Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
sadar


__ADS_3

Day membuka matanya, kepalanya sungguh pusing, dia menatap ke sampingnya dan melihat Davina yang tertidur di sampingnya. Day mengingat kejadian tadi siang.


"Apa dia yang mengobatiku?" gumam Day.


Gavin terlihat sangat nyenyak tidur di sofa, ia seperti tidak ada beban sama sekali tidur dengan wajah pulas nya.


Davina membuka matanya dan menatap Day yang terlihat masih menutup matanya, dia melihat selimut yang menutupi tubuh Day sudah lepas membuatnya segera memperbaikinya, menutupi tubuh Day sampai di dada.


Davina keluar mengucek matanya, dan melihat Gavin yang tertidur pulas di sofa.


Davina memilih membersihkan tubuhnya dan segera memasak untuk sarapan mereka. Tak lama ia kembali lagi ke kamarnya dimana Day tertidur, dia menatap Day dan menghela nafasnya melihat Day yang dipikirnya masih pingsan.


"Kenapa kamu sungguh sangat lama pingsan," ucap Davina.


Gavin datang dengan mulut lebarnya menguap.


"Huaah... apa dia masih pingsan,?" tanya Gavin dan di angguki oleh Davina.


"Kenapa kamu masuk sembarangan ke kamarku,?" ucap Davina.


"Kenapa kamu marah, sedangkan duda satu itu sangat asik tidur di tempat tidur mu," ucap Gavin.


"Kan dia pingsan, dan kamu masuk tanpa ketok pintu atau izin dulu kek, kalau aku misalkan lagi pakai baju tadi, kamu mau tanggung jawab,?" ucap kesal Davina.


"Yah, tinggal nikahi saja susah banget," ucap Gavin membuat Davina menatapnya kesal.

__ADS_1


"Sana keluar, jangan berisik disini" ucap Davina.


"Hei duda, aku tau kamu sudah sadar, cepatlah bangun dan kita pulang, badanku sakit semua gara-gara tidur di sofa keras milik Davina," ucap Gavin membuat Davina memukul lengannya.


"Kamu stres ya,!" ucap Davina kesal.


"Duda cepatlah, ini sudah malam, kita harus segera pulang, aku ada pekerjaan penting besok di perusahaan, aku tidak bisa lama-lama disini, mengurusi mu," ucap Gavin.


"Pulang sana sendiri," ucap Day tanpa membuka matanya dan menarik selimut untuk menutupi semua tubuhnya.


"Aromanya sungguh nyaman," Gumam Day.


"Bos, dari tadi bangun,?" tanya Davina.


"Masih pingsan," saut Day.


"Jangan dengarkan dia," ucap Day pada Davina.


"Ayo kita pulang sialan," ucap lagi Gavin.


"Kamu sungguh tidak bisa membuatku bahagia," ucap Day kesal.


Ibu Davina datang menghampiri mereka karena mendengar suara yang ramai di sana.


"Sudah sadar Nak,?" tanya ibu Davina.

__ADS_1


"Sudah Tante," saut Day sopan.


"Wah..wah..wah sangat sopan dan menghormati calon ibu mertua, Sedangkan orang tua sendiri kamu sengat durhaka pada mereka," ucap Gavin membuat Day sungguh sangat kesal, apalagi kepalanya yang masih nyut-nyutan.


"kamu bisa aja Nak," ucap ibu Davina menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan dulu, Davina sudah masak," ucap Davina.


"Kamu bisa masak,?" tanya Day.


"Iya lah," saut Davina cepat.


"Ternyata kamu ada sisi wanitanya juga," saut Day memberikan Davina menatapnya.


"Tidak, lupakan saja ucapanku barusan," lanjut Day.


"Kita jadi obat nyamuk Tante, tapi ayo lah makan, kebetulan lapar sekali, aku ingin makan sepuasnya sebelum pulang," ucap Gavin.


""Sial Gavin, dia sungguh seperti merasa rumah ini rumahnya, tidak tau malu sama sekali mengatakan hal seperti itu," gumam Day.


"Apa kalian sudah mau pulang malam ini,?" tanya Ibu Davina.


"Kalau Gavin sih akan tetap pulang malam ini, tapi entah dengan tuh orang sakit satu," saut Gavin.


"Kamu akan ikut Nak,?" tanya Ibu Davina.

__ADS_1


"Humm, kebetulan masih ada pekerjaan disini, jadi dia akan pulang lebih dulu, kami beda tempat kerja," ucap Day membuat Gavin hanya menatap nya lesu.


__ADS_2