
Day tidak bisa berkata apa-apa lagi, martabatnya sungguh turun jika berhadapan dengan Davina, dia tidak tau harus menjawab apa lagi.
“Peraturan tetap peraturan, bukankah kalian juga diberi waktu istirahat untuk mengisi tenaga, merilekskan otak kalian, aku yang bekerja lebih dari kalian tidak menghamburkan plastik jajan seperti ini,” ucap Day.
“Tapi kenapa ada gelas dan bungkus plastik di meja bapak tadi, bukan kah itu bekas BOS.!” Tanya Davina membuat Day sungguh dibuat kesal.
“Kamu ikut dengan saya.!” Ucap tegas Day tidak punya pilihan lain lagi, selain mengatak hal tersebut.
“Kenapa lagi, saya hanya mengatakan kebenaran pak,” ucap Davina sudah tau jika Day akan mengancam nya lagi.
“Kamu IKUT DENGAN SAYA, SEKARANGG..!” ucap tegas Day langsung melangkah pergi.
Davina langsung mengikuti nya dari belakang, mereka masuk lift, Davina hanya memasang wajah kesalnya, membuang pandangannya ke arah yang lain.
“Hei, mana keberanian mu tadi,?” tanya Day mendekat ke arah Davina, Davina refleks mundur kebelakang namun badannya sudah tidak bisa mundur lagi.
“Kamu mau apa,?” tanya Davina panik.
Day mendekatkan wajahnya membuat Davina ingin melayangkan tangannya namun Day lebih dulu memegang kedua tangannya.
“Lepaskan,” ucap Davina dengan suara yang gemetaran.
“Mana keberanian mu,?” tanya Day lagi, jarak wajah mereka hanya berjarak beberapa cm membuat Davina memejamkan matanya.
“Maaf pak, saya sungguh menyesal, aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi tolong lepaskan saya,” ucap Davina tapi Day hanya tersenyum kecut ke arahnya.
“Apa kamu akan pura-pura lagi berakting seperti ini, aku sudah tau sifatmu,” ucap Day membuat Davina gemetaran.
“Pak, maaf, jangan apa-apakan saya,” ucap Davina.
“Aku harus memberikanmu pelajaran lebih dulu, kamu pasti akan macam-macam lagi padaku jika tidak memberikan pelajaran yang bisa membuat mu bisa lebih bersikap hormat dan sopan terhadapku,” ucap Day.
“Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi, sumpah, saya akan menuruti kemauan Bos, tidak akan membantah lagi, dan akan taat dengan peraturan mu,” ucap Davina namun Day malah lebih semakin mendekat kan wajahnya.
__ADS_1
Hidung nya hanya berjarak 0,5 dari hidung Davina, Davina dengan penuh tenaga ingin memberontak namun tangannya sudah tidak bisa ia gerakkan lagi.
BUKK
Lutut Davina mendarat begitu saja di ************ Day, membuat Day membulatkan matanya, dan duduk lemas di lantai Lift memegang masa depannya.
“Maaf pak, saya tidak sengaja, suer,” ucap Davina panik tidak tau harus berbuat apa-apa lagi.
“Cepat ubah ubah lantainya, jangan sampai liftnya berhenti,” ucap Day dengan suara yang sangat dipaksakan seperti suara sedang membuang air besar.
“Duh, apa yang harus saya perbuat pak, saya tidak sengaja,” ucap Davina sangat panik melihat Day yang sedang kesakitan.
“Kamu sungguh wanita yang keterlaluan,” ucap Day lirih.
“Kenapa kamu selalu bar-bar,?” ucap lagi Day lirih.
“Duh, maaf pak, saya hanya refleks tadi, bapak juga kenapa melakukan hal-hal aneh padaku, aku panik hingga tak sengaja melakukan nya,” ucap Davina membuat Day hanya bisa menahan rasa sakitnya.
Davina menopang Day masuk ke dalam ruangan nya, mereka tidak mungkin terus-menerus didalam lift.
Davina mendudukkan Day di tempat duduknya, Davina buru-buru mengambil Air putih untuk nya.
“Minum lah pak,” ucap Davina sungguh merasa sangat bersalah.
“Kamu keluar sana,” ucap Day masih menahan rasa perih yang sudah menjalar ke perutnya.
“Tapi pak...,” ucapan Davina terhenti oleh Day.
“Sana atau ku pecat,” ucap kesal Day membuat Davina segera berlari keluar.
Setelah kejadian itu, Davina tak lagi ingin bertemu dengan Day, saat dia melihat Day Davina dengan cepat bersembunyi di sembarang tempat untuk menghindari Day.
Day selalu menyadari jika Davina terus bersembunyi jika dia tak sengaja ingin berpas-pasan tapi Day hanya pura-pura tidak tahu saja.
__ADS_1
Kabar yang gembira datang dari sahabat nya Aila, yang akan menikah dengan Adik Day, Davina sungguh merasa senang karena pada akhirnya sahabat nya tidak lagi merasa sendiri untuk menghidupi kedua anaknya.
Saat ini Davina dengan penampilan yang sangat cantik mendampingi Aila bersama Naya Sahabat Aila.
Day yang berdiri jauh disana menyambut tamu, terpenganga oleh kecantikan ketiga gadis yang berjalan beriringan, Matanya terus terarah pada Davina, dia tidak menyangka Davina akan semenawan itu jika menggunakan make up.
“Dia bisa cantik juga, aku pikir dia hanya bisa berperilaku seperti laki-laki,” gumam Day.
Saat hijab kabul selesai, semua keluarga mengucapkan selamat kepada kedua pengantin.
Davina duduk memandang sahabatnya disana bersama orang yang sudah sah menjadi suaminya, serta keluarganya yang sudah berbaris di atas sana bersiap mengambil foto bersama kedua mempelai.
“Kamu bukan siapa-siapa Davina,” gumam Davina duduk menatap mereka. Namun tangan Aila melambai ke arahnya tanda dia di panggil untuk naik ke atas, dia memastikan lebih dulu, menunjuk dirinya dan mendapat anggukan dari mereka, Davina dengan penuh kebahagiaan naik.
__ADS_1