
Davina membulatkan mata nya menunjuk dirinya sendiri dan mendapat anggukan kepala dari Aila serta keluarganya, hanya Day yang Cuma diam saja disana, Davina dengan ragu-ragu naik dan berdiri di ujung.
“Davina berdiri lah di samping Day, nanti badan mu hanya setengah di foto kenangan ini,” ucap Mami Karla membuat Davina membulatkan matanya dan menatap Day yang juga menatapnya sini, mengancam Davina dengan matanya agar Davina menolak.
“Bodoh amat, intinya aku bisa foto,” gumam Davina langsung berdiri di samping Day.
Davina memegang lengan Day ingin membuat Day semakin kesal, Day membulatkan matanya saat Davina sangat lancang melingkar kan tangannya di lengannya.
Day menoleh ke ara Davina sinis, begitu pun dengan Davina yang menatap nya tanpa rasa takut sama sekali.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
“Okey, ganti gaya,” ucap fotografer membuat Day dan Davina kalang kabut, bagaimana mungkin sudah selesai, mereka bahkan belum siap.
Day melepaskan tangan Davina yang melingkar sembarangan di lengannya, Davina dan Day pun dengan bersamaan membuang pandangan mereka, hingga mereka seperti pasangan yang sedang marahan, lagi-lagi mereka membulatkan matanya saat fotografer mengatakan sudah. Mereka bahkan tidak ada persiapan sama sekali sebelum di foto.
Cekrek
Cekrek
“Aku harus siap, aku tidak mau seperti tadi,” gumam Davina.
Mata Davina entah mengapa sangat penasaran melihat ekspresi Day saat di foto membuatnya mencuri pandang ke arah Day, begitupun dengan Day yang sama penasarannya, membuat mereka sama sama curi pandang.
Cekrek
Cekrek
“Selamat ya,” ucap Day lebih dulu, sudah sangat kesal berdiri di samping Davina.
“Nih kado,” ucap Day dengan ****** di tangannya menyalim Ayyan.
Ayyan sangat panik saat melihat sesuatu yang sudah ia pegangnya, dengan segera ia memasukkan kedalam sakunya dengan wajah panik, Day hanya tertawa kecil dan melangkah pergi.
Davina duduk memakan semua makanan yang didepannya, dia sungguh sangat kesal dengan Day, dia berfikiran fotonya sama sekali tidak bagus karena ulah dari Day.
“Ahhg kenapa aku bisa ada disepakatinya sih, si tukang foto juga kenapa menyuruh pasang-pasangan,” gumam Davina.
“Pulanglah jika hanya menghabiskan makanan disini,” ucap Day menyindir saat lewat di samping nya.
__ADS_1
Davina menatapnya sangat kesal ia ingin sekali melempar rendang yang ada di piring nya ke wajah Day.
“Aku sudah selalu menghindar padanya saat bertemu, kenapa bisa seperti ini,” gumam Davina lagi.
“Aunty, lagi makan apa,?” tanya Dylan membuat pandangan Davina teralihkan ke bocah tampan yang ada di sampingnya.
“Makan rendang ganteng, Dylan juga mau,?” tanya Davina dan dengan semangat Dylan mengangguk.
Davina menggendong Dylan, Mereka makan hanya menggunakan satu piring, Dylan tidak mau mengambil piring lain, dia ingin makan bersama Davina.
Day yang melihat nya merasa aneh dengan perasaan nya, dia melihat Davina begitu tulus menyuapi putranya, dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya.
“Kenapa dia begitu baik pada anakku,” gumam Day.
“Hei Duda, jagalah matamu,” ucap Gavin cekikikan membuat Day menatapnya kesal.
“Jomblo karatan gak guna, kamu kenapa selalu membuat ku kesal, sana lah sambut tamu sama Papi,” ucap kesal Day.
“Lah trus, kamu disini mau liatin teman Nona trus,?” tanya Gavin membuat Day langsung pergi begitu saja.
“Duda lagi jatuh hati,” ucap pelan Gavin menggelengkan kepalanya.
Saat selesai acara Davina pulang bersama Naya, sedangkan Day lebih dulu pulang membawa putranya agar tidak membuat masalah nantinya jika Aila dan Ayyan menginap di hotel.
“Naya, apa aku boleh tanya,?” ucap Davina membuat Naya langsung menatapnya dan menganggukan kepalanya.
“Memangnya apaan sih, kaya serius banget, cerita aja,” ucap Naya.
“Aku bukan cerita tapi nanya ke kamu Naya,” ucap Davina.
“Silahkan,” ucap Naya.
“Bos aku tuh orangnya kek mana sih, kenapa dia selalu membuat ku kesal,?” tanya Davina membuat Naya menatapnya bingung.
“Day,?” tanya Naya dan di angguki oleh Davina.
“Orangnya ya biasa-biasa aja, kalau bercanda gak tau tempat, apalagi kalau sudah sama Kak Gavin, mereka pasti seperti anak kecil,” ucap Naya.
“Tapi kenapa jika dia di perusahaan, dia seperti harimau kelaparan, selalu ingin mencari masalah denganku dan menyuruhku yang tidak-tidak, mencari-cari kesalahan ku,?” tanya Davina lagi.
“Mungkin dia suka sama kamu,” saut Naya dengan santainya membuat Davina membulatkan matanya.
“Naya aku serius,” rengek Davina.
__ADS_1
“Aku juga serius,” saut Naya membuat Davina menyenderkan kepalanya di kursi.
“Memangnya kamu sama Day kenapa sih, kaya kucing dan tikus aja,?” tanya Naya penasaran.
“Sebenarnya pas awal itu aku tidak tau jika dia adalah CEO, aku memakinya terus menerus didalam ruangannya dan dia juga hanya ngangguk-ngangguk saja saat aku memakinya, dia tidak bilang jika CEO nya adalah dia, sampai-sampai aku hampir di pecat sebelum bekerja, malahan aku rela melukai tanganku agar aku tidak di pecat,” ucap Davina membuat Naya tertawa berbahak-bahak.
“Hahahhaa benarkah, kamu sungguh sangat ceroboh, kamu memakinya seperti apa, aku sungguh ingin mendengarnya,?” ucap Naya.
“Aku mengatainya, jelek, tua, gak tepat waktu, CEO gak tau diri, ahhgg semuanya,” ucap Davina membuat Naya kembali tertawa berbahak-bahak.
“Aduh perutku sakit ketawa, kamu sungguh keterlaluan hahahahahahha,” ucap Naya disela tawanya.
“Namanya tidak tau, karena dia hampir menabrak ku pas hari pertama aku disini,dan aku mengira jika dia juga sedang menunggu CEO, aku tanya apa kamu karyawan seperti ku juga menunggu CEO dan dia dengan santainya mengangguk, yang lebih malu nya aku menggodanya beberapa kali hiks..hiks,” ucap Davina membuat Naya tak henti-hentinya tertawa.
“Berikan lah aku solusi agar dia tidak membenci ku lagi,” ucap Davina.
“Bagaimana ya, tapi aku sama kak Day tidak terlalu akrab, aku akrabnya sama Dylan doang,” ucap Naya.
“Apa tidak ada lagi yang kamu lakukan padanya selain itu,?” tanya Naya.
“Banyak sekali,” ucap Davina membuat Naya auntusias menatapnya ingin mendengarkan semuanya.
“Plisss.. ceritakan,” ucap Naya.
“Tidak mau,” saut Davina.
“Ayolah, berbagi itu indah,” ucap Naya.
“Aku sudah mengerjainya, aku sudah meninju perut nya dengan keras, aku sudah menendang masa depannya, aku sudah menyuruhnya ganti rugi ponselku,” ucap Davina membuat Naya membulatkan matanya, tidak menyangka dengan Davina yang begitu kuat.
“Mengerjai seperti apa,?” tanya Naya.
“Aku sangat kesal padanya hingga lupa jika dia bosku, aku menyuruhnya makan sebanyak mungkin dan menyuruh semua orang di restoran makan bahkan semua pelayan, dan aku pura-pura ke kamar mandi padahal aku ke kasir untuk bicara pada mereka jika Day yang akan membayarnya, aku langsung pergi bersama Aila saat itu, dan apa kamu tau totalnya, semuanya ada lebih 10 juta,” ucap Davina membuat Naya kembali tertawa.
“Naya berhenti lah tertawa, berikan aku solusi untuk jalur perdamaian dengannya,” ucap Davina.
“Maaf Davina aku tidak sebar-bar dirimu, aku hanya bisa ketawa mendengar semua ceritamu,” ucap Naya membuat Davina hanya menatapnya lemas, ceritanya semuanya seperti sia-sia.
“Tapi aku yakin Davina, Kak Day itu hatinya bisa meleleh lagi dari sekian tahun membeku,” ucap Naya membuat Davina menatapnya serius.
“Emang hatinya beku,?” tanya Davina dengan bodohnya.
“Hahaha kamu sungguh polos, begini kak Day itu kan Duda, dia ditinggalkan oleh istrinya yang matre karena perusahaan Azura hampir bangkrut, dan lebih parahnya mantan istrinya itu meninggal kan Dylan yang masih berumur beberapa hari, Day dan Ayyan saat itu dibuat begitu emosi, Mami dan Papi juga sangat sedih, tapi anehnya Ayyan yang lebih beku dari pada Day yang di tinggalkan, dia sangat menyayangi ponakannya Dylan, tapi aku bersyukur sekarang kak Ayyan sudah berubah, dia tidak lagi menunjukkan sikap dinginnya pada kami,” ucap Naya.
__ADS_1
“Dan aku prediksi kamu yang akan melelehkan hatinya,” ucap Naya membuat Davina menatapnya kesal.
“Tidak mau, bagaimana bisa bahkan dia sendiri sangat membenciku begitupun denganku, bahkan dia sudah ku anggap sebagai musuh pertamaku,” ucap Davina membuat Naya hanya bisa menggelengkan kepalanya.