
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Davina segera beranjak dari duduknya berniat untuk mengisi perutnya, namun dirinya kembali tak sengaja bertemu dengan bosnya, membuatnya langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah sangat cuek.
Day yang melihatnya mengerutkan keningnya, sangat tidak mengerti dengan Davina yang tidak menghormati nya sama sekali sebagai atasan.
“Kenapa kamu berdiri disini, cepatlah, saya mau lewat,” ucap Day dengan suara ketus.
“Bukan kah anda bos, jadi saya menghormati anda, cepatlah berjalan keluar saya mau makan,” ucap Davina membuat Day sungguh dibuat geram.
“Apa seperti itu cara menghormati mu,?” tanya Day.
“Trus saya harus bagaimana lagi, apa perlu saya hormat pada anda seperti menghormati bendera pada saat upacara,?” tanya Davina membuat Day dengan sangat kesal langsung pergi begitu saja.
Saat melihat Day keluar, Davina dengan segera berlari keluar, dia sungguh sudah sangat lapar. Davina duduk di tempat yang sering ia tempati, dia memesan langsung memesan makanan, seraya menunggu dia ingin mengambil ponselnya namun dirinya lupa jika ponselnya sudah hancur dibanting oleh Bosnya.
“Ahhgg, dia sungguh keterlaluan, bagaimana sekarang aku menghubungi orang jika aku tidak punya ponsel, jika saja dia disini aku akan mencakar-cakar wajahnya yang pernah membuat ku terpesona, tapi mana mungkin lagi aku terpesona pada duda kurang ajar itu,” ucap Davina sungguh geram.
“Cepatlah lakukan bawahanku,” ucap Day yang sedari tadi mendengar semua ocehan Davina, Davian sangat kaget membuat tangannya ingin kembali meninjunya namun Day sudah tau hingga dia dengan mudah menangkisnya.
“Kenapa Bos selalu menggangguku, tidak kah kau puas membuatku sangat kesal,” ucap Davina sangat kesal.
“Kenapa kamu yang kesal, bukankah harusnya aku yang kesal, bawahan macam apa yang berani membicarakan CEO nya dari belakang,” ucap Day tak kalah kesal.
“Makanya ganti hp ku, aku seperti manusia hidup di jaman purba tanpa hp,” ucap Davina.
“Hei, hp mu itu belum cukup untuk menggantikan uang 10 juta yang habis kemarin,” ucap Day.
“Bagaimana bapak bicara seperti itu, bapak juga makan dan adik ipar bos juga makan, jadi apa salahnya mengikhlaskan, aku tidak mau tau kamu harus menggantinya, dan kamu juga udah katakan tadi jika ingin menggantinya bukan,?” Ucap Davina kesal.
“Tunggulah disini,” ucap Day langsung menelfon seseorang, Day dengan kesal langsung duduk didepan Davina.
“Kenapa kamu ikut duduk disini, aku tidak mengizinkanmu,” ucap Davina.
“HEI BOCAHH..! Sadarlah posisimu,” ucap Day sangat kesal.
__ADS_1
“Kamu saja yang bocah,” ucap Davina ketus.
“Kalau saja kamu bukan cewek, aku sudah injak injak disini,” ucap Day.
“Emangnya kenapa kalau aku cewek, kamu takut? Huh aku bahkan bisa merontokkan semua gigimu,” ucap Davina dengan nada sombongnya.
“Coba lah jika kamu berani,” ucap Day.
“Bagaimana aku Bernai jika kamu pasti akan mengancam memecatku, itu laki atau cewek beraninya ngancam perempuan,” ucap Davina.
“Oke, aku pergi disini, aku sungguh dibuat darah tinggi olehmu,” ucap Day kesal melangkah pergi untuk pindah duduk.
Saat Makan Davina kaget dengan orang yang datang padanya membawa barang.
“Ini apaan, dan kamu siapa,” tanya Davina.
“Ini ponsel yang dibelikan oleh tuan, sebagai ganti rugi ponsel anda nona, kalau begitu saya permisi,” ucapnya membuat Davina mengangguk dengan senyuman sumringah.
Davina dengan sangat senang membuka kotak hpnya, matanya membulat melihat merek ponsel terkenal yang dibelikan oleh bosnya sebagai ganti rugi.
“ahhg, ini sungguh impian, hp ku yang lama mungkin harus 10 untuk bisa menyamakan harga 1 hp ini,” ucap Davina sungguh sangat senang, dia tidak sadar jika Day masih disana memperhatikannya.
“Sialan, aku bahkan lupa jika dia masih ada disini, kenapa kamu sungguh bodoh Davina hiks..hiks..hiks., aku malu,” gumam Davina mencuri pandang ke arah Day yang terlihat menahan tawanya.
“Nah kan, dia tertawa, kenapa aku sangat malu hiks..hiks..,” gumam Davina lagi.
Davina dengan wajah merona merah malu langsung beranjak dari tempat duduknya untuk membayar pesanan nya.
“Berapa mbak,?” tanya Davina.
“200 ribu Nona,” ucap pelayan tersebut membuat Davina membulatkan matanya.
“Kenapa bisa mahal seperti itu, saya hanya memesan makan dan minum, apa harga di nota salah,?” tanya Davina.
__ADS_1
“Tadi ada Tuan Day yang bilang jika anda yang membayar makanannya,” ucap pelayan tersebut membuat Davina menoleh ke arah Day, tapi Davina di kagetkan karena Day sudah tidak ada disana, Day begitu cepat menghilang.
Davina dengan terpaksa harus membayar semuanya, dia menghembuskan nafasnya kasar, berusaha untuk bersabar, Bagaimana juga dia sudah di belikan hp yang malah olehnya.
Davina membanting tas nya kesal di meja, dia menatap tajam ke arah semua karyawan yang menatap nya bingung.
“Apa..! Aku tidak kontes jangan lihat aku seperti itu, kenapa kalian semua sungguh menyebalkan seperti bos kalian yang tak tau diri,” ucap Davina sungguh sangat kesal.
Day di ruangannya tersenyum-senyum sendiri merasa menang dari Davina, dia tidak sadar jika dirinya lah yang lebih banyak rugi daripada Davina.
“Bagaimana ekspresi dia saat ini, pasti dia sedang kesal hahahaha,” ucap Day tertawa sendiri membayang wajah Davina yang kesal.
Day yang bosan memilih ke ruangan Davina berada ingin mengetahui reaksi Davina saat melihatnya.
Saat dia masuk dia melihat Davina fokus ke arah komputernya, dengan jajan serta kopi yang ada di mejanya.
“Apa peraturan disini boleh memakan jajan dan kopi sambil bekerja, menghambur nya kemana-mana,?” ucap Day sedikit berteriak membuat semua karyawan dengan panik membuang plastiknya di tempat sampah, berbeda dengan Davina yang malah berdiri dengan tangan disilangkan didada menatap kesal ke arah Day, semua karyawan menatapnya takjub dan bingung.
“Kenapa, harusnya mengerti juga pada karyawanmu yang bekerja, apa kamu tidak tau rasanya duduk disini tanpa jajan pengisi perut, kami juga membuang sampahnya jika sudah selesai,” ucap Davina menatap kesal ke arah Day.
Day tidak bisa berkata apa-apa lagi, martabatnya sungguh turun jika berhadapan dengan Davina, dia tidak tau harus menjawab apa lagi.
“Peraturan tetap peraturan, bukankah kalian juga diberi waktu istirahat untuk mengisi tenaga, merilekskan otak kalian, aku yang bekerja lebih dari kalian tidak menghamburkan plastik jajan seperti ini,” ucap Day.
“Tapi kenapa ada gelas dan bungkus plastik di meja bapak tadi, bukan kah itu bekas BOS.!” Tanya Davina membuat Day sungguh dibuat kesal.
“Kamu ikut dengan saya.!” Ucap tegas Day tidak punya pilihan lain lagi, selain mengatak hal tersebut.
“Kenapa lagi, saya hanya mengatakan kebenaran pak,” ucap Davina sudah tau jika Day akan mengancam nya lagi.
“Kamu IKUT DENGAN SAYA, SEKARANGG..!” ucap tegas Day langsung melangkah pergi.
Davina langsung mengikuti nya dari belakang, mereka masuk lift, Davina hanya memasang wajah kesalnya, membuang pandangannya ke arah yang lain.
“Hei, mana keberanian mu tadi,?” tanya Day mendekat ke arah Davina, Davina refleks mundur kebelakang namun badannya sudah tidak bisa mundur lagi.
__ADS_1
“Kamu mau apa,?” tanya Davina panik.
Day mendekatkan wajahnya membuat Davina ingin melayangkan tangannya namun Day lebih dulu memegang kedua tangannya.