Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
kesana atau tidak


__ADS_3

dua hari telah berlalu semenjak Day mengetahui jika Davina akan menikah, hidupnya benar-benar tidak berwarna, dia seperti dinyatakan hidup karena dia masih bernafas dan bergerak, dia bahkan sangat jarang bicara.


Mami Karla yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sudah menduga Davina adalah wanita yang akan menarik hati putranya lagi yang sudah jatuh ke dalam jurang kegelapan, Mami Karla sudah mengetahui wanita seperti apa yang akan membuat Day bisa menata kembali hidupnya, namun Day hanya menyia-nyiakan saja kebaikannya.


Day duduk di sofa menonton film yang sangat dia benci, Mami Karla yang melihatnya hanya bisa merasa kaget, karena jika dia menonton sinetron tersebut pasti Day akan ngoceh dan langsung pergi, tapi sekarang Day terus menatap tv tersebut tanpa berkedip, entah dia menonton atau tidur dengan mata terbuka.


"Sudah pasti, laki-laki yang akan kena azab, tidak ada perempuan yang kena azab, tv saja sudah mengungkit nya, dapat disimpulkan jika laki-laki gak pernah benar, perempuan yang benar." ucap Day dengan suara yang terdengar penuh keputus-asaan.


"Apa kamu menyinggung dirimu,?" tanya Mami Karla.


"Tidak, lebih tepatnya aku dan semua laki-laki, bahkan Ayyan harus di tampar sampai bonyok dulu, itu namanya azab, aku di tinggal istriku, itu namanya azab, Gavin gak nikah-nikah itu namanya azab, sudahlah semua penuh dengan azab," ucap Day membuat Mami Karla merinding seketika.


"Nak? apa kamu masih sehat,?" tanya Mami Karla.


"Tidak, aku hanya kepikiran oleh film itu, bahkan jalan ceritanya gak ada bedanya sama sekali dari yang kemarin, aku hanya menunggu pemeran utama perempuan nya yang kena azab, maka dari itu aku duduk disini ingin memastikan jika perempuan itu bisa bersalah juga," ucap Day membuat Mami Karla semakin merinding melihat Day.


"Ayah, Oma tidak punya suami jadi itu juga azab, jadi ayah tidak perlu menunggu lagi, udah ada Oma," ucap Dylan yang ternyata sedari tadi disana duduk memakan jajan, dia sangat bosan tanpa si kembar.


"Wahahahahaha, Nenek akan beritahu ke Oma," ucap Mami Karla tertawa berbahak-bahak.


"Pergilah belajar sana, anak kecil tidak boleh nonton sinetron tidak masuk akal ini," ucap Day


"Dylan sudah semester, dan sudah libur, hanya tinggal nunggu hadiah dari Ayah," ucap Dylan tersenyum manis ke arahnya.


"Wah benarkah ayahmu mau memberikanmu hadiah,?" tanya Mami Karla dan di angguki oleh Dylan dengan auntusias.


"Apa kadonya belum,?" tanya Mami Karla dan mendapat gelengan kepala.


"Apa Dylan mau tau hadiah yang akan di berikan ayahmu,?" tanya Mami Karla dan dengan senang Dylan mengangguk, langsung berlari ke arah Mami Karla saat melihat kode tangan Neneknya, untuk mendekat.


"Hadiah apa Nenek? kenapa Nenek tau,?" tanya Dylan.


"Tentu saja Nenek tau, hadiahnya sungguh sangat istimewa," ucap Mami Karla dan mendapat tatapan dari kedua pasangan ayah dan anak tersebut.

__ADS_1


"Hadiahnya adalah Ibu baru," ucap Mami Karla membuat Day membulatkan matanya, sedangkan Dylan langsung lompat-lompat kesenangan.


"Benarkah Nenek,?" tanya Dylan dan di angguki oleh Mami Karla sedangkan Day tidak tau harus mau bicara apa.


"Tapi Dylan tidak mau," ucap Dylan langsung berubah seketika.


"Loh kenapa,?" tanya Mami Karla bingung.


"Itu mama barunya jahat, nanti jahat sama Dylan, disuruh bersihkan rumah sama cuci baju setiap hari," ucap Dylan menunjuk Tv.


"Mama barunya kan Aunty Davina jadi baik kok," ucap Mami Karla yang semakin membuat Day membulatkan matanya, dia sungguh tidak bisa berkata-kata lagi, lidahnya kaku seketika.


"Yey, Nenek, Aunty Davina jadi Ibu baru ku kan? Ayah kapan Aunty jadi ibu baruku, Dylan mau tidur, belajar, main sama Aunty Davina," ucap Dylan sangat senang.


Mami Karla mengatakan hal tersebut agar putranya bisa menyadari apa yang ia rasakan, bisa sedikit membantu nya untuk memperjuangkan Davina, Mami Karla tau jika putranya senang tidak mungkin dia akan membuatnya sedih, tapi ini sangat beresiko untuk Dylan jika gagal, pasti Dylan akan terus bertanya-tanya dan tidak bisa di bayangkan jika Davina dan Dylan bertemu di saat Davina sudah bersuami, Dylan pasti akan memanggil nya ibu dan sudah pasti akan bertanya,"kapan dia akan menjadi ibunya."


Day langsung melangkah pergi, dia tidak tau mau bagaimana lagi, Day membaringkan tubuhnya di kasur memikirkan Davina lagi dan lagi, setiap waktu pikirannya dipenuhi oleh Davina hingga dia juga sudah sangat susah tidur gara-gara hal tersebut.


"Sisa 4 hari lagi dia akan menikah, apa mungkin dia akan memilih tidak menikah jika aku kesana menyuruh nya untuk datang lagi keperusahan, tapi itu aku akan seperti orang yang gak tau malu, sudah membuangnya dan memungutnya lagi, bahkan lebih sampah dari itu, mungkin lebih tepatnya barang yang sudah ku berikan pada orang lain aku minta dengan memohon-mohon bahkan mengemisnya sampai dapat," ucap Day.


Day sudah memutuskan untuk berangkat kesana, namun dia juga lupa bagaimana cara kesana jika lokasi dan tempatnya saja tidak tahu.


Day harus menelfon Aila lagi untuk menanyakan dimana letak lokasi Davina, dan Aila dengan senang hati memberikan nya alamat Davina, Aila juga merasa jika sahabat nya tersebut juga menyukai Day, tapi mereka tidak pernah menyadari satu sama lain.


Davina terlihat murung memeluk bantal gulingnya, dia sangat tidak menginginkan pernikahan ini, pernikahan tanpa di landasi apa-apa hanya di landasi oleh paksaan dari kedua pihak.


"Tuhan, kirimkan aku penolong seperti di film-film action," ucap Davina, Davina sedari dulu tidak menyukai dengan film-film romantis, menurutnya hal tersebut sangat lah lebay, bahkan sangat menjijikkan, baginya film yang bagus itu mengenai perkelahian dan film misi-misi penyelamatan dan pembasmian.


Davina diam merenung menatap langit-langit, dia seperti akan sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi nantinya, matanya kembali terarah pada ponsel pemberian Day yang sangat mahal tersebut.


"Dia yang memberiku barang pertama kali sebagai seorang laki-laki, dia sangat baik walaupun menyebalkan, jika orang lain di posisi dia mungkin aku sudah akan di bunuh sebelum bekerja, dia sungguh sabar dan mempekerjakan ku walaupun membuat masalah, mengikhlaskan uangnya yang habis karena ku kerjain," gumam Davina.


"Davina sadar, kenapa kamu memikirkan Duda itu, dan kamu jangan berharap akan di selamat kan olehnya dari pernikahan nantinya, itu gak bakal terjadi, mustahil Davina, dia bahkan membencimu," gumam Davina.

__ADS_1


Davina melihat pesan masuk, dia kaget bukan main saat melihat profil yang mengirimkan nya pesan.


"APAAA..! ya Tuhan, bagaimana dia bisa dapat nomor ku," ucap Davina.


"Aila, iya, pasti Aila yang memberikannya, Astaga Aila bagaimana jika dia memintanya hanya untuk menagih hutangku, dan kata-kata ku ku tarik kembali dia tidak baik, dia laki-laki yang kurang ajar, brengsek, ngeselin, nyebelin, sok ngajarin, sok keren," ucap Davina.


Gavin terpaksa ikut menemani Day, jika tidak di paksa olehnya dia tidak bakal ikut, Day tidak bisa jika harus naik mobil sendiri kesana, hari sudah soreh dan kemungkinan mereka akan sampai tengah malam, maka dari itu Gavin menemaninya, dia takut jika tersesat dijalan karena gelap.


"Kamu sungguh menyebalkan, bagaimana mungkin kamu menyuruh ku menemanimu mengejar cintamu, apa kamu juga akan mengajakku menemanimu saat bercocok tanam,?" ucap Gavin sungguh kesal.


"Ayo lah, jangan seperti itu, hari sudah mau gelap, dan aku tidak pernah kesana, aku dulu tidak ikut saran Mami, Papi dan Naya kesana, dan jika terjadi apa-apa dijalan kan ada kamu," ucap Day membuat Gavin menatapnya kesal.


"Kamu juga mau ngajak aku mati bersama?" ucap Gavin kesal.


"Kamu selalu membawa-bawa diriku dalam masalahmu, awas saja jika aku butuh kamu tidak ada, aku akan mengingatnya sampai mati, jika ada orang tak tau diri yang selalu ku tolong dan aku temani dalam kondisi apapun tapi saat aku membutuhkan dia menghilang seperti hantu," ucap Gavin.


"Baiklah, aku mengerti," ucap Day.


"Jadi siapa yang membawa mobil nya, jangan bilang kamu menyuruhku juga menyupir,?" tanya Gavin membuat Day cengengesan.


"Hehehe kamu sudah ahli mengemudi dimalam hari, dan kamu juga hafal jalannya, sedangkan aku tidak hafal sama sekali, apa kamu mau jika kita tersesat, aku juga tidak mungkin bertanya padamu karena kamu pasti akan tidur," ucap Day membuat Gavin hanya bisa mendengus kesal.


Baru beberapa menit perjalanan Day sudah menutup matanya, tidur dengan wajah pulas tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Lihatlah, dia tertidur dengan sangat cepat, bahkan aku baru merasa menginjak gas baru beberapa detik yang lalu, dia memang tak tau diri seperti biasanya," ucap Gavin.


"Dia juga sungguh bodoh, tidak tidur karena wanita lagi, tapi kamu akan bahagia jika memang kamu berjodoh dengannya, dia tidak sama seperti mantan istri sialan mu itu, bahkan dulu saat kalian mau menikah, kau sama sekali tidak suka dengannya, aku sudah mengingatkan mu beberapa kali untuk jangan menikah dengannya namun kamu terus ngeyel berkata jika dia wanita yang tidak ada di dunia ini, hanya dia satu-satunya, nah makan tuh wanita satu-satunya, harusnya dulu kamu bilang dia wanita satu-satunya yang membuatku duda hahahahaha," ucap Gavin seperti orang gila berbicara sendiri.


"Lihatlah Day, aku sudah terbiasa bicara seperti ini, bicara sendiri, karena aku sudah terbiasa sendiri, sedangkan kamu yang duda mau mengeluh ke siapa, hanya janda di luar sana yang akan mendengarkan keluhanmu, atau dokter yang selalu siap mendengarkan keluhan yang kamu rasakan, kalau tidak mantan istrimu itu akan dengan siap mendengarkan sambil menggodamu, yang lebih kasihan darimu Day, wanitamu dulu itu sudah tidak perawan, kamu belum merasakan perawan seperti Adikmu hahaha, sialan aku juga belum pernah merasakan apapun, hanya bisa merasakan kelicinan dari sabun wahahahaha," ucap Gavin dengan tawa keras membuat Day kaget dan terbangun.


"Apa kita sudah sampai,?" tanya Day dengan wajah masih terlihat stengah sadar.


"Sorry, tidurlah lagi, karena habis ini kamu yang akan menggantikan....," ucapan Gavin terhenti saat mendengar suara Day yang mengorok.

__ADS_1


"Sialan, dia bahkan bisa tidur dalam hitungan detik, apa kamu segitu begadangnya tiap malam," ucap Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya.


MAAF YA KALIMATNYA MUNGKIN KEPANJANGAN, AUTHOR MALAS MAU POTONG BARU BAGI DUA, KATA-KATA NYA HAMPIR 2 K, LUPA, SAKING ASIKNYA MIKIR.


__ADS_2