
Pagi Harinya Aila dan Davina serta Ayyan sudah berangkat ke perusahaan, sedangkan si kembar di jemput lebih awal oleh Naya untuk mengantar Dylan sekolah.
Ayyan lebih dulu mengantar Davina ke perusahaan, setelah itu dia baru langsung menuju ke perusahaan nya bersama Aila.
Davina melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya, dia langsung melakukan tugas yang harusnya ia lakukan, saat sedang fokus ke komputer dia bingung kenapa sangat hening disana, biasanya para karyawan lainnya akan banyak bicara, karena penasaran Davina menoleh ke belakang dan refleks meninju perut laki-laki yang berdiri di belakangnya.
“Ahhgg,” pekik Day memegang perutnya.
Davina membulatkan matanya sempurna, dia sungguh tidak sengaja melakukannya, dia hanya refleks karena kaget tiba-tiba ada seseorang dibelakangnya.
“Pak, maaf pak, sumpah saya tidak sengaja,” ucap Davina panik.
Day menatap kesal Davina seraya memegang perutnya yang masih terasa sakit.
“Sialan, kenapa tinjuannya seperti laki-laki saja,” gumam Day yang tidak tau jika Davina pernah beberapa kali menjuarai bela diri di kotanya
“Apa bapak baik-baik saja,?” tanya Davina sedangkan para karyawan disana juga sangat kaget dengan Davina yang sangat berani meninju CEO, apalagi gaya bicara Davina yang seperti tidak ada rasa takut sama sekali.
“Ke ruangan ku sekarang,” ucap Day tegas dan pergi begitu saja.
Davina sungguh ketakutan, dia tidak tau harus bagaimana sekarang, apalagi dirinya sudah membuat Ceonya kemarin kesal, ditambah pagi ini dia meninju nya dengan amat keras.
“Aku akan membantumu Vina membereskan barangmu, aku sungguh tidak tega tapi yakinlah pasti kamu akan di keluarkan, hanya ini yang bisa kami bantu, kami tidak bisa membantumu melawan CEO,” ucap salah satu karyawan tersebut membuat Davina duduk lemas di kursinya.
“Minumlah dulu, kita baru kenalan kemarin,” ucap lagi salah satu teman kerjanya, membuat Davina langsung meneguk segelas air tersebut.
“Semangat ya,” ucap salah satu dari mereka membuat Davina tanpa berbicara langsung berdiri dengan wajah tanpa rasa takut lagi.
“Jangan sentuh barangku, dia tidak mungkin memecatku,” ucap Davina dengan nada sombongnya.
“Yang penting yakin Davina,” ucap lagi teman kerjanya.
Davina langsung naik ke atas ruangan CEO, langkah kakinya diiringi oleh doa untuk dirinya sendiri, dia hanya bisa bertekad untuk saat ini.
Davina dengan sangat ragu-ragu membuka pintu dan melihat Day yang sudah menatapnya tajam, duduk di atas kursinya.
“Selamat pagi pak,” sapa Davina tersenyum canggung tapi tidak mendapat sautan apa-apa dari Day.
Davina duduk dengan sangat deg-degan, dia tidak berani menatap Day yang terus menatapnya tajam.
__ADS_1
“tolong hamba mu Tuhan,” gumam Davina.
Keheningan terjadi, tidak ada suara di antara mereka, Davina semakin merinding didalam sana ditambah oleh pendingin ruangan yang semakin membuat nya merinding, tekadnya sudah sedikit demi sedikit hancur.
“Kalau begitu saya permisi pak,” ucap Davina tanpa rasa malu sama sekali, Davina langsung berdiri tapi ditahan oleh Day dengan ancaman.
“Jangan coba berani meninggalkan tempat dudukku, jika kamu ingin selamat,” ucap Day dingin.
“Ya Tuhan, dia sungguh menakutkan, kenapa aku baru menyadari,” gumam Davina lagi.
“Hehehe kalau begitu apa ada yang bisa saya bantu,?” tanya Davina cengengesan.
“Ini,” ucap Day memberikan selembar kertas padanya.
Davina membulatkan matanya saat melihat kertas tersebut, itu adalah tagihan dari kafe kemarin, Davina tidak menyangka jika Day menyimpannya.
“Bayar sini,” ucap Day singkat.
“Hehehe, kan masa lalu biarlah berlalu pak, jadi kita harus memikirkan masa yang akan datang,” ucap Davina.
BRAKK
“Kamu saya pecat,” ucap Day tegas.
“He? Pak saya akan menggantinya, tapi kasih saya waktu,” ucap Davina.
“Aku akan tetap memecatmu, kamu sungguh membuatku sangat kesal, kemarin kamu mengerjaiku habis-habisan, pulang sebelum jam kerja, memukul perutku sangat keras, masalah apa lagi yang akan kamu perbuat selanjutnya hah,?” tanya Day membuat Davina menatapnya sendu.
“Pak, kita selesaikan dengan kepala dingin, jika kepala panas maka akan mendapatkan keputusan yang pasti bapak akan menyesalinya, jadi tenang lah pak mumpung ruangan bapak dingin,” ucap Davina membuat Day hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Davina yang sangat menyebalkan baginya.
“Tidak, ini sudah keputusanku,” ucap Day tegas.
“Pak, anak mu sungguh lucu, ternyata bapak punya anak setampan dia ya,” ucap Davina mengalihkan pembicaraan.
“HEI, BERHENTILAH BAHAS HAL LAIN.!” Ucap tegas Day sangat kesal dengan Davina.
“Bentar pak, ada yang menelfon saya,” ucap Davina membuat Day sungguh sangat kesal, dia baru kali ini diperlakukan tidak hormat oleh karyawannya.
“Sini ponselmu, aku tidak suka jika ada orang yang membuatku menunggu,” ucap Day dan langsung merebut ponsel Davina, Day melihat layar ponsel Davina tidak ada telfon masuk sama sekali.
__ADS_1
“Apa kamu ingin menipuku, kenapa kamu benar-benar menjengkelkan,?” ucap Day.
“Pak itu namanya perampasan, dan bisa kena undang-undang, tapi tidak apa kok pak saya tidak sejahat itu, kecuali ada orang yang berani memecat karyawan nya yang tidak berdosa sama sekali, itu baru namanya orang jahat,” ucap Davina membuat Day refleks membanting ponsel Davina.
Davina membulatkan matanya, sedangkan Day kalang kabut, lupa jika benda di tangannya adalah ponsel Davina.
“Hiks...hiks.. ponselku,” ucap Davina menangis seperti anak kecil membuat Day sangat panik.
“Mama, maafkan Davina tidak bisa lagi menghubungi mu, hp ku hancur hiks..hiks.,” ucap Davina yang semakin membuat Day bingung.
“Aku akan menggantinya,” ucap Day.
“Hiks...hiks.. ponselku pemberian ibu ku dari kerja kerasnya, aku sudah gagal merawatnya ibu,” ucap Davina lagi yang semakin membuat Day merasa bersalah.
“Bagaimana kehidupan ku selanjutnya, aku sudah tidak bisa menghubungi orang tuaku untuk meminta uang, dan aku akan di pecat, kalau tau aku tidak mungkin datang kesini saja, hanya kerugian yang aku dapat hiks..hiks..,” ucap Davina.
“Bahkan dia tidak meminta maaf sama sekali, itu hati manusia atau hati iblis ibu hiks..hiks..,” ucap lagi Davina.
“Aku akan menggantinya dan tidak akan memecatmu,” ucap Day membuat Davina langsung menghapus air matanya dan tersenyum manis ke arah Day, Day yang melihatnya membulatkan matanya sangat kaget dengan respon Davina.
“Saya tunggu hp barunya pak, kalau bisa harus ada hari ini ya, saya permisi mau bekerja,” ucap Davina langsung pergi begitu saja, Day duduk mengacak rambut nya sangat prustasi menghadapi Davina.
“Untunglah, dia masih punya rasa kemanusiaan,” gumam Davina sangat senang.
Davina langsung duduk di tempat kerjanya, sedangkan teman kerjanya yang melihat Davina seperti habis menangis mengerumuni nya.
“Aku tidak bagi-bagi sembako,” ucap Davina.
“Apa kamu di pecat, sabar ya,” ucap karyawan tersebut.
“Sana kerja, mana mungkin aku di pecat,” ucap Davina dengan nada sombongnya.
“Benarkah,?” tanya lagi salah satu di antara mereka dan hanya di angguki oleh Davina.
“Kenapa bisa,?” tanyanya lagi.
“Aku kan sangat berprestasi, mana mungkin di keluarkan dengan cara sangat memalukan seperti itu,” ucap Davina lagi.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Davina segera beranjak dari duduknya berniat untuk mengisi perutnya, namun dirinya kembali tak sengaja bertemu dengan bosnya, membuatnya langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah sangat cuek.
__ADS_1
Day yang melihatnya mengerutkan keningnya, sangat tidak mengerti dengan Davina yang tidak menghormati nya sama sekali sebagai atasan.