
Day sudah dipindahkan ke ruang inap, Davina dengan wajah penuh kekhawatiran duduk di sampingnya menggenggam tangannya, sedangkan sang paman sudah pulang untuk menjemput Ibu Davina setelah menerima telfon dari Ibu Davina.
Day perlahan membuka matanya, matanya pertama kali menangkap sosok perempuan yang duduk disampingnya, dia menatap Davina yang terlihat sangat jelas wajah kekhawatirannya.
"Sudah sadar kak,?" ucap Davina refleks memeluk Day.
"Ah! sangat nyaman," ucap Day cekikan, Davina langsung sadar yang baru ia lakukan, dia segera melepaskan pelukannya dengan wajah yang sudah merona merah.
Day menatap sekelilingnya, melihat tangannya yang tertancap oleh infus.
"Apa aku dirumah sakit,?" tanya Day dan mendapat anggukan kepala dari Davina.
Day langsung duduk dan melepaskan infusnya, tangannya dengan cepat menarik infus ditangannya membuat Davina membulatkan matanya.
"Kak, apa yang kamu lakukan,?" ucap Davina sangat kaget apa yang baru saja terjadi didepan matanya.
Day tanpa menjawab apa-apa, langsung turun dari tidurnya, menarik tangan Davina untuk pergi dari sana.
"Kak, kamu belum sembuh," ucap Davina.
Day masih merasakan sakit di kepalanya namun dia tidak bisa terlalu lama didalam rumah sakit, dokter yang hendak masuk secara tak sengaja berpapasan dengan Day.
__ADS_1
"Tuan, anda belum pulih, masuklah untuk istirahat, keadaan anda masih kurang stabil," ucap Dokter.
Day tak menyautinya, bahkan tidak menghiraukan nya sama sekali. Day melangkah menarik tangan Davina yang tidak tau harus berbuat apa.
"Kak..!" ucap Davina tegas melepaskan genggaman Day.
"Aku tidak menyukai rumah sakit, aku mau muntah berada disini," ucap Day ketus kembali menarik tangan Davina.
"Pak maaf...! biaya pengobatannya," ucap suster yang sedikit berlari mengejar Day.
Day langsung menuju ke staf rumah sakit ditemani oleh Davina, saat sudah hendak keluar terlihat Ibu dan Paman Davina berjalan tergesa-gesa.
"Nak Day? apa kamu baik-baik saja,?" tanya Ibu Davina dengan wajah sangat khawatir.
"Iya Bu," saut Day.
Gavin mau tidak mau harus melakukan perjalanan jauh lagi menjemput Day, Gavin sudah memohon untuk orang suruhan yang menjemput namun Mami Karla tidak mengizinkannya, Mami Karla tidak mau jika terjadi sesuatu lagi, Mami Karla percaya dengan Gavin yang sangat ahli dalam mengemudi.
Dijalan Gavin tak henti-hentinya menggerutu Ki Day.
"Kenapa kamu yang ingin bahagia mencari istri, malah aku yang sangat kerepotan, sedangkan diriku sendiri tidak pernah kerepotan mencari istri," gerutu Gavin.
__ADS_1
Sudah tengah malam Gavin baru tiba didepan rumah Davina, Gavin dengan badan sangat letih melangkah ke arah pintu dan mengetoknya beberapa kali, namun tak ada yang kunjung membukanya.
Gavin ingin berteriak namun dia masih ingat dengan tetangga Davina, Gavin melihat jam tangannya.
"Sisa 2 jam lagi adzan, aku tunggu saja disini, sungguh menyebalkan," ucap Gavin melangkah ke arah kursi duduk bersandar disana.
Pagi harinya Davina membuka pintu, sudah kebiasaannya menyapu setiap pagi, saat menyapu di teras rumahnya dia sangat kaget melihat Gavin yang duduk tertidur di kursi dengan mulut yang mengaga.
"Kak bangun, tidur didalam," ucap Davina menggoyangkan tubuh Gavin pelan, Gavin perlahan membuka matanya dan melihat bumi yang sudah terang.
Gavin berdiri merenggangkan otot-otot nya yang terasa pegal, dia memegang pinggangnya yang serasa ingin encok.
"Kenapa kak Gavin bisa disini? dan kenapa tidak membangunkan kami,?" tanya Davina sangat kaget melihat Gavin.
"Kalian tidur seperti kebo, mungkin rumah ini di huni oleh kebo," ucap kesal Gavin.
"Masuklah kak, istirahat didalam dulu, Davina akan menyiapkan sarapan," ucap Davina dan di angguki oleh Gavin yang masih di Landa rasa kantuk yang luar biasa.
Gavin langsung membaringkan tubuhnya di sofa panjang milik Davin, tidak butuh waktu lama Gavin langsung tertidur pulas.
"Aku mau nikah" ucap Gavin dengan mata yang masih terpejam, entah dia sengaja mengucapkannya atau sedang mengigau.
__ADS_1