
Pandangan Day dan Mami Karla teralih pada seseorang yang membuat si kembar berteriak dan berlari ke arah pintu. Day membulatkan matanya sempurna saat melihat wanita yang membuatnya sangat kesal.
“Auntyyyyy..! Mommyyyyy..! teriak lagi mereka sangat senang, mereka langsung memeluk Davina.
“Aduh, aunty sangat rindu dengan ponakan imutku,” ucap Davina mencium mereka beberapa kali, hingga air matanya tak sengaja menetes.
“Aunty jangan nangic,” ucap Zean.
“Iya aunty, kalau cudah becal tidak boleh nangic,” ucap Dean menambahi.
“Ahhg..kalian membuatku menangis,” ucap Davina memeluk mereka berdua.
“Davina bukan,?” tanya Mami Karla yang sudah ada didepan mereka, membuat Davina menghapus air matanya dan mencium punggung tangan Mami Karla sopan.
“Iya Tante,” saut Davina.
“Wah, kamu sejak kapan disini, kenapa baru main ke rumah,?” tanya Mami Karla.
“Baru seminggu lebih kayaknya Tante,” ucap Davina sopan.
“Uncle, ini aunty Zean cama Dean,” ucap Zean ke arah Day, seketika Davina menoleh ke arah pandangan Zean, betapa kagetnya dirinya saat melihat bosnya yang duduk menatapnya tajam.
“Apa kabar bos hehehe,” ucap Davina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tunggu, Day Bosmu,?” tanya Mami Karla dan di angguki oleh Davina.
“Jadi kamu bekerja di perusahaan Day,?” tanya lagi mami Karla dan kembali mendapat anggukan kepala dari Davina.
“Astaga aku lupa, jika Bos adalah kakak Daddy si kembar hiks..hiks.. dia sungguh menyeramkan,” gumam Davina.
“Jangan bilang...” ucapan Mami Karla terhenti saat mengingat ucapan Day saat baru datang.
“Wahahahaha, jadi Davina yang kamu maksud Day,?” tanya Mami Karla, dia tau jika yang memasukkan Davina bekerja di perusahaan cabang adalah Suaminya atas perintah darinya, dia saat di kota dimana Aila tinggal sebelumnya selalu memperhatikan Davina diam-diam, Davina tak beda jauh dari Aila baik sifat maupun kehidupan yang serba sederhana. Membuatnya bertekad untuk memberikannya pekerjaan yang layak dan sedikit mempunyai niat untuk mendekatkan Davina dengan Day.
“Apaan ya Tante,?” tanya Davina menelan salivnya kasar.
“Tidak nak, dia tadi cerita jika ada teman Aila dan karyawan barunya yang cantik, Day sampai kagum padamu nak,” ucap Mami Karla membuat Day membulatkan matanya sempurna.
“Mami, apaan itu, Day tidak mengatakan hal mengerikan itu, ingatlah Mami ada anak polos disini,” ucap Day menatap si kembar yang juga menatapnya tajam.
__ADS_1
“Aunty kami memang cantik uncle,” ucap Dean membuat Day hanya bisa menatap Davina dengan tatapan membunuh.
Aila hanya bisa menahan melihat reaksi Davina dan Day yang sama-sama canggung satu sama lain.
“Lupakan, aku mau tidur dari pada disini bersama orang dengan bakat kejujuran,” ucap Day menyinggung Davina.
“Terimakasih Bos,” ucap Davina membuat Day ingin sekali menendangnya keluar dari rumahnya.
“Ahhg, aku pusing,” ucap kesal Day dan pergi begitu saja.
“Hahaha, Mami bukankah mereka sangat cocok,?” tanya Aila dan di angguki oleh Mami Karla yang juga ikut tertawa lepas.
“Aila,” ucap Davina sangat merasa tidak enak dengan tuan rumah.
“Dia malu Mi,” ucap Aila.
“Mami restuin kok,” ucap Mami Karla.
“Ayo sini duduk,” ucap Mami Karla lagi dan di angguki lelah mereka.
Mereka mengobrol dengan tawa mereka, hingga kedua anak polos tersebut tertidur begitu saja di gendongan Davina dan Mommynya.
“Astaga, Anakku satunya mana,?” tanya Aila baru mengingat Dylan.
“Bukan Zean,” saut Aila.
“Itu di gendonganmu,” saut lagi Davina.
“Bukan Dean juga,” ucap Aila.
“Kamu punya anak lagi,?” tanya Davina sangat kaget.
“Mami tolong angkat Dean, Aila ingin mengeceknya,” ucap Aila dan di angguki oleh Mami Karla.
“Aila kamu punya anak lagi,?” tanya Davina lagi sangat kaget.
“Perasaan baru kemarin kamu pulang, perutmu tidak ada buncit di sana dulu,” ucap Davina sangat syok.
“Hahaha bukan anak kandungnya nak, anaknya Bosmu,” ucap Mami Karla membuat Davina semakin bingung, karena setahunya Aila akan menikahnya dengan Ayyan kenapa jadi anak Bosnya yang di anggap Anak.?”
__ADS_1
Aila membuka pintu Dylan, melihat Dylan yang sangat serius belajar, Aila perlahan berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya.
“Apa anak Mommy satu ini sudah pandai yang Mommy ajarkan,?” tanya Aila membuat Dylan langsung menolah ke sumber suara.
“Mommyyy..!” teriak Dylan memeluk Aila.
“Lihat Mommy, Dylan semakin pintar,” ucap Dylan menunjukkan hasil kerja kerasnya.
“Wah benar semua, Mommy tau jika Anak Mommy semuanya pintar,” ucap Aila lembut dan dengan senyuman penuh kebahagiaan Dylan menganggukan kepalanya.
“Kalau begitu istirahat kan otak Dylan dulu ya, Ayo ikut Mommy sayang, ada teman Mommy,” ucap Aila membuat Dylan merentangkan tangannya meminta digendong, Aila dengan senyuman manisnya langsung menggendong Dylan.
“humm..Dylan semakin besar saja, sudah berat,” ucap Aila mencium pipi Dylan yang ada di gendongan nya.
“Iya Mommy, biar nanti Dylan bisa jadi kakak nya Zean sama Dean, bisa melindungi adik Dylan, kan kalau Dylan besar pasti orang takut sama Dylan, kan Mommy,?” ucap Dylan dan di angguki oleh Aila.
Aila keluar menggendong Dylan, dia melihat orang yang di maksud Aila adalah temannya.
“Apa itu teman Mommy,?” tanya Dylan dan di angguki oleh Aila.
“Trus dimana adik Dylan,?” tanya Dylan lagi.
“Itu lagi tidur,” ucap Aila lembut.
“Yah, padahal Dylan baru mau main,” ucap Dylan.
“Nanti saja ya, kalau adiknya Dylan sudah bangun,” ucap Aila dan di angguki oleh Dylan.
Aila duduk, Dylan duduk di atas pangkuan Aila, Dylan hanya menatap Davina tanpa ekspresi apapun.
“Hai ganteng,” sapa Davina.
“Iya Aunty,” saut Dylan.
“Dia sungguh tampan dan manis, aku ingin sekali menciumnya, tapi nanti si bos rese itu melihatku, dia kan anaknya,” gumam Davina.
“Nama nya siapa ganteng,?” tanya lagi Davina.
“Dylan Aunty,” ucap Dylan.
__ADS_1
“Nama Aunty Davina, panggil saja Aunty Vina,” ucap Davina dan hanya di angguki oleh Dylan.
Dylan sudah menganggap Aila seperti ibu kandungnya, hingga Dylan selalu memanggil Aila Mommy, Aila pun tidak keberatan sama sekali jika di panggil seperti itu oleh Dylan, baginya Dylan sudah menjadi kakak dari kedua putra kembarnya.