
Gavin tanpa rasa malu sama sekali menarik Davina untuk ikut duduk disana, Day langsung menarik tubuh Davina untuk mendekat ke tempat duduknya.
"Apa yang kamu lakukan,?" tanya laki-laki tersebut terlihat sangat marah.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu, apa kamu mau jadi perebut pacar orang,?" tanya Day membuat Davina membulatkan matanya menatap Day.
"Jangan membantah, jika kamu ingin selamat," bisik Day.
"Aku calon suaminya, dan kami sebentar lagi menikah, apa Davina yang tadi kalian cari,?" tanya nya dan di angguki olehnya dengan santai.
"Jangan berfikir akan menikah dengannya, sebelumnya kami sudah merencanakan akan menikah," ucap Day menatapnya sinis.
"Apa yang kamu lakukan,?" bisik Davina.
"Diam atau aku beritahu semuanya, jika kamu punya hutang besar padaku," bisik Day membuat Davina sungguh sangat kesal.
"Davina kamu sudah berfikiran jauh, benar saja jika dia memang belum melupakan hutang," gumam Davina.
"Ada apa ini ribut-ribut, dan kamu siapa,?" tanya Ibu Davina yang baru datang.
"Hai Tante, nama saya Day pacar Davina," ucap Day membuat wanita tua tersebut kaget bukan main.
"Davina,!" ucap ibunya tegas dengan mata tajam menyuruhnya agar menjauh duduk dari sana.
"Benar Bu, Davina tidak ingin menikah dengannya, Davina tidak mungkin meninggalkannya, kami sudah sangat lama menjalin hubungan," ucap Davina membuat Day hanya menahan tawanya.
"Maafkan aku ibu, Davina tidak bermaksud untuk berbohong, tapi ini jalan satu-satunya," gumam Davina.
"Ingat lah Davina kita punya banyak hutang pada keluarga Riyan, dan hari pernikahan mu sudah menghitung jarum jam saja," ucap Ibunya membuat Davina menunduk.
__ADS_1
"Kamu dengarkan Laki-laki gak tau diri,?" ucap Riyan dengan wajah sombongnya.
"Besok hari pernikahannya bukan?" tanya Day dan di angguki oleh mereka.
"Aku akan menggantikan dia," ucap Day membuat mereka kembali terkejut, begitu pula dengan Davina yang bahkan lebih sangat kaget.
Gavin bosan menunggu di mobil, ia memilih untuk ikut masuk melihat sandiwara Day nantinya.
"*Aku mendingan ikut masuk saja, siapa tau aku melihat pertunjukan yang bagus, dan di tawari kopi, mungkin saja si duda sialan itu lagi enak-enak minum kopi" gumam Gavin tanpa banyak pikir langsung mengetuk pintu.
"Masuk*," ucap seseorang membuat Gavin langsung membukanya, Gavin melihat wajah tegang mereka, tapi Gavin yang tidak tau apa-apa langsung meminta izin untuk ikut duduk.
"Hai bro, ternyata kamu ke rumah Davina," ucap Gavin dengan santainya.
"Gavin diamlah," ucap tegas Day.
"Jadi aku katakan lagi, aku akan menggantinya menjadi suami Davina," ucap Day membuat Gavin membulatkan matanya menatap Day.
"Maaf, benar yang dikatakan Nak Riyan, kami sudah membagi undangan, jadi anda tidak ada hak untuk menghentikan atau menggantikan posisi nya," ucap Ibu Davina.
"Tante tidak perlu khawatir dengan hutang, saya yang akan menanggungnya, jangan terpengaruh oleh ancaman keluarganya," ucap Day.
"HEI KAMU..! AKU BAKAL MEMBUNUHMU JIKA IKUT CAMPUR.!" ucap Riyan dengan nada penuh emosi.
"Bro santai saja, bukan kah kita pernah bertemu sebelumnya,?" ucap Gavin membuat mata Riyan menatapnya.
"Davina apa kamu ingat saat aku datang kekota ini?" tanya Gavin dan hanya di angguki oleh Davina yang sangat tegang.
"Aku bahkan pernah melihatmu disuatu tempat," ucap Gavin menatap sinis ke arahnya membuat Riyan sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Santai saja, aku tidak bakal memberitahu siapa-siapa dimana aku melihatmu, aku hanya akan mengatakan jika kamu disana bermesraan dengan banyak wanita," ucap Gavin membuat mereka sangat kaget, sedangkan Riyan sudah sangat keringat dingin mendengar ucapan Gavin.
"KAMU JANGAN SEENAKNYA BICARA YA..!" ucap Riyan lantang.
"Mungkin aku masih menyimpan fotoku disini, karena aku ingin mengundang seseorang namun orangnya dulu mendapat orang yang ia cari, dan juga sangat kebetulan ada kamu disini di kelilingi wanita bohai," ucap Gavin membuat Riyan langsung mengambil gelasnya dan melempar ke arah Gavin.
Davina dan ibunya sungguh terkejut melihat sikap Riyan, mereka tau jika Riyan sangat ramah dan sopan, di mata mereka Riyan adalah orang yang sangat baik.
Sangat beruntung Gavin bisa menghindari nya dan melayangkan tendangan ke arahnya, dan kebetulan paman Davina datang dan menghentikan mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini, pulanglah jika ingin berkelahi," ucap Pamannya tegas.
Davina gemetaran melihat hal tersebut, Day hanya tersenyum dan menggenggam tangan nya.
"Apa yang terjadi,?" tanya pamannya.
"Hanya preman simpang saja sok belagu lu, aku belum selesai melihatkan fotonya," ucap Gavin membuat Riyan kembali ingin menerjang nya namun Gavin dengan cepat menghindar.
"RIYANNN...HENTIKAN.." ucap paman Davina dengan sakura tinggi.
"Maaf Riyan, setelah melihat sifat kamu sebenarnya, ibu jadi bimbang memberikannya masa depan anak ibu padamu," ucap ibu Davina membuat Riyan sangat emosi.
"HEI WANITA TUA.. JAGA MULUTMU.." teriak Riyan menunjuk ke arah Ibu Davina.
"Sialan, aku akan membunuhmu jika aku masih mengatai ibuku," ucap Davina tegas berdiri dari tempat duduknya.
"Dia sungguh laki-laki," gumam Gavin.
"Kamu juga sama, kamu wanita murahan, gak tau di untung," ucap Riyan membuat amarah Davina melonjak naik, namun Day lebih dulu lompat ke arahnya dan memberikannya pelajaran.
__ADS_1
Day ditarik oleh Gavin dan Paman Davina yang memukul membabi buta.
"HENTIKAN..! KAMU PERGI DAN JANGAN BERHARAP LAGI, AKU BAHKAN TIDAK AKAN SUDI JIKA KAMU MENIKAH DENGAN KEPONAKANKU," ucap Paman Davina dengan penuh Amara.