Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Ancaman


__ADS_3

"Liat saja kalian akan menyesalinya, kalian akan tidur di bawa kolom jembatan," ucapnya ingin melangkah pergi namun di tahan oleh Day yang menarik bajunya.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu, apa tidak sebaliknya,?" tanya Day dengan suara dingin yang sangat menyeramkan.


"Kamu tidak perlu ikut campur sialan, ini semua gara-gara kamu Bangs**," ucap Riyan membuat Day menarik nya keluar rumah dengan wajah yang sudah murkah.


Davina yang melihatnya ikut takut melihat wajah Day yang sangat menyeramkan.


"Mati lah kamu Nak," ucap Gavin santai dan kembali duduk.


"Kak tolong hentikan," ucap Davina sangat panik.


"Aku akan ikut di hajar nya jika aku ikut-ikutan, wajahnya sudah seperti itu aku bahkan tidak berani lagi menyapanya," ucap Gavin membuat Davina langsung berlari keluar.


"Kak Day, hentikan.!" teriak Davina ke arah Day yang mendorong Riyan dengan sangat murkah.


Davina entah mengapa memberanikan diri langsung memeluk Day, sangat terasa badan Day sangat keras seperti batu.


"Kak hentikan hiks..hiks..." ucap Davina memeluk erat dari belakang.


"Aku muak dengan wajahnya, lepaskan, aku ingin membunuhnya," ucap Day dengan suara dingin namun Davina semakin mengeratkan pelukannya, Riyan tidak menyia-nyiakan untuk lari dengan wajah penuh ketakutan di wajahnya.

__ADS_1


"SIALANNNN..!" teriak Day pada Riyan saat melihatnya berlari dengan sangat kencang.


Davina melepaskan pelukannya dan menunduk, sadar jika dia baru saja melakukan hal yang tak terduga.


"Maaf, dan terimakasih atas kehadiran kalian, bisa membuat kami tau sifat asli dari Riyan," ucap Pamannya dan hanya di angguki oleh Day.


"Ibu tidak menyangka, Ibu hampir dibuat mati berdiri dengan sifatnya," ucap Ibu Davina.


"Baiklah Day, kita harus pergi sekarang," ucap Gavin.


"Apa kalian langsung pulang,?" tanya Davina pelan ke arah Gavin.


"Sudah selesai, tapi masih ada satu, dia ingin meminta maaf padamu," ucap Gavin membuat Day kalang kabut.


"Biarkan mereka bicara berdua, aku tau jika dia malu jika ada kita disini," ucap Gavin dan di angguki oleh mereka.


Saat hanya mereka tinggal berdua, Day langsung mengatakan hal yang membuatnya datang ke sini.


"Aku minta maaf," ucap Day tanpa menatap Davina.


"Hah? Kenapa minta maaf,?" tanya Davina.

__ADS_1


"Banyak, terutama telah membuat mu kehilangan pekerjaan karena sikap egois ku, dan juga karena telah datang mengacaukan pernikahan mu," ucap Day.


"Tidak, harusnya aku yang minta maaf telah membuat mu selalu marah, kamu sudah sangat benar memecatku, dan soal pernikahan aku yang harusnya berterima kasih telah datang, jika tidak mungkin aku sudah menikah dengan besok," ucap Davina.


"Bagaimana dengan acaranya,?" tanya Day.


"Entahlah, kami tidak mendekorasi rumah, karena mereka bilang jika akan mengadakannya di rumah mereka," ucap Davina.


"Kembalilah ke sana," ucap Day membuat Davina sedikit terkejut.


"Buat apa, Aku akan mencari pekerjaan disini saja, aku tidak bisa meninggalkan ibuku, apalagi karena kasus barusan," ucap Davina.


"Apa dia seorang penguasa di sin,,?" tanya Day.


"Kedua orangtuanya juragan tanah, dan mempunyai beberapa bisnis, Ibuku mempunyai hutang pada mereka, jika jumlahnya sedikit mungkin aku sudah bisa bayar dengan gajiku beberapa tahun di kafe, tapi jumlahnya bisa digunakan untuk membuat rumah," ucap Davina.


"Lupakan hal itu, tapi kembalilah ke perusahaan, aku tidak akan memecatmu lagi," ucap Day.


"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku," ucap lagi Davina.


Saat mereka mengobrol, tiba-tiba beberapa orang datang bersama Riyan, yah itu adalah kedua orang tuanya dan anak buah Ayahnya.

__ADS_1


Davina yang melihatnya segera maju untuk menghadang nya dengan tangan yang disilangkan didada, tidak gentar sama sekali dengan beberapa anak buah Ayah Riyan tersebut.


__ADS_2