Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Rencana


__ADS_3

Day sudah tidak merasakan ketegangan, kegugupan lagi, kini wajahnya dipenuhi senyuman manisnya, dia menatap Gavin dan mengedipkan matanya sebelah.


"Eleh, hampir nangis," ucap Gavin tanpa menoleh ke arah Day.


"Jadi bagaimana selanjutnya besan? kapan anak kita bisa menikah,?" tanya Ibu Davina.


"Menurut Bu Vivin bagaimana,?" tanya pak Andhra balik.


"Kalau saya mah, terserah saja, tergantung kapan anak-anak kita siap saja," saut Bu Vivin.


"Besok." ucap Day dengan cepat menatap mereka dengan serius.


"Wuahahaha apa segitu lamanya kau Duda hingga tak sabar menikah,?" ucap Gavin dan mendapat cubitan dari Dylan.


"Uncle...!" ucap tegas Dylan.


"Iya iya, kamu jangan takut gagal punya Ibu baru, sana pergi ke calon Ibu barumu," ucap Gavin namun Dylan menunduk malu, memegang Gavin erat.


"Astaga, apa kalian tidak mengajak Oma,?" tanya Ayyan yang mendapat pesan dari Naya, seketika mereka semua terdiam, sudah lupa dengan Oma.


"Oma juga tidak bisa datang, Oma tidak tahan naik mobil dalam jangka waktu terlalu lama," saut Pak Andhra.

__ADS_1


"Tapi Naya katakan jika Oma mengamuk tidak diberitahukan," ucap Ayyan.


"Lupakan saja, kita bahas ini dulu," ucap Pak Andhra dan di angguki oleh mereka.


"Kalau begitu gimana jika sebulan atau dua bulan dari sekarang,?" ucap Pak Andhra membuat Day membulatkan matanya.


"Papi itu waktu yang sangat lama," saut Day.


"Benar ucapan Nak Day, Ibu sudah tidak sabar melihat putriku menikah," ucap Bu Vivin.


"Bagaimana menurut mu Nak,?" tanya Mami Karla ke Davina.


"Davina siap-siap saja Mi, kapan saja," saut Davina menunduk malu.


"Hupppsss...! yayang makan tuh yayang," ucap Gavin menahan tawanya sangat jijik mendengar nya.


"Baiklah, seperti nya akan bagus jika mereka menikah di hari Rabu, dua Minggu dari sekarang," ucap Pak Andhra dan di angguki oleh Ibu Davina serta Paman Davina.


"Hei Paman? kapan kau ikut menikah,?" tanya Gavin.


"Bocah tengil, aku sudah menikah tapi istriku sudah di invit tuhan ke alamnya," ucap Paman Davina yang membuat Gavin tertawa berbahak-bahak.

__ADS_1


"Wuahahaha berarti orang tuaku yang invit istrimu paman hahahaha," ucap Gavin membuat Ibu Davina serta Paman Davina menatap Gavin serius, mereka tidak tau jika Gavin sudah tidak punya orangtua lagi.


"Apa suami mu juga ikut di invit istri paman wuahahahahahhaha," ucap Gavin menatap Ibu Davina, Ayyan yang ada disampingnya meninju lengannya keras.


"Mulut...!" ucap Ayyan tegas.


"Uncle nakal kan Daddy,?" ucap Zean dan di angguki oleh Ayyan.


"Maaf khilaf," ucap Gavin menyembunyikan wajahnya dibelakang Dylan masih ingin tertawa namun merasa tidak enak.


"Bukankah kalian bersaudara,?" tanya Ibu Davina menatap Mami Karla.


"Gavin putra angkat kami, entah siapa yang mewarisi kenakalannya, kami sudah mengadopsinya dari kecil, dia sangat pintar dan baik bahkan sangat imut dulu, tapi entah kenapa sekarang sudah sangat menyebalkan melihat wajahnya," ucap Mami Karla.


"Apa kalian yang memberikannya nama Gavin,?" tanya Bu Vivin dengan serius dan mendapat gelengan kepala dari mereka.


"Gavin..." ucap Bu Vivin memanggilnya untuk mendekat.


Gavin menurunkan Dylan dan melangkah kesana dengan wajah kebingungan.


"Kenapa? apa Tante mau jadi istriku hahahaha,?" ucap Gavin dan mendapat tatapan tajam dari Mami Karla.

__ADS_1


"Canda," ucap Gavin menatap Bu Vivin.


"Apa ini kamu Nak,?"


__ADS_2