Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Mencari


__ADS_3

Angin menusuk kulit, diiringi oleh air hujan yang sudah turun, Gavin hanya duduk termenung, dirinya seakan mati tak bergerak sedikitpun, hanya menatap kosong kedepan.


Baju yang ia kenakan telah basah kuyup, namun tak hendak pergi dari sana.


"Hei apa yang kamu lakukan disitu,?" ucap perempuan yang datang membawa payung, Gavin tidak menyautinya dan tidak menoleh sedikitpun kearah nya, wanita tersebut berjongkok menatap wajahnya.


"Kamu masih hidupkan,?" tanya wanita itu lagi, Namun Gavin hanya memutar bola matanya menatap perempuan tersebut.


"Kamu masih hidup ternyata, kamu ngapain disini sendirian? apa kamu tau hujan begitu deras seperti ini, kamu cari penyakit saja," ucap lagi perempuan tersebut.


Gavin berdiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Gavin langsung melangkah pergi meninggalkan perempuan tersebut.


"Hei kamu mau kemana,?" teriak perempuan tersebut namun Gavin tidak menghiraukannya.


Ayyan dan Day serta Davina sudah mengelilingi kota, namun tidak menemukan Day, pencarian mereka terhenti karena hujan yang begitu deras.


"Tuh bocah kemana sih," ucap Ayyan memukul setirnya kesal.


"Kak? kita harus bagaimana sekarang, Ibu pasti akan semakin menangis jika kita tidak menemuin Gavin ke Ibu," ucap Davina.

__ADS_1


"Tuh si tengil, bukannya bahagia malah main kabur," ucap Day ikut stres.


"Pasti dia akan gak pulang lagi selama-lamanya, bahkan dulu dia sering buat Mami sama Papi menangis seminggu baru pulang," ucap Ayyan.


"Ayo Kak, kita harus menemukan Kak Gavin," ucap Davina.


"Kenapa sih tengil itu harus jadi Kakak iparku, bahkan aku lebih tua darinya," ucap Day membuat Ayyan menahan tawanya.


"Kamu selalu buat dia kesal dan memakinya, sombong padanya jika akan menikah, apa kamu tau jika harus dia yang akan jadi wali Davina nanti? bagaimana jika dia tidak mau hahaha, ini ancaman bagimu," ucap Ayyan membuat Day baru menyadarinya, dia seketika panik menatap Davina.


"Bagaimana jika dia tidak kembali, Paman Davina boleh jadi wali tapikan Davina punya Kakak, nasib mu mungkin akan sangat buruk," ucap lagi Ayyan yang semakin membuat Day prustasi.


"Bukankah Kak Day selalu memanfaatkan Kak Gavin, Kak Gavin selalu baik menolong Kak Day, kesana kemari membawa kak Day, bahkan sampai rela tidur di luar menunggu," ucap Davina kesal membuat Day tak bisa lagi berkata-kata.


"Jika aku jadi kamu Davina, aku akan membatalkan pernikahan, dia bahkan tidak tau diri," ucap Ayyan memanas-manasi.


"Hei sialan! tutup mulutmu, bagaimana bisa segampang itu membatalkan, Davina jangan dengarkan dia mulutnya bau terasi basi." ucap Day.


"Astaga! malah kelahi, cepat cari Kak Gavin," pinta Davina.

__ADS_1


Ayyan kembali melajukan mobilnya, namun sudah beberapa jam perjalanan mereka tidak bisa menemukan Gavin.


"Mungkin dia ada di sebuah restoran, kafe, hotel atau semacamnya, mana mungkin dia ditepi jalan hujan seperti ini," ucap Ayyan.


"Benar juga," saut Day.


"Apa dia gak angkat sama sekali,?" tanya Ayyan menatap Day.


"Bagaimana bisa di angkat, hpnya gak aktif," ucap Day.


"Itu Kak Gavin, iya itu Kak Gavin," ucap Davina menatap laki-laki yang jalan tanpa arah tujuan.


seketika mata Day dan Ayyan menatap ke arah yang ditunjuk oleh Davina.


"Iya itu dia," ucap Ayyan langsung keluar dari mobil, berlari ke arah laki-laki tersebut, namun langkahnya terhenti saat melihat wanita yang juga mengejar Gavin membawa payung.


"Hei kamu akan sakit," ucap Day berusaha menutupi Davina dengan jasnya.


"KAK GAVINNN...!" teriak Davina namun tidak didengarkan oleh Gavin.

__ADS_1


"Kak siapa wanita itu,?" tanya Davina dan mendapat gelengan kepala dari Ayyan.


__ADS_2