
Gavin duduk dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali, air matanya menetes tanpa ia sadari, hatinya baru saja dibuat sangat sakit.
"Dia bukan Ibuku, Aku tidak punya orang tua, tidak ada orang tua yang membuang anaknya, aku tidak punyaaaaaa...!" teriak Gavin meremas wajahnya kasar, duduk bersimpuh di rerumputan hijau.
"Aku anak yang dibuang, aku tidak punya orang tua, orang tuaku tidak menginginkan aku ada didunia ini, aku tidak punya," ucap Kevin lirih.
Davina berusaha menenangkan Ibunya, sedangkan Pamannya duduk bersandar meneteskan air matanya.
"Ibu tenanglah, belum tentu Kak Gavin adalah anak yang Ibu maksud, dan bukan kah saudara Davina sudah meninggal? Ibu dulu mengatakannya padaku bukan saat melihat foto kami saat bayi," ucap Davina namun Ibunya menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak, anakku masih hidup, tanda lahirnya ada di pinggang sebelah kanan, aku tadi melihatnya, dia anakku. Anakku yang hilang hiks...hiks..." ucap Ibu Davina berusaha berdiri.
"Ibu mau kemana,?" ucap Davina panik.
"Anakku...hiks.. Ibu tidak akan membiarkannya hilang lagi, aku sudah gagal menjadi seorang Ibu, dia pasti sangat sengsara hidup tanpa kasih sayang Ibu, Ibu tidak mau kehilangan anak Ibu lagi, Ibu mau mencarinya, Ibu akan meminta maaf, dia putraku! dia putraku Davina, dia saudara kembarmu," ucap Ibu Davina dengan kesedihan yang sangat mendalam.
"Iya Ibu, tenanglah dulu, Kak Gavin pasti akan kesini lagi, Kak Gavin orang yang baik, Kak Gavin hanya butuh waktu untuk sendiri," ucap Davina berusaha menenangkan Ibunya.
"Paman...!" ucap Davina.
__ADS_1
"Dia Kakak mu, wajahnya sangat mirip dengan Ayahmu Nak, Paman sudah sedikit curiga saat melihatnya, namun paman memendam rasa penasaran Paman," ucap Davit.
Paman Davina bernama Davit sedangkan Ayah Davina bernama Davin. Davit dan Davin juga adalah saudara kembar, namun Davin atau ayah Davina lebih dulu di panggil oleh sang maha kuasa.
"Tapi Saudara Davina sudah meninggal bukan Paman? Ibu dan Paman sendiri yang katakan," ucap Davina.
"Tidak, Kakak mu tidak meninggal, kami hanya menduga jika Kakakmu meninggal, dulu di rumah Ayahmu Kakakmu di culik. namun baju yang dikenakan Kakakmu saat itu sudah dipenuhi darah, tapi tidak ada jasad Kakakmu sama sekali." ucap Pamannya.
"Hah? Rumah Ayah? tanya Davina bingung.
"Ibumu meminta untuk pergi dari sana tidak ingin mengingat kejadian yang menimpa Kakakmu, hingga kami membeli rumah disini, Ayahmu dulu bukan orang biasa Nak, dia adalah Seorang Mafia, tapi setelah menikah dengan Ibumu, Ayahmu memulai hidup baru, hidup bahagia bersama Ibumu, namun kebahagiaan itu menghilang saat Kakakmu di culik." ucap Paman Davina terus terang yang semakin membuat Bu Vivin menangis tersedu-sedu.
"Davin Prasetya,?" tanya Pak Andhra. Paman Davina yang mendengarnya kaget.
"Dari mana Anda tau nama Ayah Davina,?" tanya Paman.
"Tentu saja aku tau, dia dikenal sebagai Panglima dari semua Mafia, dia juga temanku saat SMA, aku bahkan tidak tau tentang kematiannya," ucap Pak Andhra dengan wajah cukup kaget.
"Aku sangat kaget mengetahui dia sudah tidak ada, ditambah dia ternyata adalah ayahmu Nak," ucap Pak Andhra.
__ADS_1
"Sedekat apa Kakakku padamu Pak,?" tanya Davit.
"Kami bahkan serumah, berbagi tawa dan duka bersama, aku dan dia tidak pernah berpisah saat SMA, namun aku harus melanjutkan pendidikan ku diluar negeri hingga kami harus terpisah, ponsel yang satu-satunya kupunya hilang, semua kenangan kami ada didalam ponsel itu, aku tidak lagi bisa menghubungi sejak ponselku hilang, sampai suatu saat aku kembali, berniat ke rumah yang kami sewa saat SMA namun sudah tidak ada dia disana, aku kembali mencarinya ke rumahnya, namun Ibunya mengatakan jika Davin sudah tidak pernah pulang lagi,dan saat aku sudah mulai menjalankan perusahaan, aku tidak sengaja melihatnya, aku tidak tau yang mereka maksud panglima, mereka tidak menyebutkan namanya hanya menyebutkan kata panglima, saat itu aku terus menatapnya memastikan jika dia sahabat ku, namun dirinya tiba-tiba pergi bersama beberapa orang, tapi aku yakin jika itu adalah Davin, entah aku yang bodoh malah melihatnya saja pergi, dan dugaanku benar saat menyuruh bawahanku mencari tau tentang dia, Panglima Mafia yang mereka maksud adalah Davin." cerita panjang lebar Pak Andhra.
"Satu hal yang aku ingat saat berpisah dengannya, aku mengatakan ini dengan jujur, terserah kalian jika tidak mempercayai satu janji yang kami buat, Sebelum aku pergi, malam harinya kami telah buat Janji, jika suatu saat kami mempunyai Anak, kami akan menikahkannya, dan saat itu kami masih tertawa lebar membahas hal itu, aku ingat saat aku bertanya padanya. 'Bagaimana kalau anak kita sama sama cowok semua,?" lalu dia menjawab dengan tawanya 'Aku akan membuatnya lagi sampai dapat perempuan' dan kata-katanya itu diiringi oleh tawa kami berdua, saat Day menikah aku mengingat janji kami, namun aku masih sedikit lega karena masih ada putraku Ayyan yang akan menggantikan kakaknya apabila Davin datang padaku menagih janji kami, Entah ini kebetulan atau tidak tapi aku yakin Tuhan mengabulkan janji kami menyatukan Davina dan Day." ucap Pak Andra dengan air matanya yang ikut menetes.
"Ndra? Yah dia mengatakan hal itu saat di ujung hayatnya, dia mengatakannya dengan kurang jelas, dia mengatakan "Ndra janji" tapi sayang sekali kami tidak mendengar kelanjutannya," ucap Paman.
Seketika air mata Pak Andhra semakin menetes saat mendengar ucapan paman Davina, tidak menyangka Davin benar-benar mencarinya, mengingat janji mereka.
"Ndra adalah nama panggilan dia padaku, dan aku memanggil dia dengan Vin," saut Pak Andhra.
"Papi, Gavin entah kemana," ucap Mami Karla yang baru masuk.
Mami Karla menatap suaminya yang juga menangis, dia menatapnya serius.
"Papi kenapa,?" tanya Mami Karla panik.
"Ayah Davina adalah teman Papi," saut Pak Andhra.
__ADS_1