
Hari telah hari telah berlalu begitu saja, Gavin sudah sangat tidak terurus, dirinya sudah seperti mayat hidup, makan jika memang sufah sangat lapar, minum jika memang sudah sangat haus. Sedangkan Bu Vivin tak hendak keluar kamar menangis setiap hari, rasa bersalahnya kian memuncak.
Davina masuk kedalam kamar Ibunya membawa senampan nasi dan air putih, Davina perlahan duduk menatap ibunya sendu.
"Ibu makan ya, nanti ibu bisa sakit jika seperti ini trus," ucap Davina pelan namun ibunya hanya diam menatap kosong kedepan tangannya memegang foto bayi kembar.
"Kak Gavin hanya pergi sebentar menenangkan hatinya Bu, yakinlah Kak Gavin akan datang kemari lagi jika sudah saatnya, dan apa ibu mau jika nantinya Ibu sakit baru Kak Gavin datang, pasti kak Gavin akan sangat sedih," ucap Davina membuat Ibunya meneteskan air mata nya.
"Ibu gagal menjadi seorang Ibu yang baik, bagaimana pun Ibu yang salah, pasti putraku sangat sengsara hidup tanpa kasih sayang Ibu, Ibu yang bodoh, Ibu yang salah Davina hikss.
." ucap Ibu Davina dengan suara putus asa.
"Tidak ada yang salah Bu, Orang yang menculik Kak Gavin yang salah, Ibu tidak pernah mau jika Kak Gavin diculik bukan? ibu juga sangat menyayangi kak Gavin kan? maka dari itu Bu makanlah sedikit saja, Davina berjanji akan membawa Kak Gavin pulang jika dia tidak hendak pulang, Davina berjanji Bu, makan ya!" ucap Davina dan hanya di angguk kecil oleh sang Ibu.
Mami Karla menatap Ayyan dengan sangat kesal, bagaimana pun Mami Karla akan menyalahkan putranya yang membiarkan Gavin pergi begitu saja, Ayyan sudah menceritakan pada Istrinya tentang semuanya dan Aila tidak bisa membohongi Mami Karla saat ditanya.
"Pergi cari jangan pernah pulang Sampai Gavin belum ketemu, Aila dan anak anak akan ikut Mami, jangan pernah perlihatkan wajahmu sebelum menemukan Gavin," ucap Mami Karla.
"Anak Mami sebentar siapa sih," ucap Ayyan duduk lemas.
"Kalian semua anak Mami, Mami tidak mau jika kehilangan salah satu dari kalian, dan ingat kalian saudara jadi harus mencari satu sama lain jika sesuatu seperti ini terjadi," ucap Mami Karla tegas.
__ADS_1
"Ajak Day ikut bersamamu, Katakan apa yang Mami Katakan, jangan pernah pulang sampai Anak Mami ketemu," ucap Mami Karla.
"Tunggu apa lagi, sana pergi!" ucap lagi Mami Karla membuat Ayyan Bangka dari tempat duduknya.
"Biarkan Ayyan ketemu dengan istriku dulu," ucap Ayyan dan mendapat anggukan dari Maminya.
Ayyan dengan langkah cepat ke kamar hotelnya , dia membuka dan melihat Istrinya yang sedang duduk menemani anak-anaknya bermain."Sayang," ucap Ayyan langsung duduk di samping Aila, bersender di bahu istrinya dengan sangat manja.
"Apa yang Mami Katakan,?" tanya Aila.
"Dia menyuruhku mencari Gavin, dan gak bakal bisa pulang sampai bocah satu itu ketemu," ucap Ayyan dengan suara manjanya.
"Dylan, pergi ke kamar Nenek, Nenek mencari kalian, katanya mau main," ucap Ayyan membuat Dylan menatap kedua adik kembarnya.
"Ayo kak," ucap Zean auntusias.
"Oke," saut Dylan menggandeng tangan Dean dan Zan pergi keluar, saat sudah pergi, Ayyan langsung menggendong istrinya.
"Hei! apa yang kamu lakukan? sana pergi,!" ucap Aila.
"Istri macam apa yang membuat suaminya sengsara, mengusir suaminya, aku akan menghukum kamu lebih dulu, aku pasti akan lama mencari di tengil satu itu," ucap Ayyan.
__ADS_1
"Mas, aku capek," rengek Aila.
Ayyan menatap Aila, menurunkan Aila dari gendongannya, Ayyan langsung memutar badannya ingin pergi.
"Apa kamu marah,?" tanya Aila.
"Tidak, aku akan mencari wanita buat lampiaskan nafsuku, istriku menolak berarti jangan salahkan diriku mencari pelampiasan," ucap Ayyan membuat Aila sangat kaget.
"Tidak mau hiks.." ucap Aila langsung memeluk suaminya dari belakang.
"Kamu kenapa, singkirkan tanganmu, aku mau pergi," ucap Ayyan namun Aila malah memeluknya erat.
"Ayo," rengek Aila.
"Kamu sedang capek," saut Ayyan sok jual mahal.
"Aku akan melayani mu kapanpun tapi jangan macam-macam diluar sana," ucap Aila.
"Kapanpun aku mau,?" tanya Ayyan.
"Iyaaaa" saut Aila membuat Ayyan tersenyum manis.
__ADS_1