Day menatapnya bingung.
"Siapa Mi,?" tanya Day bingung.
"Ya, siapa lagi, Davina teman Aila itu, kan dia bekerja di Perusahaan mu," ucap Mami Karla membuat Day menelan salivnya kasar.
"Tidak bisa Mi," ucap Day.
"Loh, kenapa, Mami ngomong seperti itu agar kalian semakin dekat, Apa kamu mau duda seumur hidup, dan akan di maki seumur hidup oleh Gavin, pilihlah dia, Mami tau dia wanita yang baik, apa kamu tidak melihat saat di acara pernikahan Adikmu, dia dengan sangat tulus menyuapi Dylan, dan bermain dengannya," ucap Mami Karla.
"Maksud Mami Apaan,?" tanya Day.
"Ambil hatinya, lalu nikahi dia, Mami tidak mau tau, kamu harus mendapatkan nya, jika kamu membawa wanita lain, Mami tidak akan pernah setuju, Mami sudah sangat kenal sifat Davina," ucap Mami Karla.
"Tidak mau, mana mungkin aku menikah dengannya, aku gak bakal Sudi," ucap Day.
"Humm.. awas saja jika kamu jatuh cinta padanya, dan jangan sampai juga kami akan menyesal jika keduluan sama orang lain, banyak orang di luar sana mencari wanita seperti Davina, banyak pula laki-laki di luar sana yang lebih baik darimu," ucap Mami Karla membuat Day entah mengapa merasa panik.
"Ahhg..! lupakan itu Mi, aku tidak ingin membahas nya, lagian itu tidak bakal mungkin lagi terjadi, aku sudah memecat..." ucapannya terhenti, dia baru sadar apa yang dia ucapkan.
Mami Karla langsung berdiri dan berjalan ke arahnya dengan wajah dingin.
"Cepat lanjutkan ucapanmu,!" ucap Mami Karla tegas.
"pecat," ucap Day pelan.
"Siapa yang kamu pecat? Davina?," tanya Mami Karla dan di angguki dengan pelan oleh Day.
"Baiklah, jangan pernah menyesalkan perbuatan mu," ucap Mami Karla ketus dan kembali duduk.
"Buat apa aku menyesal, aku bahkan senang tanpa dirinya lagi disini," gumam Day melangkah pergi.
Di kamar Day terus memikirkan ucapan Maminya, dia sangat kepikiran apa yang di ucapkan Maminya membuat nya sangat merasa kesal.
"DAVINA, DAVINA, DAVINA LAGI DAN LAGI, KENAPA SIH SEMUA ORANG DAVINA, DAVINA, DAVINA," ucap kesal Day.
Semenjak kejadian tersebut Day seperti orang bodoh yang hanya terus menghayal di ruangannya.
"Kenapa sangat sepi tidak ada dia yang buat ulah, dan membuat ku selalu kesal," ucap Day.
__ADS_1
"Kenapa aku trus kepikiran, ya Tuhan apa yang dia lakukan pada ku hingga aku trus memikirkan dia, apa dia memberiku obat semacam pemikat," ucap Day sungguh sangat prustasi.
Day melangkah keluar perusahaan dia ingin pergi ke perusahaan utama. Tak lama dia sudah sampai disana, dia langsung berjalan ke ruang dimana Gavin berada.
"Woi jomblo, dimana ruang Adik Iparku,?" tanya Day langsung membuat Gavin kaget.
"AHHGGG...! DUDA SIALAN..!" teriak Gavin kesal.
"Kamu ngapain kesini, perusahaan mu bukan disini, kamu tersesat," ucap Gavin dengan suara sangat kesal padanya.
"Cepatlah dimana ruang Adik ipar,?" tanya Day.
"Ada keperluan apa kamu menemuinya,?" tanya Gavin.
"Beritahu saja dimana,?" tanya Day lagi membuat Gavin menatapnya penuh selidik.
"Jangan menatapku seperti itu, aku masih waras," ucap Day.
"Aku juga waras Duda, jangan berfikiran aneh," ucap kesal Gavin.
Day memberikan beberapa lembar uang merah kepada Gavin.
"Dimana,?" tanya Day membuat Gavin sumringah menunjuk ke ruang Aila.
"Ketok dulu baru masuk, nanti takutnya mereka lagi buat ponakan buatmu," ucap Gavin tertawa renyah.
"Kamu ngapain kesini,?" tanya Ayyan.
"Apa aku salah ruangan,?" tanya Day.
"Kamu bahkan salah perusahaan," ucap kesal Ayyan.
"Dimana ruangan Aila,?" tanya Day.
"Ada keperluan apa kamu sama istriku,?" tanya Ayyan menghalangi di pintu.
"Pindah lah, aku ingin masuk," ucap Day.
"Owh tidak semudah itu, kamu harus memberitahu ku dulu alasan kamu datang kemari mencari istriku,?" tanya Ayyan.
"Aku ingin menikahinya," ucap kesal Day membuat Ayyan menutup pintunya dengan kencang.
"WOI..! AYYYANN.. BUKA SIALANNN...!" teriak Day.
Pintu kembali terbuka oleh Ayyan dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
"Apa kamu bisa tidak menganggu ku, aku lagi ingin menyelesaikan olahraga kami, pergilah, aku mengerti dirimu yang tak punya istri, tidak bisa olahraga bersama istri, jika kamu mengetoknya lagi, aku akan melemparmu ke bawah," ucap Ayyan kesal.
"Apa kamu Bernai dengan kakak mu ini, pindahkan, nanti saja lanjutkan nya, aku ingin berbicara penting dengannya," ucap Day.
"Tunggu lah disana sampai kami selesai, Istri ku sudah tidak memakai baju, bagaimana mungkin aku mengizinkan mu masuk, sana pergi, tunggu di ruangan Gavin jika mau, kalau tidak silahkan angkat kaki dari sini," ucap Ayyan membuat Day dengan sangat kesal kembali ke ruangan Gavin, duduk bersandar menatap langit-langit.
"Kenapa balik,?" tanya Gavin.
"Mereka lagi bercocok tanam," ucap Day membuat tawa Gavin pecah.
"Wahahahahaha, apa kamu tidak kepanasan,?" tanya Gavin.
"Buat apa, intinya kembalikan uangku yang tadi," ucap Day.
"Mana bisa, uangnya sudah di dompet ku, kamu sudah memberikan nya padaku, mana mungkin aku mau mengembalikan nya, kamu sama saja sudah meludah tapi kamu jilat lagi," ucap Gavin membuat Day hanya bisa mendengus kesal.
"Kawan, apa ada masalah besar,?" tanya Gavin dan mendapat gelengan kepala dari Day.
"Ayolah, kenapa Duda seperti mu terlihat sangat lemas, apa kamu habis disunat Mami gara-gara persoalan Davina,?" tanya Gavin dan kembali mendapat gelengan kepala dari Day.
"Jadi buat apa kamu ketemu dengan Adik ipar kalau bukan soal Davina, kamu tidak bisa membohongi ku, aku bahkan tau jika kamu susah tidur gara-gara memikirkan Davina," ucap Gavin membuat Day menatap nya dengan ekspresi terkejut.
"Bagaimana sialan ini tau," gumam Day.
"Lihatkan, ekspresi mu sudah mengatakan jika benar yang ku ucapkan," ucap Gavin.
"Pekerjaan Kantor mu bahkan tidak karuan gara-gara itu, aku yang harus bertanggung jawab lagi atas semuanya, kamu sungguh merepotkan," ucap Gavin lagi yang membuat Day semakin terkejut.
"Dia kenapa bisa tau, bahkan sampai kerjaan ku," gumam Day sungguh sangat terkejut.
"Sudahlah lupakan saja, kamu hanya perlu mencarinya, dan aku akan menunggu nya, jika kamu sudah dapat maka aku akan dengan senang hati menggandengnya ke pelaminan," ucap Gavin membuat Day menatapnya kesal.
"Jaga bicaramu sialan,!" ucap Day dengan suara tegas, Day sungguh sangat refleks mengatakannya.
"hahaha kamu bahkan sudah jatuh hati padanya, bagaimana jika Davina sudah mendapatkan orang lain di luar sana, sudah 2 Minggu semenjak dia pergi bukan, hidupmu sungguh sial Duda," ucap Gavin
Day hanya diam kembali menyenderkan tubuhnya di sofa, Gavin juga sudah mulai fokus dengan pekerjaan nya, hanya keheningan didalam sana.
sudah sejam Day disana tapi Ayyan belum juga keluar, dia berdiri ingin melangkah ke sana mengetoknya tapi ditahan oleh Gavin.
"Kamu akan panas dalam jika melangkah ke arah pintu," ucap Gavin.
"Apa kamu tidak mendengarnya, bahkan suaranya samar-samar sampai disini," ucap Gavin membuat Day memasang telinganya dengan baik-baik, benar saja ada suara samar-samar yang terdengar.
"Kenapa mereka sungguh sangat kuat," ucap Day kesal.
__ADS_1
"Mereka masih mudah kawan, Duda sepertimu memang sudah tidak bisa sekuat mereka," ucap Gavin menahan tawanya.